
"Hey, Ada apa?".
Sandra tak menggubris pertanyaan Satya. Ia lantas memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dan segera pergi berlari kecil meninggalkan Satya begitu saja. Satya dengan sigap menarik lengan Sandra hingga tubuh gadis itu hampir terjerembab ke belakang.
"Ada apa sebenarnya, Sandra? Kenapa kau terburu-buru sekali?". Tanya Satya menatap Sandra dengan raut wajah serius.
"Tu-tuan"
"Ya. Ada apa? Katakan ada apa denganmu?".
"Ibu dan Bapak saya di sandera, Tuan". Ujar Sandra dengan mata berkaca-kaca.
"Satya membelalakkan matanya terkejut bukan main. "Maksudmu? Di sandera bagaimana?!".
Sandra menggelengkan kepalanya dengan raut kalut. "Saya mau ke sana, Tuan. Saya mau menyusul Orang tua saya." Ujar Sandra.
Satya bergeming sejenak berusaha memikirkan solusi. Ia tidak mungkin lepas tangan dengan gadis itu walau ini sama sekali bukan urusannya. Namun atas rasa moral Ia perlu membantu apalagi hari sudah semakin larut dan sangat berbahaya jika membiarkan Sandra pergi seorang diri.
"Oke. Kau tenang dulu. Kita pikirkan lebih dulu apa yang harus kita lakukan sebelum menyusul kedua orang tuamu". Saran Satya.
"Jangan menelfon polisi, Tuan. Saya tidak mau menambah berat masalah".
Satya mengeutkan keningnya bingung. "Kenapa? Orang tuamu di sandera. Hal ini sudah masuk perbuatan kriminal". Ujar Satya merasa keheranan dengan permintaan Sandra.
"Bisakah kita mengobrol seraya jalan menuju lokasi, Tuan? Saya kuatir sekali". Pinta Sandra memelas.
Satya mengangguk lalu membukakan pintu mobil untuk Sandra. Tak membuang waktu lagi, Satya segera melajukan mobilnya menuju lokasi yang di sebutkan oleh sang adik.
"Ini hanya karena masalah hutang, Tuan. Dan nominalnya mungkin tidak seberapa, tapi untuk kalangan kami jumlah hutang itu cukup besar".Ujar Sandra pelan.
__ADS_1
"Siapa yang berhutang?".
"Ibu saya, Tuan. Beliau mengambil ratusan kardus mie instant dan terkadang berpeti-peti telur ayam dari agen." Jelas Sandra.
"Lalu Ibu saya menjualnya dengan harga miring dari harga pasaran hanya demi cepat laku."
Satya mengerutkan keningnya. "Bagaimana bisa begitu?"
"Itu semua Ibu lakukan agar kami tidak kelaparan dan selalu memiliki lauk pauk untuk di santap setiap harinya. Cara jualan Ibu yang memasang harga rendah memang membuat barang cepat habis terjual, Tuan. Tapi malah jadi malapetaka. Karena uang hasil jualan tidak bisa membayar ke agen dan di pakai untuk keperluan sehari-hari pula. Karena itulah hutang Ibu menumpuk. Hampir setiap minggu penagih hutang datang ke rumah saya dan orang tua saya hanya bisa bersembunyi di kamar karena tidak mampu membayar".
Sandra menjelaskan secara rinci perihal kronologis terkait persoalan yang mendera kedua orang tuanya.
Satya menatap sekilas Sandra dengan raut wajah yang rumit. Ia kurang bisa memahami bagaimana berada di dalam situasi keluarga Sandra. Karena Satya tidak pernah merasakannya. Bahkan sejak lahir dirinya sudah memiliki sendok emas! Namun itu tidak menyurutkan rasa prihatin Satya dan keinginannya untuk membantu.gadis itu.
Sandra memperlihatkan sebuah peta yang di kirim oleh sang adik pada Satya dari ponselnya. Pria itu terlihat menggeser peta dan melihat dengan cermat jalan mana yang harus mereka tuju karena saat ini keduanya sudah berada di persimpangan jalan.
Satya lalu menyerahkan kembali ponsel Sandra dan melajukan mobilnya dengana pelan karena menurut peta, lokasi yang mereka tuju hanya berjarak kurang lebih 400 meter saja. Tak lama Satya memberhentikan mobilnya di depan sebuah gudang. Ada 1 mobil van putih terparkir di halamannya.
"Tidak! Saya yang harusnya turun dan anda yang tunggu di sini, Tuan. Saya tidak mau melibatkan anda dalam persoalan keluarga saya". Sanggah Sandra.
Satya menyugar rambutnya. "Kau ini wanita. Bagaimana kalau mereka melecehkanmu? Sudah jangan berdebat! Kita masuk ke dalam berdua!". Ujar Satya seraya keluar dari mobil dan di ikuti oleh Sandra.
Satya dan Sandra mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru area gudang. Keduanya melangkah menuju satu-satunya pintu masuk di gudang tersebut. Jika area luar gudang sangat gelap, berbeda halnya dengan area di dalam gudang. Di dalam sangat terang benderang dan terlihat banyak sekali tumpukan karung beras yang hampir menyentuh atap gudang.
Satya melangkahkan kakinya menuju sekelompok orang yang terlihat sedang duduk bercengkrama. Sandra mengikuti dari belakang dan matanya terbelalak saat melihat kedua orang tuanya berada di sofa..Sandra lantas melewati Satya dan berlari. "Bapak! Ibu!".
Semua orang yang sedang duduk, serempak menoleh ke arah Sandra. Retno bergegas berdiri dan menghampiri sang putri dengan wajah yang terlihat sembab.
"Nak...Untuk apa kamu kemari? Biar Bapak dan Ibu yang menyelesaikan. Kamu pulang saja". Pinta Retno menatap Sandra dan melihat sekilas pada Satya yang berdiri di belakang putrinya.
__ADS_1
"Tidak mungkin Sandra membiarkan Bapak dan Ibu kesulitan di sini". Ujar Sandra melangkah mendekat ke beberapa orang yang berpakaian serba hitam.
"Saya anaknya. Lepaskan kedua orang tua saya! Kenapa kalian sampai menyandera mereka?!". Ujar Sandra menatap silih berganti pada beberapa orang asing di hadapannya.
"Menyandera? Hey, Nona! Kami tidak menyandera kedua orang tuamu. Mereka dengan sukarela ikut dengan kami untuk bernegosiasi."
"Tapi sayangnya kita semua belum menemukan win-win solution" Ujar seorang di antara mereka yang terlihat sebagai pimpinannya.
"Berapa total hutang orang tua saya pada ands?" Tanya Sandra.
"Tujuh puluh lima juta". Jawab sang ketua. "Apa kau yang akan membayar hutang kedua orang tuamu, huh?".
Ssndra tertegun. Untuk dirinya uang sejumlah itu bukanlah jumlah yang kecil. Entah bagaimana Ia bisa melunasi hutang orang tuanya. Namun akhirmya Sandra mengangguk. "Ya. Saya yang akan menanggungnya. Tapi saya mohon berikan keringanan untuk mencicilnya".
Sang pimpinan pun tertawa renyah. "Di cicil? Aku tidak bisa! Kedua orang tuamu bahkan sudah ku biarkan selama dua tahun! Harus berapa lama lagi aku menunggu kau untuk melunasinya?". Ujar Sang pimpinan meremehkan Sandra. "Jika kau tidak sanggup, aku punya solusi untukmu".
"Apa itu?"
"Berkencanlah denganku sebanyak 3x maka semua hutang orang tuamu lunas". Sang pimpinan terkekeh yang di ikuti oleh tawa beberapa sekawan yang lainnya.
Sandra membeku dan merasa sangat emosi sekali saat ini. Namun Ia bukan di posisi yang baik karena ada kedua orang tuanya yang di pertaruhkan.
"Oh astaga... Aku muak sekali mendengar ini semua".Ujar Satya mencibir. Pria itu sejak tadi hanya berdiri diam di belakang Sandra dan membiarkan gadis itu terlebih dulu mencoba bernegosiasi.
"Apa kau semiskin itu, huh? Uang tujuh puluh lima juta saja kau sampai membawa dua orang paruh baya yang tidak berdaya dan menekan anak gadisnya untuk kau manfaatkan. Cih!" Satya membuang ludahnya ke samping.
Sang pimpinan yang mendengar ucapan Satya pun.meradang hingga Ia berdiri mendekat pada Satya. "Brengsek! Siapa kau beraninya menghinaku!". Umpat sang pimpinan.
Satya menyeringai menatap sang pimpinan dengan netra tajamnya. "Kau tidak perlu tahu siapa aku. Jika kau tahu siapa aku, kau bisa buang air kecll di celana". Ujar Satya tersenyum miring.
__ADS_1
"Aku yang akan membayar lunas hutang mereka saat ini juga dan menjauhlah dariku! Badanmu bau busuk sekali!".
...🌴🌴🌴...