
"Nino, jangan lupa kau jemput Sandra jam 4 sore di tempat kerjanya" Ujar Satya seraya meneguk secangkir caramel machiato hangat.
"Kenapa harus aku? Kau saja!".
"Aku minta tolong padamu." Sahut Satya.
"Minta tolong hal yang lain saja, pasti ku bantu. Tapi jika tentang Sandra, aku tidak mau menolongmu". Nino mengangkat bahunya acuh.
Satya mengangkat sebelah alisnya menatap Nino. "Kenapa kau tidak mau membantuku jika itu tentang Sandra? Kau harus ingat, dia sebentar lagi akan menjadi istriku. Itu artinya dia adalah istri bos mu!".
"Aku tidak mau di jadikan bakso cincang oleh keluargamu atau keluarga mertuamu jika hal ini terbongkar, bos! Alangkah lebih baik aku mengambil posisi netral saja dalam hal gila mu itu". Nino menjawab seraya bergidik membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi.
"Kau berlebihan sekali!"
"Kau yang berlebihan! Dengar..... Aku bukannya memihak Nadya di situasi ini, aku tidak membenarkan apa yang dia lakukan padamu dan pada pernikahan kalian. Tapi yang sekarang kau lakukan juga tidak benar, bos!" Sungut Nino kesal.
"Aku tidak mau menolongmu mengenai Sandra, satu-satunya alasanku adalah aku kasihan pada gadis itu! Dia tidak tahu apa-apa. Lalu kau tarik dia ke dalam kehidupanmu yang rumit. Kau ini sinting gila dan miring!".
Satya membelalak dengan umpatan Nino. "Kau....."
"Kau mau mengumpatku? Silakan! Tapi yang aku katakan benar, kan?! Ohh... Sandra yang malang... Dia seperti kucing yang manis dan takdirnya bertemu dengan gorila gila sepertimu". Cibir Nino memotong ucapan Satya.
"Brengsek kau! KELUAR CEPAT DARI RUANGANKU!" Usir Satya dengan berteriak. Ia tidak benar-benar marah pada Nino. Satya sudah terbiasa dengan sikap Nino yang blak-blakan dalam mengemukakan pendapat.
Satya beranjak berdiri dari duduknya, Ia lantas masuk ke dalam ruangan pribadinya dan merebahkan diri di atas kasur. Ia merogoh ponselnya di saku celana dan menekan satu nomor.
"Halo..." Ucap Satya setelah sambungan telfon terhubung.
"..........................."
"Nanti akan ada supir yang menjemputmu di tempat kerja. Aku tidak bisa kesana karena ada meeting yang harus ku hadiri. Kau ikuti saja supir itu ke sebuah apartemen. Tunggu aku di sana". Ujar Satya.
Tak lama setelah mendapat jawaban, Satya segera memutuskan sambungan telfonnya. Ia menarik napas dalam-dalam dengan posisi terlentang di atas kasur.
"Aku akan melindungimu, Sandra" Gumam Satya menatap langit-langit ruang pribadinya.
...🌻🌻🌻...
Pukul 4 sore, Golf Country Club.
__ADS_1
Sandra yang baru saja selesai berganti baju segera melangkah keluar ruang tunggu caddy. Ia melihat Merin dan Giska yang sedang berjalan beriringan melangkah ke arahnya.
"San!". Panggil Merin.
"Lo mau langsung pulang?".
Sandra mengangguk. "Iya gw ada urusan nih. Ada janji sama orang hehhehe"
"Cieeee... Siapa tuh? Pacar lo?". Timpal Giska.
"Bukan!". Sandra membelalak.
"Yaudah lo tungguin kita dulu lah. Biar barengan naik mobil jemputannya, San". Ujar Merin.
"Eh tapi gw gak ikut pulang mobil jemputan sekarang......"Sandra kebingungan bagaimana menjelaskan pada Merin dan Giska.
"Loh terus lo nanti ke depannya gimana? Gak mungkin kan jalan kaki! Atau lo lagi bawa motor?". Tanya Giska.
"Eeehh itu.... Mmmmm.. Gw di jemput hehehehe"
Merin dan Giska mengerutkan kening saling menatap. "Di jemput? Tumben-tumbenan lo di jemput, San"
"Permisi, Nona Sandra?". Tanya Pria bertubuh tinggi itu menatap Sandra dan ponselnya silih berganti.
Sandra terdiam tak.menjawab. Ia hanya melirik sekilas fotonya yang sedang tersenyum lebar berpakaian caddy ketika sedang di lapangan golf. Kenapa ada foto.gw? Sandra bertanya-tanya dalam hati.
"San!". Ujar Giska menepuk bahu Sandra.
"Ehhh Iya, Pak?". Tanya Sandra tersadar.
"Nona Sandra Aruni? Maaf saya supir yang di tugaskan untuk menjemput nona". Ujar pria tinggi itu.
"Ooohh.. Iya..." Gumam Sandra.
"Supir?" Ucap Merin dan Giska melongo.
"Supir siapa, San? Kok lo di jemput supir?" Merin keheranan.
"Ituuuu mmmmm..." Sandra menggaruk tengkuknya dengan kikuk.
__ADS_1
"Mari Nona Sandra, Tuan Satya nanti menunggu lama. Perjalanan ke sana cukup padat jam segini". Sahut sang supir.
"Satya?!!" Ujar Merin dan Giska serempak. "Jangan bilang kalau Satya yang kita kenal, San?!". Tanya Merin dengan wajah terkejut.
Sandra mengangguk tipis seraya cengengesan. "Nanti gw jelasin sama kalian oke? Gw sekarang pergi dulu". Ujar Sandra.
"Woaaahhh.. Diam-diam garong lo ya! Hahahhahaa". Ucap Giska tertawa renyah.
Sandra menarik lengan Merin dan Giska agar lebih mendekat. "Please jangan sampai ada yang tahu soal ini. Gw janji akan cerita besok ke kalian".Ujar Sandra seraya berbisik.
Merin dan Giska lantas mengangguk serempak. "Sip. Lo tenang aja!". Ujar Merin.
Tak lama Sandra pun segera mengikuti sang supir menuju ke parkiran dan menempuh perjalanan ke.tempat yang telah di tentukan oleh Satya.
Dua jam perjalanan yang harus Sandra tempuh karena jalanan memang sangat padat karena bertepatan dengan jam pulang kantor. Mobil yang di tumpangi Sandra akhirnya memasuki sebuah pelataran gedung megah pencakar langit. Sandra menatap ketinggian gedung itu hingga kepalanya menengadah ke atas melalui jendela mobil.
Sang supir pun turun dan dengan gesit membukakan pintu mobil untuk Sandra. Dengan canggung Sandra pun turun. "Terima kasih, Pak". Sahut Sandra dengan mengulas senyum manis.
"Mari Nona saya antar ke unit apartemen Tuan Satya" Ujar sang supir mempersilakan Sandra untuk mengikutinya ke dalam lobby gedung.
Waaahhh seumur-umur baru kali ini gw masuk ke tempat ginian...
Sandra berdecak kagum seraya mengedarkan matanya ke seluruh penjuru lobby. Ia memasuki lift dan melihat sang supir menekan tombol dengan angka 60 di dinding lift. Sandra menganga menyadari kalau lantai yang akan Ia tuju adalah lantai teratas dari gedung megah ini.
Ting!
Pintu lift pun terbuka lalu sang supir meminta Sandra untuk mencari unit apartemen dengan nomor 6969. "Tugas saya hanya sampai di sini saja sesuai instruksi Tuan Satya, Nona Sandra". Sahut Sang supir ketika Sandra bertanya mengapa tidak ikut hingga ke dalam.
Sandra pun akhirnya segera menuju unit apartemen yang sudah di sebutkan tadi. Saat di depan pintu, Sandra merasa kikuk. Ia lantas menekan sebuah bel berulang kali namun pintu tidak kunjung terbuka.
Sandra melirik nomor unit apartemen di dinding. 6969... Ini unit yang benar kok.. Tapi kenapa gak ada yang buka pintunya sih..
Sandra lalu menekan bel pintu sekali lagi dan tak lama pintu pun terbuka hingga tampaklah Satya yang sedang memakai bathrobe putih dengan rambutnya yang cukup basah menandakan pria itu terburu-buru untuk membukakan pintu.
Glek
Sandra tak memungkiri bahwa saat ini Ia terpesona dengan tampilan Satya yang sangat menggoda di matanya.
...🌴🌴🌴...
__ADS_1
Loveeee, komeeennn, gifts and voteee yaaa😘