Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 74


__ADS_3

Sandra melihat pantulan dirinya di cermin seraya tersenyum. Ia mengelus perutnya yang masih rata. Sandra lalu segera menarik kopernya ke ruang tengah untuk pamit pada kedua orang tuanya serta kedua adiknya.


"Bu, Pak.. Sandra pulang ya sekarang. Makasih udah temanin Sandra selama satu pekan ini". Sahut Sandra seraya mencium kedua tangan orang tuanya. Tak lupa Ia pun mencium kedua pipi adik-adiknya.


"Harusnya kamu tetap di sini saja selama menunggu suamimu pulang. Ibu kok rasanya kuatir, Nak". Ujar Retno menatap lekat mata sang putri.


"Benar kata Ibumu. Kenapa tiba-tiba ingin pulang ke apartemen?". Timpal Dimas.


"Sandra sudah rindu berat berada di apartemen Pak, Bu. Tidak masalah kan besok suami Sandra sudah pulang".


"Kamu pakai apa dari sini?" Tanya Dimas. "Di antar oleh supir atau pakai taksi, Nak?"


"Sandra pakai taksi saja, Bu."


"Sudah pesan?".Timpal Retno.


"Sudah, Bu." Jawab Sandra. "Kalau begitu Sandra pamit dulu ya, Pak.. Bu.."


Tak lama kemudian Sandra pun menarik kopernya hingga keluar dari kamar hotel. Ia mengecek ponselnya dan melihat notifikasi masuk dari sebuah aplikasi yang memberitahukan bahwa taksi yang Ia pesan sudah berada di lobby hotel. Dengan cepat Sandra pun segera masuk ke dalam lift untuk turun menuju lobby.


...🌻🌻🌻...


Aldanar akhirnya memutuskan untuk mendatangi sang putri secara langsung. Ia ingin melihat bagaimana kondisi sang putri. Aldanar memindai sebuah kartu di daun pintu dan membukanya dengan perlahan.


Netra matanya beredar ke seluruh penjuru ruangan kamar hotel milik putrinya tersebut. Kakinya melangkah dengan hati-hati karena banyak berserakan barang pecah belah yang sudah tidak berbentuk dengan sempurna hingga serpihan-serpihan tajam sampai ke setiap sudut.


Aldanar lalu melihat Nadya yang masih terduduk diam di antara barang pecah belah tersebut. Sang putri duduk dengan memeluk erat lututnya. Diam tak terdengar suara apapun.


"Sayang.. Ini Ayah". Ujar Aldanar dengan lembut. Aldanar menghampiri Nadya dan berjongkok di sisi sang putri.


Nadya mendongakkan kepalanya menatap pada Aldanar dengan matanya yang sayu akibat menangis. "Aku harus bagaimana sekarang, Ayah?" Ujar Nadya dengan nada sendu. "Satya benar-benar tidak menganggapku sebagai istrinya".


Aldanar mengusap rambut pirang Nadya yang tergerai indah. "Apa kau sudah bertemu dengan wanita itu?". Tanya Aldanar merujuk pada Sandra.


"Tidak. Belum.. Sepertinya wanita itu tidak berada di apartemen, Ayah. Aku juga kesulitan mencari informasi tentang keluarganya".


"Apa kau sudah membutuhkan bantuanku? Ayah akan membantumu sekarang juga jika kau setuju". Aldanar menatap sang putri dengan raut wajah serius.


Nadya menggelengkan kepala. "Biarkan aku dulu yang menghadapi wanita itu... Hanya saja...." Nadya menjeda ucapannya terlihat berpikir sesuatu.


"Hanya saja apa?". Sahut Aldanar menunggu sang putri melanjutkan ucapannya.


Nadya menatap sang Ayah. "Hanya saja aku minta Ayah membantuku untuk mencari keberadaan keluarga wanita itu. Aku sama sekali tidak bisa melacaknya". Ujar Nadya.


Aldanar tersenyum hangat. "Itu hal mudah untukku". Ujarnya.


"Baiklah sekarang kau pindahlah dulu ke kamar lain. Kamar ini akan di rapihkan". Ujar Aldanar beralih menatap barang pecah yang berserakan hingga layar Smart TV yang sudah retak.

__ADS_1


"Banyak yang harus di ganti hehehe"


"Maafkan aku, Ayah" Ujar Nadya seraya tertunduk lesu. "Aku sangat emosi hingga kepalaku rasanya tidak bisa berpikir apapun".


"Tak masalah. Ini semua tidak ada artinya jika di bandingkan dengan putriku satu-satunya."


Nadya pun beranjak berdiri dari duduknya dan akhirnya Ia mengikuti Aldanar menuju ke kamar sebelah. Belum sempat Ia memasuki kamar lain, ponsel Nadya pun berbunyi. Nadya mengerutkan kening saat melihat layar ponselnya.


"Ada apa?" Ujar Nadya tanpa basa basi setelah telfon terhubung.


"Nona, Saya mau memberitahu kalau wanita yang anda cari sudah terlihat kembali ke apartemen"


Nadya terkesiap. Netra matanya membola reflek menatap Aldanar. "Benarkah? Apa kau yakin?".


"Saya yakin, Nona. Security yang berada di apartemen tersebut baru saja melapor pada saya".


"Baiklah. Aku akan ke apartemen itu nanti malam. Kau beritahu pada security yang di tugaskan di sana untuk memberiku akses lift agar aku bisa naik ke unit apartemen suamiku".


"Baik, Nona Nadya."


Nadya lantas mematikan sambungan telfonnya dan menatap sang ayah dengan tatapan yang bersemangat. "Wanita itu sudah kembali, Ayah! Aku akan menemuinya malam ini juga" Sahut Nadya.


Aldanar tersenyum menatap sang putri. "Baguslah. Kau harus memberitahu wanita itu tentang posisimu. Kau harus menyadarkan dirinya kalau kau adalah istri sah dari Satya". Sahut Aldanar.


Nadya menganggukkan kepala. Tampak kilatan amarah di netra matanya. "Itu pasti akan kulakukan, Ayah. Aku akan membuat wanita itu menyesal karena sudah berani mengusik pernikahanku".


...


Selama menikah dengan Satya, Sandra banyak menghabiskan waktu dengan sang suami hanya di apartemen. Tempat mereka memadu kasih yang di isi dengan canda tawa serta kebahagiaan.


Sandra lantas segera masuk ke dalam kamar. Ia membuka koper miliknya dan langsung saja menyusun baju-bajunya ke dalam lemari. Setelah selesai merapihkan baju, Sandra membuka sedikit gorden kamar dan melihat matahari sudah mulai berangsur turun menandakan bahwa malam akan segera tiba.


Sandra lalu melangkah keluar kamar menuju area pantry. Ia mengeluarkan beberapa kotak makanan yang sengaja di sediakan oleh Retno untuk dirinya makan malam. Sandra lantas menghangatkannya ke dalam microwave.


Sandra lalu membuka kulkas dan reflek mulutnya mencebik karena melihat bahwa tidak ada apapun di dalam kulkas kecuali tumpukan botol air mineral berukuran 600 ml. Sandra lalu membuka satu per satu kitchen set dan kembali mencebikkan mulutnya ketika yang Ia dapati hanya makanan instan.


"Sepertinya aku besok harus pergi berbelanja". Gumam Sandra.


Tak lama setelah makanan yang di bawakan Retno telah selesai dihangatkan, Sandra pun segera kembali masuk ke dalam kamar untuk mandi.


...🌻🌻🌻...


Malam Hari...


Nadya baru saja turun dari mobil mewahnya di lobby apartemen Satya. Nadya mengedarkan pandangannya ke sekitar menyusuri ke segala sudut. Ia melangkah dengan penuh percaya diri. Dagunya Ia angkat, tubuhnya tegak dan sesekali mengibaskan rambut dengan jari jemari lentiknya. Kesan angkuh sungguh kental terasa pada diri putri tunggal keluarga Carlton itu.


Dari kejauhan Nadya melihat seorang security menghampiri dirinya dengan berlari kecil.

__ADS_1


"Nona Nadya?" Tanya Security tersebut. Nadya pun mengangguk.


"Mari ikut saya Nona"


Nadya pun melirik ke sekitar lalu mengikuti sang security menuju lift. "Wanita yang sedang anda cari masih berada di dalam unitnya. Semenjak datang, belum terlihat keluar lagi, Nona." Sahut Security tersebut seraya memindai sebuah kartu di pintu lift. Kartu tersebut merupakan kartu akses khusus untuk para penghuni apartemen.


"Silakan". Sang security pun membungkukkan tubuhnya di palang pintu lift. Nadya lantas melemparkan sebuah amplop cokelat pada sang security. "Itu untukmu". Ujar Nadya sebelum pintu lift tertutup.


Tak lama kemudian pintu lift terbuka. Nadya melangkah keluar dari lift. Ia menatap sebuah papan silver yang menunjukkan deretan nomor unit apartemen di lantai tersebut.


Nadya mengambil sisi kiri. Nomor unit apartemen milik Satya adalah 6969. Nadya terus berjalan menyusuri koridor apartemen dan langkahnya terhenti di depan sebuah pintu unit apartemen yang letaknya di paling ujung.


Nadya tersenyum miring menatap ke arah pintu. Ia sedikit merapihkan tatanan rambutnya hingga akhirnya Nadya memencet bel yang berada di bawah papan nomor unit.


...


Sementara itu di sebuah pesawat komersil khusus kelas utama atau first class, penerbangan dari London ke Jakarta. Satya yang baru saja selesai makan siang segera meminta Nino untuk memberikannya permen jahe. Kini Satya selalu mengemut permen jahe untuk menghilangkan rasa pening yang mendera dirinya sejak mengetahui kehamilan Sandra.


Sudah berbeda merk obat yang di minum oleh Satya namun tak ada yang mempan hingga akhirnya Nino memberikan satu permen jahe pada Satya dan tak berapa lama sakit kepala yang di rasakan olehnya berangsur menghilang.


"Aku semakin yakin jika rasa pusingmu ini karena kehamilan istri keduamu" Ujar Nino. "Kau hampir tidak pernah sakit. Bahkan sepertinya penyakit sekecil apapun justru takut untuk singgah ke tubuhmu".


Satya terkekeh pelan. "Mana ada teori seperti itu. Kau tahu bagaimana aku menjaga kesehatanku". Sahut Satya. "Lagipula jika sakit kepala yang kurasakan terus menerus karena kehamilan Sandra, aku justru akan menikmatinya. Anggap saja aku ikut merasakan calon anakku yang sedang tumbuh di dalam rahim istriku hehhehe".


Nino menatap Satya dengan sangat serius. Ia menatap sang bos yang kini tengah tertawa dengan raut wajah yang diliputi kebahagiaan.


Satya menyadari jika Nino tengah memperhatikannya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?". Tanya Satya dengan mengerutkan kening.


Nino mengedikkan bahunya seraya bersandar pada bangku pesawat kelas utamanya. "Aku hanya terkesima saja.." Ujar Nino. "Aku baru melihat raut wajahmu yang lepas seperti ini. Kau tersenyum, tertawa tanpa ada beban. Tidak seperti sebelum kau bertemu dengan istri keduamu itu."


"Tapi... Saat bersama dengan Nadya pun kau pernah tersenyum dan tertawa seperti tadi."


Satya tersenyum miring. "Aku pernah jatuh cinta pada Nadya. Tentu saja aku pernah bahagia bersamanya". Ujar Satya.


"Apa kau tidak merasa sia-sia melepas Nadya begitu saja setelah banyak waktu yang telah kalian lalui berdua?".


Satya menghela napas. "Aku sudah lelah menggenggam seseorang yang sudah menancapkan belati dalam hatiku. Kini kurasa aku juga sudah menancapkan hal yang sama dalam hatinya".


"Kau tahu kan ini tidak mudah?"


Satya menganggukkan kepala. "Aku tahu watak Nadya. Orang tuanya pun tidak akan tinggal diam. Tapi aku sudah memilih, dan aku akan memegang teguh pilihanku".


"Semoga saja kedua orang tuamu bisa menerima istri keduamu itu walau aku hanya berpikir kemungkinannya sangat kecil.


"Aku tahu. Berbagai resiko sudah aku pikirkan".


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


__ADS_2