Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 69


__ADS_3

"Ada apa dengan suamimu?" Tanya Aldanar penasaran.


"Dia selingkuh dariku". Jawab Nadya langsung pada intinya. "Dia menikahi seorang caddy di belakangku. Pernikahan mereka sudah berjalan dua bulan lebih".


Aldanar sontak saja terkejut bukan main. Matanya melotot menatap sang putri. "SELINGKUH? MENIKAH?!" Pekik Aldanar dengan raut wajah yang syok.


Nadya mengangguk. "Ya, Ayah. Satya memberiku madu sekaligus menuangkan racun dalam pernikahan kami". Sahut Nadya dengan wajah sedih.


"Aku harus bagaimana, Ayah? Aku butuh saran darimu".


Aldanar mengusap wajahnya. "Apa dia gila? Sebenarnya apa yang terjadi pada pernikahanmu hingga dia membawa wanita lain ke dalam hubungan kalian?".


Nadya sontak saja gelagapan namun dengan cepat Ia menguasai dirinya kembali. "Hubunganku dengan Satya baik-baik saja. Aku dan dia hanya sedikit tidak memiliki waktu untuk bersama karena kesibukannya."


"Aku tidak menyangka bahwa dia menikah lagi. Dan wanita itu hanya seorang caddy! Harga diriku terasa di injak-injak, Ayah!". Nadya berkata dengan geram.


"Apa Chandra dan Grace tahu mengenai hal ini?". Tanya Aldanar.


"Kurasa mertuaku belum mengetahuinya. Apa aku harus memberitahunya? Aku bingung, Ayah! Aku tidak ingin kehilangan Satya!"


Aldanar terdiam dengan raut wajah yang menunjukkan Ia sedang berpikir keras. "Aku tidak suka putriku di perlakukan seperti ini. Aku akan bicara empat mata dengan suamimu lebih dulu" Ujar Aldanar akhirnya.


"Tidak!" Sanggah Nadya cepat. "Ayah jangan bicara mengenai ini pada Satya sekarang!".


Aldanar mengerutkan kening menatap sang putri dengan pandangan heran. "Kenapa kau tidak mau aku bicara pada suamimu?Justru aku akan menegurnya dan meminta dia untuk meninggalkan wanita simpanannya itu!".


"Tidak, Ayah. Belum saatnya Ayah turun tangan. Aku ingin melakukannya dulu sendiri". Ucap Nadya menatap ke sembarang arah.


"Maksudmu bagaimana?".


"Apakah Ayah punya cara agar Satya bepergian ke luar negeri?". Tanya Nadya beralih menatap Aldanar.


"Bicaralah yang jelas sayang". Ujar Aldanar.


"Aku akan mencari keberadaan maduku, Ayah. Aku tidak tahu dimana Satya menyimpan wanita murahan itu. Aku ingin membuatnya pergi dari sisi suamiku.Tapi semua itu akan lebih aman jika wanita itu tidak berada dalam jangkauan suamiku. Maka dari itu aku tanya apakah Ayah punya ide agar Satya pergi dalam waktu dekat ini untuk mengurus bisnis?" Nadya menjelaskan pada Aldanar dengan serius.


"Kau bilang istri kedua Satya adalah caddy, siapa nama caddy itu? Apa dia caddy yang bekerja di Golf Country Club milik keluarga Nagara?". Tanya Aldanar.


Nadya mengangguk. "Ya. Dia menjadi caddy di Country Club milik mertuaku. Namanya Sandra. Aku tidak tahu a0a nama panjangnya. Tapi akan kucari tahu nanti". Ujar Nadya dengan kilatan marah terpampang jelas di manik matanya.


"Wanita itu hanya seperti butiran debu. Kau tidak perlu mengotori tanganmu sendiri untuk menyingkirkannya. Serahkan saja padaku". Sahut Aldanar.

__ADS_1


Nadya menggeleng pelan. "Tidak, Ayah. Aku akan menyingkirkan wanita itu dengan tanganku sendiri. Aku ingin wanita itu sadar kalau dia tidak ada apa-apanya denganku. Wanita murahan berani-beraninya merebut suamiku!".


Aldanar terdiam. Ia menghela napasnya. "Baiklah jika itu maumu. Ayah akan membiarkanmu mengurusnya sendiri lebih dulu. Namun jika kau gagal, Ayah yang akan turun tangan". Ujar Aldanar.


"Baiklah... Tolong Ayah pastikan Satya bisa bepergian dalam waktu dekat. Entah bagaimana caranya, tapi aku yakin Ayah bisa membicarakannya dengan mertuaku tentang bisnis bukan?".


Aldanar mengangguk. "Kau akan mendapatkan kabar paling cepat besok. Aku jamin suamimu akan pergi jika itu perintah dari Chandra". Ujar Aldanar tersenyum miring.


...🌻🌻🌻...


Satya yang sejak tadi menemani Sandra tidur, akhirnya dirinya pun malah ikut tertidur. Satya mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupil matanya. Ia merasa tubuhnya berkeringat. Hawa panas sangat terasa ditubuhnya.


Satya melirik AC yang terpasang di atas jendela kamar apartemennya. Satya mengerutkan kening saat melihat ternyata AC dalam keadaan menyala. Ia melirik arloji yang melingkar di tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Satya sontak saja bangun dari posisi tidur hingga duduk. Ia menoleh pada Sandra yang masih terlelap.


Satya mengerutkan keningnya saat melihat keringat sebesar bulir jagung memenuhi dahi Sandra. Satya lantas mengusap keringat di dahi Sandra namun Ia malah semakin terkejut saat Ia merasakan suhu tubuh Sandra benar-benar panas.


Satya lalu menyibakkan selimut yang menutupi tubuh sang istri. Ia meraba dahi, leher serta tangan Sandra yang terasa amat panas. "Astaga sayang.. Tubuhmu panas sekali". Gumam Satya seraya beranjak dari kasurnya. Ia keluar kamar untuk mencari ponselnya.


Satya terlihat sibuk mencari nomor seseorang di daftar kontaknya.Tak lama Ia pun segera melakukan sebuah panggilan telfon. "Halo, Farhan" Sapa Satya pada salah seorang temannya yang bekerja sebagai dokter.


"Apa kau sedang berada di rumah sakit sekarang?"


"Ya. Aku ada di rumah sakit. Ada apa?"


"Apa dia dalam keadaan sadar?Jika sadar tak masalah, kau kompres saja dengan handuk, pakai baju yang nyaman, jangan menyelimutinya dan berikan obat penurun panas. Kau bisa beli obatnya di apotek"


Mendengar penuturan Farhan, Satya lantas segera mendekat pada Sandra. "Tunggu sebentar." Ujar Satya melalui sambungan telfon.


"Sayang.. Bangun sebentar sayang.." Seru Satya dengan lembut seraya mengusap puncak kepala Sandra.


Tak ada gerakan sedikitpun dari Sandra hingga akhirnya Satya mengguncang tubuh Sandra lebih kencang. "Sayang.. Bangun.. Kau harus ganti baju".


Nihil. Tak ada respon apapun. Satya sontak saja merasa panik. "Farhan! Istriku sepertinya pingsan! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Oh Astagaaa". Pekik Satya seraya menatap Sandra.


"Tenanglah. Kau jangan panik. Kau bawa istrimu ke rumah sakit sekarang. Aku akan menunggumu"


Satya lantas mematikan sambungan telfon begitu saja. Ia lalu memutuskan untuk menggendong Sandra. Dengan susah payah Satya membawa Sandra ke lantai bawah hingga akhirnya security apartemen yang mengenali Satya membantunya.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Satya tak henti-hentinya menengok ke kursi penumpang bagian belakang. Ia melihat Sandra yang Ia letakkan dengan posisi terlentang.


Tak lama kemudian Satya akhirnya sampai ke rumah sakit. Ia memarkirkan mobilnya di sembarang tempat. Farhan yang sudah menunggu Satya di depan Unit Gawat Darurat segera mendorong sebuah brankar kosong. Dibantu oleh dua orang perawat, Sandra akhirnya berhasil di letakkan ke atas brankar.

__ADS_1


Satya mengikuti Farhan dengan raut wajah yang sangat kuatir. "Tunggu dulu di sini". Ujar Farhan.


"Tapi..."


"Tunggulah sebentar. Aku akan memeriksanya". Sahut Farhan menatap Satya. Mau tak mau akhirnya Satya pun mengangguk.


Farhan segera menarik sebuah tirai yang mengelilingi brankar. Dokter muda itu meraih sebuah thermometer dan tak lama suhu tubuh Sandra pun terlihat.


39,8°C.


"Siapkan infus, sus. Lalu berikan obat penurun panas sesuai dosis" Titah Farhan pada seorang suster.


Farhan lantas meraba perut Sandra. Ia menekan-nekan perutnya dengan lembut. "Sepertinya wanita ini belum makan". Ujar Farhan. Ia lalu menatap wajah pucat Sandra. Farhan tersadar satu hal. Wanita yang berada di hadapannya bukan istri Satya.


"Panggilkan Dokter Zea kemari, Sus. Segera".Ujar Farhan.


Farhan lalu meraba kembali perut Sandra. Merasakan lambungnya yang terasa kosong. Tak lama seorang dokter wanita yang bertubuh mungil dan memakai kacamata masuk ke dalam tirai.


"Ada apa dokter Farhan memanggil saya?"


"Saya hanya ingin memastikan satu hal saja sesuai spesialisasi anda, dok. Bisakah? " Ujar Dokter Farhan.


Sekilas Dokter Zea menatap Sandra yang masih terbaring lemah dengan wajah yang pucat serta infus yang terpasang di tangan. "Ambilkan alatnya". Ujar Dokter Zea akhirnya.


Tak lama seorang suster kembali dengan mendoromg sebuah alat beserta monitornya. Satya yang sejak tadi memperhatikan keluar masuk suster serta datangnya seorang dokter lain ke dalam tirai, menjadi semakin cemas akan keadaan Sandra. Ia berjalan hilir mudik seraya menyugar rambutnya.


"Anda lihat?". Tunjuk Dokter Zea di monitor. Dokter Farhan pun mengangguk hingga akhirnya Ia keluar dari balik tirai dan menghampiri Satya.


Satya segera memegang kedua bahu Farhan dengan wajah yang kalut. "Apa istriku baik-baik saja? Dia tidak apa-apa kan?!". Cecar Satya.


"Tenanglah dulu..."


"Bagaimana aku bisa tenang ketika melihat istriku seperti itu!" Ujar Satya.


"Istrimu tidak apa-apa. Suhu tubuhnya terlalu tinggi, itu bisa membuat seseorang hilang kesadaran. Dia sedang diberi infus untuk menggantikan cairan tubuhnya yang hilang. Sepertinya dia juga belum makan sejak kemarin. Karena aku merasakan lambungnya kosong" Jelas Farhan.


Satya mengusap wajahnya. "Astaga sayang..."


"Dan satu lagi yang tak kalah penting." Sahut Dokter Farhan.


Satya menatap Dokter Farhan dengan penasaran."Apa?"

__ADS_1


"Istrimu sedang hamil dengan usia kandungan enam pekan".


...🌴🌴🌴...


__ADS_2