
"Apa benar yang tadi kamu bicarakan sayang? Putra kita menikah lagi secara diam-diam?" Grace bertanya kembali selepas Satya pergi begitu saja meninggalkan rumah setelah berdebat dengan sang ayah.
Chandra menghela napas seraya menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Aku juga terkejut sayang. Kau tahu kan, putra kita tidak pernah mengecewakan.. Dia selalu bersikap baik dan menuruti ucapan orang tua. Namun lihat sekarang... Ohh aku pusing sekali" Chandra memijiat pelipisnya. "Bagaimana jika hal ini terbongkar ke publik? Bisa kacau semuanya!".
"Apa kamu sudah mencari tahu latar belakang istri kedua putra kita?".
"Setelah Aldanar menelfonku, aku langsung meminta detektif sewaan untuk mencari tahu semuanya tentang wanita itu". Ujar Aldanar.
"Lalu seperti apa latar belakangnya? Bagaimana parasnya?"
"Dia seorang caddy sayang! Caddy golf! Latar belakang keluarga seperti apa yang kau harapkan dari seseorang yang bekerja sebagai caddy?! Ayahnya pengangguran, Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga! Wanjta itulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Sial licik sekali bukan? Mereka berhasil menjerat putra kita agar kualitas kehidupan mereka terangkat!" Chandra berdecak kesal.
Grace terdiam sejenak. Ia berusaha memikirkan sesuatu. Ada hal yang menurutnya sangat mengganjal. Ia mengenali sang putra lebih dari Satya mengenali dirinya sendiri.
"Kenapa kau diam saja?" Tanya Chandra.
Grace menggelengkan kepalanya. "Aku hanya merasa aneh. Kurasa ada hal yang mendasari mengapa putra kita sampai melakukan hal seperti itu. Kau tahu kan, dia penuh perhitungan sama sepertimu sayang". Ujar Grace dengan tenang. "Dia tidak akan melakukan sesuatu jika bukan karena sesuatu. Dia pasti sudah memikirkan hal ini secara matang".
Chandra melambaikan tangannya ke udara seakan menepis ucapan sang istri. "Ada alasan atau tidak ada alasan, tetap saja dia salah sayang! Dia tidak bisa menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Nadya! Itu saja sudah satu langkah yang konyol, di tambah lagi wanita keduanya dari keluarga miskin! Oh astagaaaaa"
"Apa Aldanar tidak memberitahu hal yang lain padamu selain putra kita yang menikah lagi?"
"Tidak. Aldanar hanya memberitahu itu saja. Aku sungguh tidak enak padanya atas prilaku Satya pada putrinya". Ujar Chandra.
"Aku akan minta Nadya untuk segera pulang kemari. Kita dudukkan saja mereka berdua bersama-sama. Jadi kita bisa melihat dari dua sisi sayang".
"Terserah kau saja. Aturlah bagaimana baiknya". Sahut Chandra seraya melangkah menuju ruang kerja di lantai dua.
Grace hanya diam termenung menatap punggung sang suami.
...🌴🌴🌴...
__ADS_1
"Nino, aku tidak akan ke kantor hari ini. Tolong kau urus semua hal untuk hari ini" Ucap Satya melalui sambungan telfon seraya menyetir mobil.
"Kau mau kemana hari ini bos?'
"Aku akan menemui Nadya"
"Woaaahh.. Semoga kau selamat dari amukan ratu lebah itu bos! Awas dia bisa menyengatmu hahahaha'
Satya menyeringai. "Sialan!" Umpat Satya seraya mematikan sambungan telfon.
Satya menekan pedal gas lebih dalam hingga mobil melaju cepat membelah jalan raya yang tidak terlalu ramai di pagi hari.
Tiga puluh menit kemudian, Satya membelokkan mobilnya masuk ke dalam gedung hotel mewah bintang lima di pusat kota. Satya menghentikan mobilnya tepat di depan lobby dan petugas valet pun dengan cekatan mengambil alih kemudi mobil Satya.
Dengan langkah tegap dan pandangan yang tajam, Satya melangkah menuju resepsionis. "Aku ingin bertemu dengan Aldanar Carlton". Ucap Satya. Sang resepsionis menatap Satya secara seksama. "Bilang saja Satya Nagara ingin menemuinya sekarang" Lanjut Satya dengan nada dingin.
Resepsionis itu pun segera menghubungi area kantor hingga tak lama kemudian Satya di izinkan naik ke lantai atas. Ketika pintu lift terbuka, Satya sudah di tunggu oleh seorang pria yang bertugas mengantarkannya menuju kantor Aldanar.
"Apa kau datang untuk minta maaf?" Tanya Aldanar tanpa basa basi.
Satya menatap Nadya dan Aldanar silih berganti. Ia menundukkan kepala seraya tersenyum miring. Satya lantas kembali menatap Aldanar dengan netra matamya yang tajam. "Ya. Aku datang untuk meminta maaf". Ucap Satya.
Mendengar hal itu, Nadya tersenyum lebar. "Aku minta maaf karena telah menyakiti putrimu" Ujar Satya menatap Aldanar. Satya lalu beralih menatap Nadya. "Aku juga minta maaf karena sudah menduakanmu dan menikah lagi tanpa seizinmu, Nadya".
"Aku memaafkanmu asalkan kau...."
"Tapi aku sama sekali tidak menyesal melakukannya. Walau langkahku salah, tapi aku bahagia dengan keputusanku dan kau tingkahmu semakin membuatku yakin, Nad". Satya memotong ucapan Nadya.
"Apa maksudmu hah? Kau telah menduakan putriku lalu dengan kurang ajarnya kau merasa tidak bersalah?!". Cecar Aldanar menatap Satya berang.
"Apa ayah tau apa yang dilakukan putrimu ini?" Tanya Satya pada Aldanar. "Apa kau memberi tahu ayahmu segalanya, Nadya?". Satya beralih menatap Nadya dengan mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
Wajah nadya berubah pucat pasi. Ia sangat yakin Satya tidak akan setega itu membiarkan video syurnya di lihat orang lain. Nadya sangat percaya diri tentang hal itu.
"Kau yang memaksaku melakukan ini, Nad. Kau telah melakukan tindak kriminal pada Sandra. Karena ulahmu juga aku kehilangan calon anakku. Aku tidak bisa menahannya lagi" Sahut Satya. Ia lantas merogoh sebuah usb dan memberikannya pada Aldanar. "Lihat isi dalam usb ini dan ayah akan tahu perilaku putri yang ayah banggakan ini". Sahut Satya.
Nadya sontak saja segera mencoba merebut usb dari tangan Aldanar. Namun Aldanar dengan cepat menahannya dan melemparakan tatapan tajam pada sang putri hingga Nadya menarik dirinya kembali. Satya tersenyum sinis pada Nadya yang terlihat luar biasa gugup.
Sesaat suasana terasa hening ketika Aldanar memasang usb pada PC di meja kerjanya. Tak lama Aldanar menutup mulutnya dan dengan cepat mematikan layar PC tersebut hingga mencabut kembali usb tersebut lalu menggenggamnya dengan sangat erat.
"APA YANG KULIHAT TADI NADYA?! KAU TIDUR DENGAN PRIA LAIN HAH?!". Aldanar memekik tak percaya.
Nadya hanya memejamlam mata dan menggelengkan kepalanya. "Dia melakukannya di malam.pesta lajang sebelum pernikahan kami dilangsungkan dan hasil dari malam itu Nadya hamil".
"HAMIL?!"
Satya menganggukkan kepala. "Ya. Dia hamil dan dia menggugurkannya". Sahut Satya.
"Aku menggugurkannya karena kau tidak mau menjadi ayahnya brengsek!" Ujar Nadya.
Satya terkekeh geli. "Bukan aku yang menanam benih, lalu kenapa aku yang harus bertanggung jawab?". Decak Satya.
"Ayah malam itu sama sekali tidak di sengaja! Aku bisa pastikan padamu! Malam itu aku mabuk.. Dan pria itu.. Ya! Ya! Pria itu yang memaksaku!" Ujar Nadya menatap Aldanar yang diam menahan emosi.
"Hahhahahhaa teruslah kau berakting Nadya! Aku tau kau yang memaksa pria itu untuk tidur denganmu!" Sergah Satya.
"Tidak!"
"Silakan saja menyanggah semaumu. Aku tahu siapa pria itu, Nadya. Dia menceritakan kronologis malam itu padaku!". Ujar Satya menatap geram Nadya.
Satya lantas beranjak berdiri dari sofa. Ia menatap Aldanar yang diam seribu bahasa. "Kurasa video itu bisa kita jadikan bahan untuk bernegosiasi dalam masalah ini bukan? Aku tidak akan mentolerir hal sekecil apapun lagi. Pastikan saja putrimu tidak menyentuh Sandra seujung kukunya atau video itu akan tersebar luas. Aku tidak peduli dengan saham perusahaan jika itu yang ingin ayah dengar dariku. Aku permisi". Ucap Satya sedikit menundukkan kepala dan segera undur diri meninggalkan Nadya dan Aldanar yang sama sekali tidak menatap ke arahnya.
...🌴🌴🌴...
__ADS_1