Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 22


__ADS_3

"Hmm.. Gw rasa ini hari keberuntungan kita. Siapa tau persentase kita naik jadi 1% kan?". Ujar Merin ambigu.


"1% artinya masih mustahil dodol! Hahaha".


"Setidaknya kita akan makan enak hari ini!". Seru Merin ceria seraya menatap ke depan.


Sandra mengikuti arah pandang Merin dan terkejut kala melihat Satya dan Nino yang baru saja berjalan masuk ke dalam mall.


Merin lalu menarik lengan Sandra agar segera mengikutinya menghampiri kedua pria yang berpakaian necis itu. Sandra dengan cepat menahan langkah Merin.


"Mer! Jangan gila.. Lo mau ngapain?!". Tanya Sandra melotot pada Merin.


"Ya kita datangin mereka lah! Ayo jangan banyak mikir!". Seru Merin melangkah kembali.


Sandra lantas menarik lengan Merin dan melangkah ke hadapan Merin dengan gesit. "Kita gak kenal mereka berdua secara personal Merin. Mereka hanya pemain golf yang kita temani di lapangan.". Ucap Sandra penuh penekanan.


"Jadi gak usah macam-macam deh! Lebih baik kita mutar-mutar mall aja ayo!". Lanjut Sandra menarik lengan Merin yang berlawanan arah dengan kedua pria itu.


Belum sempat melangkah pergi, Sandra dan Merin di kejutkan oleh kehadiran Satya dan Nino. Rupanya dalam penglihatan Satya tadi Ia melihat ada 2 gadis yang terlihat berseteru di tengah aula mall. Namun setelah melihat lebih dekat Satya begitu terkejut kala melihat dua gadis itu adalah caddy yang di kenal olehnya.


"Apa kalian tidak punya tempat untuk berkelahi selain di tengah mall begini?". Tanya Satya menaikkan sebelah alisnya ketika sudah berada di hadapan Sandra dan Merin.


"Ah.. Tuan Satya!". Sapa Merin sedikit menunduk. Tentu saja gadis itu berpura-pura terkejut. Sandra yang melihat tingkah Merin rasanya ingin sekali mencubitnya!


"Sedang apa kalian berkelahi di aula mall?". Tanya Satya.


"Kami berdua tidak berkelahi. Kurang kerjaan saja..." Jawab Sandra masih kesal karena Merin. Namun dengan cepat Sandra melirik sekilas pada Satya yang tengah melemparkan tatapan yang menghunus tajam ke arahnya.


Merin menarik lengan Sandra seraya tertawa gugup. "Hahahaa.. Aduh maaf Tuan.. Teman saya ini lagi kesal karena saya ajak kemari..Maaf". Sahut Merin.


"Kesal?"


Merin menganggukkan kepala. "Iya Tuan. Dia kesal karena di mall ini tidak ada restoran yang sesuai kantong kami berdua. Sedangkan dia sudah kelaparan hehehehe".


"Tuan pasti paham kalau orang kelaparan ingin marah-marah terus, kan?".


Satya menatap Sandra yang sedang melotot pada Merin namun tak di hiraukan sama sekali oleh gadis itu.


"Kasihan sekali.. Sepertinya kau memang benar-benar kelaparan". Ujar Satya yang membuat Sandra semakin melotot dan menahan malu karena ulah Merin.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak lapar!". Sanggah Sandra.


"Tadi lo bilang mau cari makanan di kaki lima aja. Gimana sih, San?". Tanya Merin.


Sandra menatap Merin dengan tajam. Rasanya Ia ingin melempar gadis itu hingga langit ke tujuh!


"Nino, kita ajak mereka berdua makan siang bersama saja. Kau tidak apa kan? Atau kau mau memisahkan diri?". Tanya Satya akhirnya.


"Aku ikut saja". Jawab Nino singkat tak mau berdebat.


Nino sedari tadi hanya diam memperhatikan Sandra dengan cermat. Wajah yang menarik serta tubuh yang tinggi. Ia bertanya-tanya apa yang membuat bosnya bisa tertarik pada gadis itu.


"Ayo! Aku traktir kalian berdua makan siang!". Sahut Satya menatap silih berganti Sandra dan Merin.


Merin yang merasa misinya berhasil bersorak kegirangan dalam hati sedangkan Sandra hanya bisa pasrah mengikuti.


"Kan gw bilang apa? Walau hanya 1% tapi jadi kenyataan!". Bisik Merin pada Sandra ketika keduanya berjalan beriringan di belakang Satya dan Nino.


"Dengan cara jadiin gw tumbalnya! Sialan emang lo ya, Mer!". Umpat Sandra kesal.


Merin tertawa cukup keras hingga membuat kedua pria di depannya menoleh bersamaan. "Ada apa?". Tanya Satya.


Satya pun tak menjawabnya dan kembali menuju restaurant yang di tuju.


Setelah melalui 3 lantai, akhirnya keempatnya pun masuk ke dalam restaurant jepang. Aroma masakan memenuhi indera penciuman Sandra hingga benar-benar mengundang selera.


"Tadi saya reservasi untuk dua orang saja atas nama Satya Nagara. Tapi tolong tambahkan dua kursi lagi untuk para nona ini". Nino menghampiri seorang resepsionis yang bertugas untuk mengecek reservasi meja.


"Baik. Silakan masuk. Petugas kami akan mengaturnya". Ujar resepsionis tersebut.


Mereka berempat segera masuk ke dalam restauran. Hingga mereka di arahkan menuju sebuah meja panjang dengan 4 kursi. Di sengaja atau tidak namun kini Satya sudah duduk di hadapannya.


"Pesan apa saja yang kalian berdua inginkan." Titah Satya seraya memberikan dua ipad pada Sandra dan Merin untuk melihat-lihat daftar menu.


"Eeehh kok ngasih Ipad, Tuan?". Tanya Merin polos


"Daftar menu nya ada di dalam Ipad itu. Kau lihat sendiri". Ujar Nino.


Merin lantas menggeser layar Ipad itu dan melihat gambar makanan serta minuman yang benar-benar menggoda cacing dalam perutnya.

__ADS_1


"Kau mengerti?". Tanya Satya pada Sandra yang sedang serius melihat Ipad.


"Saya mengerti. Tapi untuk memesannya harus pencet yang mana, Tuan?". Jawab Sandra.


Satya mencondongkan tubuhnya ke arah Sandra. "Setelah kau pilih menu yang kau inginkan, kau tinggal tekan tombol di pojok bawah ini saja. Tanda tambah dalam kotak merah ini.. Kau lihat kan.." Ujar Satya seraya tangannya menari lincah di layar Ipad.


Sandra memperhatikan dengan baik dan menganggukkan kepalanya. Interaksi keduanya tentu saja tak luput dari perhatian Merin dan Nino.


Merin hanya bisa melongo melihat sikap Satya pada temannya sedangkan Nino hanya menghela napas pelan.


Kau gila... Benar-benar gila...


Nino bergumam dalam hati.


"Ehm.. Aku pamit ke toilet dulu. Permisi". Sahut Merin menginterupsi perhatian tiga orang lainnya.


Sandra menoleh pada Merin. "Mau ngapain?". Tanya Sandra pelan.


"Buang air kecil." Bisik Merin dan segera meninggalkan meja.


"Sebentar aku harus terima telfon ini dulu". Ujar Nino tiba-tiba berdiri seraya memegang ponselnya yang berdering.


Kini tinggallah Satya dan Sandra berdua. Sesekali Sandra melirik ke arah Satya yang sedang serius menatap layar ponsel di tangannya.


Suasana canggung sungguh terasa bagi Sandra. Membuka obrolan pun Ia tak tahu harus bertanya apa pada pria itu. Namun netra mata Sandra sungguh tertarik dengan penampilan Satya hari ini. Penampilan yang baru di lihatnya hari ini dari pria itu.


Biasanya Ia selalu melihat Satya di lapangan golf yang tentu saja memakai pakaian olahraga lengkap dengan topi. Namun hari ini Ia melihat Satya di balut dengan jas kantor serta sepatu pantofel. Topi yang selalu menghiasi kepala pria itu di lapangan golf kini lenyap dan terlihatlah rambut klimisnya yang berwarna hitam. Potongan rambut yang membuatnya tampan berkali-kali lipat.


"Jangan mencuri pandang padaku. Kalau kau naksir, aku yang repot". Sahut Satya menyadarkan lamunan Sandra.


Sandra gelagapan salah tingkah merasa telah terciduk. "Eeehh.. Tidak.. Saya... "


"Kenapa? Aku tahu aku tampan". Ujar Satya pongah.


Sandra tertegun. "Anda memang tampan tapi menyebalkan.." Sandra bergumam pelan namun masih terdengar samar di telinga Satya.


Satya menatap Sandra dengan wajah menyebalkan. "Cukup aku mendengar kau mengakuiku tampan. Sisanya aku tak peduli". Ujarnya seraya tersenyum miring.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


Kayak biasa yaaaa😆😘


__ADS_2