Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 36


__ADS_3

"Aku yang akan membayar lunas hutang mereka saat ini juga dan menjauhlah dariku! Badanmu bau busuk sekali!".


Sang pimpinan mendengus namun pria itu melangkah mundur beberapa langkah. Ia memperhatikan penampilan Satya yang memang memancarkan aura orang kaya. "Jangan bicara saja! Buktikan kalau kau memang bisa membayar lunas hutang mereka!". Sahut sang pemimpin.


"Kau tunggu di sini. Aku kembali ke mobil untuk mengambil cek". Bisik Satya pelan pada Sandra. Sandra tertegun namun tangannya menahan lengan kekar Satya yang hendak pergi.


"Tuan, Anda tidak perlu membayar hutang keluarga saya. Ini bukan urusan anda sama sekali. Bagaimana bisa saya membiarkan anda yang menanggungnya?". Ucap Sandra menatap ke dalam netra mata tajam Satya.


Satya mengulas senyum tipis dan memegang lengan Sandra sekilas. "Tidak masalah. Aku tidak ingin kau kesulitan apalagi sampai berkencan dengan pria bau busuk seperti dia". Ujar Satya seraya melirik sang pimpinan yang tengah mengamati mereka berdua.


Sandra lantas melepaskan tangannya dari lengan Satya dan membiarkan pria itu pergi ke mobilnya untuk mengambil sebuah cek.


Sandra memperhatikan penampilan lusuh kedua orang tuanya. Entah sejak jam berapa keduanya di bawa ke gudang. Sandra menghela napas dengan berat. Ingin rasanya Ia berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan segala kerumitan hidup dan kesengsaraan keluarganya. Ingin rasanya Ia berlari dan tak ingin peduli, namun bagaimanapun seburuk apapun orang tua, mereka tetaplah orang tuanya. Yang melahirkan dan juga merawatnya saat Ia kecil dan tak bisa memiliki kemampuan apa-apa untuk bertahan hidup di dunia ini. Setidaknya itulah yang selalu Sandra tanamkan dengan teguh dalam hatinya.


Tak berapa lama, Satya sudah kembali dengan membawa selembar cek. Ia lantas segera menyerahkan cek tersebut pada sang pemimpin. "Tujuh puluh lima juta rupiah. Kau bisa cairkan cek ini di bank. Jika aku mendengar kau mengganggu keluarga gadis ini lagi, kau yang akan aku cari hingga ke lubang semut sekalipun". Ancam Satya dengan tatapan membunuh pada sang pemimpin.


Sang pemimpin melihat cek yang diterimanya dari Satya. Pria itu lalu mencium cek tersebut dan tertawa renyah. "Kalau begini urusan kita selesai! Kalian berdua bisa pergi dari sini. Saranku...berbisnislah dengan benar!" Ujar Sang pemimpin pada Retno dan Dimas.


Sandra lalu melangkah menghampiri kedua orang tuanya. ia memapah Retno yang terlihat lelah dan syok dengan apa yang di alaminya hari ini. Dimas ikut memegangi lengan Retno di sisi lainnya. Tak lama kemudian Retno, Dimas, Satya dan Sandra pun segera keluar dari gudang.


"Naiklah. Akan ku antar pulang". Ucap Satya menatap Sandra dan kedua orang tuanya.


"Saya dan kedua orang tua saya naik angkutan umum saja, Tuan." Tolak Sandra merasa tak enak hati.


Satya membuka pintu belakang mobilnya dan meminta Dimas dan Retno untuk segera masuk lebih dulu ke dalam mobil. Sandra yang melihat kedua orang tuanya hendak masuk ke dalam mobil berniat untuk melarang namun Satya melemparkan tatapan tajam pada Sandra hingga gadis itu menciut.


"Apa kau tega membawa kedua orang tuamu dengan angkutan umum, huh? Ini sudah sangat larut! Angkutan umum sudah jarang yang lewat!". Ujar Satya menatap Sandra dengan raut wajah serius setelah Retno dan Dimas berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Saya benar-benar tidak enak pada Tuan. Rumah Anda dan rumah saya kan berlawanan". Ucap Sandra mengingat perkataan Satya tempo hari mengenai jarak rumah mereka berdua.


"Sudahlah! Cepat masuk atau kau yang kutinggal di sini!". Ancam Satya seraya membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Mau tak mau Sandra pun masuk dan duduk di bangku sebelah kemudi.


Sepanjang perjalanan cukup lama hanya keheningan yang tercipta di antara mereka berempat. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Sandra sebenarnya sangat lelah namun Ia menahan diri agar tidak tertidur. Sandra melirik jam di dashboard mobil dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia menatap Satya yang sedang fokus mengemudi.


Pria itu pun masih memakai pakaian kerjanya. Kemeja yang sudah di gulung hingga siku dan 1 kancing yang sengaja di bukanya. Rambutnya yang sudah tidak tertata dengan rapi hingga beberapa juntai poninya jatuh ke dahi. Entah mengapa Sandra lebih senang dengan tampilan Satya yang terlihat berantakan seperti sekarang.


"Sandra..." Suara Dimas menginterupsi pandangan Sandra pada Satya hingga Ia beralih menoleh ke belakang.


"Loh Bapak gak tidur?".


"Dari tadi Bapak gak tidur kok, San. Maafkan Bapak ya hari ini sudah membuat kamu repot". Ujar Dimas. "Dan untuk anda... Maaf siapa namanya?". Dimas beralih pada Satya.


Satya melirik sekilas ke arah Dimas seraya mengulas senyum. "Panggil saja saya Satya, Pak".


"Sama-sama, Pak. Tentang uang yang tadi tidak perlu anda pikirkan.". Ujar Satya dengan lugas.


Dimas tersenyum tak enak hati pada Satya. "Ngomong-ngomong anda mengenal putri saya darimana? Sandra sangat jarang memiliki teman pria". Sahut Dimas.


Satya melirik Sandra yang sejak tadi hanya diam mendengarkan obrolan sang bapak dengan Satya. "Kebetulan saya mengenal putri anda di lapangan golf. Putri anda pernah menjadi caddy saya saat saya bermain golf".Ujar Satya menjelaskan pada Dimas.


Tak ayal raut wajah Dimas terkejut namun di iringi dengan angin segar. "Wah saya benar-benar tidak menyangka putri saya bisa sedekat ini dengan anda".


Satya terkekeh pelan hingga tak lama kemudian mereka berempat sudah tiba di kediaman Sandra. Dimas lalu membangunkan Retno dan menggiring istrinya tersebut untuk segera masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya Ia berterima kasih pada Satya.


Sandra menatap punggung kedua orang tuanya yang pergi menjauh. Ia sengaja tidak ikut masuk karena ingin berterima kasih secara personal pada Satya.

__ADS_1


"Tuan".


"Ada apa?". Tanya Satya saat keduanya berdiri berhadapan di sisi mobil Satya.


"Mungkin ini klise dan mungkin Tuan bosan mendengarnya. Tapi saya benar-benar berterima kasih pada anda".


"Sudahlah tidak perlu di besar-besarkan hal yang tadi. Yang penting semua sudah selesai dan keluargamu bisa tenang". Ujar Satya.


Sandra terdiam. Ia.tak yakin masalah seperti ini tidak akan terulang kembali jika kedua orang tuanya tidak melakukan perubahan.


"Kenapa kau diam?"


Sandra menggelengkan kepala. "Tidak.. Tidak.apa-apa".


Satya mengamati raut wajah Sandra yang bercampur aduk. Antara lelah, kalut dan terlihata ada yang gadis itu pikirkan. "Kalau kau ada masalah, kau bisa katakan padaku. Jika.kau tahan di dalam pikiranmu, itu hanya akan menjadi uban". Ujar Satya asal.


Sandra terkekeh pelan. "Mana bisa begitu! Orang seperti saya memang banyak pikiran tapi buktinya rambut saya tidak ada uban."


"Itu kan perumpamaanku saja". Jawab Satya.


"Lagipula.... Anda bukan siapa-siapa saya. Mana mungkin saya merepotkan orang sepenting anda dengan masalah hidup saya yang rumit hehehee". Lanjut Sandra tertawa pelan.


Satya terdiam. Netra matanya menatap tepat ke dalam netra mata Sandra beberapa saat hingga membuat Sandra salah tingkah.


"Kalau begitu...... Jadilah istriku. Hingga masalahmu akan menjadi masalahku juga". Ucap Satya dengan sangat serius.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


Tanda kasih sayangnya donggss 😘


__ADS_2