Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 71


__ADS_3

"Akhirnya kau sudah sadar sayang..." Ujar Satya saat melihat Sandra membuka mata. Satya mengusap kening Sandra dengan sangat lembut dan penuh kasih.


Sandra mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupil matanya. Ia mengedarkan netra matanya ke seluruh penjuru ruangan dan mengerutkan kening. Sandra pun mengangkat satu tangannya saat merasakan sesuatu yang asing. Ia pun melihat jarum infus tertancap di nadi tangan.


"Aku dimana? Dan... Kenapa aku di infus?" Tanya Sandra dengan suara pelan.


Satya mengusap kening Sandra dengan menatap sang istri dengan lekat. "Tubuhmu tadi panas tinggi hingga kau tak sadarkan diri saat tidur. Jadi aku membawamu ke rumah sakit". Ujar Satya.


"Aku hanya demam kenapa sampai kamu bawa ke rumah sakit. Aku mau pulang..." Sahut Sandra seraya mencoba bangkit dari tidurnya.


"Tidak!" Satya menahan kedua bahu Sandra. "Kau boleh pulang setelah tubuhmu benar-benar sehat."


"Aku tidak apa-apa. Ini hanya demam dan aku sudah merasa lebih baik. Aku ingin pulang..." Ujar Sandra menatap Satya dengan sendu.


Satya menghela napasnya. "Sayang dengarkan aku..." ucap Satya seraya menatap Sandra tepat ke dalam manik matanya. "Saat ini kau jangan memikirkan dirimu sendiri. Di dalam tubuhmu sekarang sudah tumbuh calon anak kita sayang.. Aku harap kau mengerti." Satya mengusap perut Sandra dengan perasaan bahagia.


Sandra terdiam sejenak berusaha mencerna perkataan Satya. Ia menatap tangan Satya yang sedang mengelus perutnya. Sandra lantas membelalakkan mata saat menatap pada Satya.


"Maksudmu... A-aku ha..........mil?" Tanya Sandra hampir berbisik dan terbata-bata.


Satya tersenyum lebar dan menganggukkan kepala. "Ya sayang.. Kau sedang hamil. Usia kandunganmu saat ini sudah enam pekan". Ujar Satya dengan mata berbinar.


Sandra reflek memegang perutnya. Ia mengelusnya perlahan hingga setetes air mata jatuh karena terharu. "Maafkan aku... Aku tidak tahu kamu sudah tumbuh di dalam sini". Ucap Sandra terisak pelan.


"Aku tidak makan apapun sejak kemarin pagi.. Aku juga tidak tidur semalaman.. Aku hanya menangis dan terus menangis.. Apa dia bisa merasakannya? Apa aku menyiksanya?" Tanya Sandra beralih menatap pada Satya.


"Tidak apa sayang. Kandunganmu kuat. Jangan merasa bersalah. Kau seperti itu pun karena aku.. Aku yang harus kau salahkan jika ada apa-apa dengan kandunganmu". Sahut Satya seraya menggenggam tangan Sandra dengan erat.


"Aku janji akan menjaga kalian berdua dan hanya memberikan kebahagiaan" Ucap Satya hingga menerbitkan sebuah senyuman manis di bibir Sandra.


...🌻🌻🌻...


Dua Hari Kemudian...


Ting.. Tong..

__ADS_1


Ting.. Tong..


Satya memencet sebuah bel kamar hotel mewah berbintang lima. Tak lama pintu terbuka hingga Satya dan Sandra pun melangkah masuk ke dalam. Keduanya saling mencium tangan kedua orang tua Sandra yang menyambut mereka dengan suka cita.


"Ayo duduk dulu". Ujar Retno mengajak Satya dan Sandra ke sebuah sofa panjang. Satya lalu menaruh 1 koper berukuran sedang di sudut sofa lalu menyusul duduk di sisi sang istri.


"Pak.. Bu.. Saya kemari mau menitipkan Sandra pada kalian selama saya pergi ke luar negeri. Boleh ya?". Ucap Satya dengan sopan.


"Tentu saja boleh, Nak Satya. Sandra kan masih anak Ibu dan Bapak.". Ujar Dimas seraya terkekeh. "Lagipula Sandra sudah memberitahu Bapak kalau dia mau nginap di hotel juga dengan kami selama kamu pergi".


"Iya Nak.. Kamu tenang saja. Sandra akan aman berada dengan kami. Memangnya berapa lama kamu akan pergi ke luar negeri?" Timpal Retno.


"Paling lama dua pekan, Bu" Ujar Satya. "Tapi saya akan usahakan satu pekan sudah selesai".


"Yang penting lancar saja ya Nak Satya." Sahut Retno.


"Iya, Bu". Satya tersenyum ramah. Satya tiba-tiba memberikan sebuah tas berukuran kecil pada Retno. "Bu, tolong pastikan Sandra teratur minum ini semua ya setiap pagi dan malam". Ujar Satya.


Retno mengerutkan kening lalu membuka tas tersebut dan mengeluarkannya salah satu. "Apa ini? Kamu sakit Nak?" Tanya Retno beralih menatap pada Sandra.


"Sandra sedang hamil, Bu. Usia kandungan sudah masuk enam pekan".Timpal Satya seraya menatap Sandra dengan tatapan yang lembut.


Retno mengatupkan kedua tangannya menutupi mulut. Wanita paruh baya itu terlihat sangat terkejut. Ia menatap Dimas yang menampakkan raut wajah yang terkejut pula. "Pak, Sandra hamil Pak! Kita akan punya cucu!". Pekik Retno merasa terharu.


"Benarkah, San? Astaga Bapak tidak menyangka akan secepat ini menjadi kakek". Ujar Dimas.


"Maafkan saya, Pak." Ucap Satya. "Saya tahu Sandra masih sangat muda untuk mengandung di usianya yang baru dua puluh tahun. Tapi saya janji, saya akan menjaga Sandra dan calon anak kami dengan sangat baik". Satya mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Sandra.


"Bukan... Bukan seperti itu, Nak Satya" Sanggah Dimas. "Saya bukan kecewa karena Sandra terlalu cepat hamil. Maksud saya, saya hanya tidak menyangka Tuhan memberikan saya cucu dengan cepat. Jujur saja saya bahagia. Lagipula Sandra hamil kan sudah memiliki suami, lain halnya jika dia tidak bersuami tapi sudah hamil hehehe"


Retno sontak saja menepuk bahu Dimas. "Huss Pak bicaramu itu loh!" Tegur Retno.


"Lah iya toh, Bu? Wajar saja Sandra hamil karena tiap malam dia pasti dikerjai oleh suaminya, apalagi mereka ini pengantin baru. Coba Ibu pikir kalau Sandra hamil tapi belum menikah, itu baru petaka!". Sahut Dimas menatap Retno.


Sandra pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seraya menahan malu karena ucapan sang bapak. "Apa kamu merasa aku mengerjaimu setiap malam di atas ranjang?". Bisik Satya tiba-tiba.

__ADS_1


Sandra pun mencubit paha Satya dengan cukup keras seraya mendelik tajam. "Awww sayang! Sakit hahahaha". Satya mengaduh seraya tertawa melihat pipi Sandra yang sudah seperti tomat rebus.


Retno dan Dimas yang melihat interaksi putri dan menantunya pun hanya bisa tersenyum bahagia. "Kamu jangan banyak pikiran ya, Nak. Jangan stress. Calon anakmu bisa merasakan kalau sang ibu sedang stres atau sedih". Ucap Retno.


"Banyak makan..Kalau bisa kamu berhenti saja bekerja. Tidak mungkin kan kamu terus menerus melakoni pekerjaan sebagai caddy saat kondisimu hamil?".


"Saya sudah melarang Sandra untuk bekerja, Bu. Dan Sandra sudah setuju". Timpal Satya.


"Baguslah kalau seperti itu." Ucap Dimas. "Oh ya, Nak Satya. Ngomong-ngomong kapan kami bisa pulang ke rumah ya? Bapak ini sudah rindu dengan rumah hehehe"


"Pembangunan rumah baru 70%, Pak. Apa Bapak dan Ibu tidak betah berada di sini? Apa perlu saya cari hotel yang lebih baik dari ini?" Tanya Satya.


Retno menggerakkan tangannya ke udara. "Tidak, Nak! Bukan seperti itu. Kamar hotel ini saja sudah yang paling mewah. Ibu hanya membayangkan saja berapa banyak Nak Satya harus mengeluarkan biaya selama kami tinggal di sini". Ujar Retno.


"Benar itu... Bapak dan Ibu merasa memberatkan mantu ya, Bu." Timpal Dimas.


Satya terkekeh hingga bahunya berguncang pelan. "Bapak dan Ibu tidak perlu memikirkan soal biaya. Aku hanya ingin memastikan keluarga istriku juga hidup dengan nyaman".


Retno dan Dimas pun akhirnya tidak bisa menyanggah apapun lagi. Karena Satya sudah bersikukuh mereka semua akan keluar dari hotel jika pembangunan rumah sudah benar-benar 100% selesai.


Tak lama kemudian, Satya pun segera pamit untuk pulang karena Ia harus naik pesawat pukul lima sore. Sandra mengantarkan Satya hingga ke depan pintu kamar hotel.


Keduanya saling menatap seakan ada magnet yang bekerja tarik menarik hingga tak satupun di antara mereka melepaskan tatapannya satu sama lain. Satya lantas menarik Sandra ke dalam pelukannya dan mengusap punggung sang istri dengan pelan.


"Kau baik-baik di sini sayang. Jika mau pergi, kabari aku terlebih dulu dan jangan pergi sendirian. Ajak Sabil atau Sisil bersamamu ok?" Ucap Satya.


"Jangan lupa minum vitamin dan susu ibu hamil. Aku akan selalu melakukan panggilan video setelah selesai bekerja."


Sandra melingkarkan tangannya ke punggung Satya. Menghirup aroma tubuh sang suami yang sangat Ia sukai bahkan sebelum menikah. "Aku akan merindukanmu". Ujar Sandra.


"Aku bahkan akan lebih merindukanmu." Ujar Satya.


"Setelah pekerjaanku selesai, aku akan memberitahu kedua orang tuaku tentang dirimu dan pernikahan kita. Jadi bersabarlah sampai aku pulang hm?"


Sandra mengulur pelukannya pada tubuh Satya dan menatap manik mata pria itu. Sandra pun mengangguk seraya mengulas senyum manis di bibir.

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


__ADS_2