Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 77


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian, mobil yang di tumpangi oleh Satya pun berhenti tepat di depan lobby apartemen. "Kau pulanglah langsung ke rumah dan bawa serta koper-koperku" Titah Satya pada supir pribadinya. "Jika kedua orang tuaku menanyakanku, bilang saja aku langsung ke kantor".


"Baik, Pak". Sahut sang supir.


Satya lalu segera masuk ke dalam lobby dan menuju lift. Tak lama kemudian lift yang membawanya hingga ke lantai dimana unitnya berada pun terbuka. Dengan senyum yang terukir di bibir, Satya sungguh tidak sabar untuk bertemu sang istri. Ia benar-benar ingin memeluk tubuh ramping Sandra yang sudah Ia rindukan.


Satya lalu memasukkan password di daun pintu dan mendorongnya ke dalam. Satya melangkah masuk dengan mengerutkan keningnya. "Sayang.. Aku pulang!" Ujar Satya sedikit berteriak. Suasana apartemen sangat hening. Lampu menyala semua walau hari sudah siang. Biasanya Sandra selalu ngedumel saat melihat lampu lupa di matikan oleh Satya.


Satya melangkah menuju ruang tengah dan matanya terbelalak saat itu juga saat melihat meja kaca pecah berhamburan. Jantung Satya semakin berdebar kencang saat melihat banyak sekali tetesan darah di atas karpet berwarna cokelat muda.


Satya lalu berlari menuju ke dalam kamar utama. "Sayang!" Teriak Satya. "Sandra!" Satya terus menerus memanggil saat Ia membuka pintu kamar mandi. Tidak di dapatkannya keberadaan sang istri di kamar utama, Satya lantas segera membuka dua kamar lainnya. Namun nihil Ia sama sekali tidak menemukan Sandra.


Satya lalu kembali ke ruang tengah menatap nanar ke serpihan kaca dengan banyak noda darah di sekitarnya. Satya pun menatap televisi yang masih menyala dan melihat sebuah mangkok berisi buah di atas sofa.


Satya menyugar rambutnya. Ia lalu memutuskan untuk menghubungi Nino. Dalam tiga kali panggilan akhirnya telfonnya pun terhubung.


"Cepatlah datang ke apartemen" Titah Satya.


"Astaga Bos.. Kita baru saja berpisah dua jam yang lalu. Apa kau sudah merindukanku? Kumohon berikan aku istirahat sehari ini. Aku rindu dengan gulingku".


"Tidak ada waktu untuk bergurau sialan! Istriku menghilang!". Umpat Satya.


"Apa maksudmu menghilang? Bisa saja dia sedang pergi"


"Tidak. Aku yakin ads sesuatu yang tidak beres."Sanggah Satya. "Banyak noda darah di apartemennya. Meja kaca pun hancur berserakan"


"Aku akan segera kesana" Ujar Nino dengan cepat.


Satya mematikan sambungan telfonnya dan di masukkan ke dalam saku celana. Ia lalu melangkah menuju sebuah intercom di dinding apartemen yang bisa menghubungkannya langsung ke bagian security.


"Aku butuh bantuan di unit 6969. Cepatlah datang kemari".Ujar Satya saat menekan tombol.


Satya berjalan mondar mandir seraya mencoba menghubungi ponsel Sandra namun selalu terhubung ke voice mail. Satya menatap CCTV yang berada di sudut plafon ruang tengah. Ia menghela napasnya dengan kasar.

__ADS_1


"Andai saja aku lebih cepat memperbaiki CCTV itu. Aku pasti bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di sini" Satya mengusap wajahnya dengan frustasi.


Tak lama bel apartemen pun terdengar. Satya lalu membuka pintu dan melihat dua orang berpakaian serba hitam yang tak lain adalah security. "Ada yang bisa kami bantu, Pak?". Tanya seorang security.


"Masuklah" Ujar Satya seraya melangkah kembali ke ruang tengah.


"Aku ingin mengakses CCTV lobby hingga ke depan koridor depan unit apartemenku".


"Kalian lihat sendiri. Ada sesuatu yang terjadi di sini. Istriku menghilang. Dia hanya sendirian di apartemen sejak kemarin dan ketika aku sampai, kondisi apartemenku sudah seperti ini". Satya menunjukkan noda darah yang berada di sekitar karpet.


"Baik, Pak. Mari silakan ikut kami ke bagian sistem pengamanan gedung". Sahut security tersebut setelah mengamati.


Satya beserta dua orang security segera menuju ke bagian pusat pengamanan gedung. Tak lama, Satya menatap deretan layar kecil yang memperlihatkan banyak sekali gambar real time yang terekam melalui CCTV.


"Pak Satya, saya kepala pengamanan gedung. Boleh saya tau anda mau melihat rekaman CCTV yang hari apa dan pukul berapa?". Tanya seorang pria paruh baya.


Satya terdiam sejenak terlihat berpikir mengingat sesuatu. "Rekaman kemarin dari pukul tiga sore sampai siang ini saja, Pak. " Ujar Satya.


"Silakan, Pak. Anda bisa melihatnya sendiri". Sahut pria paruh baya itu.


Belum sempat Satya melihat ke layar komputer. Ponselnya tiba-tiba saja berdering. Satya merogoh ponselnya dari saku celana. "Aku di ruang pusat pengamanan gedung. Kau kemari saja". Ucap Satya tanpa basa basi dan langsung menutupnya begitu saja.


Satya lalu membungkukkan tubuhnya menatap fokus ke layar komputer. "Tolong percepat". Titah Satya. Pupil matanya bergerak kesana kemari saat fokus memperhatikan pergerakan banyak orang yang keluar masuk di lobby apartemen. Cukup lama Satya mengamati hingga akhirnya matanya membulat saat melihat Sandra yang baru turun dari sebuah mobil.


"Stop!" Pekik Satya. "Ini dia! Ini istriku! Ikuti pergerakannya melalui rekaman ini!" Satya menunjuk ke layar komputer yang menunjukkan gambar Sandra.


"Bos!". Panggil Nino yang baru saja datang dan segera di angguki oleh Satya. Keduanya lantas melihat dengan seksama pergerakan Sandra dari lobby hingga masuk ke dalam apartemen. Satya mengerutkan keningnya. Ia melihat tak ada kejanggalan bahkan hingga dua jam kemudian Satya mempercepat rekaman, Sandra tidak terlihat ke luar apartemen sama sekali.


Hingga akhirnya Nino tanpa sadar terpekik. "Nadya! Tunggu! Tunggu! Berhenti di situ!".


Satya menoleh ke arah Nino lalu beralih menatap layar komputer. Mulut Satya menganga hingga akhirnya meminta sang petugas mengikuti pergerakan Nadya di layar komputer. Satya mengusap wajahnya saat melihat Nadya berhenti tepat di depan unit apartemennya.


Kini Satya sudah bisa menduga apa yang terjadi pada istri keduanya itu. Satya menengadahkan kepalanya ke atas seraya menarik rambutnya. "Oh Tuhan.." Gumam Satya frustasi.

__ADS_1


"Bos lihat! Nadya berada di dalam apartemenmu sekitar tiga puluh menit" Ujar Nino masih memperhatikan layar komputer.


Nino tiba-tiba saja menepuk pundak Satya dengan cukup kencang. "Sandra bos! Lihat ini dia! Astaga ada apa dengannya?!".Pekik Nino terperanjat saat melihat gerak gerik Sandra yang tidak biasa.


Satya mengamati Sandra dari rekaman CCTV. Ia melihat sang istri jalan dengan tertatih-tatih seraya memegangi perutnya. Tanpa sadar mata Satya berkaca-kaca melihat Sandra yang begitu susah payah berjalan menuju lift.


"Percepat sampai ke lobby, Pak!".Titah Nino.


Rekaman pun segera di percepat hingga tepat ke bagian pintu lift yang terbuka. Satya dan Nino malah semakin terkejut saat melihat Sandra justru sudah berada di dalam gendongan seorang pria.


Pria itu terlihat menoleh ke kanan kiri hingga seorang security datang menghampiri dan membantu pria itu hingga ke luar lobby apartemen.


"Cari wajahnya melalui rekaman CCTV ini. Coba kau putar ulang di bagian pria ini".Ujar Satya.


Sang petugas dengan cekatan memutar ulang rekaman CCTV. "Stop! Besarkan dibagian ini!" Titah Satya.


Gambar pun akhirnya terlihat di perbesar. Satya dan Nino memicingkan mata melihat gambar yang pecah di layar komputer. Keduanya lalu terkejut dan saling menatap.


"Sean?!" Pekik keduanya tak percaya.


Satya menegakkan kembali tubuhnya. Ia mengusap wajahnya. "Jadi Sandra di bawa oleh pria brengsek itu?". Gumam Satya.


"Pak, Bukankah pria ini penghuni baru di lantai yang sama?" Ujar seorang petugas pada kepala pengamanan.


"Saya rasa juga begitu." Sahut sang kepala pengamanan.


"Maksudmu dia tetanggaku....?" Tanya Satya dengan raut wajah yang terkejut.


"Iya, Pak. Pria ini baru saja pindahan beberapa hari yang lalu ke apartemen ini"


Satya menghela napasnya mengerti kenapa akhirnya Sandra bisa berakhir di bawa oleh pria itu. "Berapa nomor unit pria itu?". Tanya Satya menatap sang kepala pengamanan.


......🌴🌴🌴......

__ADS_1


__ADS_2