
"Terima kasih, Tuan". Ujar Sandra saat keduanya baru saja sampai di Golf Country Club.
Satya menatap pada Sandra yang sedang melepas seatbeltnya. "Bagaimana pekerjaanmu di sini? Apa kau nyaman?"
Sandra mengangguk pelan. "Mana ada pekerjaan yang nyaman sih Tuan untuk orang-orang seperti saya? Dapat pekerjaan saja saya sudah bersyukur". Jawab Sandra seraya terkekeh pelan.
"Saya harus menghadapi banyak karakter pemain yang berbeda-beda, kepanasan, kehujanan. Tapi saya juga menikmatinya. Karena ruang lingkup pekerjaan saya pemandangannya sangat indah!"
Satya mengangguk paham. "Ya. Kau benar. Pemandangan hamparan rumput hijau dan pohon-pohon tinggi membuat pikiranmu tenang." Ujar Satya.
Sandra mengulas senyum tipis mendengar penuturan Satya. Ia lalu meraih 1 paper bag yang di taruh dekat kakinya dan memberikannya pada Satya.
"Ini, Tuan. Jaket anda yang tadi malam saya pakai". Ujar Sandra.
"Ohh ya.. Terima kasih". Satya menerima paper bag tersebut dan menaruhnya di kursi belakang.
"Kalau begitu saya masuk dulu ya, Tuan! Jangan lupa sarapan karena tadi Tuan tidak jadi memakan buburnya hehehehehe" Sandra tertawa pelan mengingat insiden kecil di pujasera.
Satya mendengus kesal. "Itu gara-gara kau! Aku mual melihat tampilan buburmu. Nafsu makanku menghilang begitu saja". Gerutu Satya.
Sandra semakin tertawa mendengar Satya mengomel dengan raut wajahnya yang tampan. Satya yang melihat tawa Sandra seketika tertegun menatap Sandra. Tawa yang menghiasi wajah Sandra semakin membuatnya tertarik.
"Ehmm" Satya berdeham.
"Cepatlah keluar. Kau lihat jam berapa sekarang." Ujar Satya seraya menunjuk jam di mobilnya. "5 menit lagi sudah jam 10. Bukankah kau masuk jam 10?".
Sandra menganga terkejut. "Aah! Astaga! Baiklah terima kasih atas tumpangannya Tuan!". Sahut Sandra tergesa-gesa keluar dari mobil Satya.
"Sandra!" Panggil Satya cepat.
Sandra membalikkan tubuhnya. "Apa, Tuan?".
"Jika aku bermain golf, kau harus selalu menjadi caddyku. Akhir pekan ini aku akan datang untuk bermain. Kau mengerti?" Ujar Satya menatap Sandra dengan raut wajah serius.
Sandra mengerutkan keningnya. "Tapi itu tergantung Mami Sari, Tuan".
"Aisshh sudahlah! Aku bisa mengaturnya. Cepat sana keluar. Kurasa kau harus berlari ke ruang tunggu caddy". Ujar Satya kembali melirik jam di mobilnya.
Sandra menundukkan kepalanya lalu menutup pintu mobil dengan cukup kencang. Ia berlari dengan cepat menaiki undakan tangga dan seketika itu juga menghilang di ujung aula.
Satya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Gadis yang menarik". Gumam Satya sembari melajukan mobilnya untuk menuju perusahaan.
...🌻🌻🌻...
__ADS_1
Satya baru saja keluar dari lift khusus direksi dan sudah di sambut oleh Nino dengan raut wajah menyelidik. Tanpa sepatah katapun pada sang asisten, Satya terus berjalan hingga memasuki ruang kerjanya. Ia menyampirkan jas nya di kursi kebesarannya dan segera mendudukkan dirinya.
Satya menatap Nino yang hanya berdiri di seberang meja kerjanya. "Ada apa?". Tanya Satya.
"Kenapa kau baru datang jam segini?".
"Aku ada urusan sebentar". Jawab Satya.
"Kemana? Apa kau tidak tahu? Kau hampir saja membunuhku pagi ini!". Ujar Nino dengan raut wajah serius.
"Memangnya ada apa tadi pagi selagi aku tidak di sini?".
Nino menaruh kedua telapak tangannya ke atas meja kerja Satya seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ayahmu bertanya padaku di mana keberadaan dirimu!".
"Apa kau lupa kalau kau ada meeting dengan perusahaan Amber?" Tanya Nino.
Satya menepuk dahinya sesaat. "Astaga! Aku benar-benar lupa!". Ujar Satya.
"Akhirnya Ayahmu yang harus memimpin meeting itu! Dia bilang padaku kalau kau pergi dari rumah seperti biasa. Lalu kau kemana dulu hingga baru sampai sekarang?". Tanya Nino menyipitkan matanya.
"Aku sudah bilang ada urusan. Kenapa kau bawel sekali!".
"Tentu saja aku bawel! Kau tidak memberitahu apapun padaku agar aku bisa mencari alasan di hadapan Ayahmu!". Umpat Nino merasa kesal.
"Aku pergi dengan Sandra sebentar". Jawab Satya.
Satya menatap Nino dengan raut wajah yang seakan mengatakan Oh serius kau pikun?
Nino tiba-tiba saja membelalakkan matanya dengan mulut menganga. "CADDY ITU?" Pekik Nino terkejut.
Satya mengulas senyum tipis dan mengangguk. "Ya. Caddy itu. Ngomong-ngomong dia bernama Sandra". Ujar Satya.
"Bagaimana bisa?"
"Maksudmu?". Tanya Satya tak mengerti.
"Maksudku bagaimana bisa kau bertemu dia di luar Country Club?"
"Ya aku mendatanginya ke rumah gadis itu! Pertanyaanmu kenapa aneh-aneh sekali!" Sungut Satya kesal.
"Ke rumahnya?! Oh Astaga.. Berapa banyak hal yang aku tidak tahu?!". Tanya Nino seraya menarik kursi di hadapan Satya dan mendudukkan dirinya di sana.
"Katakan padaku bagaimana bisa seperti itu!". Cecar Nino menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Apa kau istriku hingga aku perlu menjelaskannya padamu?" Tanya Satya seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Cih! Aku saja tidak yakin kau memberitahu soal ini pada Nadya! Jika dia tahu, aku yakin dia akan membuat kehebohan hahahaha" Ledek Nino seraya tertawa.
Satya terkekeh pelan tak menampiknya. "Tadi malam aku pergi dengannya untuk makan malam". Ujar Satya.
"APA?!"
"Kau mau mendengarkan atau tidak!". Sahut Satya kesal.
"Oke. Oke. Lanjutkan". Ujar Nino.
"Tadi malam aku pergi dengannya... Hanya makan malam biasa. Dia memenuhi janjinya karena aku sudah memberikan penilaian dengan bros tersenyum secara cuma-cuma untuknya dan aku memintanya untuk pergi makan malam denganku".
"Dan tadi pagi aku bertemu lagi dengannya hanya untuk mengambil jaketku yang kupinjamkan padanya tadi malam". Satya menjelaskan tanpa ada yang di tutupi.
"Pinjam.... Jaket....?" Cicit Nino dengan pikirannya yang sudah berlari kemana-mana.
Satya melempar sebuah buku ke arah Nino. "Pikiranmu itu!".
"Hey! Memangnya aku memikirkan apa?!". Kilah Nino pura-pura lugu.
"Mana aku tahus isi otakmu itu!".
"Lalu kenapa kau melemparku dengan buku? Aku hanya berpikir kalau caddy itu mungkin kedinginan hingga kau meminjamkannya jaketmu!" Elak Nino tak mau kalah.
"Berarti kau yang berpikir aneh-aneh! Kalau tidak, kenapa kau kesal padaku? Hahahahaha".
"Ah sudah sana keluar dari ruanganku! Kau benar-benar membuatku kesal!". Usir Satya pada Nino.
Nino beranjak dari duduknya sembari tertawa terbahak-bahak. "Kau memang mengenaskan boss!".
"Statusmu memang suami namun siapa sangka kau masih perjaka! Jikalau kau bercerai pun, kau akan menjadi duda perjaka! Hahahahahaha"
"Bangsaaatttt kau Nino!". Umpat Satya menatap kesal pada asistennya.
"Bukankah kau memang bang...sat..?" Gumam Nino berpikir sejenak.
"Aku potong gajimu bulan ini 90%!" Ancam Satya tak tanggung-tanggung.
"Tidak masalah. Selama bekerja denganmu, kau sudah membuatku cukup kaya. Kehilangan 1 bulan gaji tidak akan menggangguku heheheheeh"
Satya menekan kedua pelipisnya merasa pusing kepala menghadapi tingkah absurd sang asisten.
__ADS_1
"Cepatlah keluar! Atau akan kubuat kau benar-benar di bunuh oleh ayahku". Satya tersenyum miring menatap Nino dengan nada mengancam.
...🌴🌴🌴...