Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 34


__ADS_3

"Menurutmu enaknya kita makan malam di mana?". Tanya Satya pada Sandra seraya mengemudi.


"Saya tidak mau makan di resto tempo hari, Tuan. Nanti saya muntah lagi". Ujar Sandra.


Satya terkekeh pelan. "Kau ini muntah kok sudah di sugesti hahaha"


"Saya serius, Tuan. Kalau mau lebih baik kita pergi ke restoran cepat saji atau makan pizza di restoran merah terkenal itu saja. Menu di sana lebih masuk ke dalam perut saya daripada menu restoran mahal". Sahut Sandra menatap sekilas pada Satya.


Satya berpikir sejenak. "Baiklah. Kita makan pizza saja". Sahutnya. Satya lantas menekan pedal gas lebih dalam hingga mobil melaju lebih cepat.


Hampir satu jam keduanya menempuh macetnya lalu lintas di jam sibuk di mana banyak sekali pekerja yang baru keluar dari kantor untuk pulang ke rumah masing-masing. Sandra membuka satu per satu buku menu yang menampilkan daftar makanan dan minuman.


"Tuan".


"Ya?"


"Apa kita beli yang paket saja ya?" Tanya Sandra menoleh pada Satya.


Satya sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Sandra. "Paket yang mana?". Tanya Satya.


"Ini loh Tuan". Tunjuk Sandra pada beberapa gambar di buku menu.


"Ada 2 pizza berukuran kecil, 2 minum dan 1 spaghetti bolognese. Lalu ini juga.... " Sandra memperlihatkan satu per satu paket makanan yang tersedia.


Satya kembali menarik tubuhnya menjauh dari Sandra. "Aku tidak mau yang paket. Kita pesan saja menu satuannya".


"Tapi lebih murah yang menu paket loh Tuan!". Ujar Sandra pelan.


"Kau serius bicara seperti itu padaku, huh?" Tanya Satya tak percaya.


"Masa saya bercanda, Tuan! Saya suka beli menu paketan kalau makan dengan teman saya karena lebih hemat hehehehehe"


Satya mengusap wajahnya masih menahan sabar. "Sekarang kau sedang pergi makan denganku! Bahkan jika aku mau, aku bisa membayar seluruh makanan yang di pesan oleh seluruh pengunjung restoran saat ini!". Decak Satya.


"Sudah jangan banyak bicara lagi! Pesan satuan saja dan kau bebas memilih yang paling mahal!". Titah Satya yang sukses membungkam Sandra.


...

__ADS_1


"Ya ampun perut saya rasanya penuh sekali..." Ujar Sandra seraya menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Siapa yang tidak akan kekenyangan jika makanmu saja seperti T-Rex yang sedang kelaparan". Satya mencibir meledek Sandra.


Sandra memesan 3 menu utama yaitu nasi daging panggang, spaghetti dan pizza medium dengan pinggiran keju. Sedangkan Satya hanya memesan 1 spaghetti saja.


"Tuan, ini mau saya bawa pulang saja".Ujar Sandra seraya menunjuk pada beberapa potong pizza yang tak sanggup lagi Ia makan.


Satya mengerutkan keningnya. "Kenapa kau bawa pulang yang sisa begitu?".


"Kan sayang kalau tidak di bawa pulang, Tuan! Ini masih bisa di makan sama orang rumah saya". Sahut Sandra.


"Maksudku, masa kau membawakan orang rumahmu hanya makanan sisa seperti ini?". Tanya Satya bingung.


"Pesan lagi yang baru".


"Lalu yang sisa ini bagaimana, Tuan?". Tanya Sandra.


"Kau bawa juga sekalian tambahi dengan yang baru! Tunggu aku pesankan lagi".Satya lantas beranjak berdiri menuju kasir.


"Tuan, ini kebanyakan". Ujar Sandra ikut berdiri dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari restoran.


"Bisa kau hangatkan di microwave untuk sarapan, Sandra". Sahut Satya.


"Microwave?".


"Di dapur rumah saya tidak ada microwave, Tuan! Hahahhaa" Sandra tertawa pelan mengingat memang sang ibu hanya memiliki peralatan dapur yang biasa-biasa saja.


"Oh Astaga! Ya sudah yang penting kau bawa saja itu! Jangan banyak bicara lagi tentang pizza kalau kau tidak mau kucium!" Ancam Satya gemas. Sandra sontak saja mengunci mulutnya rapat-rapat tak mengeluarkan sepatah katapun.


Keduanya lantas segera masuk ke dalam mobil. Sandra memasang seatbeltnya begitu juga dengan Satya. Tak lama Satya melajukan mobilnya untuk mengantarkan Sandra pulang.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tak pernah Sandra semalam itu pulang ke rumah setelah bekerja. Tanpa sadar karena kelelahan, Sandra pun terlelap di tengah perjalanan. Satya mengecilkan volume musik yang Ia putar di mobil karena takut mengusik tidur gadis itu.


Ddrrrtt.. Ddrrttt..


Terdengar nada getar ponsel. Satya melirik ponselnya yang berada di celah pintu, Namun ponselnya tidak menyala sama sekali. Satya lantas menoleh ke arah Sandra dan menyadari bahwa ponsel gadis itulah yang bergetar. Satya melihat Sandra yang masih nyenyak tertidur. Ingin membangunkan gadis itu pun rasanya Satya tak tega karena Sandra terlihat kelelahan.

__ADS_1


Akhirnya Satya memutuskan untuk mengabaikannya saja hingga tak terdengar lagi nada getar dari dalam tas Sandra. Namun tak berapa lama, nada getar tersebut terdengar lagi dan kali ini Satya benar-benar tak peduli.


Setelah 30 menit menempuh perjalanan, keduanya pun akhirnya telah sampai di depan rumah Sandra. Satya sedikit menundukkan kepala dan mengerutkan keningnya saat melihat rumah Sandra begitu gelap gulita. Lampu teras rumah pun tidak ada yang menyala satupun.


Satya mematikan mesin mobilnya dan menyentuh bahu Sandra untuk membangunkan gadis itu dari tidurnya. "San.. Sandra.." Sahut Satya pelan.


Sandra tak bergeming sedikitpun. Ia lalu mengguncang pelan bahu Sandra hingga akhirnya Sandra mengerjapkan matanya. "Mmmm.." Sandra bergumam seraya mengucek matanya.


"Kita sudah sampai". Ujar Satya menatap ke arah Sandra yang sedang mengumpulkan kesadaran.


Sandra sontak saja duduk tegak dan mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil. "Ehh iya kita sudah sampai ya, Tuan". Ujar Sandra menggaruk rambutnya. "Maaf saya ketiduran sepanjang perjalanan". Sandra merasa tak enak hati pada Satya.


"Tidak masalah. Aku tahu kau kelelahan setelah bekerja dan pergi makan denganku". Jawab Satya mengulas senyum tipis di bibir.


"Tapi kenapa rumahmu gelap sekali? Tempo hari aku mengantarmu pulang, tidak seperti ini. Apa listriknya mati?".


Sandra menoleh ke arah rumahnya dan benar saja apa yang di katakan pria itu. Sandra mengerutkan kening bingung. "Tidak mungkin listriknya mati, Tuan. Rumah tetangga saja terang benderang". Ujar Sandra melihat beberapa rumah tetangga di sekitar rumahnya.


"Saya turun dulu, Tuan. Terima kasih sudah mengantarkan saya pulang". Ujar Sandra seraya membuka tuas pintu.


Satya tidak langsung pergi, pria itu justru ikut turun dari mobil. Ia melihat Sandra yang sedang memeriksa gerbang rumahnya yang ternyata di gembok. Sandra mengerutkan kening, tidak biasanya sebelum dirinya pulang sudah di gembok seperti ini. Terlebih lagi, Sandra tidak membawa kunci gerbangnya.


"Coba kau telfon Ibumu atau Ayahmu. Tadi sepanjang jalan aku mendengar ponselmu bergetar. Tapi aku tidak enak untuk membangunkanmu". Ujar Satya.


Sandra lantas merogoh ponselnya dari dalam tas dan matanya membelalak saat melihat banyak pesan masuk dan telfon yang tidak terangkat.


Sandra lantas segera menelfon ponsel Retno. Beberapa kali panggilan tidak di angkat hingga Sandra beralih menelfon sang adik. Dalam dua kali nada sambung telfonnya pun terhubung.


"Dek.. Kamu di mana? Kenapa rumah gelap sekali dan gerbang di gembok?" Tanya Sandra melalui sambungan telfon.


"....................................."


Mendengar jawaban sang adik, Sandra sontak saja menutup mulutnya dengan raut wajah terkejut.


"Hey, Ada apa?". Tanya Satya menyentuh bahu Sandra yang terlihat kalut.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


__ADS_2