
Satya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Netra mata tajamnya menatap sebuah pintu yang hanya berjarak 50 cm di depannya. Jantungnya berdetak cepat hingga membuat dirinya merasa tidak nyaman. Satya saat ini di landa gugup luar biasa. Mau tidak mau, siap tidak siap, inilah waktunya Ia harus membuka jati dirinya di hadapan kedua orang tua Sandra.
Satya menekan bel kamar hotel beberapa kali hingga akhirnya pintu terbuka dan nampaklah Sabil di baliknya. Gadis berusia 14 tahun itu terkejut tatkala melihat sang kakak ipar yang datang.
"Kak Satya..." Sapa Sabil dengan pelan dan canggung.
Satya melemparkan sebuah senyuman pada gadis cilik yang sudah di anggapnya seperti adik kandungnya sendiri. "Ada Bapak dan Ibu, dek?" Tanya Satya.
"Bapak dan Ibu sedang belanja ke mall di sebelah hotel, Kak." Ujar Sabil. "Oh ya maaf kak, masuk dulu". Sabil membuka pintu kamar hotel dengan lebar mempersilakan Satya masuk.
"Sudah dari tadi atau baru saja keluarnya, dek?" Tanya Satya seraya melangkah masuk.
"Udah lama, Kak. Mungkin sebentar lagi pulang". Jawab Sabil seryaa mengekori Satya.
"Nanti Sabil telfon Ibu dulu. Kak Satya mau minum apa?".
"Tidak perlu. Nanti aku ambil sendiri saja kalau haus". Ujar Satya yang diangguki oleh Sabil. Gadis itu pun segera undur diri untuk segera menelfon Retno, Sang Ibu.
Tiga puluh menit kemudian, Retno dan Dimas pun akhirnya kembali. Satya dengan cekatan membawakan beberapa kantong belanja dari supermarket dan meletakkannya di atas meja.
"Maaf ya, Nak Satya sudah menunggu lama. Tadi setelah Sabil menelfon, Ibu langsung cepat-cepat pulang" Ujar Retno terkekeh.
Satya mengulas senyum tipis. "Tidak masalah, Bu."
"Kenapa Sandra tidak ikut kamu kemari?" Tanya Dimas tiba-tiba.
Raut wajah Satya sontak saja berubah pias. Ia menatap Retno dan Dimas silih berganti. "Pak.. Bu... Sebenarnya ada yang mau saya sampaikan pada kalian berdua". Ujar Satya dengan nada pelan.
Dimas menatap Satya dengan raut serius. "Ada apa, Nak Satya?". Tanya Dimas.
__ADS_1
"Bisakah kita bicara di ruang tengah?" Sahut Satya yang di setujui oleh Dimas. Satya pun melangkah duduk di sofa ruang tengah di ikuti oleh Dimas dan Retno.
Satya menautkan jari jemarinya. Ia berusaha merangkai kata demi kata di otaknya namun lidahnya kelu untuk mengucap. Sial... Lebih mudah mengatasi musuh perusahaan di bandingkan jujur pada kedua mertuaku yang polos ini..
Satya menatap silih berganti pada Dimas dan Retno. Ia menghela napasnya dengan pelan mengatur rasa gugup yang menguasai dirinya saat ini.
"Sebelumnya saya minta maaf pada Bapak dan Ibu..." Ujar Satya menatap kedua mertuanya dengan sangat serius.
"Ada apa sebenarnya, Nak Satya?" Tanya Retno yang sedari tadi sudah merasa ikut gelisah karena melihat sikap sang menantu.
"Sandra... keguguran, Bu".
Retno dan Dimas sontak saja melotot. Raut wajah dua orang paruh baya itu sangat terkejut. "Bagaimana bisa?!" Tanya Dimas.
Satya mengusap wajahnya dengan kasar. "Bukan salah Sandra Pak, Bu.. Salahkan saya saja. Di sini saya yang bertanggung jawab penuh atas apa yang telah terjadi pada Sandra". Ujar Satya.
"Bagaimana bisa Sandra keguguran, Nak?Seingat Ibu, dia pergi dari hotel untuk pulang ke apartemen keadaannya baik-baik saja. Dia juga sudah ceria dan mau makan". Sahut Retno bertanya-tanya.
"Serangan dari siapa?!" Timpal Dimas.
Satya terdiam sejenak. Ia lalu menatap lekat kedua mertuanya. "Sandra di serang oleh Nadya, Istri pertama saya". Ujar Satya akhirnya mengungkapkan sebuah rahasia yang Ia simpan rapat.
"APA??!!!!" Seru Dimas dan Retno terkejut. Dimas sontak beranjak dari duduknya dan menghampiri Satya yang masih duduk dengan wajah menunduk.
"Katakan sekali lagi apa yang kamu bilang tadi.. Bapak salah dengar kan?!" Tanya Dimas.
Satya mendongakkan kepalanya menatap raut wajah Dimas yang sudah menahan amarah. "Maafkan saya, Pak. Saya memang sudah memiliki istri sebelum menikahi Sandra". Ujar Satya merasa bersalah.
Greepp!
__ADS_1
Dimas menarik kerah kemeja Satya hingga pria itu berdiri. "Bajingan kamu! Kamu sudah menipu keluarga saya!" Sahut Dimas penuh emosi.
Retno yang mendengar penuturan Satya pada sang suami hanya bisa mengelus dadanya seraya menitikkan air mata. "Ya Tuhan, Sandra nasibmu nak...." Gumam Retno.
PLAAKK!
Dimas menampar sisi wajah Satya dengan sangat kencang. Pria paruh baya itu tengah di kuasai emosi yang amat tinggi. "Kamu keterlalulan! Kamu menipu putri saya! Kamu menipu keluarga saya! Apa karena kami orang miskin jadi kamu bisa memperlakukan kami seenaknya?! Begitukah?!"
"Tidak, Pak.. Bukan begiu maksud saya.. Saya benar-benar tulus dengan Sandra dari awal bertemu... Tolong percaya saya" Ujar Satya
"Gila! Kamu minta saya percaya hah?! Kamu membuat putri saya yang lugu itu jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam! Dia mempercayai kamu! Kami mempercayaimu sialan!!!". Dimas tak henti meluapkan emosinya hingga Retno menghampiri sang suami dan memeluknya berusaha menyalurkan ketenangan.
"Apa sebelum menikah, Sandra mengetahui statusmu yang sudah beristri?" Tanya Retno menatap Satya dengan matanya yang sembab.
Satya menggeleng lemah. "Dia tidak tahu apapun.. Saya yang salah." Ujar Satya.
"Ceraikan putri saya! Kembalikan dia kepada kami! Saya tidak mau menjerumuskan putri saya dalam kehidupanmu yang rumit itu!!!". Maki Dimas.
Satya merosot bersimpuh di hadapan Dimas. Kepalanya menunduk menatap lantai. "Saya mohon, Pak.. Maafkan saya.. Tapi jangan minta saya menceraikan Sandra... Saya mencintainya, Pak..." Ujar Satya pelan.
"Cinta?! Kalau kamu mencintainya, kamu tidak akan sampai hati membohonginya tentang hal yang serius seperti ini!" Ujar Dimas menunduk menatap Satya yang bersimpuh di kakinya.
Dimas lantas mendongakkan kepala berusaha menahan air mata yang hendak keluar. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Ya Tuhan putriku.." Gumam Dimas pelan.
"Aku bukanlah seorang ayah yang baik untuk anak-anakku. Tapi aku tidak ingin mereka terluka, aku ingin kehidupan mereka baik-baik saja dan impianku hanya jangan sampai kehidupan anak-anakku seperti kehidupan kedua orang tuanya" Ujar Dimas menatap ke luar jendela. "Aku sangat bersyukur kamu hadir di tengah-tengah keluarga kami. Aku bahkan merasa kamu adalah keajaiban dari Tuhan. Tapi sekarang aku merasa kamu adalah kutukan bagi keluargaku.. Kamu membuat putriku kecewa... Aku memang bermimpi memiliki menantu kaya, tapi jika itu harus membuat hidup putriku berantakan, aku lebih baik memilih sederhana tapi putriku bahagia... Kamu tahu... Satu-satunya pria yang dibawa olehnya ke hadapan kami hanya kamu... Salahku yang tidak memiliki power apapun hingga aku tidak mencurigaimu dan mencari tahu seluk beluk tentang dirimu sebelum menerimamu menjadi menantuku". Dimas menatap Satya yang masih bersimpuh. Pria paruh baya itu pun mengusap setetes air mata yang berhasil jatuh membasahi pipi.
"Sekarang katakan, dimana putriku sekarang?"
...๐ด๐ด๐ด...
__ADS_1
Hi, maaf baru muncul lagi๐๐
Gak akan banyak alasan klasik yg aku utarakan sih, hanya saja memang cukup tepar hampir seminggu ini๐ Semoga gak pada lari ya dari novel yg syepii inii๐