Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 31


__ADS_3

Tepat pukul 8 pagi Satya sudah berada di Golf Country Club setelah berhasil melalui drama yang Nadya buat di hadapan Ibunya. Semakin lama Satya merasa kesal dengan tingkah istrinya yang selalu mencari perhatian dan perlindungan di balik Grace dan Chandra. Andai saja kedua orang tuanya tahu apa yang sudah di lakukan oleh menantu kesayangan mereka!


Satya hanya pergi seorang diri karena Ia tidak ingin di ganggu oleh siapapun termasuk Nino, sang asisten yang sangat kepo. Satya mengitari mobilnya dan membuka bagasi mobil. Ia mengeluarkan tas golf dan menyampirkannya ke pundak.


Setelah keperluannya Ia rasa sudah semua di keluarkan, Satya memencet alarm mobilnya. Ia segera melangkahkan kakinya masuk menuju aula untuk menuju area titik awal lapangan golf. Beberapa orang pekerja yang mengenalinya terlihat menundukkan kepala untuk menyapa. Satya hanya mengulas senyum tipis di bibirnya seraya terus melangkah.


Tak lama Ia sudah sampai di area buggy car. Tas golf nya Ia sematkan di bagian belakang. Mami Sari yang melihat Satya lantas segera menghampirinya.


"Pagi, Pak Satya" Sapa Mami Sari.


Satya menoleh pada sumber suara dan mengulas senyum. "Pagi".


"Bagaimana yang saya minta, Mami Sari?". Tanya Satya to the point.


"Sudah saya atur, Pak. Untung saja Pak Satya yang lebih dulu menelfon saya hehe"


"Kenapa memangnya?" Satya mengerutkan kening tak mengerti.


"Pak Teguh juga menelfon saya untuk meminta Sandra yang menjadi caddy nya hari ini. Tapi saya bilang kalau Sandra sudah di booking oleh anda". Ujar Mami Sari menjawab kebingungan Satya.


Satya mengulas senyum miring. "Katakan padanya jika Sandra adalah caddy pribadi saya. Jika saya sedang bermain golf, siapapun tidak boleh membawanya ke lapangan selain saya". Ucap Satya dengan tegas.


"Tapi apakah anda yakin, Pak? Biasanya anda hanya mau di temani oleh caddy senior yang sudah fasih dengan lapangan. Sandra adalah caddy baru seperti yang anda tau"


"Walau dia caddy baru, keahliannya dalam membaca medan lapangan sudah cukup baik. Anda tenang saja". Ujar Satya yang di angguki oleh Mami Sari.


"Baiklah. Sebentar lagi Sandra datang kemari. Saya permisi lebih dulu untuk mengatur pemain lainnya, Pak Satya". Sahut Mami Sari undur diri.


Selepas Mami Sari pergi, Satya lalu melangkah menuju restaurant. Ia menarik kursi dan duduk tanpa memesan apapun. Netra mata tajamnya menyusuri seluruh area sejauh jangkauannya. Memang benar yang Sandra ucap padanya tempo hari. Bahwa lingkungan pekerjaannya memang tenang dan nyaman walau gadis itu harus berlarian hanya demi sebuah bola putih berukuran kecil.


Satya melirik arlojinya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 8.15. Sudah waktunya Ia turun ke lapangan namun Satya belum melihat batang hidung Sandra. Ia merogoh ponselnya dari dalam saku celana berniat untuk menghubungi Sandra. Namun belum sempat Ia membuka kunci layar ponselnya, Sandra sudah berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Maaf Tuan kalau membuat anda menunggu". Sahut Sandra seraya membungkukkan badan sedikit. Satya melirik ke sekitar dan berdeham. "Ehm! Jangan membungkuk begitu!". Titah Satya pelan namun tegas.


Sandra terkekeh pelan. Satya lantas bangkit dari duduknya dan segera menuruni undakan tangga hingga ke buggy car nya. "Kau yang menyetir". Ujar Satya.


Sandra lantas dengan sigap segera mengemudikan buggy car menuju ke hole 1. "Tuan mau main 18 hole ya?". Tanya Sandra memecah keheningan di antara mereka.


"Rencananya begitu. Tergantung mood ku saja". Jawab Satya.


"Saya baru tahu kalau ada orang yang bermain golf sesuai mood. Biasanya mereka kemari justru untuk menyegarkan pikirannya".


Satya mengulas senyum di bibirnya. "Kau benar. Aku sudah mendapatkan kesegaran sedikit saat ini". Jawab Satya menatap sekilas Sandra yang sedang mengemudi.


"Pasti karena melihat yang hijau-hijau kan, Tuan? Pepohonan memang bisa membawa ketenangan hehhehe"


"Karena aku melihatmu lebih tepatnya" Jawab Satya.


Sandra menoleh pada Satya dengan mulut menganga. "Awas lalat masuk". Ujar Satya tersenyum miring.


"Ya... Ha-habisnya Tuan ini kok senang sekali bercanda!" Ujar Sandra gugup.


Ckiittt


Sandra menginjak rem buggy car secara tiba-tiba hingga tubuh Satya yang belum siap menahan terjerembab ke depan. Sandra menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Astaga Tuan! Maaf! Maaf!". Ujar Sandra panik. Ia menoleh ke kiri dan kanan dan tidak melihat siapapun di sekitarnya.


Sandra dengan cepat menarik punggung Satya untuk membantu pria itu kembali ke posisi duduk. Aroma tubuh Satya yang bercampur parfum mahal sungguh memabukkan. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, Sandra menghirup diam-diam karena terbuai akan harum tubuh pria itu. Belum pernah Sandra mencium aroma pria yang sememabukkan ini.


"Hey! Kau sedang apa, huh?". Tanya Satya yang merasa Sandra hanya diam beberapa saat di balik punggungnya.


Sandra membuka matanya lalu sedetik kemudian Ia melotot menyadari kebodohannya. Sandra lantas menarik dirinya kembali menjauh dari tubuh Satya. "Maaf Tuan!" Ujar Sandra sembari menunduk. Ia sangat malu untuk menatap wajah pria itu!


"Kenapa kau tidak hati-hati mengemudikan buggy car? Aku sampai terjerembab ke depan!". Omel Satya seraya menepuk kedua tangannya menyingkirkan butiran debu.

__ADS_1


"Sa-saya habisnya kaget Tuan bicara seperti tadi! Makanya saya reflek menginjak rem. Maafkan saya Tuan". Sahut Sandra seraya menundukkan kepala.


"Lalu kau tadi sedang apa di balik punggungku?" Tanya Satya menatap Sandra seraya mengangkat sebelah alisnya.


"I--itu...."


"Apa? Itu apa?". Tanya Satya tak.sabar.


"Habisnya parfum anda sangat harum jadi saya tak sadar merasa nyaman saat menghirupnya". Cicit Sandra memilih jujur.


Satya melongo mendengar penuturan Sandra. Ia tertegun sejenak namun tiba-tiba bibirnya menyeringai. Satya perlahan mencondongkan tubuhnya pada Sandra membuat gadis itu gugup setengah mati. Sandra menggeser tubuhnya ke samping hingga Ia benar-benar terjepit antara tubuh Satya dan tiang pembatas buggy car.


"Tu-tuan.. Anda mau apa?" Tanya Sandra gugup.


"Katanya kau merasa nyaman saat menghirup parfumku. Nah! Hiruplah sepuasmu jika kau mau" Ujar Satya seraya menarik kerah polo shirt yang di pakainya ke arah Sandra.


Reflek Sandra mendorong tubuh Satya hingga mundur sedikit ke belakang. Lalu dengan cepat Sandra turun dari buggy car. "Tuan! Jangan seperti itu! Anda melecehkan saya!"Seru Sandra memberanikan diri.


"Hey! Siapa yang melecehkan siapa maksudmu?" Tanya Satya.


"Kau yang melecehkan aku lebih dulu!"


"Tidak! Kapan saya melecehkan anda!"Sanggah Sandra.


Satya lantas turun dari buggy car dan menatap Sandra dengan raut wajah serius. "Kau diam di balik punggungku dan menghirup diam-diam aroma tubuhku. Apa itu tidak termasuk pelecehan? Coba kalau posisinya di balik, aku yang melakukannya padamu? Pasti kau sudah menendangku. Huh! Dasar betina!". Gerutu Satya.


"I-itu saya tidak bisa ****** diri saya! Bukan di sengaja!". Pekik Sandra panik.


"A-apa tadi kau bilang? Kon.........tol?" Satya melongo. "Sandra! Mulutmu! Bwahahahaahahaha" Satya tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya.


'TI-TIDAK! MAKSUD SAYA BUKAN ITU TUAN!". Sandra berteriak dengan wajah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


Done 2 bab!😘


__ADS_2