
"Ayo masuk.. Kenapa kau malah diam saja?". Ujar Satya menginterupsi lamunan Sandra.
Sandra mengerjapkan matanya berulang kali sadar karena telah terpana pada penampilan pria di hadapannya saat ini. "Aah.. Maaf". Sahut Sandra seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen.
Satya mengulas senyum tipis tatkala melihat Sandra berjalan dengan canggung. "Maaf aku tadi sedang mandi. Apa kau menunggu lama di depan pintu?". Tanya Satya.
Sandra menoleh ke pada Satya. "Tidak, Tuan. Kalau saya masih memencet bel dan belum menggedor-gedor pintu, itu artinya belum menghabiskan kesabaran saya hehehe". Sandra terkekeh pelan.
Satya tertegun saat melihat tawa yang menghiasi wajah Sandra. Ditariknya tubuh Sandra dalam 1 gerakan tangan kekar Satya hingga tubuh keduanya menempel. "Aku sudah bilang padamu... Jangan panggil aku Tuan. Kenapa kau masih memanggilku dengan itu hmm?". Tanya Satya menatap tajam tepat ke dalam manik mata Sandra.
Sandra melotot terkejut dengan sikap Satya saat ini. Bulu mata lentik Sandra yang masih di balut dengan maskara menambah menarik tampilan matanya. Sandra memalingkan wajahnya ke sembarang arah namun dengan cepat Satya menarik dagu Sandra hingga wajahnya menengadah ke atas menatap Satya.
Walau tinggi badan Sandra sebagai wanita bisa di kategorikan memiliki tinggi di atas rata-rata. Namun ketika Ia berdiri di samping Satya, Ia masih tetap terlihat mungil hingga Ia tetap harus menengadahkan wajahnya untuk menatap tepat ke netra tajam pria itu.
"Sa-saya lupa.... Maaf" Ujar Sandra pelan.
"Saya?" Tanya Satya dengan nada penuh penekanan seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Maksudnya... Aku.. Iya... Aku! Hehehehe" Sandra cengengesan hingga menampakkan barisan giginya yang putih dan rapi.
Satya menyugar rambutnya yang lembab seraya melepas dekapannya pada tubuh Sandra. "Aaaahh.. Aku bisa gila". Gumam Satya.
"Hah? Apa?". Tanya Sandra.
Satya lantas menatap Sandra dengan tatapan yang rumit. "Kubilang, Aku bisa gila jika dekat-dekat denganmu. Menjauhlah!".
Sandra melongo mendengar Satya memintanya menjauh. "Apa-apaan? Kamu yang menarikku lebih dulu!". Gerutu Sandra.
"Kamu? Kau bilang kamu? Aaahh kau lucu sekali!". Ujar Satya seraya mencubit pelan pipi Sandra.
Apa-apaan sih dia?!
Sandra merasa keheranan melihat tingkah Satya yang absurd. Sandra lantas mengekori Satya yang melangkah menuju ruang tengah. Ruang yang lapang bernuansa hangat. Lantai marmer berwarna abu serta furniture yang di dominasi oleh warna putih dan abu membuat tampilan apartemen Satya terlihat klasik dan nyaman.
"Duduklah... Aku ke kamar dulu untuk berganti pakaian". Sahut Satya yang di angguki oleh Sandra.
Sandra mengamati setiap inci apartemen Satya. Ia beranjak berdiri lagi melangkah menuju sebuah lemari kaca 3 pintu yang di dalamnya banyak sekali piagam penghargaan yang membuat Sandra kepo ingin melihat lebih dekat.
Sandra menyusuri satu per satu piagam tersebut. Matanya terbelalak saat mendapati banyak sekali nama Satya di setiap piagam. Jari telunjuk Sandra dengan lihai menunjuk piagam-piagam yang tersusun rapi di balik lemari kaca.
__ADS_1
"Best Ten CEO in South East"
"Best Indonesian CEO 2020"
"CEO Strategic Orientation Terbaik"
"CEO......"
CEO........"
'CEO.........."
Sandra membaca satu per satu dari rak atas hingga bawah dengan raut wajah yang terkejut bukan main. Ia mengatupkan kedua tangannya menutup mulut. "Sebenarnya siapa pria ini?".
Sandra lantas berlari kecil meraih ponselnya dari dalam tas dan segera membuka sebuah browser G. Ia mengetik Satya Nagara. Sandra mengerutkan kening saat Ia tidak menemukan apapun artikel tentang pria itu. Sandra lantas teringat sesuatu.
Ia kembali lagi melangkah menuju lemari kaca dan sedikit membungkuk untuk membaca sebuah nama perusahaan yang tersemat di salah satu piagam. Sandra lantas mengetik Nagara Corporation.
Boom!
Mata Sandra melotot saat Ia melihat informasi tentang perusahaan Nagara Corporation. "Nagara...... Satya Nagara...."
"Kau sedang apa?"
Suara bariton Satya menginterupsi fokus Sandra. Ia lantas membalikan tubuhnya melihat Satya yang sudah berganti baju dengan santai.
"Aku... Aku sedang melihat piagam-piagam ini". Ujar Sandra pelan. Ia menatap Satya dengan penuh pertanyaan di benaknya saat ini.
Satya mengulas senyum tipis. "Ohh.."
Sandra melongo melihat tanggapan Satya yang santai dan datar. "Apa kamu tidak mau menjelaskan sesuatu padaku?". Tanya Sandra memberanikan diri.
"Menjelaskan.apa?"
"Kemarilah... Duduk di sini. Kau belum minum apa-apa sejak sampai kemari". Titah Satya seraya menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Sandra lantas menuju area mini bar yang terisi lengkap dengan deretan botol wine mahal. "Jangan melihat botol wine. Kau minum orange juice saja". Sahut Satya seraya menyerahkan segelas orange juice pada Sandra yang langsung di teguk hingga habis setengahnya.
"Kau mau menanyakan apa padaku? Tanyakan saja". Ujar Satya menatap Sandra dengan lekat.
__ADS_1
"Mmm... Aku tadi melihat koleksi piagammu..."
"Lalu?" Tanya Satya.
"Apa kau seorang CEO?"
Satya tersenyum tipis lalu mengangguk. "Ya benar".
Sandra terdiam sejenak. "Aku pikir kamu hanya anak pemilik lapangan golf tempatku bekerja". Ujar Sandra mengungkapkan kebingungannya.
"Lapangan golf hanya salah satu sektor bisnis perusahaan saja". Jawab Satya dengan lugas.
"Lalu Nagara.... Nama Nagara yang ada di belakang namamu itu apakah sama dengan Nagara Corporation? Perusahaan besar itu? Yang memiliki ribuan karyawan?".
Satya menghela napasnya. "Ya. Nagara Corporation adalah perusahaan keluargaku". Jawab Satya.
Sontak saja Sandra melongo mendengar penuturan Satya. Otaknya mulai berlari kemana-mana mencerna berbagai hal yang pernah di sampaikan oleh Satya terkait pernikahan mereka.
"Jadi..... Kamu ingin pernikahan kita di bawah tangan karena keluargamu seperti itu ya..." Gumam Sandra.
"Keluargamu pasti tidak akan mungkin merestui ku sebagai istrimu. Aku dan kamu rasanya berbeda dunia walau sama-sama menghirup.oksigen hehehhee"
Satya menggelengkan kepalanya. "Itu hanya sementara saja. Aku janji padamu".
"Tapi...... Mmmmmmm" Sandra berusaha mengatur kata demi kata untuk di ungkapkan.
"Aku jadi takut untuk menikah denganmu. Rasanya ini semua salah..." Gumam Sandra.
Satya menggenggam tangan Sandra dengan cepat. Menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang amat lekat. "Hey... Kau jangan pikirkan apapun. Oke? Aku adalah aku. Jangan lihat latar belakang keluargaku. Kau hanya perlu melihatku. Mengerti?". Ujar Satya berusaha meyakinkan Sandra yang mulai kembali goyah.
Sandra terdiam. Manik matanya menatap menyusuri gurat keseriusan yang terpampamg nyata di wajah tampan Satya. Sandra lantas mengulas senyum. "Baiklah, Aku percaya padamu".
"Tapi........."
"Apalagi hmmm?" Potong Satya dengan gemas.
"Tapi kenapa aku tidak menemukan satu artikel pun ketika aku mengetik namamu di browser G?". Tanya Sandra menatap serius pada Satya.
"Karena aku memang tidak suka di liput oleh media. Apapun yang berkaitan denganku, itu selalu terkunci rapat dari media manapun" Ujar Satya terkekeh pelan. Termasuk pernikahanku dengan Nadya 6 bulan yang lalu. Gumam Satya dalam hati seraya menatap wajah Sandra yang sedang tersenyum manis padanya.
__ADS_1
...🌴🌴🌴...