Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 82


__ADS_3

"Jaga istriku dengan baik selama aku kembali ke rumah. Jika ada yang mau makan atau ke toilet, bergantian saja! Jangan pernah meninggalkan istriku sendirian di ruangan ini!" Titah Satya pada tiga orang bodyguard yang Nino bawa ke rumah sakit untuk menjaga kamar rawat inap di mana Sandra berada.


"Baik, Tuan!" Seru ketiga orang bodyguard itu.


Satya membelai puncak kepala Sandra dengan penuh kasih sayang. Ia lantas mengecup kening Sandra cukup lama dan menatapnya dengan lekat. "Aku pergi dulu sayang. Kau jangan memikirkan apapun untuk saat ini oke?". Ujar Satya pada Sandra yang sudah sadar sejak satu jam yang lalu.


Sejak sadar Sandra hanya terisak mengingat apa yang sudah Ia lalui kemarin. Ia pun sempat histeris saat mengetahui bahwa kehamilannya tidak bisa di pertahankan. Satya yang tak kuasa melihat Sandra yang menangis sesenggukan serta melihat perban yang membalut hampir seluruh tangan dan telapak kaki sang istri, bahkan ikut menitikkan air mata. Ia merasakan kesedihan yang di alami oleh Sandra.


"Pak Sean... Kamu jangan marah padanya. Dia sudah menolongku" Ujar Sandra pelan.


Satya tersenyum hangat. "Tentu saja. Aku tidak akan marah dengannya sayang." Satya membelai pipi Sandra dengan lembut.


"Jika kau perlu apapun, minta tolong saja pada bodyguard yang menjagamu di sini. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar?" Tanya Satya menatap Sandra.


Sandra mengangguk kecil. "Tidak masalah. Aku tahu kamu akan mengurus banyak hal kan?" Tanya Sandra. "Aku tidak suka jika kamu marah karena itu sangat menakutkan. Tapi kali ini.... Aku mohon keluarkan kemarahanmu hingga tidak ada orang yang mampu untuk melawanmu sayang... Kumohon..." Mata Sandra berkaca-kaca menatap Satya.


Satya mengusap ekor mata Sandra yang hampir menumpahkan air mata. "Tentu saja sayang.. Tentu saja!" Ucap Satya lalu mengecup kening Sandra.


Satya lalu beralih kepada tiga orang bodyguard lainnnya yang berada di belakang tubuh Nino. "Kalian bertiga ikut aku! Kau juga Nino!". Ujar Satya seraya melangkah keluar ruangan.

__ADS_1


Sean yang masih menunggu Satya di luar ruangan lalu beranjak berdiri saat melihat pria itu keluar dari ruangan. Satya berhenti tepat di hadapan Sean. "Tunggu kabar dariku." Ujar Satya seraya menyerahkan kartu nama dirinya pada Sean. "Nomorku" Ujar Satya. Sean melihat sejenak kartu nama yang di berikan oleh Satya.


"Terima kasih untuk bantuanmu terhadap istriku. Aku tidak akan pernah melupakannya.".


"Mengenai Nadya......" Ujar Sean.


"Aku tidak memikirkan itu lagi. Sebagai pria egoku memang sempat terluka, tapi aku sekarang tahu kau benar-benar berada di tengah-tengah kami tanpa sengaja". Satya memotong ucapan Sean. "Aku akan membalas jasamu karena sudah menolong Sandra, tapi aku juga harap kau memegang janjimu untuk membantuku menghadapi Nadya. Anggap saja aku membalas budi dan kau membayar kesalahanmu tempo dulu padaku" Satya tersenyum miring menatap Sean. Kali ini hatinya benar-benar menganggap Sean bukanlah seorang pria berbahaya seperti yang Ia pikirkan saat pertama kali melihatnya di lapangan golf dengan Sandra. Bayangan Sean yang menyentuh tubuh Nadya di malam itu tidak lagi membayangi Satya.


Tak kenal maka tak sayang. Itulah yang Satya rasakan kini. Setelah melihat Sean yang membantu Sandra tanpa pamrih hingga menceritakan kronologi malam pesta lajang itu, membuat sudut pandang Satya cukup berubah dalam memandang Sean.


"Tentu saja, Pak Satya. Saya akan melakukan yang terbaik untuk menebus kesalahan saya karena menghancurkan pernikahan anda" Ujar Sean.


Satya terkekeh pelan. "Siapa bilang hancur? Aku dan Sandra akan baik-baik saja".


Satya mengibaskan tangannya dengan muka masam. "Sejak awal aku hanya bermain rumah-rumahan dengannya dan aku bersyukur jika memang harus hancur seperti ini". Ujar Satya. "Sudahlah! Aku harus mengurus beberapa hal lebih dulu. Maaf jika aku tidak bisa mengantarmu kembali ke apartemen".


"Tidak masalah, Pak Satya. Saya bisa pakai taksi" Sean tersenyum canggung.


Satya menatap Sean sejenak hingga akhirnya Ia menepuk pundak Sean. "Mulai sekarang jangan terlalu formal denganku. Kau bisa memanggilku dengan namaku saja". Ujar Satya lalu berlalu meninggalkan Sean begitu saja.

__ADS_1


Sean menatap kepergian Satya dengan raut wajah yang terperangah. Ia menyugar rambutnya hingga acak-acakan. "Sial... Kenapa dia keren sekali?" Gumam Sean seraya menatap Satya yang berjalan di ikuti oleh asisten dan bodyguardnya. "Sikapnya malah membuatku sangat malu dan semakin merasa bersalah kepadanya. Mana ada pria yang memaafkan begitu saja ketika istrinya di tiduri pria lain?! Memukulku sekali saja bahkan tidak dia lakukan!" Gerutu Sean yang tiba-tiba saja merasa sangat kesal. Ia justru berharap Satya meluapkan amarahnya bahkan jika Sean di jadikan samsak pun dia akan rela!


...


"Kau tahu di mana keberadaan Nadya saat ini?" Tanya Satya pada Nino saat mereka sudah di dalam mobil.


"Sepertinya dia sudah mengetahui kau sudah kembali, jadi dia pasti berlindung di bawah ketiak ayahnya." Ujar Nino.


"Dia sama sekali tidak pulang ke rumah orang tuaku?".


Nino menggelengkan kepala pelan. "Tidak. Security di rumahmu bilang Nadya belum kembali ke sana sejak tadi malam".


Satya mendecih. "Cih! Aku akan menemuinya bahkan jika ayahnya memasang badan untuk melindunginya".


"Apa kita akan ke tempat Aldanar lebih dulu kalau begitu?".


"Tidak. Kita ke hotel saja lebih dulu. Aku akan memindahkan kedua orang tua Sandra serta adik-adiknya kembali ke rumah saat ini juga. Jika Nadya pulang ke ayahnya, 100 % aku yakin jika dia sudah mengadu pada Aldanar. Aku harus memastikan semua orang yang terlibat dengan Sandra baik-baik saja. Aku tidak mau kecolongan lagi". Sahut Satya.


Nino mengangguk. "Ya, Boss! Kau harus menghadapi banyak amukan mulai hari ini". Nino melontarkan candaan berusaha sedikit mencairkan pikiran Satya yang Ia tahu pasti sangat mumet.

__ADS_1


"Aku tahu. Aku hadapi dulu mertuaku serta memastikan mereka dalam perlindungan setelah itu aku akan mengurus Nadya".


...🌴🌴🌴...


__ADS_2