
Keesokan harinya...
Waktu baru saja menunjukkan pukul 6 pagi. Satya memandang ke rumah megah bertingkat tiga yang tak lain adalah rumah kedua orang tuanya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah setelah semalaman menjaga Sandra di rumah sakit. Satya menghembuskan napas lalu segera melajukan mobilnya masuk ke dalam setelah pagar rumahnya terbuka dengan sempurna. Seorang security menyapa dirinya saat Satya turun dari mobil.
"Selamat pagi, Tuan".
Satya mengangguk tipis. "Biarkan saja mobilku di sini. Jangan di bawa ke basement." Ujar Satya.
"Baik, Tuan" Sahut sang security.
"Apa istriku ada di rumah?"
Security itu pun nampak diam sejenak terlihat berpikir. "Sepertinya tidak, Tuan. Sudah beberapa hari saya tidak melihtat keberadaan Nona Nadya." Jawab sang security.
Satya hanya menanggapi dengan.sebuah anggukan dan segera melangkah masuk ke dalam rumah. Netra mata tajamnya memindai ke seluruh sudut rumah. Hanya terlihat beberapa pegawai yang sedang mengerjakan tugasnya masing-masing.
Satya lalu menekan tombol nomor tiga di lift. Ia akan mandi dan berganti baju. Tubuhnya terasa lengket. Tak lama kemudian pintu lift terbuka di lantai khusus miliknya. Yang pertama kali Satya lakukan adalah menuju kamar tidur Nadya. Ia membuka pintu kamar dan menepuk sekali ke udara hingga lampu menerangi ruangan.
Satya terdiam sejenak di palang pintu menatap kamar Nadya yang terlihat rapi. Satya lalu melangkah menuju wardrobe Nadya yang berada di dalam satu ruangan yang sama. Satya menatap dengan cermat barang-barang mewah milik Nadya dari balik lemari kaca. Ia pun menggeser pintu lemari yang di baliknya terdapat pakaian milik Nadya.
Satya menyunggingkan senyuman miring di mulutnya. "Sepertinya dia tidak berniat untuk pergi dari rumah ini". Satya bergumam seraya melangkah keluar dari kamar Nadya dan segera menuju ke kamarnya untuk segera membersihkan diri.
Tiga puluh menit kemudian...
Satya menatap penampilannya yang casual. Seharusnya Ia hari ini datang ke kantor, namun Satya lebih memilih untuk segera menemui Nadya dan menyelesaikan segalanya. Satya menghela napasnya dengan berat. Di balik penampilannya yang menawan, tak di pungkiri beban pikirannya sangat berat. Pagi ini Ia memutuskan untuk segera memberi tahu segalanya pada Chandra dan Grace sebelum Ia pergi menemui Nadya dan ayahnya, Aldanar.
Satya lantas meninggalkan kamarnya dan menuju lift untuk turun ke bawah. Di lantai satu, Satya melihat kedua orang tuanya sudah berada di meja makan sedang bersiap untuk sarapan. Grace yang mendapati sang putra berada di rumah lalu segera bangkit dan mengecup kedua pipi Satya dengan lembut.
"Apa kabar sayang?" Tanya Grace menyusuri penampilan Satya dari atas hingga bawah.
"Aku baik-baik saja, Ma" Ujar Satya tersenyum hangat. Satya menggiring Grace untuk kembali duduk di ikuti dengan dirinya yang duduk bersebrangan.
__ADS_1
"Kenapa kau.tidak langsung pulang saat Nino membawa koper-kopermu ke rumah?" Tanya Chandra saat Satya sudah duduk.
"Ada beberapa hal yang perlu aku urus, Pa." Jawab Satya. "Bisakah kita sarapan lebih dulu? Karena setelah sarapan, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua" Lanjut Satya menatap Grace dan Chandra silih berganti.
Ketiganya pun melalui sarapan dengan hening. Hanya suara denting sendok serta garpu yang terdengar dari ruang makan. Satya memilih sarapan dengan french toast yang di taburi buah blueberry segar yang di siram dengan saus maple.
Tak lama kemudian Chandra, Grace dan Satya pun segera pindah duduk ke ruang tengah. Seorang asisten rumah tangga membawakan tiga cangkir teh hangat chamomile dan meletakkannya dengan hati-hati ke atas meja.
"Ada yang perlu saya bawa lagi, Nyonya?" Tanya ART pada Grace.
"Tidak, Terima kasih." Sahut Grace hingga akhirnya ART tersebut undur diri kembalk ke pantry.
Chandra meraih secangkir teh chamomile dan meneguknya perlahan. "Apa yang ingin kau sampaikan pada kami?" Tanya Chandra to the point seraya menaruh kembali cangkir teh nya ke atas meja.
Satya mendesah pelan. Ia menatap kedua orang tuanya dengan seksama. "Ini tentang pernikahanku dengan Nadya". Sahut Satya akhirnya.
Chandra dan Grace saling melirik dan menatap Satya bersamaan. "Ada apa dengan pernikahanmu?" Tanya Chandra.
"Ah ya.. Nadya juga tidak pulang beberapa hari ke rumah. Dia tidak mengabari mama sama sekali". Timpal Grace. Wanita paruh baya itu lantas menoleh pada Satya. "Apa tidak pulangnya menantuku itu ada hubungannya dengan yang akan kamu bicarakan pada kami?".
"Aku akan menceraikan Nadya secepatnya". Ucap Satya dalam satu tarikan nafas. Matanya terpejam setelah mengutarakan hal itu. Kini Ia menunggu reaksi kedua orang tuanya.
"Apa kau ada masalah dengan istrimu?" Tanya Chandra dengan tenang.
Satya menatap Chandra dengan raut wajah yang heran. Bukan seperti ini seharusnya tanggapan sang ayah. Satya justru berharap reaksi yang sama seperti yang Dimas lakukan kepadanya.
"Kenapa Papa tenang saja mendengarkan apa yang kusampaikan? Apa papa mengetahui sesuatu?".
Chandra terkekeh pelan menatap sang putra. "Aldanar menghubungiku kemarin dan menceritakan tentang perselisihanmu dengan istrimu itu".
"Kau tahu? Jangan pernah kau mengakhiri pernikahanmu hanya karena perempuan idaman lain. Itu hanya cinta monyet sesaat saja" Chandra menatap sang putra kali ini dengan serius. "Putuskan hubunganmu dengan perempuan itu dan minta maaflah pada istrimu".
__ADS_1
Satya terperangah mendengar penuturan Chandra. Grace yang sedari tadi mendengarkan berulang kali menatap Chandra dan Satya dengan tatapan yang sama sekali tidak mengerti.
"Sebenarnya ada apa ini? Maksudmu apa sayang? Perempuan idaman lain apa maksudnya?" Grace menatap Chandra dengan wajah yang menuntut penjelasan.
Chandra mengedikkan dagunya ke arah Satya. "Putra kita itu sayang... Dia sedang bermain api dalam pernikahannya" Ujar Chandra.
"Maksudmu apa?" Tanya Grace masih tidak mengerti.
"Putramu menikahi perempuan lain di belakang Nadya hahahaha. Entah turunan siapa dia hingga berani melakukan hal seperti itu".
"APA?! MENIKAH LAGI?!" Grace memekik tak percaya dengan matanya yang membola. Ia menatap Satya dengan raut wajah sangat terkejut.
"Apa benar yang di ucapkan oleh papamu?!".
"Tentu saja benar sayang. Aldanar menelfonku. Ia meminta izin padaku agar putrinya sementara berada di rumahnya. Aku tanya kenapa, Aldanar lantas menjelaskan situasinya. Dia menuntut Satya untuk datang memjnta maaf pada putrinya dan segera menemuinya". Chandra menjelaskan pada Grace dengan pelan.
"Aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi pria brengsek seperti ini. Jika hal ini terbongkar, bukan hanya pernikahanmu yang kacau, tapi hubungan keluarga kita dengan keluarga Carlton yang telah terjalin sejak lama akan rusak dan saham perusahaan akan terjun bebas. Seharusnya kau berhati-hati dalam bertindak" Ujar Chandra beralih menatap Satya denga netra yang sama tajamnya dengan sang putra.
"Siapa wanita yang kamu nikahi lagi?" Tanya Grace.
"Namanya Sandra. Sandra Aruni". Ujar Satya. "Dia....."
"Wanita itu hanya seorang caddy sayang! Entah setan apa yang merasuki putra kita." Timpal Chandra memotong ucapan Satya.
"Aku mencintainya. Aku menikahinya bukan untuk bermain-main dan aku tidak peduli dengan latar belakang keluarganya". Ujar Satya dengan nada tegas.
"Hahahahhaaa apa yang kau katakan sangat klise! Sudahlah! Aku tidak mau bicara panjang lebar di sini. Kau datang minta maaf pada istrimu dan ceraikan caddy itu". Ucap Chandra dengan nada tak terbantahkan.
"Aku tidak akan melakukannya. Aku justru akan melepaskan Nadya daripada Sandra. Papa tidak tahu apa yang membuatku sampai seperti ini!" Pekik Satya menatap Chandra.
"Apapun kesalahan yang di lakukan oleh istrimu, bukan berarti kau bisa sembarangan menikah lagi! Apa kau tidak berpikir panjang huh?! Pertahankan pernikahanmu dengan Nadya kalau kau tidak mau melihat wanita simpananmu berakhir di tanganku!".
__ADS_1
...🌴🌴🌴...
"