Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 76


__ADS_3

"Cepat! Tolong ambil kunci mobilku di saku celana!". Titah orang itu tiba-tiba saja pada seorang security yang sedang berjaga di depan lobby apartemen.


Security yang di hampiri oleh orang itu pun sontak saja terkejut. "Maksudnya, Pak?" Tanya security dengan raut wajah kebingungan.


"Astaga cepatlah! Tolong ambilkan kunci mobil di saku celanaku sebelah kiri! Kau tidak lihat aku sedang menggendong wanita ini?! Dia harus segera aku bawa ke rumah sakit bodoh!".


Security itu pun lantas tersadar dari kebingungannya. Ia lalu merogoh kunci mobil yang berada di saku kiri. "Maaf, Pak! Ini..." Ujar sang security. "Dimana mobil anda? Saya bantu, Pak!".


Tanpa menjawab, orang itu segera melangkah dengan cepat menuju ke sebuah parkiran. "Cepat buka!" Titah orang itu saat mereka sudah di depan mobil sedan sport dua pintu berwarna putih.


Orang itu pun segera mendudukkan Sandra dengan sangat hati-hati di bangku penumpang. Ia memasangkan seatbelt pada tubuh Sandra. Dengan cepat Ia berlari ke sisi pengemudi dan langsung saja menyalakan mobil.


Sepanjang jalan orang itu sesekali melihat Sandra yang tidak sadarkan diri. Ia menekan pedal gas sedalam mungkin hingga mobil melaju sangat cepat di jalanan yang sudah mulai lengang.


Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi Sandra memasuki pelataran rumah sakit swasta yang terkenal mewah. Orang itu segera memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk Unit Gawat Darurat. Seorang security menghampiri mobil tersebut hingga akhirnya orang itu keluar dari mobil.


"Cepat panggil dokter! Ada seorang wanita yang membutuhkan penanganan segera! Dia tidak sadarkan diri!!". Pekik orang itu.


Security itu segera masuk ke dalam dan kurang dari satu menit, dua orang yang memakai jas snelli berlari seraya mendorong sebuah brankar. Orang itu lantas membuka sisi pintu mobil di bagian penumpang. Ia membuka seatbelt yang membelit tubuh Sandra lalu menggendongnya keluar dengan hati-hati.


"Tolong tangani segera!". Ujar orang itu ikut melangkah mengekori saat brankar di dorong masuk ke dalam Unit Gawat Darurat.


Sandra lantas di bawa ke sebuah ruangan. Terlihat beberapa orang masuk ke dalam ruangan tersebut. Orang itu pun hanya bisa menunggu di luar. Ia memindai pakaiannya yang sudah terkena noda darah dari Sandra. Ia mengusap wajahnya seraya menghela napas. "Astaga.. Melelahkan sekali". Gumam Orang itu seraya menyenderkan punggungnya.


Sekitar tiga puluh menit Sandra di periksa di dalam ruangan hingga akhirnya satu per satu orang yang menangani Sandra keluar dari ruangan. Seorang dokter menghampiri orang itu yang sedang duduk memejamkan mata.


"Permisi,.Pak". Ujar sang dokter.


Orang itu pun membuka matanya dan langsung berdiri saat melihat seorang dokter yang menghampirinya. "Bagaimana dok?". Tanya orang itu.


"Penanganan darurat sudah selesai. Namun ada satu hal yang perlu saya sampaikan pada anda". Ujar Dokter tersebut.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Kami tidak bisa mempertahankan kandungan istri anda. Rahimnya berkontraksi sehingga mengakibatkan pendarahan hebat. Saya minta maaf" Ujar sang dokter seraya sedikit membungkukkan badan.


Orang itu menganga terkejut saat mendengar penuturan dokter. Ia menyugar rambutnya. "Hamil?" Ujar orang itu membeo.


"Apa anda tidak tahu jika istri anda sedang hamil?" Tanya sang dokter.


"Wanita itu bukan istri saya. Dia hanya......"


"Tetangga di apartemen". Ujar orang itu terlihat berpikir sejenak.


Dokter pun menganggukkan kepala paham dengan situasi. "Apa anda bisa menghubungi keluarganya?"


Orang itu terdiam sejenak. Ia mengusap tengkuknya. Saya tidak mengenal siapapun dari wanita itu. Tapi dokter tenang saja. Saya yang akan menjadi walinya untuk biaya administrasi rumah sakit".Ujar orang itu seraya tersenyum tipis.


"Baiklah, Pak. Saya hanya menyarankan kalau bisa keluarga Nona itu diberitahu" Saran sang dokter. "Baiklah saya permisi dulu". Dokter tersebut lantas berlalu.


Tak lama kemudian Sandra pun segera di pindahkan ke ruang rawat VIP sesuai permintaan. Orang itu terus menemani hingga akhirnya proses pemindahan Sandra selesai di lakukan.


Orang itu berdiri di sisi ranjang rumah sakit. Menatap Sandra yang masih belum sadarkan diri. "Aku harus kembali ke apartemen untuk membersihkan diri lalu mencari tahu keluarga wanita ini" Gumam orang itu.


...🌻🌻🌻...


Keesokan harinya...


Satya dan Nino yang baru saja mendarat segera menuju pintu keluar bandara, menghampiri sang supir yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua sejak tiga puluh menit yang lalu.


"Apa kau langsung pulang ke rumah?". Tanya Nino saat keduanya berjalan bersisian seraya menarik koper masing-masing.


"Tentu saja"

__ADS_1


"Benarkah? Kau tidak akan menemui istri keduamu dulu?" Tanya Nino seraya menoleh pada Satya.


"Tentu saja aku langsung menemui Sandra dari sini! Maksudmu apa sih?". Ujar Satya mengerutkan kening.


"Maksudku, apa kau pulang ke rumah atau ke istri keduamu?"


"Sandra adalah rumahku jika itu yang kau ingin dengar. Jadi aku akan pulang ke dirinya lebih dulu di banding siapapun". Jelas Satya tegas.


"Aku kan hanya bertanya bos.. Kau sensitif sekali.." Gerutu Nino.


...🌻🌻🌻...


"Apa Bu?! Sandra pulang ke apartemen?!" Tanya Satya dengan raut wajah terkejut. Ia baru saja sampai ke hotel di mana mertua dan istrinya berada. Namun justru Satya di buat terkejut tatkala dirinya tidak mendapati keberadaan Sandra di sana.


"Maaf ya Nak.. Ibu dan Bapak sudah melarang Sandra untuk pulang ke apartemen. Tapi dia bersikeras ingin pulang katanya sudah kangen dengan suasana apartemen" . Ujar Retno merasa bersalah.


Satya menghela napas pelan. Istri keduanya itu memang sulit untuk di larang jika sudah ada keinginan. "Jam berapa Sandra pulang kemarin, Bu?". Tanya Satya.


"Sore, Nak. Seingat Ibu sekitar pukul empat sore".


Satya lantas beranjak dari sofa. "Baiklah, Bu. Saya akan langsung menemui Sandra di apartemen saja". Ucap Satya. "Oh dan ini...." Satya mengambil dua buah paper bag di sisi kopernya dan memberikannya pada Retno. "Ini sedikit oleh-oleh, Bu"


Retno menerima dua paper bag tersebut dengan tersenyum. "Terima kasih ya, Nak Satya".


"Sama-sama, Bu". Ucap Satya. "Baiklah saya permisi dulu, Bu. Salam ke Bapak ya, Bu".


"Iya, Nak. Bapak itu sudah penasaran dengan rumah makanya dia kesana sejak pagi hingga sekarang belum pulang hehehe".Retno terkekeh pelan yang di tanggapi Satya dengan tertawa juga.


Tak membuang waktu. Satya pun segera pergi meninggalkan hotel untuk segera pulang ke apartemen menemui Sandra yang sudah di rindukannya sejak satu pekan yang lalu. Satya pun ingin mengelus perut sang istri yang di dalamnya sedang tumbuh calon anaknya.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


__ADS_2