
Keesokan harinya...
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Matahari sudah mulai menyinari bumi dengan sinar hangatnya. Sandra yang masih tertidur perlahan mengerjapkan mata. Ia mengucek kedua matanya dan meregangkan kedua tangannya ke samping.
Sandra melirik jam weker di atas nakas dan terkesiap. Ia lantas segera bangun dari tempat tidur dan berdiri. Namun dengan cepat Ia terduduk kembali di sisi tempat tidur karena merasa tubuhnya sedikit melayang. Sandra memegangi sisi kepalanya yang masih terasa berdenyut pusing.
"Kamu istirahat di rumah selama 1 hari. Mami tidak mau mengambil resiko jika membiarkan kamu tetap datang pelatihan dalam kondisi tubuh tidak fit".
Sandra mengingat ucapan Mami Sari kemarin sore ketika Sandra sudah kembali ke ruang ganti caddy dari ruang perawatan.
"Lo tau gak, San? Yang tadi bawa lo ke ruang perawatan tuh si ganteng! Pemain golf yang pernah temanin kita training di lapangan itu lho! Dia yang gendong lo ke ruang perawatan! Dan lo tau gak yang paling buat gw terkejut? Dia ternyata pemilik lapangan golf! Gilaaaa!!!! Keberuntungan lo seumur hidup langsung habis dalam 1 hari gara-gara lo di gendong cowok ganteng plus pemilik lapangan golf nya pula! Kapan lagi kesempatan kayak gitu datang coba?!"
Sandra pun mengingat celotehan Merin yang membombardirnya secara bertubi-tubi saat Sandra baru saja sadar dari pingsannya kemarin di ruang perawatan.
Benarkah pria tampan berwajah malaikat itu yang membawanya ke ruang perawatan?
Dia gendong gw ke ruang perawatan? Kok bisa?!
Sandra bertanya-tanya dalam hati. Mengingat netra mata tajam pria itu saja sudah membuat dirinya bergidik. Tapi apa kata Merin? Dia menggendong gw kemarin? Bukannya tersipu, Sandra justru semakin bergidik takut.
Apa pria tampan itu kerasukan setan lapangan golf?
Aah.. Tidak.. Tidak.. Gw harus bilang terima kasih kalau ketemu dia lagi.
Sandra menggelengkan kepalanya pelan lalu menepuk keningnya dengan pelan. Bodoh! Kata Merin pria tampan itu adalah pemilik lapangan golf yang artinya bukan orang sembarangan! Mana mungkin bisa selalu kebetulan bertemu lagi dengannya kecuali jika dia datang ke lapangan!
Sandra menghela napasnya pelan lalu bangkit dari sisi tempat tidur. Ia lalu membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah kaus rumah berwarna merah muda dan tak lupa juga mengambil celana pendek selutut berwarna hitam.
__ADS_1
Ia pun segera membuka kunci pintu kamarnya untuk segera mandi pagi. Namun ketika Ia berjalan melangkah menuju kamar mandi, Sandra tersadar jika suasana rumahnya sangat hening pagi ini. Tidak ada kegaduhan yang biasa Ia dengar setiap hari.
Sandra lantas membuka satu per satu kamar kedua adiknya dan tidak mendapati siapapun. Sandra lalu melangkah menuju kamar kedua orang tuanya.
Kosong. Sandra tak melihat semua sosok yang Ia cari. Ia langsung bergegas menuju teras rumahnya. Sandra membuka pintu ruang tamunya dan memakai sandalnya berjalan menyusuri taman rumahnya yang luas. Namun tetap saja Sandra tidak melihat siapapun.
Namun tak lama terdengar suara pagar yang di buka. Sandra menoleh ke belakang dan melihat Dimas masuk kembali ke dalam mobil tuanya. Sandra memutuskan untuk menunggu Dimas memarkirkan mobilnya di garasi.
"Pak, Ibu dan ade-ade kemana? Kok Sandra lihat tidak ada?". Tanya Sandra setelah Dimas keluar dari mobilnya.
"Ibu dan ade-ademu ada di rumah nenek kalian." Jawab Dimas datar.
Sandra mengerutkan keningnya. "Maksudnya di nenek Yasmin, Pak?". Tanya Sandra lagi. Nenek Yasmin adalah Ibu dari Retno, Ibunya Sandra.
Dimas mengangguk kecil seraya melepas sandalnya. "Ibumu marah pada Bapak. Dia ingin menginap di sana selama beberapa hari. Tadi Bapak susul, Ibumu tetap tidak mau pulang". Ujar Dimas.
"Lho? Siska dan Sabil gimana sekolahnya, Pak? Kapan mereka berangkat ke Nenek Yasmin? Kok Sandra tidak tahu?". Cecar Sandra mengikuti Dimas yang melangkah masuk ke dalam rumah.
"Kamu tidak bekerja hari ini?". Tanya Dimas seraya menatap Sandra yang masih mengenakan piyama.
Sandra menggelengkan kepalanya pelan. " Sandra istirahat satu hari ini, Pak". Jawab Sandra seraya melangkah meninggalkan Dimas yang mulai menyalakan televisi.
...🌻🌻🌻...
Di sebuah ruang kantor yang megah dengan nuansa klasik modern dan di dominasi dengan warna cokelat tembaga untuk setiap furniture dan dindingnya. Satya yang sedang duduk di kursi kebesarannya terlihat mengetuk-ngetukkan sebuah bolpoin ke atas meja yang mengisi suara di dalam ruangan yang hening itu.
Pikirannya berlarian kemana-mana namun tak tampak satupun dari raut wajahnya jika Ia memiliki masalah sehingga setiap orang yang melihatnya selalu berpikir Satya Nagara adalah pria yang selalu beruntung dan menjalani kehidupan yang di impikan oleh semua orang.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Terdengar sebuah ketukan di pintu. Satya melirik ke arah pintu dan menghela napasnya. "Masuk!". Ujar Satya.
Nino, Sang asisten pribadi Satya melangkah masuk seraya membawa beberapa berkas berwarna cokelat di tangan kanannya.
"Apa mood mu baik pagi ini?". Tanya Nino seraya menatap Satya dengan serius.
"Apa pedulimu, huh? Mood ku baik atau tidak, kau tetap menyerahkan segala jadwal yang harus aku lakukan bukan?". Sindir Satya seraya menaikkan sebelah alisnya menatap Nino.
Nino terkekeh pelan. "Tapi yang ku bawa pagi ini bukan hanya sekedar jadwal pekerjaanmu saja. Aku bawa sesuatu untukmu". Ujar Nino seraya menyerahkan seluruh berkas cokelat di tangannya pada Satya.
Satya lantas melihat satu per satu berkas cokelat yang berada di atas meja kerjanya. Ada satu berkas cokelat tanpa tertera tulisan apapun. Satya melirik Nino yang mengedikkan dagunya meminta Satya segera membukanya.
Satya lantas membuka berkas cokelat tersebut dan membaca tulisan yang tertuang di atas kertas dengan seksama. Satya menaruh kertas yang telah selesai di bacanya lalu Ia melihat satu per satu foto yang ada di dalam berkas.
Satya menghela napasnya pelan seraya menaruh foto-foto tersebut. "Jadi sejak hari itu mereka tidak pernah bertemu?". Tanya Satya menatap Nino walau Ia sendiri sudah tahu jawabannya dari apa yang baru saja Ia baca.
Nino mengangguk. "Menurut hasil pemantauan selama 3 bulan ini, memang mereka tidak pernah bertemu lagi sejak hari itu". Ujar Nino.
"Kurasa itu memang murni kesalahan yang tidak di sengaja. Kau tahu? Itu bisa terjadi pada siapapun". Lanjut Nino mencoba mengemukakan pendapatnya.
"Tapi itu tidak merubah kenyataan bukan?".Tanya Satya seraya menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kukira kau setidaknya bahagia melihat laporan ini. Apa kau tidak bisa memaafkan apa yang sudah dilakukannya padamu?". Tanya Nino balas bertanya.
Satya mengusap wajahnya. "Entahlah. Sejujurnya hal itu tidak lagi mengusik ku. Pikiranku teralihkan oleh hal lain..." Jawab Satya ambigu hingga membuat Nino mengerutkan kening kebingungan.
__ADS_1
...🌴🌴🌴...
Kasih aku tanda kasih sayang yaaa mwah!😘