Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 53


__ADS_3

Satu Minggu kemudian...


Bunyi denting sendok yang saling beradu dengan piring memenuhi keheningan suasana di sebuah ruang makan yang berada di rumah Satya. Chandra, Grace, Satya dan Nadya kini sedang melakukan makan malam bersama-sama. Hidangan menu yang berderet rapi di atas meja tak ayal membuat siapapun yang melihatnya akan tergiur. Namun tidak bagi Satya.


Malam ini mood nya sungguh buruk. Bahkan terlampau buruk. Pria itu hanya diam membisu tak banyak bersuara. Sudah satu pekan dirinya tidak bisa menginap di apartemen bersama Sandra. Ia hanya bisa berkunjung setelah pulang kerja dan pulang kembali ke rumah saat malam hari.


Satya merindukan tidur sepanjang malam di sisi Sandra seperti kali pertama mereka tidur sebagai suami istri. Hanya memeluk tubuh ramping sang istri dengan wangi khas lavender selalu mampu membuatnya terlelap lebih nyenyak. Sikap Sandra yang lembut namun terkadang tegas pun membuatnya nyaman berada di sisi wanita itu.


Sejak kedatangan Nadya ke kantor akhir pekan lalu, Istri pertamanya itu selalu meneror dirinya saat Satya terlambat pulang ke rumah dan kini selalu mengadu pada kedua mertuanya, yakni orang tua Satya. Satya tidak ingin setiap orang curiga. Belum saatnya, pikir Satya. Karena Ia pun masih pengantin baru dengan Sandra. Ia sadar bahwa saat ini tidak adil bagi Sandra, namun selama sepekan Satya tidak bermalam di apartemen, Sandra tidak pernah terlihat protes atau mengeluh. Jutru karena sikap Sandra yang seperti itulah yang membuat Satya semakin bersalah dan frustasi.


"Nadya, Apa kamu ada rencana untuk merayakan ulang tahunmu?". Tanya Grace memecah keheningan di antara dentingan sendok.


Nadya menatap sang mama mertua dengan mata berbinar. "Untuk saat ini belum ada rencana, Ma." Jawab Nadya dengan lembut.


"Rayakan dong.. Ini ulang tahun pertamamu setelah menikah dengan Satya dan menjadi bagian keluarga Nagara, masa menantu keluarga kita satu-satunya tidak merayakan pesta ulang tahun". Timpal Chandra.


Nadya melirik Satya yang hanya acuh pada topik obrolan saat ini. "Aku kepikiran mau buat pesta outdoor, Pa. Apa boleh?".


"Outdoor oke tuh.. Bosan juga kan di gedung hehehehe" Sahut Chandra.


"Nanti kalau soal makanan-makanan biar urusan Mama" Timpal Grace yang memang memiliki perusahaan di bidang kuliner.


"Tapi outdoor enaknya di mana ya, Pa?" Tanya Grace beralih pada Chandra.


Sejenak keheningan kembali tercipta karena setiap orang di ruang makan memikirkan jawaban yang tepat. "Hm, Gimana kalau di Golf Country Club aja Pa.. Ma..?" Sahut Nadya tiba-tiba. "Di sana kan bagus banget pemandangannya. Taman di tengah aula gedung rasanya cocok untuk di jadiin pesta outdoor".


"Tidak!". Sahut Satya yang akhirnya membuka mulut.


Chandra, Grace dan Nadya sontak saja serempak menatap ke arah Satya. "Kenapa tidak, Nak? Usul Nadya sepertinya bagus juga. Di Golf Country Club kan tempat yang cocok untuk tema pesta ulang tahunnya" Ujar Grace.

__ADS_1


"Cari tempat lain saja". Ujar Satya.


"Tapi, aku mau di sana sayang. Taman di gedung aula sangat bagus". Sanggah Nadya.


"Aku bilang cari tempat lain saja, Nadya. Apa kau butuh bantuanku untuk mencari lokasi yang tepat?". Tanya Satya menatap tajam sang istri pertama.


"Sudah.. Sudah.. Dengarkan saja suamimu sayang. Mama rasa Satya punya pertimbangannya sendiri kenapa tidak mengizinkanmu menggelar pesta di sana". Ujar Grace menengahi aura dingin yang tercipta antar anak dan menantunya.


Karena di sana ada Sandra, istri keduaku! Sama saja aku menggali kuburanku sendiri jika mengizinkan Nadya menggelar pesta di Golf Country Club!


Satya menghela napasnya kesal. Ia mengelap mulutnya dan meminim secangkir caramel machiato. "Ada yang mau aku katakan pada kalian". Sahut Satya.


Chandra, Grace dan Nadya pun sontak saja menatap pada Satya.


"Tiga hari ke depan aku tidak bisa pulang ke rumah. Ada yang harus aku kerjakan di luar kota."


"Kota B, Ma. Ada urusan mendesak di sana".


"Urusan mendesak apa?" Timpal Nadya.


"Apa perlu aku beritahu tentang pekerjaanku padamu, Nad? Kau tidak akan mengerti". Sahut Satya malas. Ia sudah mulai berani menunjukkan sikap dinginnya pada Nadya di depan kedua orang tuanya.


"Sudah biarkan saja." Sahut Chandra.


"Tapi, Pa... Nadya perlu tahu kan urusan apa dan dengan siapa dia pergi?"


Grace melempar senyum pada sang menantu. "Benar kata papa. Biarkan saja Satya pergi. Kamu tinggal menikmati hasil pekerjaannya saja. Mama juga selama ini tidak pernah mencampuri urusan pekerjaan papa mertuamu". Grace terkekeh seraya melirik sang suami.


"Tapi kan Nadya juga ingin ikut menemani. Teman-temanku selalu di ajak suami ketika suami mereka pergi business trip. Sedangkan Satya selalu pergi sendiri dan hanya mengajak Nino saja". Sahut Nadya dengan raut wajah cemberut.

__ADS_1


Untuk apa aku mengajakmu heh? Gerutu Satya kesal.


Satya ingin menghabiskan waktunya bersama Sandra selama tiga hari penuh dan tidak pergi ke kantor. Ia ingin menebus rasa bersalahnya pada istri keduanya itu.


"Besok pukul 5 pagi aku berangkat dari rumah. Jadi jangan mencariku kalau aku tidak sarapan bersama. Aku naik ke atas lebih dulu Pa.. Ma.." Ujar Satya pamit undur diri pada kedua orang tuanya seraya beranjak dari kursi.


"Kau masih mau di sini?" Tanya Satya menatap Nadya.


Nadya tersenyum lebar saat sang suami bertanya lebih dulu padanya. "Tidak.. Tidak.. Aku ikut denganmu!". Sahut Nadya yang segera berdiri. "Pa.. Ma.. Aku ke atas dulu dengan Satya!" Pamitnya pada Grace dan Chandra.


Satya lantas segera melangkah meninggalkan Nadya begitu saja. Nadya menyusul sang suami dengan cepat dan merangkul lengan kekar Satya dengan manja.


Sikap Nadya tersebut tak ayal di lihat oleh kedua mertuanya. "Mereka itu terkadang bikin mama bingung, Pa". Sahut Grace pada sang suami. "Terkadang mereka perang dingin, tapi di sisi lain mereka seperti sedang gencatan senjata".


Chandra terkekeh pelan mendengar ucapan sang istri. "Maklum...Mereka itu baru mengarungi bahtera rumah tangga selama enam bulan. Banyak hal yang harus mereka sesuaikan satu sama lain". Ucapnya.


"Tapi lihat lho tadi.. Kadang anak kita ketus sama istrinya sendiri. Mama sampai heran melihatnya. Dulu selama pacaran kelihatan bucin banget". Sanggah Grace.


"Yang penting mereka baik-baik saja, sayang. Jangan kuatir berlebihan" Saran Chandra menenangkan sang istri.


Di lift rumah Satya


"Lepaskan tanganmu". Ujar Satya dengan nada dingin pada Nadya yang masih merangkulnya.


"Tidak mau. Aku rindu bersandar di lenganmu yang kokoh ini. Aku selalu merasa terlindungi" Sahut Nadya seraya menyenderkan sisi kepalanya pada lengan Satya.


Sontak saja Satya menepis kepala Nadya dan melepaskan diri dari rangkulan tangan wanita itu. "Sayangnya aku tidak merindukannya". Ujar Satya ketus.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


__ADS_2