
Ting... Tong...
Ting... Tong...
Terdengar suara bel apartemen berbunyi. Sandra yang sedang bersantai menonton serial drama korea seraya memakan camilan buah sontak saja mengernyitkan dahi. Sandra melirik sebuah jam dinding di atas TV dan waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Ting... Tong...
Suara bel terus menerus berbunyi hingga akhirnya Sandra beranjak dari sofa dan melangkah menuju pintu. Sandra lantas membuka pintu unit apartemen dan wajahnya terkejut bukan main saat melihat seorang wanita cantik berada di baliknya sedang menatapnya dengan angkuh.
Sandra mundur beberapa langkah saat Nadya masuk begitu saja dan menutup pintu apartemen dengan keras. Nadya lantas mengamati apartemen mewah milik Satya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut. Kaki jenjangnya melangkah masuk ke dalam satu per satu ruangan di dalam apartemen tersebut.
Hingga akhirnya Nadya kembali ke ruang tengah menghampiri Sandra yang berdiri tertegun. Nampak raut terkejut masih menghiasi wajah Sandra. Ia hanya bergeming saat menatap mata Nadya yang melihatnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa kau senang hidup di tempat mewah seperti ini? Apa suamiku memberikanmu fasilitas yang mewah selain apartemen ini?".Tanya Nadya menatap Sandra dengan tajam.
Sandra diam membisu. Pikirannya terasa melayang entah kenapa. Lidahnya terasa kaku tak tahu menjawab seperti apa.
PLAAAKK!
"Jawab aku sialan!". Maki Nadya seraya menampar pipi Nadya dengan sekuat tenaga hingga meninggalkan jejak telapak tangannya di pipi Sandra.
Sandra sontak saja mengusap pipinya yang terasa panas. Ia melihat Nadya dengan tatapan yang asing. "Kalau kamu membenciku, aku bisa mengerti itu. Tapi tolong jangan dengan kekerasan seperti ini." Ujar Sandra.
"Cih! Lalu kau berharap aku lembut padamu? Begitukah?". Nadya mendecih. "Pelacur sepertimu yang merebut suami orang lain tidak pantas kuperlakukan dengan lembut!"
"Saya sama sekali tidak tahu jika Satya sudah memiliki istri sebelumnya". Sanggah Sandra. "Jika saya tahu dari awal, saya tidak akan mungkin mau menerima lamaran suamimu. Saya sama sekali tidak tahu, Bu".
Nadya tertawa seraya bertepuk tangan. "Hebat! Jadi kau merasa korban juga di sini hah?!". Maki Nadya menatap Sandra dengan kilatan marah yang tercetak jelas di netra matanya. "Yang seharusnya jadi korban di sini adalah aku! Bukan kau sialan!".
"Kau hanya upik abu yang menggoda suamiku untuk menaikkan derajat hidupmu! Kau merebut suamiku! Kau menjual selangkanganmu demi kemewahan!" Nadya terus menekan Sandra dengan ucapan kasarnya.
"Tolong jaga bicara kamu. Saya tidak seperti yang anda pikirkan". Ujar Sandra mulai tersulut emosi. "Saya sudah bilang berulang kali kalau saya sama sekali tidak tahu mengenai status Satya sejak awal."
"Saya rasa yang saya lakukan adalah hal yang wajar. Ada seorang pria tampan dan baik masuk ke dalam kehidupan saya, lalu dia melamar saya untuk menjadi istrinya, saya rasa siapapun akan menerimanya. Kecuali jika dari awal saya tahu bahwa pria itu sudah memiliki istri, tentu saja saya tidak akan menerima lamarannya" Sandra menjelaskan dengan tenang seraya menatap Nadya.
"Sekarang kau sudah tahu kan jika suamiku sudah memiliki istri? Kalau begitu, pergilah dari kehidupan kami! Pergi sejauh mungkin hingga suamiku tidak dapat menemukanmu! Hanya itu yang bisa kau lakukan untuk menebus kesalahanmu!" Ujar Nadya.
__ADS_1
Sandra terpanjat. Hatinya merasa gelisah. "Tidak mungkin saya meninggalkannya saat ini".
"Kenapa huh? Apa kau sudah mencintai suamiku?" Tanya Nadya menundukkan sedikit wajahnya agar sejajar dengan Sandra. "Apa kau yakin suamiku mencintaimu? Sepolos itukah dirimu?"
Nadya menarik tubuhnya kembali tegak dengan kedua tangannya Ia lipat di dada. "Aku dan Satya sudah menjalin hubungan sangat lama sejak kami remaja. Dia sangat mencintaiku. Dia hanya tertawa padaku. Tangannya yang kekar hanya membelai tubuhku. Bibirnya hanya mencium bibirku. Bertahun-tahun kami saling mencintai. Apa kau yakin bisa menandingiku?"
Nadya menatap remeh pada Sandra. "Bisa saja suamiku memperlakukanmu seperti memperlakukanku. Bisa saja suamiku mengajakmu ke tempat-tempat yang biasa di kunjunginya saat bersamaku dahulu. Apa kau tidak memikirkan hal itu?".
"Suamiku sangat menyukai alam. Suamiku selalu mengajakku berlibur ke alam. Apa kau pernah diajaknya pergi ke suatu tempat di alam bebas? Atau jangan-jangan kalian mengadakan pesta pernikahan di suatu resort atau vila?" Nadya terus saja bersuara hingga tak sadar raut wajah Sandra telah berubah pias.
Nadya hanya asal bicara sesuai dengan pengalamannya selama menjalin hubungan dengan Satya. Tak di pungkiri tentu saja Nadya memahami banyak sekali sisi dari Satya. Ia justru sama sekali tidak tahu dimana pernikahan kedua suaminya di adakan atau pergi kemana saja suaminya itu dengan istri keduanya.
Nadya lalu sadar dengan raut wajah Sandra yang terlihat syok dan pucat. Nadya sontak saja tertawa keras. "Hahahahahahahahaha apa tebakanku benar?!"
"Kau akhirnya mengerti bukan? Tanpa sadar suamiku masih melakukan kebiasaan yang selalu dia lakukan denganku! Kau harus sadar kalau sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa mengganti posisiku!". Ujar Nadya dengan pongah.
Sandra terdiam membeku. Menatap Nadya dengan matanya yang berkaca-kaca. Sandra reflek mengusap perutnya yang masih rata. Bagaimanapun ada anak Satya yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
"Sampai kapanpun aku mungkin akan terlihat salah di matamu. Walau aku menjelaskan hingga mulutku berbusa pun, kamu tidak akan percaya padaku". Ujar Sandra pelan.
Mendengar hal itu, Nadya sontak saja berang. Mukanya merah padam menahan amarah. Nadya kalah telak dalam hal itu dengan Sandra. Bahkan Ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena suaminya bahkan tidak sudi untuk menyentuhnya.
"Persetan dengan kehamilanmu! Aku tidak peduli bahkan jika anak itu mati sekalipun! Yang aku inginkan kau pergi sejauh mungkin dari kehidupanku dan suamiku!!!" Teriak Nadya tak terkontrol.
Sssrrrttttt....
Nadya tiba-tiba menarik rambut panjang Sandra hingga kepalanya mendongak ke atas. "Bahkan jika kau pergi pun, aku akan membuat hidupmu menderita. Aku sangat pendendam. Apa yang kau lakukan padaku, akan ku kembalikan berkali lipatnya padamu". Desis Nadya menatap Sandra dengan kilatan amarah di netra matanya.
Sandra menggenggam tangan Nadya yang menarik rambutnya begitu kuat. Ia memejamkan mata berusaha menahan sakit. "Lepaskan aku. Kamu akan menyesal memperlakukanku seperti ini". Ujar Sandra menatap Nadya dari ekor matanya.
Grep!
Nadya semakin menarik rambut Sandra hingga kepala Sandra benar-benar mendongak ke belakang. "Cih! Pelacur sepertimu berani mengancamku huh? Apa yang bisa kau lakukan hah? Kau sangat menjijikkan!" Nadya mendorong Sandra sekuat tenaga hingga tubuh Sandra terbentur meja kaca dengan sangat keras.
PRAAANNGGG!
Meja kaca itu pun pecah berantakan menjadi serpihan-serpihan kecil. Sandra yang terjerembab jatuh di antara pecahan kaca itu merintih kesakitan saat kedua telapak tangannya menyentuh pecahan kaca yang mengelilinginya.
__ADS_1
Perut Sandra tiba-tiba saja terasa sakit melilit tak tertahankan. Dengan tangannya yang sudah berdarah Sandra memegang perutnya. "To-tolong... Perutku sakit sekali". Ujar Sandra dengan wajah yang pucat.
Nadya hanya bergeming menatap Sandra. Wanita itu justru tersenyum puas melihat keadaan Sandra yang merintih kesakitan. "Apa aku tidak salah dengar? Kau minta tolong padaku?" Ujar Nadya menatap Sandra dengan tersenyum miring meremehkan.
"Sampai kiamatpun aku tidak sudi menolongmu sialan!" Umpat Nadya.
"Baiklah kurasa hari ini aku sudah selesai. Semoga kau baik-baik saja!". Nadya pun melangkah keluar dari apartemen tanpa mempedulikan keadaan Sandra sama sekali.
Sepeninggal Nadya, Sandra yang merasakan kesakitan yang teramat sangat di perutnya akhirnya berusaha bangkit berdiri. Walau Ia berjalan dengan hati-hati namun tetap saja telapak kakinya harus melewati pecahan kaca yang berada di sekelilingnya. Sandra tidak merasakan sakit pada tangan maupun kakinya yang berdarah. Rasa sakit yang dirasakannya tertutup dengan rasa cemasnya akan keadaan janin di dalam perutnya. Perut Sandra terasa di peras dan di cengkram dengan kuat.
Sandra tak bisa berpikir banyak. Ia akhirnya berjalan keluar menuju lift. Hanya satu tempat yang menjadi tujuannya saat ini yakni rumah sakit. Dengan tertatih Sandra berjalan pelan seraya memegang perutnya. Kakinya yang tidak di lindungi oleh sandal pun tak di pedulikan olehnya sama sekali.
Sandra lalu menekan tombol lift. Dahinya berkeringat karena menahan sakit yang tak terkira.
Ting!
Pintu lift pun terbuka. Sandra segera melangkah masuk. Seseorang yang tadinya hendak melangkah keluar dari lift mengurungkan niatnya saat melihat Sandra masuk. Orang itu menyusuri penampilan Sandra yang tidak karuan. Kaki yang tidak memakai sandal, celana training berwarna merah muda dengan banyak sekali noda darah hingga wajah pucat disertai bulir keringat sebesar jagung di dahi.
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya orang itu.
Sandra menengok dengan wajah menahan sakit. Raut wajah Sandra terkekut kala melihat seseorang yang dikenalnya.
"Kau mengingatku?" Tanya orang itu. "Aku pernah bermain golf di tempatmu bekerja. Kau Caddy yang bernama Sandra kan?". Orang itu bertanya seraya menatap Sandra.
Belum sempat menjawab apapun, Sandra mengaduh kesakitan saat rasa cengkraman di perutnya semakin hebat. Ia merasakan ada sesuatu yang mengalir di pahanya. Sandra menempelkan tangannya ke celana trainingnya dan melihat ada noda darah yang merembes ke celananya.
Sandra membelalakkan matanya. Jantungnya berdebar. Kepalanya terasa melayang.
"Hey.. Hey.. Apa kau tidak apa-apa?" Orang itu melihat noda darah yang terlihat basah di antara kedua paha Sandra. "Astaga! Kau berdarah banyak!" Pekik orang itu.
Sandra yang sudah tak kuat menahan sakit akhirnya jatuh merosot ke bawah namun dengan sigap orang itu menahan tubuh Sandra.
"Tolong aku..." Ujar Sandra hampir berbisik sebelum kesadarannya hilang.
Orang itu pun segera meraih Sandra ke dalam dekapannya dan segera berlari keluar saat pintu lift terbuka.
...🌴🌴🌴...
__ADS_1