Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 40


__ADS_3

"Saya tidak mau". Sandra yang sedari tadi hanya diam saja mendengar percakapan Satya dengan kedua orang tuanya kini mulai berbicara.


"Saya tidak mau kalau menikah di bawah tangan. Itu menikah siri kan? Saya tidak mau!'. Ujar Sandra menatap Satya dengan sangat serius.


Satya terperangah dengan sikap tegas Sandra namun Ia juga memutar otak bagaimana meyakinkan agar Sandra mau menerimanya.


"Apa kamu yakin, Nak?" Tanya Retno menelisik raut wajah Sandra.


"Sandra masih muda Bu.. Masih 20 tahun. Sebenarnya Sandra tidak masalah jika menikah muda tapi kalau Tuan Satya nanti menendang Sandra begitu saja bagaimana? Sandra tidak bisa menuntut apapun dari dia kalau hanya menikah siri. Sandra tidak dapat apa-apa di tambah dapat gelar janda. Sandra tidak mau!" Ujar Sandra menatap Satya.


"Aku menikahimu untuk seumur hidup. Bagaimana bisa kau berpikir aku akan menendangmu setelah aku memintamu baik-baik seperti ini pada orang tuamu?". Tanya Satya tak habis pikir.


"Saya hanya berjaga-jaga saja, Tuan."


Satya mengusap wajahnya seraya menghela napas. Ia lalu beralih menatap pada Retno dan Dimas. "Pak.. Bu.. Boleh saya berbicara berdua saja dengan Sandra?". Ujar Satya.


Dimas dan Retno menatap Sandra dan Satya silih berganti. Dimas pun mengangguk. "Baiklah silakan kalian bicarakan bagaimana baiknya... Tapi tolong kamu jangan memaksa putri saya ya". Dimas lantas berdiri dan menarik lengan Retno untuk mengikutinya agar memberikan ruang bagi Satya dan Sandra berdua saja.


Selepas kepergian Dimas dan Retno ke ruang tengah, Satya lalu berpindah duduk tepat ke sebelah Sandra. Ia menatap Sandra tepat ke dalam manik mata gadis itu. "Kau tahu? Aku sangat serius padamu saat ini, Sandra". Ujar Satya dengan nada lembut.


"Hanya saja ada beberapa hal yang perlu aku urus di dalam keluargaku saat ini. Situasinya tidak mudah untukku tapi di sisi lain aku ingin kau secepatnya di sisiku".


Sandra terdiam mendengarkan penuturan Satya secara seksama. Ia menatap raut wajah tampan itu yang di penuhi dengan gurat keseriusan.


"Kita kenal belum lama, Tuan. Kenapa anda sangat ingin meminang saya?".


Satya mengulas senyum. "Karena hatiku menginginkannya. Aku hanya mengikuti kata hatiku". Jawab Satya dengan jujur.


"Kau boleh tidak percaya padaku. Mungkin ini semua gila untukmu.. Jujur saja aku pun merasa ini gila... Tapi kenyataanya hatiku mengarah padamu."

__ADS_1


"Tapi kenapa harus menikah siri? Nanti kalau saya di tendang begitu saja setelah Tuan mengambil keperawanan saya bagaimana? Saya tidak bisa menuntut apa-apa dari Tuan." Ujar Sandra.


Satya melongo mendengar pemikiran polos Sandra. "Hey! Aku menikahimu bukan hanya untuk 1 malam! Kalau aku mau, aku bisa menyewa seorang gadis saja untuk menemaniku semalaman daripada repot-repot menikahinya!" Ujar Satya.


"Kalau begitu Tuan sewa saja seorang gadis jangan malah meminta saya untuk jadi istri!". Gerutu Sandra.


Satya menyugar rambutnya ke belakang berusaha sabar. Ternyata gadis ini sulit sekali di bujuk!


"Kenapa pembahasan kita malah berlari kemana-mana? Lalu prasangkamu itu... Astaga aku pusing sekali." Satya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau pusing, sudahi sampai disini saja. Saya tetap tidak mau di nikahi secara siri!". Ujar Sandra bersikeras.


"Sandra...." Satya menatap Sandra dengan raut wajah memelas.


Bagaimana tidak pusing? Bisa saja Satya menikah resmi dengan Sandra namun Ia perlu melakukan berbagai tahapan prosedur izin poligami di pengadilan agama. Itu artinya surat izin dari istri pertama alias dari Nadya harus Ia dapatkan lebih dulu agar pernikahannya dengan Sandra bisa resmi dan mendapatkan buku nikah.


"Aku janji padamu kalau aku akan memberikan segala hak mu dengan utuh walau pernikahan kita nanti di bawah tangan. Ini hanya sementara bukan selamanya."


"Begini saja, kita buat perjanjian hitam di atas putih dan kita sah kan perjanjian itu di depan pengacara dan notaris. Itu bisa menjadi jaminanmu jika suatu hari yang kau takutkan terjadi. Tapi aku jamin dengan hidupku bahwa apa yang kau takutkan tidak akan pernah terjadi". Satya menawarkan win win solution pada Sandra. Ia bisa menikahi Sandra dan Sandra bisa merasa terjamin aman walau harus menikah di bawah tangan untuk sementara.


Sandra terdiam dan memikirkan baik buruknya solusi dari Satya. "Apa saya boleh memberikan syarat di dalamnya?".


Satya mengangguk. "Tentu. Nanti kita akan rundingkan isi perjanjian itu esok hari." Ujar Satya tersenyum.


Sandra bergeming. Ia menatap Satya dengan seksama. Mencari kejujuran dan keseriusan pria itu saat ini. Hingga akhirnya Sandra mengangguk menerima dengan solusi yang di tawarkan oleh Satya.


Satya membelalakkan matanya. Rona bahagia tercipta jelas di wajahnya hingga tanpa sadar Satya menarik tubuh Sandra ke dalam pelukannya. Sandra yang tiba-tiba di peluk tak ayal terkejut bukan main. Namun Sandra menikmatinya. Baru kali ini Ia di peluk oleh seorang pria apalagi pria tampan bertubuh kekar dan harum seperti Satya!


"Terima kasih, Sandra. Aku janji akan memenuhi seluruh hak mu tanpa terkecuali". Ucap Satya seraya mengusap rambut panjang Sandra.

__ADS_1


Sandra mengangguk kecil. "Tu-Tuan.. Lepas dulu... Tidak enak kalau di lihat orang tua saya". Cicit Sandra merasa malu.


Satya terkekeh dan melepaskan pelukannya. Satya menyisipkan rambut Sandra yang menutupi sebagian wajah gadis itu ke belakang telinga dan menatap tepat ke dalam manik mata Sandra. "Terima kasih..." Ulang Satya hingga membuat Sandra hanya bisa mengangguk malu.


"Hmm.... Mulai sekarang jangan panggil aku dengan TUAN, tapi panggil aku dengan SAYANG. Jangan mengucap ANDA padaku, tapi ucap KAMU. Bisa kan? Aku bukan Tuan mu... Tapi aku kini calon suami mu hehehee"


Bluuusssshhhh


Pipi Sandra rasanya berubah merah merona mendengar penuturan Satya.


"Coba kau panggil aku dengan kata sayang". Ujar Satya tersenyum miring.


"Hah? Eeehh.."


"Ayolaaahh.." Satya masih membujuk.


"Sa-sayang". Cicit Sandra dengan sangat pelan hampir tak terdengar.


"Aku tidak mendengarnya, ulang sekali lagi"


"Sayang!".Ucap Sandra kini dengan pasti.


Satya tersenyum lebar dan mengacak-acak rambut Sandra dengan gemas. "Panggillah lagi kedua orang tuamu. Kita harus mempersiapkan banyak hal bukan untuk pernikahan nanti?". Ujar Satya mengedipkan sebelah matanya pada Sandra.


Sandra lantas segera memanggil kembali Dimas dan Retno yang ternyata sedari tadi menguping di balik tembok ruang tamu. "Bapak! Ibu! Astagaaa kenapa kalian membungkuk berdempetan seperti ini!". Pekik Sandra tertahan pada kedua orang tuanya.


Dimas dan Retno lantas berdiri tegak kembali dan terkekeh kikuk merasa terciduk. "Kamu sudah melakukan hal yang benar, San. Bapak bangga padamu!". Ucap Dimas tiba-tiba membuat Sandra kebingungan.


"Sudah... Sudah! Ayo kita temui lagi Nak Satya, Pak."Retno melangkah lebih dulu ke ruang tamu karena masih malu pada Sandra karena sudah menguping.

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


Like, komen, hadiahnyaa dongggss😘


__ADS_2