
"Kau seperti kerasukan setan".
Satya menoleh pada Nino. "Setan mana yang berani merasuki ku?". Tanya Satya menatap Nino seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Ah aku lupa.. Kau memang rajanya para setan". Ujar Nino asal hingga Satya melempar sebuah buku yang Ia ambil begitu saja dari atas meja.
"Hahahaha! Lihat dirimu! Sejak pagi kau bersiul dan tersenyum seorang diri. Membuatku merinding saja". Nino mengelus lengannya. "Lihat bulu kudukku berdiri". Ujar Nino memperlihatkan lengannya pada Satya.
"Apa yang di bawah ikut berdiri? Apa melihatku tersenyum dan bersiul milikmu itu berdiri juga seperti bulu mu?". Tanya Satya memasang senyum smirk.
Nino terdiam sejenak lalu setelah tersadar Ia berteriak hingga membuat telinga Satya pengang. "Yaaaaa!!! Kau benar-benar setan!".
"Hahahahahaha siapa yang tahu milikmu tergoda oleh senyumanku". Tawa Satya memecah keheningan sebuah ruang apartemen mewah.
"Milik ku hanya tergoda oleh wanita. Kau bangsat!". Maki Nino kesal.
"Untung saja kita bukan dalam mode bekerja. Jika iya, aku sudah mencincang mu di dalam proyek. Kau sudah mengumpatku dengan kata setan dan bangsat pagi ini. Apa kau sadar?". Ujar Satya santai.
"Aku tak peduli!". Nino mendengus. "Aku sebagai asistenmu saja merasa bergidik melihatmu tersenyum terus menerus seperti itu. Bagaimana orang lain yang melihatnya? Pasti kau di bilang kerasukan setan juga oleh mereka!". Ujar Nino menatap Satya dengan heran.
"Kenapa harus aneh melihatku tersenyum huh?".
"Kau pura-pura bodoh atau memang benar-benar tidak sadar?". Tanya Nino.
Satya mengedikkan bahu. "Ada sesuatu yang membuat ku tertarik akhir-akhir ini. Itu saja.. Tak ada hal lain". Satya menjelaskan.
"Sudahlah! Ayo kita berangkat! Tee time kita pukul 7 pagi!". Satya berdiri melangkah keluar dari apartemen mewah di ikuti oleh Nino di belakangnya.
...🌻🌻🌻...
__ADS_1
Hari ini adalah hari terakhir Sandra menjalani masa percobaan dalam program training. Selama 1 pekan Ia sudah berusaha menjalani tugasnya dengan baik selama menemani para pemain golf di lapangan. Sandra cukup lega Ia selalu mendapatkan pemain golf yang baik dan mengerti jika Ia sesekali melakukan kesalahan kecil.
Sandra melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Wakfu sudah menunjukkan pukul 6.45 pagi. Sandra segera bergegas menuju titik kumpul para caddy sebelum turun ke lapangan bersama para pemain.
Setibanya di sana, Sandra segera duduk di undakan tangga. Hatinya cukup gugup hari ini. Walau ini hari terakhir dalam masa percobaan, tetap saja hari ini menjadi hari yang menegangkan karena jika Ia mendapatkan penilaian buruk hari ini, Sandra kuatir itu akan mempengaruhi performanya untuk menjadi caddy tetap.
Mami Sari memberitahu bahwa penilaian dari para pemain menjadi acuan apakah para peserta training layak lanjut untuk menjadi caddy tetap atau malah harus kembali menjalani training.
Sandra menghela napas pelan. Ia berharap hari ini menjadi hari yang baik untuknya. Ia sudah menjalani 1 bulan masa pelatihan. Ia harus menjadi caddy tetap dan mendapatkan gaji dan tips. Belum apa-apa Sandra sudah pusing memikirkan jika Ia perlu mengganti uang Cica dan Dita yang sempat di pinjamnya untuk keperluan sehari-hari.
"Sandra!". Panggil Mami Sari.
Sandra segera berdiri dari duduknya dan melangkah menuju Mami Sari.
"Kamu bawa Pak Teguh lagi ya di hari terakhir ini". Ujar Mami Sari menatap Sandra.
Setelah beberapa hari gw aman, kenapa hari ini justru gw dapat dia lagi sih?
"Dia sama saya hari ini" Terdengar suara bariton seorang pria dari arah belakang.
Sandra dan Mami Sari lantas kompak menengok ke sumber suara. Mereka melihat Satya berjalan ke arahnya seraya memakai sarung tangan berwarna hitam. Sandra menelisilk penampilan Satya yang selalu rupawan saat Ia bertemu dengan pria itu. Pakaian yang sporty membalut tubuh gagah pria itu dengan sempurna.
"Biarkan caddy baru ini dengan saya ke lapangan". Ujar Satya saat Ia sudah berada di hadapan Sandra dan Mami Sari.
Mami Sari terlihat cukup kebingungan, pasalnya Pak Teguh sudah memintanya sejak pagi agar Sandra yang menemaninya turun ke lapangan.
"Anu.. Pak Satya... Bukannya saya mau membantah, tapi Sandra sudah di pesan oleh Pak Teguh". Ujar Mami Sari menjelaskan dengan hati-hati.
"Tidak masalah. Nanti saya yang bilang pada beliau. Lagipula saya ingin melihat sejauh mana para caddy baru menyerap seluruh pelatihan selama 1 bulan terakhir". Ujar Satya seraya menatap Sandra sekilas.
__ADS_1
Mami Sari menatap Satya dan Sandra silih berganti. "Baiklah Pak Satya. Saya saja yang akan menjelaskan pada Pak Teguh.". Ujar Mami Sari akhirnya.
"Lakukan yang terbaik saat di lapangan nanti, Sandra. Beliau adalah anak pemilik lapangan golf ini". Ucap Mami Sari pelan.
Sandra hanya bisa mengangguk pasrah. Ia menghela napasnya. Kalau begini, lebih baik gw bawa Pak Teguh daripada pria ini! Gimana kalau gw melakukan kesalahan?!
Sandra menggaruk kepalanya di iringi rasa gugup yang melanda hatinya.
"Ayo kita langsung saja". Ajak Satya pada Sandra.
"Maaf, Tuan. Ini ada 2 tas golf, rekan anda yang lain di mana? Kita tidak akan menunggunya?" Tanya Sandra seraya menunjuk dua buah tas golf yang tersemat di belakang buggy car.
Satya menunjuk ke arah belakang Sandra. "Dia di buggy car belakang dengan caddynya. Biar saja tas nya di sini. Nanti di hole 1 saja kau pindahkan ke buggy car miliknya". Ujar Satya.
Sandra mengerutkan kening dengan bingung. "Kenapa rekan anda tidak di sini saja bersama dalam 1 buggy car, Tuan? Buggy car ini kan memang untuk 2 pemain golf". Tanya Sandra melontarkan kebingungannya.
Satya sejenak menatap Sandra dengan tajam. Pria itu melangkah lebih dekat pada Sandra. "Kau cerewet sekali". Bisik Satya.
Sandra mendongakkan kepalanya dan melihat Satya tengah menatapnya dengan netra tajamnya. Dengan cepat Sandra menundukkan kepala. "Ma-Maaf Tuan..." Cicit Sandra.
Satya lalu melangkah masuk ke dalam buggy car. "Ayo cepatlah naik! Ini sudah lewat 10 menit dari jadwal tee time ku!". Titah Satya.
Sandra dengan gesit segera melangkah masuk ke dalam buggy car dan duduk dengan manis. Namun sedetik kemudian Ia tersadar satu hal.
"Eeee.. Ehhh Tuan! Kenapa saya malah duduk dan anda yang menyetir buggy car nya?". Tanya Sandra gelagapan.
"Biarkan saja aku yang mengemudikan ini. Apa ada yang salah? Seorang caddy bukan benar-benar pembantu para pemain golf di lapangan. Selama pemain itu bisa melakukannya sendiri, tidak masalah untukku". Sahut Satya seraya menatap ke depan.
"Lagipula aku memang sengaja meminta asistenku berada di buggy car lain agar kau bisa duduk dengan nyaman bukan bergelantungan di belakang". Lanjut Satya kini menoleh ke arah Sandra dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
...🌴🌴🌴...
Selamat hari senin semuanya!