
Pagi masih terlalu dini. Matahari pun masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Sandra duduk bersantai di kursi teras rumahnya seraya menatap ke kolam ikan kecil yang di buat oleh Dimas. Seekor kura-kura terlihat muncul dari dalam air dan merangkak naik ke atas gundukan batu yang sengaja di susun untuk tempat berjemurnya.
Sandra lalu bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat ke sisi kolam. Sandra lantas berjongkok untuk mengamati kura-kura tersebut. Sandra tidak pernah sekalipun berani menyentuh kura-kura yang sudah di pelihara sejak dirinya masih berusia 5 tahun. Sandra pernah melihat ibu jari Dimas berdarah karena di gigit oleh kura-kura itu.
Sandra menengadahkan tangannya ke air dan memegang beberapa ikan koi yang berukuran sedang. Bibirnya tersenyum tipis. Sandra lantas berdiri dan berjalan menuju ke taman mini bunga matahari yang tumbuh subur di pekarangan rumahnya. Sandra meraba-raba bulatan berwarna hitam yang berada di tengah bunga. Dahulu Ia tidak percaya kalau kuaci yang sering Ia makan berasal dari bunga matahari. Namun setelah merawat bunga matahari, Sandra baru sadar jika kuaci memang dari bunga matahari.
Sandra merentangkan kedua tangannya ke atas dan menghirup udara pagi yang masih sejuk belum tercemar oleh polusi dari asap kendaraan. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Sandra mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pekarangan rumahnya. Taman yang luas adalah satu-satunya nilai lebih di rumah Sandra walau kondisi bangunan rumahnya sendiri pun sudah banyak yang harus di renovasi. Setidaknya taman tersebut di tumbuhi oleh berbagai macam buah-buahan yang selalu bisa di petik ketika musimnya tiba. Bahkan pohon mangga yang sudah tua pun tumbuh menjulang tinggi dan menghasilkan berkarung-karung mangga.
Hanya satu saja hal yang melelahkan dari memiliki taman yang luas, Ia harus kerja bakti dengan adik-adiknya untuk membersihkan daun-daun yang berserakan bahkan hingga rumput liar yang membandel.
"San, kamu sudah bangun?" Retno yang baru pulang dari pasar menyapa Sandra.
Sandra mengangguk lalu menghampiri sang Ibu seraya mengambil alih beberapa kantung belanja dari tangannya. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah dan menaruh kantung belanja di atas meja dapur.
"Ibu masak apa hari ini?". Tanya Sandra seraya melihat ke dalam salah satu kantung belanja.
"Ibu mau masak ayam woku dan tumis kangkung aja, Nak. Tolong bangunkan adik-adikmu nanti mereka telat pergi ke sekolah". Ujar Retno.
"Oke, Bu". Sahut Sandra melangkah menuju kamar kedua adiknya yang masih bersekolah di jenjang SMP.
...🌻🌻🌻...
Sementara di rumah mewah bertingkat 3...
__ADS_1
Satya menggeliatkan tubuhnya di atas kasur dengan menguap lebar. Ia mengerjapkan mata seraya menepuk kedua tangannya ke atas satu kali. Dalam sekejap kamar tidurnya terang benderang. Satya menyipitkan matanya tatkala melihat layar ponselnya. Ia melihat waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi.
Hari ini adalah akhir pekan yang mana hari bebasnya dari segala pekerjaan yang memusingkan kepala. Hari bebasnya untuk melakukan berbagai macam hal yang menyenangkan untuk mengisi ulang energinya yang sudah terkuras dalam bekerja.
Satya tak menampik bahwa akhir pekan ini pun adalah hari yang Ia tunggu-tunggu. Ia akan pergi untuk bermain golf dan itu artinya Ia akan bertemu dengan Sandra. Sudah beberapa hari Ia tidak melihat gadis itu sejak terakhir kali keduanya bertemu dengan insiden bubur ayam.
Satya lantas bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak keluar kamar. Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah kulkas 4 pintu yang memang khusus di sediakan untuknya di lantai 3. Satya mengambil sebotol air mineral dingin dan dengan cepat meneguknya hingga tandas.
Ia mengedarkan netra matanya ke seluruh penjuru ruangan. Hening. Lantai 3 khusus area miliknya sangat luas dan terdapat 3 kamar tidur utama yang di dalamnya memiliki kamar mandi masing-masing. Satya dan Nadya sudah pisah kamar sejak pertama kali mereka resmi menikah. Awalnya Nadya bersikeras menolak namun Satya yang sudah merasa sangat kecewa sama sekali tidak mau mendengarkan Nadya dan tetap memintanya untuk tidur di kamar terpisah.
Satya tidak memusingkan saat Grace dan Chandra pernah bertanya mengapa barang-barang Nadya berada di kamar terpisah. Saat itu dengan lugas Satya menjawab bahwa wardrobe miliknya tidak cukup jika di isi oleh barang-barang istrinya yang kelewat banyak. Grace dan Chandra sangat jarang naik ke lantai 3 karena memang sebelum pria itu menikah pun, Satya tidak suka jika ada orang yang sembarangan masuk tanpa seizinnya termasuk kedua orang tuanya.
"Yank... Jam berapa kamu bangun? Ini masih pagi banget loh" Sapa Nadya saat wanita itu melihat Satya sedang berdiri di depan kulkas.
"Ngomong-ngomong kamu mau kemana hari ini? Temanin aku pergi ya?" Ujar Nadya seraya menggoyang-goyangkan lengan Satya manja.
"Aku sudah ada janji, Nadya. Kau pergi saja dengan teman-temanmu".
"Tapi aku maunya sama kamu, Yaankk. Kita udah lama banget loh gak pernah pergi berdua lagi". Bujuk Nadya.
"Memangnya kau mau kemana, huh?" Satya bertanya seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Kemana aja asal sama kamu hehehehe.. Kita bisa nonton ke bioskop, belanja atau pergi ke kota sebelah. Yaaaa?"
Satya menatap Nadya dengan raut wajah serius. Ia menatap penampilan wanita itu yang masih memakai piyama satin sepanjang paha yang sangat tipis hingga hampir tembus pandang. Satya hanya menatap Nadya yang berpenampilan menggoda seperti itu dengan datar.
__ADS_1
Satya lantas menghembuskan napasnya dan melangkah meninggalkan Nadya begitu saja. "Aku sudah bilang padamu kalau aku sudah ada janji."
Tak habis akal, Nadya lantas mengekori Satya menuju lift. Ia melihat Satya menekan lantai 1. Tak lama lift pun berhenti lalu keduanya pun keluar secara beriringan. "Yank kamu kan bisa batalin janji kamu untuk pergi sama aku. Aku gak pernah minta waktu kamu kayak gini loh!". Ucap Nadya di samping Satya..
"Sudahlah jangan menggangguku. Aku sudah bilang sebelumnya, Lakukan yang kau mau asal kau tetap ingat tingkahmu jangan mempermalukan kedua keluarga!". Sahut Satya menghentikan langkahnya dan menatap Nadya dengan tajam.
"Kamu memangnya mau kemana sih?". Cecar Nadya.
"Main golf!" Ujar Satya melangkah kembali meninggalkan Nadya.
"Hanya karena golf kamu nolak pergi sama aku?!". Tanya Nadya dengan raut wajah tak percaya.
"Ya".
"Kamu......"
"Ada apa ini?". Suara merdu menginterupsi perdebatan Satya dan Nadya.
"Ini loh Ma! Masa dia lebih mentingin golf daripada pergi kencan sama aku!". Nadya dengan gerak cepat mengadu pada Ibu mertuanya, Grace.
"Aku bukan sembarangan main golf saja hari ini, Ma. Ini demi keberlangsungan masa depan perusahaan. Makanya ini lebih penting daripada pergi berkencan". Jawab Satya dengan lugas namun terselip makna yang sangat dalam dan hanya pria itu yang tahu.
...🌴🌴🌴...
Yuukk like, komen dan bunga2 bermekarannyaa😘😅
__ADS_1