
"Nadya Carlton. Aku membutuhkanmu untuk menghadapinya". Ujar Satya menatap Sean dengan raut wajah serius.
Sontak saja Sean tersentak mendengar nama Nadya Carlton. Jika Satya hanya menyebut dengan Nadya saja mungkin Sean tidak akan terlalu terkejut. Toh nama Nadya bisa saja di miliki oleh miliaran orang di dunia. Namun Nadya Carlton, hanya merujuk pada satu orang yang Ia tahu.
"Nad.....Nadya....Carlton.....?" Ujar Sean terbata-bata.
Satya mengangguk. "Ya, Nadya Carlton. Putri tunggal keluarga Carlton".
Glek!
Sean menelan saliva dengan raut wajah pias. "Apa hubungannya putri tunggal keluarga Carlton dengan semua yang terjadi pada istri anda, Pak Satya?".
Satya menatap Sean dengan lekat. Ia tahu betul jika pria di hadapannya saat ini memang tidak mengetahui apapun. Hanya saja entah bagaimana alam semesta seakan mengatur pria di hadapannya saat ini mengambil perannya sendiri di dalam kehidupan pribadi Satya dengan kedua istrinya.
Satya meneguk kembali kopi nya. Ia menyenderkan punggungnya di bangku kayu taman rumah sakit. "Nadya Carlton adalah istriku". Ucap Satya menatap lurus ke depan.
Mendengar penuturan Satya tentu saja membuat Sean semakin terkejut hingga tak sengaja Ia menumpahkan kopi miliknya sendiri. "Ah astaga!". Ucap Sean saat percikan kopi menodai celana panjangnya yang berwarna krem. Sean menepuk-nepuk celananya dengan tangan.
"Pakai ini" Sahut Satya seraya memberikan sebuah sapu tangan berlogo kotak-kotak cokelat.
Sean lantas segera melap celananya dengan sapu tangan milik Satya. "Terima kasih. Saya akan mengembalikannya setelah di cuci". Ujar Sean tersenyum tipis. Sean lantas menatap Satya dengan ragu. "Apa yang tadi saya dengar tidak salah? Apakah Nadya Carlton adalah istri anda?". Tanya Sean.
Sean menatap ke gedung bertingkat di depannya. "Lalu yang di rawat sekarang adalah istri anda juga?".
Satya mengangguk. "Ya. Nadya Carlton maupun Sandra Aruni, keduanya adalah istriku". Ujar Satya menatap Sean dengan netra tajamnya.
"Uhuukkk!". Sean terbatuk begitu saja. Ia menyugar rambutnya seraya menarik napas sangat dalam. "Astaga... Bagaimana bisa seperti ini?". Gumam Sean hampir berbisik namun masih bisa di dengar oleh Satya.
"Pak Satya... Sebenarnya......."
"Aku sudah mengetahui segalanya tentangmu dan istri pertamaku". Satya memotong ucapan Sean.
Sean menganga hingga raut wajahnya sangat pias. Ia bahkan tak mampu berkata sepatah katapun. Otaknya tiba-tiba saja kosong. Bagaimanapun, Sean merasa bersalah atas kejadian malam itu bersama Nadya.
__ADS_1
"Sa.... Saya..."
"Oh Astaga bagaimana saya harus menjelaskan pada anda" Sean mengusap wajahnya merasa frustasi.
"Katakan saja padaku. Walau aku sudah mengetahui apa yang kalian berdua lakukan di pesta lajang itu, tapi aku tidak tahu bagaimana seorang asisten bos besar seperti Tuan Pradipta bisa berakhir di pesta lajang untuk menghibur Nadya dan teman-temannya". Ujar Satya seraya menyesap kopinya. Satya sudah cukup tenang menghadapi permasalahan masa lalu itu.
Sean menghela napasnya. Pikirannya berkelana menuju delapan bulan yang lalu. Saat itu Sean baru saja selesai bekerja dan Ia di datangi oleh sepupunya yang baru saja pulang dari Sydney.
Flashback On
"Kak Sean! Apa kau punya waktu kosong malam ini?" Tanya Dina, sepupu Sean.
"Hmm.. Tidak. Kenapa memangnya?"
"Temani aku datang ke pesta lajang temanku dong! Kakak tahu kan Momi tidak akan mengizinkanku pergi karena aku baru saja pulang. Tapi aku yakin kalau kakak yang menjadi alibiku, pasti Momi mengizinkan!". Ujar Dina.
Sean berpikir sejenak. "Aku baru saja pulang kerja, Din. Tubuhku lelah." Tolak Sean dengan halus.
"Yaaahh Kak Sean! Kumohon!" Bujuk Dina.
Mata Dina lantas berbinar. "Baiklah! Begitu juga boleh! Momi akan tetap berpikir kalau aku pergi dengan Kak Sean!". Dina cengengesan.
Malam hari, Sean akhirnya mengantarkan Dina menuju sebuah vila yang berada puluhan kilometer dari Ibu Kota. Letaknya yang terpencil dan akses menuju vila tersebut sangat menyeramkan. Kedua sisinya hanya ada pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Sean terus mengendarai mobilnya hingga akhirnya Ia melihat sebuah pagar yang kokoh mengelilingi bangunan mewah dengan penerangan yang sangat baik.
Seorang security membuka pagar dan Dina segera memperlihatkan sebuah tautan undangan melalui ponselnya. Sang security pun akhirnya memberikan akses masuk pada Dina dan Sean.
"Kak, bagaimana kalau kak Sean ikut turun dulu untuk sekedar makan atau minum? Perjalanan pulang ke Ibu kota sangat jauh loh Kak!". Ujar Dina membujuk Sean.
Sean melihat arlojinya. "Aku tidak berpikir lokasi pesta lajang temanmu akan sejauh ini. Kenapa tidak di adakan di hotel saja sih?!". Sean menggerutu.
"Biar saja Kak! Yang ngadain pesta lajang ini putri tunggal keluarga Carlton! Sesuka dia lah mau ngadain pesta dimana!". Ujar Dina.
__ADS_1
"Putri keluarga Carlton?" Ujar Sean membeo. "Memangnya kau berteman sedekat apa dengannya sampai dia mengundangmu ke pesta lajangnya?"
"Ada deh! Yang jelas aku berteman dengannya! Ayo kak cepat turun!". Dina membuka seatbeltnya.
"Tidak. Aku langsung kembali saja ke kota. Besok kau ikut pulang saja dengan temanmu!". Tolak Sean.
"Hanya segelas minuman saja masa tidak mau kak? Sekalian aku ingin mengenalkan kakak sepupuku yang tampan ini pada teman-temanku! Ayolah Kak Seaaaannnnnn". Dina merengek hingga akhirnya Sean menyerah dan mengikuti kemauan adik sepupunya itu.
Tak banyak perkenalan yang Sean lakukan pada teman-teman Dina. Sean lebih menikmati segelas mocktail dan duduk menyendiri di sebuah gazebo.
Malam semakin larut. Sean menghela napasnya dengan kasar. "Sial... Bagaimana aku bisa pulang ke kota! Ini sudah sangat larut dan astaga tubuhku sudah merindukan kasur!"
Sean mengedarkan pandangannya ke dalam. Sudah tidak terdengar huru hara suara cekikikan para wanita dari ruang tengah. Sean mengerutkan kening merasa ada yang janggal. Ia pun lantas segera memutuskan untuk memeriksa keadaan. Sean terkejut saat melihat Dina dan teman-temannya sudah terlelap karena mabuk.
Sean mengusap wajahnya kasar. "Astaga para wanita ini bar bar sekali!" Gerutu Sean. Ia lalu mengangkat Dina ke atas sofa. Sean menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terpaksa aku tidur di sini malam ini! Awas saja kau Dina!". Umpat Sean menatap adik sepupunya yang tengah terlelap.
"Hei kau!" Terdengar suara seorang wanita di belakang tubuh Sean. Sontak saja Sean membalikkan tubuhnya dan melihat Nadya yang berpakaian minim melangkah mendekat ke arahnya.
"Kau pria penghibur yang di bawa Dina si wanita lacur itu kan?". Ujar Nadya menatap Sean dengan matanya yang memerah tanda Ia sedang di bawah pengaruh alkohol.
"Sialan! Aku bukan pria penghibur!". Umpat Sean.
Nadya terkekeh hingga mendekat pada Sean. Jari telunjuknya memutar-mutar di dada bidang Sean. "Jangan bohong. Kau pasti sama saja dengan sepupumu itu... Dia menjadi wanita penghibur di club sydney. Kau pun pasti seperti itu kan....?"
Nadya membelai janggut tipis Sean dengan ujung jari jemarinya hingga menimbulkan gelenyar aneh pada tubuh Sean. "Ayo hibur aku malam ini". Sahut Nadya dengan nada menggoda.
Nadya mengecup bibir Sean hingga bola mata Sean membelalak. Refleks Sean mendorong tubuh Nadya. "Kau mabuk! Pergilah ke kamarmu dan tidur!". Maki Sean.
Nadya tersenyum miring seraya menyugar sisi rambutnya. "Kalau begitu antarkan aku ke kamar. Kau lihat kan jalanku sempoyongan. Kepalaku pusing..." Keluh Nadya.
Mau tak mau Sean akhirnya mengantarkan Nadya hingga wanita itu masuk ke dalam kamar. Saat Sean hendak keluar dengan gesit Nadya menarilk lengan Sean dan meraup bibir pria itu dengan rakus. Nadya membuka dua buah tali spagheti gaun mini yang membalut tubuhnya. Nadya berbisik dengan suara serak menggoda. "Hibur aku malam ini please...." Nadya menarik tangan Sean hingga tepat le atas bola kembarnya yang menantang.
__ADS_1
Hingga akhirnya malam laknat itu pun terjadi...
...🌴🌴🌴...