Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 21


__ADS_3

"Saya menjadi caddy tetap?! Ini serius kan? Tidak bohong?! Mami bicara jujur?!". Sandra membelalakkan matanya terkejut setelah mendengar pengumuman hasil evaluasi pekan percobaan masa pelatihan caddy.


"Tentu saja Mami jujur dan tidak bohong. Kamu ini ada-ada saja, Sandra". Ujar Mami Sari menggelengkan kepala melihat tingkah Sandra yang berlebihan.


Sandra menangkupkan kedua tangannya di dada. "Aaahh.. Akhirnya perjuanganku selama 1 bulan berhasil di lewati dengan baik!". Sahut Sandra.


"Kalian semua sepuluh peserta lolos menjadi caddy tetap. Tidak ada yang mengulang kembali untuk pelatihan. Mami berterima kasih untuk fokus kalian dalam 1 bulan terakhir". Ucap Mami Sari menatap satu per satu pada Sandra dan rekan-rekannya.


Seluruh peserta pelatihan berjingkat gembira. Sandra, Merin dan Giska saling merangkul satu sama lain.


"Sekarang kalian catat di kertas ini untuk ukuran baju, ukuran celana dan nomor sepatu kalian masing-masing. Mami tunggu sekarang ya! Ini untuk seragam caddy kalian semua." Titah Mami Sari memberikan sebuah kertas dan bolpoin pada Merin.


Dengan sigap Merin mencatat satu per satu ukuran yang telah di beritahu oleh rekan-rekannya. Tak membutuhkan waktu lama, Merin segera mengembalikan kertas tersebut pada Mami Sari.


"Kalian sudah paham ya mekanisme upah caddy?". Tanya Mami Sari.


Sandra dan Merin saling menatap. Keduanya masih belum terlalu paham dengan penghasilan yang akan mereka dapatkan setelah menjadi caddy tetap walau pihak HR sempat menjelaskannya.


"Saya masih belum paham banget, Mi!". Ujar Merin mengangkat tangan.


Mami Sari mengangguk ke arah Merin. "Oke jadi Mami jelaskan kembali ya.. Hari kerja kalian ada 5 hari dalam 1 pekan."


"Satu kali turun lapangan kalian akan di beri fee 125 ribu. Di tambah uang support untuk operasional per hari 50 ribu per orang. Ini yang mutlak akan kalian dapatkan". Jelas Mami Sari.


"Kalau misalnya ada yang gak kebagian turun lapangan gimana, Mi?". Timpal Giska.


"Ya tentu saja tidak akan mendapatkan fee. Hanya dapat uang support saja. Dan di catat ya, upah kalian akan di bayar satu pekan sekali dan jadwal pencairannya ke rekening masing-masing setiap hari senin". Ujar Mami Sari.


"Kalau di kalkulasikan kecil ya penghasilan caddy? Hehehehee...." Mami Sari terkekeh pelan.


"Tapi tenang saja. Kalian pasti mendapatkan tip dari para pemain golf yang sudah kalian temani di lapangan. Bahkan dari jumlah tip itu bisa lebih besar dari penghasilan kalian dari country club". Lanjut Mami Sari.


Sandra mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Mami Sari. Ia bertekad akan menjalani pekerjaannya sebagai caddy dengan baik dan profesional agar para pemain golf pun senang dengan keahliannya dalam melakukan pekerjaan di lapangan.


"Oke sudah jelas semuanya? Hari ini kalian tidak ada kegiatan apapun. Jadi boleh langsung pulang. Ingat! Besok libur dan lusa akan Mami bagikan seragam caddy!". Seru Mami Sari seraya beranjak berdiri dari duduknya dan tak lama kemudian pergi keluar ruang ganti.


Selepas kepergian Mami Sari, Sandra masih betah duduk seraya menatap ponselnya. Ia membaca sebuah pesan dari Dita yang menanyakan hasil pengumuman masa pelatihan. Sandra tersenyum lalu dengan gesit jarinya mengetik sebuah balasan pada teman lamanya itu.

__ADS_1


"San! Ngemall yuk!". Ajak Merin menginterupsi perhatian Sandra dari ponselnya.


Sandra mendongakkan kepala. "Mall? Gak lah! Gw lagi gak ada uang sekarang!". Ujar Sandra seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Gw juga gak belanja. Kita window shopping aja yuk! Baru jam segini juga males banget langsung pulang!". Sahut Merin.


Sandra menatap arloji di pergelangan tangan kanannya dan waktu baru menunjukkan pukul 11 siang. Waktu yang masih awal untuk langsung pulang ke rumah. Sandra berpikir sejenak dan menganggukkan kepala menyetujui ajakan Merin.


...🌻🌻🌻...


"Kau mau makan siang apa?". Tanya Nino saat melangkah masuk ke dalam ruang kerja Satya.


"Tok.. Tok.. Tok.. Aku tidak mendengar bunyi ketukan di pintu". Ujar Satya yang masih sibuk dengan segala berkas di atas meja kerjanya.


"Kau mau makan atau kubiarkan kelaparan disini?".


"Kau mau kupecat?". Satya melirik sekilas pada Nino.


"Pecatlah aku. Kau tidak akan menemukan asisten sekompeten diriku". Ujar Nino terkekeh.


"Yang sekompeten kau mungkin tidak akan kutemukan. Tapi mungkin aku akan memiliki asisten yang lebih tahu sopan santun terhadap bosnya". Timpal Satya.


"Kenapa kau yang repot memikirkan makan siangku?". Tanya Satya.


Nino terdiam sejenak dan menyeringai. "Ah ya aku lupa.. Harusnya.........."


"Oke kita makan siang di luar saja!". Satya memotong ucapan Nino seraya beranjak berdiri dan meninggalkan meja kerjanya yang berantakan begitu saja.


Melihat tingkah Satya yang menghindar akan suatu hal membuat Nino terkikik geli.


"Diam kau". Gerutu Satya melirik Nino dengan tajam.


Nino mengangkat kedua tangannya seraya tertawa. "Oke maaf hahahahaa".


Satya dan Nino segera memasuki lift pribadi direksi dan menuju ke lantai dasar.


"Kita mau makan di mana?". Tanya Nino setelah keduanya telah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Aku ingin makan ramen. Bawa aku ke restoran ramen terenak". Sahut Satya seraya memasang seatbelt.


Nino mengangguk dan mulai mengemudikan mobil keluar dari gedung kantor.


Sementara di salah satu mall mewah, Sandra dan Merin baru saja melangkah masuk setelah melewati pemeriksaan pengunjung. Sandra mengedarkan netra matanya menatap ke seluruh penjuru area.


"Mer, Lo yang benar aja sih ngajak ke mall ini!" Ujar Sandra pelan.


"Kenapa memangnya?".


"Lo lihat dong! Ini mall kelas atas! Gerainya dari luar negeri semua. Restorannya juga pasti mahal-mahal. Bukan level kita main di sini!". Gerutu Sandra. "Yang ada kita capek doang mutarin mall ini sambil ngiler liatin barang-barangnya!".


"Makanya gw bilang window shopping. Ya mutar-mutar aja, San. Cuci mata! Kalau lapar kita bisa ke kantin karyawannya aja makan di sana hahahahaha".Ujar Merin santai.


"Ish lo! Lebih baik kita main ke taman kota terus makan di kaki limanya deh!".


Merin lalu menggamit lengan Sandra. "Lo nikmatin aja sih sesekali aja kok kita kesini. Hitung-hitung latihan".


Sandra mengerutkan keningnya. "Hitung-hitung latihan apaan?".


"Latihan jadi orang kaya! Jadi nyonya besar!". Ujar Merin asal.


"Ngawur aja lo! Mana ada upik abu kayak kita bisa jadi nyonya besar hahahaha".


"Siapa tau sih, San? Nasib orang ke depan masih misteri loh!". Ujar Merin mengingatkan.


Sandra mengangguk pelan. "Iya sih...... tapi kemungkinannya tuh 0,000000001%!Hahahahaha".


"Hmm.. Gw rasa ini hari keberuntungan kita. Siapa tau persentase kita naik jadi 1% kan?". Ujar Merin ambigu.


"1% artinya masih mustahil dodol! Hahaha".


"Setidaknya kita akan makan enak hari ini!". Seru Merin ceria seraya menatap ke depan.


Sandra mengikuti arah pandang Merin dan terkejut kala melihat Satya dan Nino yang baru saja berjalan masuk ke dalam mall.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


Like, komen, hadiahnya donggss😘


__ADS_2