Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 19


__ADS_3

Sandra dan Satya akhirnya kembali menuju area lapangan golf setelah menghabiskan waktu selama 2 jam di area hutan kecil. Tidak ada yang Sandra lakukan di sana kecuali hanya duduk di buggy car dan menunggu Satya berkelana seorang diri.


Tak ada henti-hentinya Sandra mengumpat dalam hati ketika Ia harus menuruti pria itu hanya demi mendapatkan penilaian baik untuk hari terakhir percobaan masa pelatihannya.


"Sini aku pasangkan bros nya". Sahut Satya pada Sandra ketika mereka berdua sudah sampai.


Sandra tertegun.


"Mmm.. Apa boleh saya yang pakai sendiri, Tuan?". Tanya Sandra menatap Satya.


"Silakan kau pakai sendiri jika itu maumu". Ujar Satya tersenyum miring seraya menyerahkan sebuah bros di tangan Sandra.


Sandra pun menerimanya dan membalikkan bros tersebut lalu matanya terbelalak. "Tuan! Ini bros cemberut bukan tersenyum!". Pekik Sandra pelan.


"Jika kau pakai sendiri bros itu, maka yang aku beri padamu ya bros cemberut. Tapi jika kau biarkan aku yang memakaikan bros itu padamu, maka bros tersenyumlah yang kau dapatkan". Sahut Satya santai seraya mengangkat bros dengan icon tersenyum ke hadapan Sandra.


Sontak saja raut wajah Sandra memberengut sebal dan hal itu tak luput dari pengamatan Satya.


"Kupikir kau lebih cocok dengan bros cemberut karena sama dengan wajahmu saat ini".


"Kalau begitu aku pergi dulu". Satya membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Sandra yang mulai panik.


Dengan sigap Sandra lantas menarik tangan Satya dari arah belakang. "Apa?". Tanya Satya menatap Sandra dengan serius.


"Tuan kan sudah janji pada saya! Kenapa malah mengingkari janji?". Ucap Sandra pelan.


Satya memasang senyum smirk dan melangkah pelan mendekati Sandra. Ia membungkuk sedikit ke arah Sandra. "Aku tidak mengingkari janji jika kau membiarkan aku memasang bros itu di sini". Bisik Satya seraya menyentuh titik kosong di sebelah nametag Sandra.


"Kau membiarkan semua pemain golf yang pernah kau temani untuk memasangkan bros itu padamu. Kenapa giliranku kau malah meminta pasang sendiri?".


"Ini tidak adil. Kau pilih kasih denganku. Aku juga pemain golf yang sama seperti mereka." Ujar Satya menatap Sandra dengan bersedekap dada.


Sandra menundukkan kepala seraya mengaitkan kedua tangannya. "A-aku..."


"Cepatlah.. Waktuku tidak banyak". Ujar Satya seraya melihat ponselnya yang baru saja berdering.


"Baiklah. Tolong Tuan pasangkan brosnya". Ujar Sandra menatap Satya.


Satya tersenyum samar. Tanpa membuang waktu pria itu segera memasangkan bros icon tersenyum di polo shirt Sandra dengan hati-hati.


Deg.. Deg.. Deg..

__ADS_1


Jantung Sandra terasa berdebar tatkala wajah Satya mendekat dan tangan kekar dengan jari jemarinya sibuk menyisipkan bros di area dada Sandra.


Begini nih yang gw hindarin! Makanya gw gak mau dia yang pasangin. Oh jantungggggggg!!


Sandra menjerit dalam pikirannya berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak terkontrol.


"Jangan gugup seperti itu. Aku tidak akan bersikap kurang ajar padamu". Ujar Satya seraya menarik tubuhnya kembali dengan tegap.


"Terima kasih, Tuan".


"Tunggu aku hubungi untuk jadwal makan malam. Kau tidak lupa itu kan?". Tanya Satya yang segera di angguki oleh Sandra.


"Baiklah. Aku pergi dulu!".


"Eeehh Tuan! Anda belum tahu nomor ponsel saya!". Sandra mengingatkan saat Satya sudah membalikkan tubuhnya.


"Kau tidak lupa siapa aku kan?". Ucap Satya seraya tersenyum lebar kemudian melangkah pergi begitu saja.


Dan kini kedua kalinya Sandra hanya bisa keheranan dengan menatap punggung Satya yang sudah terlihat jauh.


...๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป...


Di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang, Nino sang asisten menatap Satya dengan banyak pertanyaan di benaknya. Sepulangnya dari lapangan golf, bosnya itu memasang wajah ceria dan senyum-senyum sendiri hingga kembali membuat Nino merinding.


Nino membuang muka dan mendengus. "Memang pria satu ini benar-benar setan". Geruru Nino.


Satya terkekeh. "Makanya kau harus tamatkan masa jomblomu itu agar aku percaya kau benar-benar doyan wanita". Ujar Satya santai.


"Kau pikir menemukan wanita yang tepat itu mudah? Itu seperti menemukan sebuah jarum dalam tumpukan jerami!". Sungut Nino kesal.


Satya terdiam. "Hmm.. Kau benar". Ucap Satya akhirnya.


"Ngomong-ngomong kau tadi kemana? Kau tiba-tiba menghilang dari lapangan golf. Aku dan caddyku berpikir kau langsung ke hole 9, tapi ternyata hingga hole 18 aku tidak melihatmu sama sekali".


"Aku di culik". Sahut Satya santai sambil menopang dagu ke dekat jendela mobil.


"Yang benar?! Siapa?! Kenapa kau tidak bilang padaku! Tapi kau tidak apa-apa kan?". Nino terkejut setengah mati seraya menarik tubuh Satya agar menghadap ke arahnya dan menyisir penampilan pria itu.


Namun sesaat kemudian Nino tersadar. "Siapa yang mampu menculikmu, huh? Menyentuh ujung kukumu saja aku yakin si penculik sudah retak pergelangan tangannya". Nino mencibir saat mengingat Satya sangat mahir bela diri.


"Tapi kenyataannya, aku memang di culik. Dan rasanya di dalam tubuhku sekarang ada yang tidak baik-baik saja". Ujar Satya menatap Nino dengan wajah serius.

__ADS_1


Nino mengamati raut wajah Satya yang tidak terlihat sedang bercanda sama sekali. "Astaga.. Jadi benar kau di culik? Aku harus laporkan hal ini! Apa yang tidak baik-baik saja? Apa yang mereka lakukan pada tubuhmu? Kita ke rumah sakit saja sekarang!". Nino mulai panik dan mulai menginjak pedal gas lebih dalam.


"Rasanya hatiku yang sedang tidak baik-baik saja". Ucap Satya seraya tersenyum tipis.


Ckkiiiittttt


Nino menginjak pedal rem begitu saja. Beruntungnya saat ini mereka masih berada di area perumahan yang sepi hingga jarang kendaraan yang berlalu lalang.


"Kau mau membunuhku? Menyetir yang benar!". Maki Satya pada Nino yang terkejut karena Nino memberhentikan laju mobil begitu saja.


Nino lantas mengemudikan mobil ke pinggir lalu menatap Satya dengan seksama. "Sebenarnya apa yang terjadi? Katakan padaku! Kau bilang kau di culik, tapi malah hatimu yang tidak baik-baik saja. Aku tidak mengerti". Ujar Nino.


Satya mengedikkan bahu. "Aku memang di culik. Tapi aku menikmati penculikan itu hahahhaha". Satya tertawa pelan saat mengingat kebersamaan singkatnya dengan Sandra yang tidak di sengaja sama sekali.


Nino terlihat berpikir. Tidak ada hal aneh atau hal yang mencurigakan sepanjang Ia bermain di lapangan golf. Lalu Nino teringat sesuatu dan menyipitkan matanya ke arah Satya.


"Jangan bilang yang kau maksud penculik itu adalah caddy yang tadi bersamamu?". Selidik Nino.


"Ah.. Aku bahagia memiliki asisten yang cerdas". Bukannya menjawab, Satya justru memuji Nino.


"Kau jangan gila, Satya". Ujar Nino memperingatkan.


Satya mengangkat kedua bahunya. "Ini semua terjadi begitu saja".


Nino mengusap wajahnya. "Jangan membawa seekor kelinci yang polos dalam kehidupanmu. Ini tidak benar".


"Aku tidak menganggapnya kelinci. Aku hanya mengikuti kata hatiku". Ujar Satya membela diri.


"Tapi kau tidak bisa.. Kau...."


"Nadya? Itu urusanku". Sahut Satya memotong ucapan Nino.


Nino menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Kau gila".


"Ya. Kurasa aku memang sudah gila. Dan aku akan menikmati kegilaanku". Ujar Satya seraya menatap sebuah pohon pinus yang menjulang tinggi.


...๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด...


Like ๐Ÿ˜Ž


Komentarnyaa yukkk๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Hadiah dan vote juga boleeeh๐Ÿ˜‹


__ADS_2