
Sandra menggeliatkan tubuhnya di atas kasur. Ia melihat jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Harusnya Ia pagi ini memiliki jadwal kerja pukul 5 pagi. Namun Sandra memutuskan untuk izin tidak masuk bekerja pada Mami Sari. Tubuhnya terasa sangat pegal dan Ia memang kurang tidur. Bahkan tidurnya pun tidak nyenyak sama sekali.
Sandra mengerjapkan matanya seraya terlentang di ataa kasur. Pandangannya menatap langit-langit kamar tidurnya dengan pikiran yang berisik. Ia memikirkan segala hal tadi malam khususnya tentang Satya. Mengingat pria itu saja rasanya pipi Ssndra merah merona. Ia mengingat percakapannya dengan pria itu tadi malam.
...●Flashback●...
"Jadilah istriku. Hingga masalahmu akan menjadi masalahku juga"
Sandra tentu saja terkejut setengah mati mendengar apa yang di ucapkan oleh Satya. "A-apa?" Sandra bertanya hampir berbisik. Mulutnya menganga dengan mata membelalak menatap pria tampan di hadapannya.
"Menikah denganku, Sandra". Ujar Satya penuh penekanan.
Sandra mengerjapkan mata berusaha menyadarkan dirinya bahwa saat ini memang nyata. "Anda bercanda kan, Tuan?". Tanya Sandra.
"Apa wajahku saat ini terlihat sedang bercanda?". Ujar Satya menatap Sandra dengan raut serius.
Sandra bergeming. Ia menyusuri raut wajah tampan seorang pria yang menatapnya tanpa berkedip. Sandra tidak menemukan kebohongan di netra mata tajam pria itu. Tatapan Satya sungguh.... Ah.. Entahlah bagaimana Sandra menjabarkannya. Namun Ia benar-benar terpikat pada tatapan yang Ia lihat sekarang.
"Bagaimana bisa tiba-tiba seperti ini, Tuan? Kita bahkan hanya beberapa kali bertemu".
"Jangan lupakan kita juga sudah menghabiskan waktu berdua berulang kali" Timpal Satya.
Sandra mengangguk tak menampik. "Memang... Beberapa kali di lapangan golf dan pergi makan berdua dalam momen yang tidak di sengaja. Tapi, apakah itu saja cukup menjadi landasan untuk mengajak seorang wanita menikah, Tuan?". Ujar Sandra bingung.
__ADS_1
Satya menyugar rambutnya ke belakang seraya menyandarkan tubuhnya ke mobil. "Aku tahu ini pasti membingungkan untukmu. Tapi aku sangat serius". Sahut Satya menoleh pada Sandra.
"Tuan tidak mungkin mencintai saya kan?". Sandra terkekeh pelan untuk mengusir rasa canggungnya.
"Hmm... Cinta...."
"Apa aku perlu hal itu untuk melamar seorang wanita?" Tanya Satya.
Sandra melongo. "Tentu saja! Untuk apa Tuan meminta saya jadi istri kalau Tuan tidak mencintai saya! Tuan aneh sekali!". Decak Sandra tak habis pikir.
"Bukankah hal itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring waktu? Aku hanya merasa ingin membuatmu selalu dekat denganku, aku ingin menjagamu, aku ingin menjadikan kehidupanmu lebih baik dari sekarang. Entah sejak kapan... Tapi akhir-akhir ini aku selalu memikirkanmu. Saat kau tidak mengangkat telfonku berulang kali, aku kuatir kau pingsan seperti tempo hari."
"Apa perasaanku yang seperti itu tidak cukup membuatmu yakin denganku?". Tanya Satya setelah jujur dengan apa yang Ia rasakan.
Sandra membeku. Ia tidak menduga sama sekali jika Satya merasakan hal seperti itu pada dirinya.
Satya mengerutkan kening. "Hidup dan mati? Kau pikir aku algojo?".
Sandra terkekeh pelan. "Tidak! Hehehehehee... Maksud saya, bukankah seorang wanita perlu memikirkan baik-baik terkait pasangan hidupnya? Anda sudah melihat bagaimana keadaan keluarga saya. Jujur saja walau saya menyayangi Bapak saya, tapi untuk memilih pasangan hidup, saya tidak ingin yang seperti Bapak saya hehehee. Anda paham kan, Tuan?".
Satya tersenyum miring memahami maksud Sandra. "Hey, bahkan jika aku tidak bekerja sekalipun, kau akan kujamin tetap hidup dengan nyaman."
Sandra mencibir mendengar keangkuhan Satya. "Bagaimana mungkin, Tuan. Anda jangan mengada-ngada! Setiap manusia itu perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya bahkan akan terus bekerja hingga saya kaya raya hahaha". Ya. Itulah cita-cita Sandra yang sudah Ia tanamkan dalam diri setelah Ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagai gantinya, Sandra akan bekerja dengan giat hingga menjadi kaya adalah tujuannya.
__ADS_1
Satya tertawa renyah mendengar ucapan Sandra. Ia merasa gemas karena melihat kepolosan dan keteguhan Sandra. Bukan salah gadis itu jika tidak mengetahui tentang latar belakang keluarga Satya. Untuk saat ini, Satya memilih untuk menyimpannya dengan rapat di hadapan gadis itu.
Satya melangkah mendekat pada Sandra. Menatap wajah cantik gadis itu di bawah keremangan lampu malam. "Aku tahu kau merasa ragu padaku. Apalagi aku memintamu menikah di tempat yang seperti ini hehehehe".
Satya menghela napas perlahan. "Tapi yang harus kau tahu, aku sangat serius saat ini padamu. Aku akan membuat kehidupanmu nyaman di sisiku. Aku akan memenuhi seluruh biaya keluargamu, aku akan memberikan mereka tempat tinggal yang layak, aku akan mengukir banyak kebahagiaan pada wajah kedua orang tuamu. Dan aku.... Akan memperlakukanmu sebagai pasanganku seutuhnya".Satya menatap Sandra dengan tatapan yang teduh hingga sesaat membuat Sandra terbuai.
Sandra menyisipkan rambutnya ke belakang telinga. "Ehm.. Eeghh.. Itu...." Sandra sangat gugup luar biasa. "Bolehkah saya meminta waktu untuk memikirkannya?".
Satya menyugar rambutnya ke belakang. "Kau tahu? Aku adalah pria yang tidak sabar."
"Aku hanya memberimu waktu 1x24 jam. Jika tidak ada kabar darimu melebihi tenggat waktu itu, semua tidak berlaku lagi. Ingat, 1 detik pun tak akan ku tolerir!". Ucap Satya seraya menatap tajam ke arah Sandra.
Sandra melongo mendengar ancaman dari Satya. "Anda ini melamar saya atau mau mengancam saya sih?". Gerutu Sandra.
Satya terkekeh. "Aku hanya ingin secepatnya menjadikan kau istriku agar pikiranku tidak berisik!'. Sahut Satya jujur. "Jadi aku hanya akan memberimu waktu 24 jam dari sekarang. Kalau kau telat mengabariku, semua penawaranku anggap saja batal dan kau membuatku patah hati".
Sandra melongo seraya menggerutu dalam hatinya. "Gila, spesies macam apa pria di hadapanku saat ini?!"
......●Flashback Off●......
Sandra menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia hanya punya waktu hingga malam ini untuk memikirkan semuanya. Sandra tak ingin gegabah namun Ia juga tergoda untuk penawaran yang Satya berikan. Menjadi seorang istri di usia 20 tahun?! Tidak terbayangkan sama sekali olehnya. Namun seorang pria seperti Satya yang melamarnya? Itu adalah hal yang tidak mungkin akan datang kedua kalinya dalam kehidupan Sandra! Maka dari itu Sandra perlu memikirkan dengan baik tentang hal ini.
Sandra lantas bergegas menuju keluar kamar. Ia mendapati area ruang makan kosong tidak terlihat siapapun. Sandra lantas masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh mukanya. Ia masih malas untuk mandi walau hari sudah semakin siang.
__ADS_1
Sandra lalu berjalan menuju teras rumahnya untuk mencari Retno dan Dimas. Mau tidak mau, Sandra perlu saran dari kedua orang tuanya untuk memutuskan perihal tentang Satya.
...🌴🌴🌴...