
Acara ramah tamah telah usai, Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Satu per satu tamu yang di undang dalam acara pernikahan Satya dan Sandra telah memasuki kamar yang telah di sediakan oleh Satya.
Sandra menengadahkan kepalanya menatap langit dan seketika itu pula bibirnya mengulas senyum takjub. Ia menatap bulan yang berbentuk bulat di pekatnya langit malam hari. Memancarkan sinarnya yang indah dan sempurna seakan. Sejak kecil Sandra sangat suka memandang bulan. Entah itu bulan sabit atau bulan purnama, Sandra selalu mengaguminya.
Sebuah tangan kekar tiba-tiba saja melingkar dari balik punggung Sandra. Satya menyandarkan wajahnya di ceruk leher Sandra. Hembusan napas pria itu sukses membuat tubuh Sandra meremang.
"Sedang apa kau sendirian di sini?" Tanya Satya.
"Aku sedang melihat bulan. Lihatlah... Indah kan?". Tunjuk Sandra ke langit.
"Jika aku sedang terpuruk, bulan selalu menghiburku. Dia seakan memberitahuku bahwa segelap apapun situasi yang sedang kualami, belum tentu tidak ada cahaya sama sekali." Ucap Sandra tersenyum.
"Lalu aku juga sadar kalau setiap orang adalah bulan, yang memiliki sisi gelap yang tidak pernah di tunjukkan kepada siapa pun".
Satya memutar tubuh Sandra hingga menghadap ke arahnya. Pria itu memeluk pinggang ramping Sandra. Wajahnya sedikit menunduk untuk menatap wajah sang istri. "Kenapa kau bicara seperti itu? Aku tidak akan pernah membuatmu terpuruk". Ujar Satya.
"Apakah kamu juga seperti bulan?".
"Maksudmu?" Tanya Satya mengerutkan kening tak mengerti.
"Maksud aku..... Apa kamu seperti bulan yang akan selalu menghibur dan memberiku semangat namun di sisi lain kamu juga memilki sisi kehidupan yang tidak akan pernah kamu tunjukkan padaku?". Ujar Sandra menatap Satya.
Satya tersentak sejenak dengan pertanyaan Sandra namun dengan cepat Ia bisa menguasai dirinya kembali. "Aku tidak akan seperti bulan. Aku akan tetap menjadi Satya Nagara yang sudah berjanji akan melindungimu dan berada di sisimu." Ujar Satya memilih untuk menjawab dengan logika. Ia sama sekali tidak pintar dalam mengungkapkan perasaan dengan kalimat kiasan yang terbalut dengan indah.
Sandra tersenyum manis. "Kamu selalu bicara seperti itu padaku sampai aku merasa kamu hanya menggombal". Sandra terkekeh pelan.
Satya menarik tubuh Sandra ke dalam dekapannya. "Aku bicara begitu karena aku akan melakukannya. Aku tidak pernah berjanji dengan apa yang tidak mampu kulakukan". Satya mengusap punggung Sandra yang terbuka.
Satya melonggarkan pelukannya dan menatap Sandra dengan penuh damba. Perlahan wajah tampan itu mendekat hingga hembusan nafasnya pun terasa panas di pipi Sandra. Reflek Sandra menggigit bibir bawahnya karena gugup. Melihat apa yang Sandra lakukan membuat Satya tersenyum miring.
__ADS_1
"Rilekskan dirimu..." Bisik Satya di telinga Sandra hingga membuat Sandra bergidik.
"A-aku..."
Dengan cepat Satya mengecup bibir Sandra hingga menghentikan apapun yang akan di ucapkan oleh sang istri. Perlahan namun pasti Satya terus mengecup bibir Sandra, memancing gairah wanita itu perlahan hingga sempurna. Namun ini pertama kalinya Sandra berciuman dengan seorang pria. Ia masih sangat kaku dan nalurinya hanya menuntunnya untuk sekedar membuka sedikit bibirnya saja.
Satya menarik wajahnya menjauh menyudahi dua bibir yang saling bertaut. Ibu jari Satya mengusap pelan saliva di sudut bibir Sandra seraya menatap wajah Sandra yang terlihat kikuk.
"Kita lanjutkan di kamar saja...." Ujar Satya berbisik mesra di telinga Sandra.
Bluussshhhh
Pipi Sandra terasa panas mendengar ucapan Satya hingga otaknya mulai berpikir yang tidak-tidak. Namun Sandra teringat sesuatu hingga Ia merasa takut untuk memberitahu suaminya.
"Mmmm.... Itu...."
"Itu apa hmm?" Tanya Satya.
Satya melongo mendengarnya. "Benarkah?". Tanya Satya.
Sandra menganggukkan kepala. "Iya.. Baru saja tadi pagi aku datang bulan.. Jadi mungkin kamu harus menungguku selesai hingga enam hari kedepan". Cicit Sandra merasa tak enak hati.
Satya semakin melongo hingga siapapun yang melihat wajah tampannya saat ini akan tertawa terbahak-bahak. "Enam hari????"
Satya mengusap wajahnya frustasi. Baru saja aku mau melepaskan keperjakaanku malam ini... Satya bergumam dalam hati.
Ia lantas mengulas senyum hangat pada Sandra. "Ya sudah tidak apa-apa. Selama 26 tahun usiaku, aku bisa bersabar. Menambah enam hari lagi sama sekali bukan masalah untukku". Satya terkekeh pelan hingga akhirnya Ia menggenggam jari jemari Sandra dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam kamar karena malam sudah semakin larut dan Satya tidak ingin Sandra masuk angin.
...🌻🌻🌻...
__ADS_1
Di lain tempat.......
Nadya sedang uring-uringan di lantai 3 rumah Satya. Dari tadi Ia berusaha untuk menghubungi Satya namun nomor pria itu justru tidak aktif. Nadya mencoba lagi hingga entah sudah tak terhitung banyaknya, namun selalu berakhir pada voice mail.
Nadya mencoba menghubungi nomor Nino, namun tidak di angkat juga sejak tadi. "Aaaarrrgghhhh sialan satya!". Nadya berteriak seraya melempar ponsel boba keluaran terbarunya ke atas sofa. Dadanya naik turun dengan nafas bergemuruh. Pikirannya melayang pada ucapannya kemarin malam.
"Tidak... Tidak... Dia tidak akan mungkin berani melakukan seperti itu.." Nadya menggelengkan kepalanya seraya menggigit kuku.
"Tapi bagaimana jika dia benar-benar melakukannya?" Ujar Nadya dengan tatapan kalut ke sembarang arah.
"Sialan! Kemana dia hingga tidak akan pulang sampai 3 hari!"
Nadya mengumpat mengingat sarapan bersama tadi pagi. Satya pamit pada Dimas dan Grace jika pria itu harus mengurus beberapa hal di luar kota selama 3 hari. Pria itu bahkan tidak menghiraukan permintaan Nadya yang ingin mengajaknya berkunjung ke rumah kedua orang tuanya. Ia justru harus menelan pil pahit karena melihat Satya sibuk mengepak kopernya.
Sejak ucapannya kemarin malam, Ia merasa seperti cacing kepanasan. Ia takut jika Satya benar-benar melakukan apa yang telah di izinkan oleh dirinya sendiri, yaitu merelakan Satya untuk tidur bersama wanita lain agar mereka berdua impas dan tidak ada dendam kesumat di antara keduanya.
Namun membayangkan lengan kekar Satya menyentuh tubuh wanita lain, membayangkan tubuh tegap pria tampan itu mengungkung tubuh wanita lain, sukses membuat Nadya menggila. Ia tak rela! Benar-benar tidak rela!
"Sialaaaaaaaannnnnn!!!!!!".
Nadya berteriak sekuat tenaga mengeluarkan segala amarah yang melingkupi dirinya. Ia lantas mengambil kembali ponselnya yang Ia lempar ke atas sofa. Ia mendial lagi nomor Satya, namun tetap nihil. Nomor pria itu tetap belum aktif. Ia mendial lagi nomor Nino, hingga akhirnya sambungan telfonnya terhubung.
"Kemana saja kau brengsek! Aku menghubungimu sejak tadi baru kau angkat sekarang!". Nadya mengumpat pada Nino begitu saja.
"Bersikap sopanlah pada Nino walau dia asistenku. Kenapa kau meneror dia tengah malam seperti ini huh? Ponselku habis baterai. Jangan menggangguku"
Klik! Sambungan telfon pun di putuskan sepihak.
Nadya menganga terkejut sekaligus kesal. "SIALAN SATYA!".
__ADS_1
...🌴🌴🌴...