
PLAAAKK!
"Apa yang kau lalukan hah?! Kau sangat sembrono, Nadya!" Aldanar menatap Nadya dengan penuh amarah. Ketika suatu portal online satu per satu membeberkan wajah Sandra di media dan Aldanar mengetahuinya pagi ini, Aldanar benar-benar pusing tujuh keliling.
"Kau merusak segala kesepakatan yang kubuat dengan Chandra Nagara!"
Nadya balas menatap sang ayah dengan memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Aldanar. "Ayah hanya memikirkan citra perusahaan tanpa memikirkan perasaanku!!!" Teriak Nadya. "Ayah tidak tahu kan bagaimana perasaanku! Semua kesalahan di limpahkan padaku, padahal aku juga korban di sini!".
"Aku justru memikirkanmu! Aku sampai mengiba pada Chandra agar dia tidak membeberkan video syur mu pada siapapun! Aku meminta dia untuk memaafkan perbuatan memalukanmu itu pada putranya dan tidak menuntut apapun! Aku memikirkan harga dirimu di depan keluarga Nagara! Tapi kau! Kau merusak semuanya!" Ujar Aldanar. "Aku tidak tahu bagaimana reaksi Chandra ketika mengetahui bahwa kau lah dalang di balik semuanya! Aku yakin Satya sudah mengetahuinya karena dia menelponku tanpa henti sejak kemarin!" Aldanar mendudukkan dirinya dengan kasar ke sebuah sofa. Pria paruh baya itu mengusap wajahnya. Sorot frustasi tercetak jelas di matanya.
"Perbuatanku memalukan?" Nadya menatap Aldanar dengan tatapan nanar. "Aku mabuk, Ayah. Berapa kali aku harus bicara kalau aku mabuk! Kalaupun aku yang merayu pria sialan itu lebih dulu, itu karena aku di bawah pengaruh alkohol! Dan siapa yang menduga bahwa aku akan hamil? Aku justru melakukan aborsi agar tidak membawa aib lebih banyak pada dua keluarga!".
Nadya menarik napasnya sangat dalam. Berusaha menetralkan luapan emosi yang menyelimutinya. "Tidak ada yang peduli padaku. Tidak ada satupun yang bertanya padaku apakah aku baik-baik saja. Suamiku menikahi wanita lain, Ayah. Hal mana lagi yang lebih menyakitkan daripada itu untuk seorang istri? Aku memang melakukan kesalahan, tapi aku berusaha memperbaikinya. Hatiku hanya untuk dia. Tapi dia justru membalasku dengan memberikan hatinya untuk wanita lain. Dan sialnya tidak ada yang menanyakan bagaimana perasaanku saat ini..." Nadya berucap dengan pelan hingga membuat Aldanar diam menatap sang putri dengan sorot tak terbaca. Nadya pun memutuskan untuk pergi keluar dari ruang kerja Aldanar tanpa berkata sepatah kata.
...🌻🌻🌻...
"Pak Satya! Pak Satya! Tolong berikan konfirmasi pada kami atas berita tentang pernikahan anda dengan putri tunggal keluarga Carlton!"
__ADS_1
"Apakah benar anda telah menikah?!"
"Pak Satya! Apa benar anda diam-diam menduakan Nadya Carlton?!"
"Apa anda sudah melihat jika foto istri kedua anda tersebar luas di media? Apa benar dia seorang caddy dan anda menikahinya di belakang istri sah anda?!"
"Apakah anda di sini artinya sudah secara resmi melayangkan gugatan cerai pada Nadya Carlton?"
"Apa berita tentang anda tidak mempengaruhi kepercayaan para pemegang saham?!"
"Biarkan kami lewat dulu! Kami akan memberikan pernyataan secara resmi nanti di dampingi oleh kuasa hukum kami! Kalian tunggu saja kabarmya!". Teriak Nino pada semua wartawan.
Satya menghela napas pelan ketika akhirnya Ia berhasil masuk dan duduk di mobilnya. Satya membuka dua kancing teratas kemejanya dengan asal. "Sialan. Inilah alasannya aku tidak suka di sorot oleh media! Mereka semua seperti lintah yang haus akan berita!" Umpat Satya kesal.
Nino terkekeh pelan. "Itu memang sudah pekerjaan mereka untuk mencari berita. Semakin sensasional dan spesifik berita yang mereka dapatkan, semakin besar upah mereka. Kau maklumi saja" Ujar Nino menghibur Satya.
Satya mendelik kesal. "Tapi aku risih! Aku tidak perlu pencitraan ataupun diberitakan apapun oleh media karena aku bukan publik figur! Aku adalah seorang pengusaha perusahaan besar! Privasi adalah hal yang sangat aku jaga!"
__ADS_1
"Ya. Itu memang benar. Golongan orang kaya yang benar-benar kaya memang cenderung menjauh dari media dan menikmati hidupnya." Ujar Nino menganggukkan kepala. "Buktinya kau sangat menikmati hidupmu hingga beristri dua".
plaaakk!
Satya meninju lengan atas Nino dengan cukup keras. "Sialan! Bukan waktunya unttuk bercanda!" Umpat Satya kesal. Ia melihat ponselnya dan mengetikkan sesuatu dalam kolom pencarian. Tak lama Satya meremas ponselnya. "Nadya sudah melangkah terlalu jauh".
Nino kali ini menatap Satya dengan serius. "Lalu apa yang akan kau lakukan?".
Satya menyugar rambutnya ke belakang. "Aku harus apa? Mama bahkan memberiku peringatan untuk berhati-hati menghadapi seorang wanita yang sakit hati." Satya terkekeh pelan. "Tapi mau tidak mau aku akan membeberkan semuanya jika situasi sudah sangat tidak kondusif dan tidak bisa kukendalikan lagi. Aku harus menyelamatkan Sandra. Semua orang di negara ini sudah mengetahui wajahnya"
"Dengan mengorbankan Nadya?" Timpal Nino.
Satya menghela napas. "Jika itu harus di lakukan, akan aku lakukan walau aku berharap aku tidak perlu sampai melakukannya. Aku berusaha untuk tidak menyakitinya terlalu dalam, Nino."
"Kau memang pria brengsek, bos! Tapi, aku tidak menampik kalau Nadya pun salah dalam hal ini. Langkahnya terlalu berani. Dia mempertaruhkan segalanya untuk mempertahankanmu" Nino menatap Satya yang sedang melihat ke luar melalui jendela mobil. "Dan aku tidak habis pikir kalau akhir dari kebucinan kalian berdua yang kulihat bertahun-tahun menjadi debu yang memuai hilang begitu saja". Nino menggeleng-gelengkan kepala seraya menopang dagu.
...🌴🌴🌴...
__ADS_1