
Praaangg!
Sebuah remote dilempar hingga memecahkan sebuah layar Smart TV berukuran 49 inch. Seorang wanita muda menatap pada layar TV yang retak. Napasnya bergemuruh seakan menahan amarah yang menguasai dirinya dengan begitu hebat. "Cih. Sial!".Gerutu wanita itu. "Ternyata aku tidak bisa mengandalkan suaminya untuk menghancurkan hidup wanita itu!" Wanita muda itu menarik napas, "Baiklah... Mau tidak mau aku yang akan turun tangan sendiri untuk menghancurkannya!".
Wanita muda itu lantas segera menghubungi sebuah nomor telfon melalui ponselnya. Sesaat setelah Ia menunggu, sambungan telfon pun akhirnya terhubung.
"Halo, bisakah kau menghubungkanku dengan pihak media cakrawala? Aku memiliki informasi tentang Nadya Carlton dalam format video. Aku jamin informasi yang aku berikan pada pihak mereka akan membuat gempar dan ini berita eksklusif. Kabari aku secepatnya".
Klik!
Sambungan telfon pun terputus. Wanita muda itu lantas meremas ponselnya dengan erat. "Perkiraanku meleset. Satya Nagara ternyata sebodoh itu untuk tetap menjaga nama baik Nadya di depan publik". Wanita muda itu tersenyum miring hingga lebih cenderung terlihat menyeringai.
...
Di lain tempat, Nadya yang baru saja menonton konferensi pers kini diam tertegun. Lidahnya kelu tak mampu berkata sepatah kata apapun. Pikirannya kosong dan hatinya semakin luluh lantak. Setetes air mata kini jatuh membasahi wajahnya yang cantik dan mulus bak sebuah porselen.
Nadya menatap nanar pada layar TV. Ia melihat Satya beserta kuasa hukumnya berdiri meninggalkan ruang konferensi pers dengan kilatan cahaya flash yang berasal dari kamera para wartawan. Nadya mengusap pipinya yang basah. Ia menghirup udara sebanyak yang Ia bisa dan menghembuskannya dengan perlahan berusaha menyingkirkan beban yang terasa berat di dalam relung hatinya. "Bahkan hingga akhir kau tetap menjagaku...." Nadya bergumam hingga akhirnya tumpahlah air matanya dengan deras mewakili luapan hatinya yang kelabu.
"Aku minta maaf Satya... Aku telah menghancurkan cinta kita.. Aku menghancurkan kepercayaanmu.." Nadya memeluk sebuah bantal dan menenggelamkan wajahnya ke bantal. Pundaknya naik turun selaras dengan isakan tangisnya yang begitu pilu.
Nadya menarik napas dan menyeka wajahnya dengan pelan. "Aku harus menemuinya saat ini juga". Gumam Nadya seraya beranjak dari sofa.
__ADS_1
Tak membuang waktu lama, Nadya pun sudah berada di dalam mobil sport berwarna merah yang di kemudikannya seorang diri menuju kantor Satya.
Setibanya Ia di gedung kantor Satya, banyak sekali orang yang menatapnya dengan iba seakan dia adalah korban dari keegoisan sang suami. Untuk pertama kalinya Nadya berjalan dengan menundukkan kepala. Biasanya Ia berjalan dengan angkuh dan membusungkan dada. Seorang security dengan sigap langsung memberikannya akses untuk naik ke lantai khusus para pimpinan C-Level.
Ting!
Pintu lift pun terbuka di lantai yang di mana ruang kerja Satya berada. Tanpa berbasa basi pada sekretaris kantor yang berada di luar ruangan Satya, Nadya memilih masuk begitu saja.
"Nadya?" Satya menatap Nadya yang tiba-tiba saja datang dengan raut wajah terkejut.
"Sepertinya aku harus keluar" Ujar Nino seraya beranjak dari sofa dan melangkah meninggalkan Satya dan Nadya berdua.
Sesaat hanya keheningan yang tercipta di antara keduanya. Hingga akhirnya Satya yang merasa kikuk berucap, "Duduklah. Apa kau kemari hanya untuk berdiri menjadi patung?"
"Ada apa kau kemari, Nad?"
Tanpa menjawab apapun, Nadya langsung memeluk erat tubuh Satya dengan erat. Satya yang terkejut berusaha mendorong tubuh Nadya dengan pelan. "Tolong biarkan untuk sekali ini saja... Biarkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya kumohon..." Ucap Nadya dengan nada serak.
Tangan Satya tertahan di balik punggung Nadya hingga akhirnya Satya pun balas memeluk tubuh Nadya.
"Maafkan aku... Aku telah merusak segalanya. Segala yang kita bangun bertahun-tahun harus hancur seperti ini.. Maafkan aku..."
__ADS_1
Nadya terisak hingga tubuhnya bergetar di dalam pelukan Satya. "Bahkan hingga akhir kau justru menumbalkan dirimu untuk melindungiku"
"Aku melakukannya atas dasar moral, Nad. Sandra yang menekanku agar tidak membuka aibmu walau setelah semua yang telah kau lakukan terhadapnya".
Nadya mengulur pelukannya dan menyeka wajahnya yang basah. "Ya. Aku harus berterima kasih untuk itu padanya" Nadya menatap Satya lekat dengan matanya yang basah. "Mungkin ini waktunya aku benar-benar harus melepasmu, kan? Aku tahu sekeras apapun aku mempertahankanmu, kita hanya akan berakhir saling menyakiti".
"Nad..." Satya memegang kedua sisi bahu Nadya dengan erat. Manik matanya dengan sorot yang tajam menatap Nadya. "Aku minta maaf padamu. Di sini aku pun melakukan kesalahan. Aku menikahi perempuan lain saat aku masih berstatus suamimu. Aku minta maaf"
Nadya terkekeh kecil seraya air matanya terus turun. "Kurasa itu adalah sebuah karma untukku. Aku masih sakit hati. Kau tahu aku kan? Tapi jika melihat kembali ke belakang, ternyata di antara kita sudah tidak tersisa apapun lagi".
"Hiduplah dengan baik, Nad. Aku harap kau menata kembali hidupmu dan menhadi Nadya yang menyenangkan"
"Apa aku selama ini terlihat menjengkelkan?"
Satya mengedikkan bahu. "Ya. Kurang lebih semacam itu".
Nadya tersenyum seraya menyeka kedua sudut mata. Ia menarik napas dan menghembuskannya kembali. "Kau menumbalkan dirimu di depan media seperti itu, citramu akan di cap jelek mulai hari ini"
"Aku tidak peduli. Sungguh aku hanya ingin masalah ini menguap dengan cepat".
"Aku rasa konferensi pers mu tadi mengakibatkan penurunan saham di perusahaan. Papa Chandra pasti saat ini sedang membenciku".
__ADS_1
"dan membenciku juga..." Timpal Satya terkekeh seraya membayangkan wajah kusut sang ayah saat ini di rumah.
...🌴🌴🌴...