
Ting Tong
Ting Tong
Suara bel terdengar nyaring di apartemen. Sandra yang masih terlelap lalu menggeliatkan badan terbangun karena merasa terganggu dengan suara bel. Sandra mengerjapkan matanya lalu meraih ponselnya di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul 5.40 pagi. Sandra mengerutkan keningnya bingung siapa yang datang pagi-pagi sekali ke apartemen.
Sandra lalu turun dari tempat tidur. Ia lalu meraih jubah tidurnya yang berbentuk kimono dari bahan satin untuk menutupi tubuhnya yang hanya di balut dengan dress satin pendek berwarna pink.
"Siapa yang datang.. Apa Ibu dan Bapak? Atau Siska dan Sabil?" Gumam Sandra seraya melangkah keluar kamar. Sandra melirik ke arah jendela yang membentang luas di sepanjang dinding apartemen.
"Bahkan matahari pun belum muncul...." Sandra menggusar rambut panjangnya hingga berantakan.
Sandra lalu membuka pintu apartemen dan langkahnya sontak saja mundur saat melihat Satya datang dengan membawa dua buah koper besar berwarna silver. Satya mendorong koper tersebut untuk masuk ke dalam apartemen. Sandra diam terpaku menatap sang suami yang baru di lihatnya lagi setelah satu pekan Ia tidak melihatnya.
Bahkan setelah malam panas mereka tempo hari. Keduanya hanya saling menghubungi lewat telfon maupun video call. Sandra menatap Satya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menampik bahwa dirinya merindukan kehadiran sang suami. Apalagi belum genap dua pekan pernikahan mereka dan Sandra sudah harus menerima kenyataan bahwa waktu sang suami tidak bisa sepenuhnya Ia miliki. Sandra menyadari itu, karena itulah Ia diam saja ketika Satya menyampaikan kalau dirinya tidak bisa bermalam di apartemen.
Satya menepuk tangannya satu kali ke udara dan dalam sekejap ruang tengah apartemen menjadi terang benderang. Ia menatap lampu gantung kristal dengan tersenyum tipis lalu netra tajamnya berlaih menatap Sandra. Senyuman yang tadi menghiasi bibir Satya sontak saja lenyap tatkala Ia melihat Sandra dengan cepat menghapus setitik air mata di sisi pipinya.
Satya tertegun. Ia menyusuri penampilan Sandra yang terlihat baru bangun tidur. Matanya yang terlihat di genangi oleh air mata yang siap jatuh saat wanita itu berkedip.
Satya melangkah mendekat pada sang istri. Ia memegang erat kedua bahu Sandra. Satya sedikit menundukkan kepala untuk menatap tepat ke wajah sang istri. "Hey.. Sayang.. Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya Satya dengan lembut.
Sandra menggelengkan kepala seraya menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak apa-apa" Ujar Sandra menatap Satya dengan bibir tersenyum.
Satya menatap Sandra dengan seksama. Ia tahu jika Sandra berbohong. Bahkan senyuman yang terukir di mata Sandra tidak terlihat di matanya! Satya menghela napas lalu meraih Sandra ke dalam pelukannya. Satya memejamkan mata seraya menghirup aroma tubuh Sandra yang membuatnya candu. Satya menyusup ke dalam tengkuk Sandra.
"Maafkan aku baru bisa menemuimu sekarang..." Ujar Satya pelan.
Mendengar itu sontak saja Sandra mengeratkan pelukannya di tubuh gagah Satya. "Aku merindukanmu..." Ujar Sandra jujur.
__ADS_1
Satya menganggukkan kepala. "Aku lebih merindukanmu sayang... Sungguh.." Sahut Satya.
"Aku bahkan sampai berpikir kamu benar-benar menendangku setelah malam itu".
Satya mengulur pelukannya dan menyentil pelan kening Sandra. "Pikiranmu itu!" Omel Satya. "Aku mana mungkin seperti itu. Kau istriku, tentu tidak akan aku tinggalkan".
Satya menatap tepat ke dalam manik mata Sandra. Satya memang perlu lebih memahami Sandra. Wanita itu baru berusia 20 tahun, terkadang pikirannya masih sedikit labil. Perbedaan usia 6 tahun di antara mereka membuat Satya harus lebih dewasa untuk menghadapi mood Sandra.
"Siapa yang tahu? Kamu sudah mengambil mahkotaku. Bisa saja kamu langsung pergi meninggalkan aku". Ujar Sandra asal.
Satya lantas menarik pinggang Sandra hingga tubuh keduanya menempel satu sama lain. "Kau juga sudah mengambil keperjakaanku sayang. Kau harus tanggung jawab padaku". Ujar Satya tersenyum miring.
"Mana bisa seperti itu!" Sanggah Sandra.
"Bisa. Kita bisa saling bertanggung jawab, karena kita adalah yang pertama dan terakhir bagi satu sama lain. Aku akan membuatmu bertanggung jawab seumur hidupmu padaku dan begitu juga aku." Jelas Satya lugas.
...🌻🌻🌻...
Tiga jam kemudian
Sedan mewah milik Satya menyusuri jalanan berbatu yang di sisi kiri dan kanan jalan berdiri pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Sandra mengamati ke sekitar yang tidak terlihat sama sekali rumah penduduk satupun.
"Sayang, kamu mau bawa aku kemana sih sebenarnya?" Tanya Sandra. "Aku pikir tadi kita akan ke kota B saja, ternyata kamu masih terus jalan ke pelosok begini".
Satya mengusap punggung tangan Sandra yang sedari tadi di genggamnya seraya mengulas senyum. "Sebentar lagi kita sampai..." Ujar Satya.
Sandra memanyunkan bibirnya. "Aku mau buang air kecil. Tidak mungkin kan aku buang air kecil di hutan begini". Ujar Sandra.
"Hehehehehe.. Buang air kecil atau buang cairan kenikmatan sayang?". Satya berujar dengan mesum.
__ADS_1
Sandra lantas melepas genggaman tangan Satya lalu memukul pelan pundak pria itu. "Sayang! Kamu mesum banget!". Sahut Sandra menahan malu.
Satya justru semakin tertawa. "Hahahahaa.. Aku mesum hanya dengan istriku sendiri." Timpal Satya. "Jadi cairan mana yang mau kau buang? Kau pasti perlu bantuanku untuk mengeluarkannya. Apa kita perlu berhenti di sini sejenak untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan?". Tanya Satya bertubi-tubi.
Mendengar itu semua, Pikiran Sandra reflek berlari kemana-mana. Membayangkan tangan kekar sang suami bermain dengan tubuhnya, memainkan pucuk bola kenyalnya dengan lihai, mengusap lembah hangatnya apalagi di hujam oleh torpedo besar milik pria itu.
Oh astaga!!! Apa yang aku pikirkan saat ini!!!
Sandra menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. Sikap itu tak luput dari perhatian Satya. "Pppfffftttt..." Satya menahan tawa mencoba menerka apa yang sedang istrinya pikirkan.
"Ternyata aku memang punya istri yang mesum hahahahahaha". Tawa Satya akhirnya meledak tak tertahankan.
"Tenang sayang, apapun yang ada dalam pikiranmu saat ini, aku akan melakukannya padamu" Lanjut Satya lagi seraya tersenyum smirk.
Sandra lantas melotot terkejut merasa malau bukan main karena terciduk. "Memangnya aku berpikir apa! Jangan sok tahu!". Sanggah Sandra seraya membuang muka ke luar mobil.
"Astaga istriku menggemaskan sekali!" Ujar Satya menggenggam kembali tangan Sandra.
"Ingat ya! Aku tidak memikirkan apapun!". Ujar Sandra bersikeras.
Satya tertawa seraya menganggukkan kepala. "Iya. Iya. Kau tidak memikirkan apapun kecuali yang enak-enak".
Sandra melotot. "Aku tidak! Sudah aku bilang aku tidak memikirkan apapun!".
Satya terkekeh seraya menarik kepala Sandra agar bersandar di bahunya. "Kenapa harus malu denganku hm? Aku suamimu. Katakan saja yang kau inginkan termasuk kebutuhan seksual, kita akan saling memuaskan hehehehhee". Ujar Satya menggoda.
Mendengar hal itu Sandra hanya bisa mencebikkan bibir tanpa menyanggah apapun lagi.
...🌴🌴🌴...
__ADS_1