Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 87


__ADS_3

"Nak, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" Retno bertanya pada Sandra seraya menyuapinya makan siang.


Sandra menatap Retno dengan tersenyum tipis. "Sandr yakin, Bu" Ujarnya. "Apa Sandra tidak boleh mempertahankan pernikahan Sandra?".


"Bukan begitu, Nak." Timpal Dimas. "Tapi kamu sadar kan, kalau kamu tetap bertahan di sisi suamimu, bisa saja banyak hal yang mungkin terjadi? Kita berada di tengah-tengah dua keluarga yang memiliki pengaruh luar biasa. Sedangkan keluarga kita mungkin hanya butiran debu bagi mereka". Dimas menatap Sandra dengan raut wajah kuatir.


"Bapak hanya tidak mau kamu mengalami kejadian yang lebih dari ini".


"Pak... Sandra tahu, Bapak pasti kecewa pada Satya karena tidak jujur dengan statusnya, Sandra pun kecewa saat mengetahuinya, Pak." Ujar Sandra menatap Dimas dengan serius. "Tapi, Sandra melihat ketulusan dari matanya saat memohon pada Sandra agar tetap berada di sisinya dan menemaninya melewati semua ini, Satya mencintai Sandra dengan tulus, Pak. Dia memperlakukan Sandra dengan sangat baik dan............."


"Sandra juga mencintainya, Pak. Sangat..."


Dimas menghela napasnya dengan pelan. Retno mengusap punggung sang suami dengan lembut. "Biarkan saja.. Ini sudah keputusan putri kita" Sahut Retno.


"Berjanjilah pada Bapak, San. Kamu harus selalu berada dalam perlindungan bodyguard suamimu. Turuti apapun perintah suamimu. Kamu seperti ini pun karena bersikeras ingin pulang ke apartemen sedangkan suamimu menitipkanmu pada kami di hotel" Dimas mengusap wajahnya. "Bapak takut istri pertama suamimu atau bahkan keluarga Nagara maupun keluarga Carlton datang mengusikmu lagi".


Sandra tersenyum lebar. "Iya, Pak. Sandra janji. Bapak dan Ibu juga harus waspada walau ada bodyguard di rumah".


Dimas dan Retno pun mengangguk dengan tersenyum pada Sandra.


...


"Kamu benar-benar mencoreng nama baik keluarga Carlton! Ayah tidak pernah mengajarimu menjadi pelacur seperti itu!" Aldabar menatap Nadya dengan tajam. Wajahnya merah menahan emosi yang menyeruak dari dalam diri pria paruh baya itu.


"Ayah! Aku bukan pelacur! Kenapa Ayah tega sekali bicara seperti itu padaku!" Teriak Nadya tak terima di katai pelacur oleh ayahnya sendiri. "Itu hanya satu malam! Bahkan aku melakukannya pun tidak sengaja karena aku mabuk!"


"Kau melakukan langkah yang salah. Jika aku tahu ada video seperti ini, aku tidak akan membiarkanmu memancing amarah Satya dengan mengusik istri keduanya!".


Nadya melotot terkejut. "Jadi, maksud ayah aku harus menerima begitu saja suamiku menikah lagi?! Ini gila!!!".

__ADS_1


"Apa kau tidak berpikir panjang jika Chandra dan Grace tahu video ini, hah? Apa kau tidak takut jika videomu tersebar dan di lihat semua orang di negeri ini?! Mau di taruh di mana mukaku jika putri satu-satunya yang kubanggakan melakukan hal seperti itu!". Aldanar masih saja mengumpat sang putri yang menurutnya sudah sangat keterlaluan karena tidak jujur dengan segala situasi yang ada.


Nadya bergeming. Ia sudah merasa hilang akal. Apapun akan Ia lakukan untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Satya. Bahkan jika Ia harus berpisah dengan Satya, maka Sandra pun harus berpisah dengan Satya.


Tiba-tiba terdengar nada dering ponsel milik Nadya. Ia dengan sigap melihat layar ponselnya dan Grace lah yang sedang menghubunginya.


"Halo, Ma" Sapa Nadya setelah sambungan telfon terhubung.


"Kamu ada di mana sayang? Bisakah kamu pulang ke rumah? Ada yang ingin mama bicarakan padamu"


Nadya terdiam sejenak menatap ke sembarang arah. "Baiklah. Ma. Aku akan ke rumah sekarang"


Nadya lantas segera mematikan sambungan telfonnya dan beranjak dari sofa. "Aku akan menemui mertuaku". Ujar Nadya pada Aldanar.


"Berdoa saja jika suamimu tidak memberitahu tentang video laknat ini pada mereka". Sahut Aldanar seraya melangkah kembali menuju kursi kebesarannya.


Tiga puluh menit waktu yang di butuhkan Nadya untuk sampai ke rumah mertuanya. Ia turun dari mobil dengan sikapnya yang angkuh dan percaya diri. Sepatu hak tingginya terdengar berisik menggema saat Ia berjalan dengan anggun. Nadya tetaplah Nadya. Serumit apapun masalah yang Ia hadapi, Ia harus tetap terlihat sempurna.


"Ma, Pa" Sapa Nadya saat melihat Grace dan Chandra berada di ruang tengah.


Nadya lantas duduk dengan anggun di dekat Grace. Chandra terlihat menatap Nadya dengan pandangan yang meneliti. Entah apa yang sedang di pikirkan olehnya.


"Maaf ya sayang, Mama baru tahu kalau kamu ada masalah dengan Satya" Grace menatap Nadya dengan lembut. "Kenapa kamu tidak cerita dengan mama?"


Nadya menatap Grace dengan raut waiah yang sedih. "Aku bingung, Ma. Aku takut mama tidak mempercayaiku jika aku mengatakan kalau Satya menikah lagi." Ujar Nadya dengan suara murung.


"Bagaimana bisa Mama tidak percaya kalau memang itu yang di lakukan olehnya?" Tanya Grace. "Tapi, ada yang membuat Mama bingung..."


"Apa , Ma?"

__ADS_1


"Kenapa Satya sampai nekat menikah lagi tanpa sepengetahuan kita semua? Apa kamu tahu alasannya?" Grace menatap Nadya dengan lekat.


Nadya membeku. Lidahnya kelu tak mampu berucap.


"Apa ada yang tidak kami ketahui?" Timpal Chandra yang sedari tadi hanya diam nengamati interaksi sang istri dengan menantu.


"Ah.. Tidak.. Maksudku..." Nadya gelagapan. Ia belum menyiapkan rencana apapun lagi. Namun untuk mengikuti saran dari Aldanar, ia sama sekali tidak mau!.


"Semua ini murni karena wanita itu, Ma". Ujar Nadya akhirnya. "Nadya pun syok setelah mengetahui ternyata pernikahan mereka sudah berjalan dua bulan di belakang Nadya". Nadya lantas menitikkan air mata. "Hati istri mana yang tidak terluka saat mengetahui suaminya menikah lagi, Ma?"


"Nadya hiks.... Nadya bahkan sempat kehilangan anak Nadya dan Satya, Nadya selama ini tidak pernah di perhatikan oleh Satya. Semua gara-gara wanita itu" Nadya semakin menangis tersedu-sedu.


"A-anak? Maksudmu kamu.... kamu sempat hamil? Tapi, kapan?" Tanya Grace terkejut. Chandra hanya diam dengan menautkan kedua jari jemarinya di atas lutut.


"Tiga bulan pernikahan Nadya sempat hamil, Ma. Namun itu tidak berlangsung lama karena Nadya keguguran"


Grace semakin terkejut dan segera menarik Nadya ke dalam pelukannya. "Oh Tuhan... Kenapa aku tidak tahu jika menantuku melalui hal sulit seperti ini". Grace mengusap punggung Nadya dengan lembut.


"Apa itu anak Satya?" Tanya Chandra akhirnya membuka suara.


Nadya sontak saja berhenti menangis dan melepaskan tubuhnya dari pelukan Grace. Ia mengusap kedua sisi wajahnya yang basah karena air mata.


"Tentu saja, Pa. Itu anak Satya. Jika bukan, memangnya anak siapa lagi?" Ujar Nadya berusaha tenang.


"Dia bohong. Itu bukan anak Satya, tapi itu anak saya yang sengaja dia gugurkan tanpa sepengetahuan saya". Suara bariton seorang pria dari arah pintu masuk pun terdengar.


Nadya terkejut bukan main saat mendapati Sean datang bersama Satya ke rumah mertuanya.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


__ADS_2