Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 63


__ADS_3

Satu Minggu kemudian


"Nadya, apa kamu mau berangkat sekarang?' Tanya Grace seraya berjalan melangkah menghampiri sang menantu.


"Iya, Ma. Aku sudah selesai nih mau berangkat".


"Kamu gak mau tunggu Satya dulu? Nanti kalau dia lihat kamu gak ada di rumah sepagi ini gimana?". Sahut Grace.


Nadya tersenyum hangat pada sang mama mertua. "Aku kan hanya pergi bermain golf dengan teman-temanku, Ma." Ujar Nadya. "Nanti aku akan telfon atau kirim pesan padanya untuk memberitahu kegiatanku pagi ini".


Padahal anakmu tidak pernah mau tahu urusanku, Mama mertua. Dia sangat acuh dan membiarkanku melakukan apapun yang aku suka selama tidak membawa dampak buruk bagi keluarga Nagara dan keluarga Carlton.


Nadya membatin.


"Baiklah kalau seperti itu. Mama hanya takut Satya marah padamu jika kamu pergi tanpa izin dia sayang. Akhir-akhir ini mama sering melihat Satya ketus padamu. Apa hubungan kalian baik-baik saja?".


"Tentu saja. Hubungan kami baik-baik saja. Mama tidak perlu kuatir hehehee" Ujar Nadya seraya terkekeh.


"Aku pergi dulu ya, Ma!" Pamit Nadya akhirnya.


...🌻🌻🌻...


Apartemen Satya


Waktu baru menunjukkan pukul 5 pagi. Matahari pun masih enggan untuk menunjukkan sinarnya hingga membuat sebagian orang masih terlelap. Namun berbeda bagi Sandra. Ia justru sudah rapi dengan pakaian caddy nya. Sandra merias wajahnya dengan riasan natural.


Dari balik cermin Ia menatap pantulan Satya yang masih tertidur nyenyak di atas ranjang dengan dada bidangnya yang terekspos. Sandra mengulum senyum kala mengingat malam panas yang Ia lalui dengan pria itu. Satya benar-benar menggempurnya hingga berulang kali. Berbagai gaya pria itu coba praktekkan dengan Sandra.


Sandra menatap pantulan dirinya di cermin. Setelah dilihat riasannya sempurna, Ia segera menghampiri Satya dan duduk di tepi ranjang. Sandra merapihkan anak-anak rambut yang menjuntai jatuh menutupi dahi sang suami. Sandra tersenyum menatap hangat pada Satya.


Suamiku benar-benar tampan...


Sandra mengagumi pahatan Sang Pencipta yang sempurna di wajah Satya. Sandra lantas menepuk pelan bahu Satya untuk membangunkan pria itu. "Sayang... Bangun..."

__ADS_1


Tak terlihat gerakan sedikitpun. Satya tetap terlelap dengan nyenyak. "Sayang.. Bangun dulu sebentar.." Ujar Sandra lagi menggoyangkan bahu sang suami. Sandra menatap sejenak. Hingga akhirnya Sandra menggoyangkan tubuh Satya dengan lebih kencang. "Sayaaanggggg! Bangun!"


Grep!


Tiba-tiba saja tubuh Sandra terasa melayang dan dalam sekejap mata Ia jatuh terlentang di atas ranjang dengan tubuh Satya yang berada di atas mengungkungnya. Sandra mengerjapkan mata menatap Satya yang sedang menatapnya dengan tatapan lembut.


"Kenapa kau berisik sekali pagi-pagi hm?". Ujar Satya dengan suara serak yang terdengar sangat seksi di indera pendengaran Sandra.


"A-aku mau berangkat kerja..." Ujar Sandra merasa gugup.


"Kenapa harus berangkat kerja? Aku bahkan masih di sini sayang".


"Tapi kan kamu juga akan berangkat ke kantor jam 8. Aku sudah tidak bekerja selama 3 hari sayang. Aku tidak enak pada teman-temanku dan Mami Sari". Sahut Sandra.


"Boleh ya?"


Satya tak menjawab apapun. Netra tajamnya hanya menatap Sandra. Hingga akhirnya tubuh pria itu pun jatuh terlentang ke samping. Satya membalikkan tubuhnya ke arah Sandra menyamping dengan satu tangan menjadi tumpuan untuk kepalanya.


"Baiklah.. Pergilah bekerja. Lagipula hanya tersisa beberapa minggu lagi sampai kau berhenti menjadi caddy". Ujar Satya akhirnya memberi izin.


"Pakailah supirku untuk mengantarkanmu ke Country Club." Ujar Satya seraya meraih ponselnya di atas nakas.


"Tidak perlu. Aku pakai angkutan umum saja atau ojek online lebih cepat. Kalau aku pakai supirmu, bagaimana kamu pergi ke kantor?".


"Nino bisa menjemputku di sini. Kau tenang saja." Ujar Satya seraya menempelkan ponselnya ke telinga.


"Aku......"


"Halo pak, tolong antarkan istriku ke.Country Club sekaran. Apa bisa?"


Sandra menghela napasnya dan tidak melanjutkan perkataannya saat Ia mendengar Satya sudah berbicara dengan sang supir melalui sambungan telfon.


Satya lalu menaruh kembali ponselnya ke atas nakas dan bangkit dari tempat tidur dengan tubuhnya yang polos. Sandra yang melihat itu sontak saja membuang muka ke sembarang arah merasa malu. Satya tersenyum miring melihat tingkah canggung Sandra. Ia lantas meraih Sandra mendekat ke pelukannya.

__ADS_1


"Pergilah. Supirku 10 menit lagi sampai ke apartemen". Ujar Satya


Sandra hanya bisa mengangguk pelan apalagi saat dirasanya ada sesuatu yang mengganjal di area dekat pahanya. "Nanti kita atur waktu. Aku akan membelikanmu sebuah mobil agar kau tidak perlu memakai angkutan umum atau taksi online lagi".


Sandra sontak menggeleng cepat. "Aku belum membutuhkannya".


"Butuh atau tidak butuh. Kau tetap akan kubelikan mobil. Jangan menolaknya terus".


Karena aku ingin berlaku adil padamu juga... Aku ingin membuat kehidupanmu nyaman. Bahkan lebih nyaman dari Nadya.


Satya bergumam dalam hati seraya menatap Sandra. "Sudah cepatlah turun ke lobi. Mungkin supirku sudah datang..." Sahut Satya.


"Atau kau ingin menidurkan torpedoku dulu sebentar sayang hmm?" Lanjut Satya dengan tersenyum miring menggoda Sandra.


Sandra sontak saja melihat ke bawah dan torpedo sang suami memang sedang tegak menantang. Satya meraih lengan Sandra dan menangkupnya ke torpedo miliknya. "Lihatlah.. Dia selalu tergoda denganmu. Hanya dengan sentuhan istriku" Ujar Satya pelan dengan memejamkan mata merasakan genggaman tangan hangat Sandra pada torpedonya.


"A-apakah aku benar-benar harus menidurkannya sebelum aku berangkat?" Tanya Sandra menatap Satya dengan polos.


Satya lantas terkekeh gemas. "Hehehehehe aku hanya bercanda sayang. Aku bisa mengurusnya sendiri. Kalau dia sudah bertemu dengan lembah hangatnya, aku jamin kau tidak akan pergi bekerja lagi hari ini" Ujar Satya dengan menatap mesra dan menggoda.


Sandra sontak saja melepas genggaman tangannya dari torpedo Satya. "Oh Astaga... Tidak.. Tidak.. Bekas semalam saja aku masih terasa perih" Ujar Sandra dengan wajah pias.


"Hahahahaa.. Kau menggemaskan" Satya tertawa seraya mendekap tubuh Sandra. "Torpedo setiap pria memang pasti akan seperti ini setiap pagi sayang"


"Benarkah? Setiap pria?" Tanya Sandra penasaran.


Satya mengerutkan kening menatap Sandra. Ia lalu mencubit pelan pipi Sandra. "Apa yang kau pikirkan huh?"


"Kau hanya boleh melihat torpedoku seumur hidupmu. Apa kau mengerti?" Ujar Satya dengan penuh penekanan.


Sandra memukul dada bidang Satya begitu saja. "Memangnya milik siapa lagi aku mau melihatnya! Satu yang seperti ini saja benar-benar membuatku melayang". Ujar Sandra dengan gamblang.


Satya melongo. Terkadang Ia tak habis pikir dengan sikap Sandra yang malu-malu namun di lain waktu sisi mesum nya pun bisa membuat terperangah.

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


__ADS_2