
Makan siang bersama yang di lakukan oleh Satya, Nino, Sandra dan juga Merin berlangsung lancar tanpa ada kendala sama sekali. Merin yang memiliki karakter ceria mampu membawa suasana yang tadinya canggung menjadi santai.
Kini mereka berempat tengah berjalan keluar dari restaurant secara beriringan. Satya dan Nino harus segera kembali ke kantor karena ada rapat sedangkan Sandra dan Merin memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing setelah perutnya terisi dengan makanan enak.
"Tuan Satya dan Tuan Nino, terima kasih atas traktiran kalian siang ini". Ucap Merin menatap Satya dan Nino silih berganti.
"Terima kasih, Tuan". Timpal Sandra.
"Sama-sama. Lain waktu kita bisa makan bersama lagi di Country Club". Jawab Satya.
"Kalau begitu aku pergi lebih dulu". Lanjut Satya seraya menatap Sandra sekilas dan membalikkan badannya menuju pintu keluar mall di ikuti oleh Nino.
"San! Lo sadar 1 hal gak?". Tanya Merin setelah kepergian Satya.
"Sadar apaan?"
"Itu tuh Tuan Satya selalu lihatin lo terus loh!". Ujar Merin antusias.
Sandra mengedikkan bahunya. "Perasaan lo aja kali!". Kilah Sandra.
"Gak! Ini gw 100% yakin kalau Tuan Satya naruh perhatian lebih buat lo!". Ujar Merin bersikeras. 'Gw kan lihatin dia terus! Wah.. Benar-benar calon nyonya besar kalau benar nih!". Merin menepuk pundak Sandra cukup kuat.
"Merin! Lo anteng sebentar bisa gak sih? Gila... Tenaga samson lo pake ke gw!". Gerutu Sandra seraya mengelus pundaknya. Merin tertawa terbahak-bahak menanggapi kekesalan Sandra.
Tring.. Tring.. Tring..
Ponsel milik Sandra terdengar berbunyi dari dalam tas. Sandra segera merogoh ke dalam tas dan membuka layar kunci ponsel miliknya. Ia berhenti sejenak dan mengerutkan keningnya kala melihat nomor yang tidak berada dalam daftar kontaknya mengirimkan sebuah pesan di aplikasi pesan singkat.
Sandra membukanya dan matanya melotot seketika saat membaca isi pesan tersebut.
From: 081111736xx
Besok adalah jadwal makan malam denganku untuk menggantikan bros tersenyum yang kuberi secara cuma-cuma padamu tempo hari. Datang ke alamat yang aku kirimkan padamu pukul 7 malam. Kalau kau telat 1 menit artinya kau berhutang 1x makan malam lagi di lain hari. Ini nomorku. Jangan kau sebar.
Pria tampan menyebalkan.
__ADS_1
Sandra melongo ketika Ia menyadari bahwa pria tampan menyebalkan yang mengiriminya pesan adalah Satya. Ia tak akan bertanya darimana pria itu memperoleh nomor telfonnya. Toh Ia adalah anak pemilik Golf Country Club. Tentu saja itu hal yang mudah jika hanya mencari informas tentangi nomor telfon Sandra!
"Dari siapa, San? Kok lo kaget gitu?". Tanya Merin.
Sandra segera mengunci kembali layar ponselnya. "Bukan siapa-siapa." Jawab Sandra. "Yaudah yuk kita pulang!". Sandra menggamit lengan Merin untuk segera keluar dari mall.
...🌻🌻🌻...
Sementara di sebuah mobil sedan mewah, Satya sedang tersenyum sendiri saat membaca kembali pesan yang tadi Ia kirimkan pada Sandra.
"Bro..." Panggil Nino.
"Hemm".
"Apa kau benar-benar mau membawa wanita itu masuk lebih jauh ke dalam hidupmu? Atau kau hanya ingin bermain-main?". Tanya Nino melirik sekilas pada Satya.
"Entahlah... Terlalu cepat menyimpulkan hal itu sekarang." Ujar Satya.
"Jika kau mau mendengar saranku, kau jangan bermain gila. Kasihan dia".
Satya menatap Nino yang sedang fokus mengemudi. "Kau tahu apa alasanku dan bagaimana situasiku sekarang".
"Sudah kubilang dia bukan kelinci di mataku."
"Jika bukan kelinci, lalu apa?". Tanya Nino.
"Wanita! Dia seorang wanita bukan kelinci! Kau kalau kubilang monyet mau tidak, huh?". Ujar Satya asal.
"Kalau aku monyet, lalu kau apa?"
"Aku tetap Satya Nagara, seorang manusia! Bisa-bisanya kau berandai-andai menjadi monyet! Hahahahaa". Gelak tawa Satya memenuhi mobil mewah yang sedang melaju kencang membelah jalanan.
"Apa kau mau pisang? Akan aku belikan 1 truk khusus untukmu! Hahahahaa" Satya masih melemparkan ledekan pada Nino hingga matanya berair karena ledakan tawanya.
"Kau memang setaaaaannn! Akan aku beritahu pada Nadya soal caddy itu!" Ancam Nino dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
Satya mengangkat bahu acuh. "Katakan saja. Aku tidak peduli".
Nino yang tadinya kesal merubah raut wajahnya menjadi terkejut. "Kau serius?". Tanya Nino tak percaya.
"Sudah kubilang kan, ini bukan karena caddy itu. Aku tidak memiliki rencana apapun atau niat apapun pada caddy itu. Hanya saja kau juga tahu kan kalau aku dan Nadya.........."
"Sudahlah! Kepalaku rasanya mau pecah jika memikirkan hal ini" Ujar Satya meminta Nino untuk tidak membahas hal terkait Nadya lebih lanjut.
...
Malam hari di sebuah rumah mewah bertingkat 3, Satya yang baru saja selesai berenang segera membilas tubuhnya di shower yang berada di sisi kolam lalu membalut tubuhnya dengan bathrobe berwarna putih. Rambutnya yang masih basah Ia gosok-gosok dengan tangannya.
"Nak..." Panggil Grace dari belakang.
Satya membalikkan tubuhnya dan mengulas senyum pada sang Ibu. "Mama belum tidur?". Tanya Satya melangkah mendekat pada Grace.
"Ini mau tidur tapi dengar suara shower menyala jadi mama kesini untuk periksa. Ternyata malah kamu. Kenapa berenang malam-malam begini?".
Satya menarik pelan lengan Grace seraya melangkah masuk ke dalam rumah. "Aku hanya sedang bosan saja". Ujar Satya.
"Kamu ini! Sudah ada Nadya kenapa masih bisa bosan? Dimana dia? Apa sudah tidur?". Tanya Grace menatap putra tunggalnya.
"Ya. Dia tidur seperti kerbau. Setelah seharian menghabiskan uangku untuk arisan dan belanja". Sahut Satya acuh. Ia membuka lemari es dan mengambil sebotol jus jeruk dan menuangkannya ke dalam gelas.
"Hehhehehe Tidak masalah sayang. Manjakan dia." Ujar Grace terkekeh.
Satya hanya mengangkat kedua alisnya tak menjawab apapun. Ia tak ingin membicarakan Nadya sedikit saja!
"Ya sudah cepat tidur. Mama sudah ngantuk!". Ucap Grace seraya mengecup pipi Satya dengan lembut. Satya membalas memeluk tubuh mungil Grace dengan hangat.
Satya lalu meneguk jus jeruk di gelasnya hingga habis tak tersisa. Ia menatap punggung sang ibu yang berjalan menjauh hingga menghilang masuk ke dalam lift. Satya menghela napasnya. Ia menaruh gelas bekas jus jeruknya ke dalam washtafel dan menepuk tangannya ke udara. Dengan sekejap lampu ruang pantry pun padam dengan serempak.
Satya lalu melangkahkan kakinya menuju lift dan menekan tombol nomor 3. Ia ingin segera tidur dan tidak sabar untuk menghadapi hari esok. Biasanya Ia tidak pernah semangat karena hari-harinya selalu terasa monoton. Namun entah kenapa, untuk besok Satya merasa suka cita menyambutnya. Satya menatap pantulan dirinya di dinding lift. Ia tersenyum miring.
"Hah! Aku sudah gila."
__ADS_1
...🌴🌴🌴...
Tanda kasih sayangnya yuppss😘