Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 88


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya...


Chandra yang sedang berada di ruang kerja yang berada di lantai dua rumah mewahnya berjalan hilir mudik seraya memijit pelipisnya. Tak di pungkiri kepalanya pusing memikirkan solusi untuk putra satu-satunya itu. Ia menghela napasnya lalu melangkah menuju sebuah nakas untuk mengambil sebuah berkas.


Chandra menatap sebuah foto dan membaca lagi sekilas beberapa lembar kertas yang berisi laporan terkait penyelidikan tentang istri kedua sang putra. Chandra meremas ujung kertasnya. "Tidak mungkin kan aku yang harus turun tangan sendiri untuk mengenyahkan wanita ini..." Chandra bergumam. "Sandra Aruni...." Chandra menatap foto yang ada di tangannya. "Kau berada di posisi yang salah dan aku bisa kehilangan semuanya jika kau tidak mau meninggalkan anakku".


Chandra lalu meraih ponselnya dan menghubungi Satya yang belum lama pergi dari rumah setelah berdebat dengan dirinya. Tidak menunggu terlalu lama sambungan telfon pun tersambung.


"Jangan salahkan aku jika kau tetap mempertahankan wanita simpananmu. Aku serius dengan ucapanku. Kalau kau tidak selesaikan hubunganmu dengan caddy itu, maka aku yang akan turun tangan". Chandra mengancam Satya dan menegaskan maksudnya kembali. "Nadya berkali lipat lebih baik! Di mana matamu itu!".


"Aku akan membuktikan jika Nadya tidak sebaik yang papa kira. Tunggu aku di rumah dan jangan melakukan apapun pada Sandra jika papa tidak ingin kehilangan anak satu-satunya."


Tuutttt...


Chandra menatap layar ponselnya seraya tersenyum miring. "Hah! Like father like son!". Gerutu Chandra sambil menaruh kembali ponselnya ke atas meja.


...


"Dia bohong. Itu bukan anak Satya, tapi itu anak saya yang sengaja dia gugurkan tanpa sepengetahuan saya". Suara bariton seorang pria dari arah pintu masuk pun terdengar.


Chandra, Grace dan Nadya sontak saja menatap ke arah pintu di mana suara bariton seorang pria terdengar. Bola mata Nadya sontak saja melotot tatkala melihat Satya dan Sean melangkah masuk bersisian.


"Anak yang sempat dia kandung adalah anak saya". Ujar Sean lagi, menegaskan ucapannya.


Chandra mengerutkan kening menatap ke arah Sean. Terkejut sudah pasti, tapi Sean? Bagaimana bisa? Banyak sekali pertanyaan di benak pria paruh baya yang masih gagah itu. "Bukankah kau asisten utama Pradipta?" Tanya Chandra.


Sean mengangguk seraya tersenyum ramah. " Ya. Benar Tuan Chandra. Saya adalah asisten Tuan Pradipta". Jawab Sean dengan tenang. Ia melirik Nadya yang menatapnya dengan tatapan yang amat menusuk.

__ADS_1


"Apa maksudmu Sean adalah bukti yang ingin kau tunjukkan padaku?" Tanya Chandra beralih menatap Satya yang masih berdiri di sisi Sean.


Satya mengangguk. "Ya. Benar. Dia salah satunya..."


"Salah satunya? Maksudmu ada bukti lain selain dia?" Tanya Chandra.


"Papa dengarkan saja lebih dulu apa yang akan di utarakannya."


"Kau tahu kan aku tidak akan percaya begitu saja jika itu hanya melalui ucapan seseorang?" Ujar Chandra menatap Sean dengan mengangkat sebelah alisnya.


Satya tersenyum. "Aku tahu".


Nadya tiba-tiba saja berdiri. Sikapnya tentu saja menarik perhatian seluruh orang yang ada di ruangan itu. "Apa papa akan mendengarkan yang dia bicarakan? Bisa saja dia membual!". Ujar Nadya menunjuk Sean.


Grace berdiri lalu meraih Nadya untuk duduk kembali. "Tenangkan dirimu dulu, sayang."


"Fitnah atau bukan, lebih baik kita dengarkan dulu apa yang akan di sampaikan oleh asisten Pradipta ini, tidak ada salahnya kan?" Ujar Chandra menatap Nadya.


Nadya menjadi bungkam saat sang papa mertua sudah mengambil keputusan. "Silakan duduk dan sampaikan apa yang perlu kami ketahui" Sahut Chandra beralih menatap Sean.


Sean lantas duduk di ikuti oleh Satya. Pria tampan itu menatap satu per satu pada Chandra, Grace dan juga Nadya. Sean menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralkan rasa gugup yang sedikit menguasai dirinya. Hingga akhirnya Sean menerangkan kejadian di malam pesta lajang yang di adakan oleh Nadya dan teman-temannya.


Grace menutup mulutnya terkejut saat mengetahui kenyataan mengenai sang menantu yang Ia banggakan. "Benarkah itu sayang? Kamu...... Oh ya ampun, aku tidak percaya ini". Ujar Grace menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Ma. Ini semua bukan seperti yang mama pikirkan.." Sanggah Nadya seraya menggenggam tangan Grace. "Situasi memaksaku untuk melakukannya, Ma. Ini semua bukan karena kemauanku" Nadya menatap Grace dengan frustasi.


Chandra terdiam seribu bahasa saat mendengar penuturan dari Sean. "Apa kau memiliki bukti atas ucapanmu?". Tanya Chandra akhirnya.

__ADS_1


Sean lalu menatap Satya dan beralih menatap Chandra. "Ada sebuah video terkait kejadian malam itu... Tapi......" Sean menggaruk tengkuknya dengan kikuk. "Itu video yang mmmmm... Saya saja malu untuk melihatnya jadi....."


"Berikan padaku" Chandra memotong ucapan Sean karena Ia sudah mengetahui video seperti apa yang di maksud oleh Sean. Satya lantas membuka ponselnya dan mencari sebuah file. Ia lalu menyerahkan ponselnya itu pada sang ayah. Chandra menatapnya dengan rahang mengeras lalu tak lama Ia menaruh ponsel Satya ke atas meja.


Chandra menautkan jari jemarinya. Wibawanya sebagai seorang bos besar sungguh terasa saat ini. "Apa kau sengaja merekam video itu?" Tanya Chandra pada Sean.


Sean menggelengkan kepala. "Mana mungkin. Saya saja baru tahu ada video seperti itu dari putra anda". Jawab Sean.


"Aku mendapatkan sebuah kotak kado yang isinya usb setelah beberapa jam akad nikah berlangsung". Timpal Satya. "Dan ini!" Satya menaruh beberapa berkas ke atas meja. "Ini adalah bukti Nadya telah menggugurkan kandungannya di klinik ilegal dan bukti visum dia telah melakukan tindak kriminal pada Sandra sampai menghilangkan nyawa calon anakku". Ujar Satya menatap tajam Nadya yang kini tidak bisa berkutik lagi.


"Anakmu? Maksudmu apakah istri kedua mu itu hamil?" Tanya Grace menatap Satya.


"Iya, Ma. Sandra sudah hamil anakku namun karena dia, Sandra mengalami keguguran". Ujar Satya mengedikkan dagunya ke arah Nadya.


Grace memijat pelipisnya tak berkata satu katapun sedangkan Chandra membaca satu demi satu berkas yang di lampirkan oleh Satya. Chandra lalu menghela napasnya dan menatap Nadya dengan lekat. "Aku tidak tahu jika hal seperti ini terjadi. Apa kau tahu resikonya jika video tak senonohmu tersebar pada publik?".


"Walau pernikahanmu dengan putraku tidak di umumkan secara resmi, tapi pihak media selalu bisa mengorek informasi. Dan kau sadar kan dampak yang akan kau buat pada putraku dan keluargaku?"


Nadya beranjak berdiri kembali dengan raut wajah yang penuh emosi. "Ini tidak adil untukku! Dia menduakanku! Dia menikahi wanita lain di belakangku! Sedangkan aku hanya melewati satu malam bersama dengan pria asing! Apa masalahnya?! Skandalku berakhir di malam itu dengan pria ini! Tapi Satya?! Dia justru menikahi wanita lain!!!!!" Nadya berteriak dengan emosi hingga air mata membanjiri wajahnya.


Chandra menatap Nadya dengan datar dan menghela napasnya. "Aku akan bicara dengan ayahmu. Sekarang kau pulanglah dan tenangkan dirimu.". Ujar Chandra dengan nada yang tenang..


Nadya bergeming. Ia mengusap wajahnya yang basah dengan kasar menyingkirkan air mata yang turun tanpa permisi. Nadya pun lalu menghentakkkan kaki melangkah keluar dari rumah mertuanya.


...🌴🌴🌴...


Aku gak akan stop gitu aja kok😁 Tetap aku up sampai tamat sebentar lagi kok si satya ini. Tapi up santai.... karena bulan ini ga ada target, sama seperti novel baruku, aku nulisnya masih sekali/hari di novel baru itu. Mungkin bulan depan akan aku up doble.

__ADS_1


__ADS_2