
Keesokan harinya...
"Hari ini aku tidak akan makan malam di rumah. Jangan menungguku pulang". Sahut Satya di sela-sela kegiatan sarapannya bersama Chandra, Grace dan Nadya.
"Apa ada hal penting di perusahaan?". Tanya Chandra menatap putranya.
"Tidak ada. Aku hanya ada urusan pribadi". Ujar Satya seraya meneguk secangkir teh hangat.
"Urusan apa, Yank?".Timpal Nadya.
Satya menatap Nadya yang duduk di hadapannya dengan tajam dan melirik pada Chandra serta Grace yang sedang melihat ke arahnya menunggu jawaban dari dirinya.
"Urusan pribadi saja. Bukan hal penting untuk di ketahui oleh kalian semua". Jawab Satya akhirnya.
"Kenapa begitu? Sejak kapan kamu merahasiakan sesuatu dari keluarga?". Chandra bertanya dengan penuh penekanan.
Satya menghela napasnya. "Di samping aku adalah putra tunggal dari keluarga Nagara, Aku tetap seorang manusia yang memiliki kehidupan sendiri, Pa. Tidak semua hal sedetil apapun tentang kegiatanku perlu kalian ketahui bukan?".
"Sudahlah... Satya benar sayang. Putra kita ini sudah dewasa. Bukan lagi bocah kecil yang harus selalu kita pantau 24 jam." Ujar Grace menengahi.
"Kamu juga bisa mengerti dia kan, Nadya?" Grace beralih pada Nadya dan wanita itu hanya bisa mengangguk dengan wajah cemberut.
"Aku sudah selesai sarapan." Sahut Satya seraya berdiri dan melangkah menuju Grace dan mengecup kedua pipi sang Ibu. Lalu tak lupa pula menghampiri Chandra.
"Kamu tidak pamitan dengan Nadya, Nak?". Ujar Grace mengingatkan saat Satya hendak melewati Nadya begitu saja.
Satya menghela napas pelan dan mengecup puncak kepala Nadya dengan singkat. "Aku pergi". Ujar Satya lalu berjalan keluar menuju basement rumahnya untuk mengambil mobil.
...🌻🌻🌻...
Di ruang ganti caddy, Sandra dan rekan-rekannya sedang sibuk membuka seragam caddy yang baru saja di bagikan oleh Mami Sari. Masing-masing orang mendapatkan dua stel seragam atas bawah lengkap dengan topi dan sepatu.
Sandra merentangkan kedua tangannya melihat sebuah kaus lengan panjang berkerah berwarna cokelat muda yang berukuran S. Lalu tak lupa Sandra pun melihat celana panjang berwarna senada dengan model cargo yang memiliki 4 buah kantung di kedua sisinya.
"Punya lo cukup gak, San?". Tanya Merin.
"Belum gw coba. Tapi kayaknya sih cukup". Jawab Sandra berdiri dan menuju ke sebuah sudut ruangan untuk membuka bajunya.
__ADS_1
Sandra menanggalkan kaus dan celana jeans yang membalut tubuhnya dan segera memakai seragam caddy miliknya.
Sandra membalikkan tubuhnya ke berbagai sisi di depan sebuah cermin. Ia menarik kaus caddynya. "Hmm.. Apa memang sengetat ini ya". Sandra bergumam seraya menatap pantulan dirinya di cermin.
Sandra lantas mencoba sepatu berwarna hitam serta topi. Rambutnya Ia gerai begitu saja. Sandra tersenyum. Kini Ia benar-benar menjadi caddy tetap dengan seragam yang membalut tubuhnya kini.
"Wah.. Cakep, San!". Sahut Merin yang tiba-tiba saja menghampiri.
Sandra menoleh dan melihat Merin yang juga sudah memakai seragam caddynya. "Terlalu ngepas badan gak sih?" Tanya Sandra.
"Gak kok. Memang seragamnya harus seperti ini kan. Lo lihat aja yang senior" Ujar Merin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang ganti yang terdapat beberapa kelompok caddy senior.
Sandra mengikuti arah pandangnya dan mengangguk. "Ya sih benar juga"
Ngomong-ngomong kita langsung turun lapangan kan?". Tanya Merin.
"Iya. Sesuai kelompok aja kata Mami Sari. Semoga hari ini ramai jadi kebagian pemain ya hehee". Sahut Sandra terkekeh seraya menggamit lengan Merin untuk keluar ruangan.
...🌻🌻🌻...
"Kau tidak pulang?". Tanya Nino saat memasuki ruang kerja Satya.
"Bisa tidak kau mengetuk lebih dulu sebelum masuk ke ruanganku?"
"Sekarang sudah bukan jam kerja lagi" Ujar Nino santai.
"Ya sudah sana pulang! Untuk apa kau kemari?".
Nino terkekeh pelan. "Kau seperti ibu-ibu yang sedang PMS saja."
"Sialan!" Umpat Satya. "Katakan ada apa kau kemari, huh?".
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin menanyakan saja kau kenapa belum pulang". Sahut Nino.
"Aku ada acara".
Nino mengerutkan keningnya. "Acara?" Tanya Nino. "Acara apa? Setahuku kau tidak memiliki agenda khusus malam ini".
__ADS_1
Satya tersenyum miring. "Ini agenda pribadiku. Tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan". Ujar Satya.
Nino terdiam berpikir sejenak. "Whoah.. Apa kau akhirnya akan kencan dengan Nadya?".Nino membelalakkan matanya.
"Sudah sana pulang! Semakin lama kau malah semakin ngawur saja!". Usir Satya hingga Nino berjalan keluar dari ruang kerja Satya sembari tertawa.
Sepeninggalan Nino, Satya melirik sekilas jam yang tergantung di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Satya tersenyum tipis. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan pribadi yang Ia jadikan tempat istirahatnya di dalam ruang kantornya.
Satya membuka sebuah lemari kecil satu pintu yang berada di sudut. Ia menatap beberapa kemeja kerjanya dan beberapa polo shirt yang tergantung. Satya lantas mengambil satu buah polo shirt berwarna hitam dan celana jeans.
Dengan gesit Satya mengganti seluruh pakaian yang membalut tubuhnya dari formal menjadi casual. Tak membuang waktu lama, Satya lalu keluar dari ruang kantornya dengan bersiul kecil.
Di tempat lain, Sandra yang baru saja tiba di rumahnya segera mandi dan berganti baju. Ia yang mendapatkan bagian turun ke lapangan di siang hari tentu saja baru menyelesaikan pekerjaan di sore hari.
Sandra benar-benar mandi dengan cepat dan tidak merias wajahnya. Ia hanya memakai lipstick berwarna nude untuk memberi kesan segar.
"Kamu mau kemana lagi, San?". Tanya Retno saat melihat Sandra tergesa-gesa keluar kamar dan memakai sneakersnya.
"Bu, Sandra mau makan malam di luar dengan teman. Sandra tidak akan pulang larut,, tapi Sandra membawa kunci pagar dan kunci pintu ruang tamu. Jadi Ibu tidur saja duluan tidak perlu tunggu Sandra". Ujar Sandra panjang lebar.
Sandra lalu mencium tangan Retno dan segera berlari kecil keluar dari pekarangan rumahnya. Sandra memanggil seorang tukang ojek pangkalan. Ia tidak akan mungkin sampai tepat waktu jika memakai angkutan umum.
Sepanjang jalan tak henti Sandra melirik arlojinya. Tersisa waktu 10 menit lagi. Sesaat setelah Ia membayar tukang ojek yang mengantarnya hingga ke depan sebuah restoran ternama. Sandra berlari melalui parkiran yang sangat luas.
"Permisi, Mbak! Saya mau ke meja atas nama Satya Nagara". Ujar Sandra terengah-engah pada seorang waitress yang berjaga di depan.
Waitress tersebut mengecek daftar meja atas nama Satya dan segera mengantar Sandra ke dalam restaurant.
Netra mata Sandra menangkap Satya yang sedang duduk di sebuah meja yang terletak di sudut. Sandra melangkah cepat mendahului sang waitress dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Saya tidak telat kan, Tuan?". Ujar Sandra setelah berada di hadapan Satya.
Satya mendongakkan kepalanya menatap penampilan Sandra yang cukup berantakan dengan rambut yang habis tertiup angin sepanjang perjalanan hingga keringat di lehernya karena berlari kecil.
"Wah.. Kau benar-benar mengeluarkan usaha yang luar biasa. Apa kau sangat tergesa-gesa agar tidak makan malam lagi denganku, huh?". Satya menyeringai seraya mengangkat sebelah alisnya menatap Sandra.
...🌴🌴🌴...
__ADS_1