Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 14


__ADS_3

"Sandra!".


Sandra yang sedang bersandar di tembok pun menengok ke arah suara. Bibirnya mengulas senyum tipis melihat Merin berlari kecil menghampiri dirinya.


"Lama nunggu? Kenapa gak duluan aja sih?". Tanya Merins ketika sudah di hadapan Sandra.


"Baru nunggu sekitar 10 menit aja sih... Gak lama!". Ujar Sandra terkekeh.


"Udah enakan badan lo? Gak akan pingsan lagi kan?". Merin menelisik raut wajah Sandra dengan seksama.


"Gw udah sehat! Lagipula siapa juga yang mau pingsan sih?". Gerutu Sandra mencubit kecil lengan Merin.


"Ya kali aja, San! Kalau lo pingsan lagi mana tau si ganteng datang tiba-tiba kayak kemarin itu hahahahahaha". Merin tertawa terbahak-bahak.


"Tapi Mer... Serius dia gendong gw sendirian? Bukan minta bantu orang lain?". Sandra lantas bertanya lebih detil.


Merin mengangguk antusias. "Iya! Dia yang gendong lo langsung di punggungnya!"


"Memang kenapa?"


Sandra mengedikkan bahunya. "Hmm.. Kayaknya kalau ketemu dia lagi, gw harus ucapin terima kasih deh.." Ujar Sandra.


"Lo bilang dia pemilk lapangan golf tempat kita kerja kan?"


Merin mengangguk. "Kata dokter di ruang perawatan sih gitu."


"Eh tuh mobil jemputannya datang!". Merin menunjuk sebuah mobil dengan logo khas Golf Country Club di kaca depannya.


"Kemarin hanya latihan buggy car aja kan, Mer?". Tanya Sandra seraya berjalan pelan di sisi Merin menuju mobil jemputan.


"Iya.. Sisa minggu ini kan tinggal belajar ngendarain buggy car aja!". Sahut Merin dengan antusias.


...🌻🌻🌻...


Beberapa hari kemudian...

__ADS_1


Hari yang di tunggu-tunggu oleh para peserta training akhirnya telah tiba. Hari ini adalah hari percobaan untuk Sandra dan rekan-rekannya turun ke lapangan dengan membawa para pemain golf asli.


Tak di pungkiri Sandra merasa sangat gugup sejak pagi. Pikirannya berkelana kemana-mana. Ia bertanya-tanya dalam benaknya, tipe pemain golf seperti apa yang akan Ia temani di lapangan. Mengingat banyak sekali Sandra mendengar berbagai pengalaman dari para seniornya yang telah lebih dulu berkecimpung menjadi caddy golf.


"Ayo semuanya kumpul!". Teriak Mami Sari di depan pintu ruang ganti caddy.


Sandra dan rekan-rekannya yang sudah siap dengan pakaian training berwarna hitam putih segera mengikuti Mami Sari ke luar ruangan.Tepatnya di sisi kanan area restaurant, Mami Sari memberikan briefing singkat pada para peserta training.


"Oke seperti yang kalian tahu... Hari ini kalian akan turun ke lapangan golf dengan membawa pemain asli. Jadi bukan dengan Mami lagi." Mami Sari menatap satu per satu peserta training.


"Satu pekan ini kalian akan di nilai langsung oleh para pemain golf yang kalian temani. Nanti Mami akan memberikan dua buah bros pada para pemain. Yang satu bros dengan icon tersenyum dan yang satunya lagi dengan icon cemberut".


"Setelah tugas kalian selesai, di hole terakhir para pemain akan Mami minta untuk memasangkan bros tersebut di sebelah nametag kalian." Jelas Mami Sari secara detil.


Merin mengangkat tangannya menginterupsi. "Mi, memangnya ada pemain golf yang mau di repotin seperti itu? Maksud aku, kita kan masih masa percobaan.. Penguasaan medan lapangan masih minim banget. Mereka kesini mau senang-senang dan rileks, takutnya sama kita nanti jadi stress, Mi.." Ujar Merin.


"Sebelum pemain golf turun lapangan, Mami akan tanya apakah mereka mau dengan caddy yang masih training atau tidak. Kalau ada yang mau, Mami arahkan pada kalian. Nanti kalian bisa saja turun lapangan bersama caddy senior." Jawab Mami Sari menatap Merin.


Tak lama kemudian, Sandra dan rekan-rekannya berjalan menuju sebuah tangga yang berada di sisi kiri titik awal pemberangkatan para pemain golf. Sandra melihat sudah ada beberapa caddy senior yang tengah duduk dengan grupnya menunggu giliran.


...🌻🌻🌻...


Sandra melirik sebuah arloji kecil yang melingkar di tangan kirinya. Sudah 90 menit Ia duduk menunggu di tangga. 5 orang rekannya sudah lebih dulu di panggil oleh Mami Sari untuk menemani para pemain golf. Tinggal tersisa 5 orang lagi termasuk dirinya.


Matahari sudah menyingsing lebih tinggi. Harapan Sandra bisa turun ke lapangan golf pukul 6 pagi sirna. Ia sudah bisa membayangkan teriknya matahari di tengah lapangan nanti.


"Sandra!". Panggil Mami Sari tiba-tiba.


Sandra lantas segera berdiri dan menghampiri Mami Sari.


"Kamu bawa Pak Teguh ya! Tas golf nya sudah ada di belakang buggy car. Kamu harus cek lebih dulu jumlah stik golf dan covermya lalu kamu konfirmasi pada beliau."Ucap Mami Sari mengingatkan.


"Baik, Mi!".


Sandra lantas segera membuka tas golf berwarna hitam dan dengan teliti menghitung jumlah stik serta melihat stik mana saja yang menggunakan pelindung maupun tidak. Setelah selesai menghitung, Sandra lantas berdiri di sisi buggy car menunggu seseorang yang bernama Pak Teguh.

__ADS_1


"Halo". Suara bariton menyapa Sandra dari belakang. Sandra lantas membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang pria yang berusia sekitar 50-an sedang tersenyum ke arahnya.


Sandra sedikit menundukkan kepalanya. "Pak Teguh?". Tanya Sandra dengan sopan.


Pria yang bernama Pak Teguh itu mengangguk. "Ayo kita langsung saja ke hole 1". Ujar Pak Teguh yang sudah mengambil posisi duduk di buggy car.


Sandra bergeming.


Pak Teguh lantas menepuk sisi buggy car yang kosong. "Kamu yang kemudikan buggy car ini. Tidak perlu berdiri bergantungan di belakang" Ujar Pak Teguh.


Sandra pun segera duduk di belakang kemudi lalu dengam sigap mengendarai buggy car menuju hole 1.


Di hole 1, Sandra memberikan sebuah stik golf yang berjenis driver untuk pukulan pertama dj teeing ground. Pak Teguh pun lantas tak membuang waktu untuk segera memukul.bola pertamanya.


Tak!


Dengan sigap Sandra melihat laju bola putih kecil yang melambung tinggi menuju tengah lapangan.


"GOOD SHOT!". Teriak Sandra.


Pak Teguh lantas memberikan stik golfnya kembali pada Sandra untuk di taruh ke dalam tas. Sandra lantas segera duduk kembali bersiap mengemudikan buggy car menuju ke titik jatuhnya bola.


"Tunggu sebentar ya". Ujar Pak Teguh seraya memegang lengan Sandra. Sandra tertegun namun berusaha bersikap biasa saja


"Hey! Majuin sedikit dong buggy car nya!". Ujar seorang caddy senior dari arah belakang.


Sandra dengan cepat memajukan buggy car. Setelah Ia rasa jaraknya cukup, Sandra segera turun dan berdiri di sisi buggy car menunggu Pak Teguh yang terlihat sedang menyapa seorang pemain.


Tak terlihat siapa pemain golf yang sedang mengobrol dengan Pak Teguh karena terhalang oleh tubuh caddy senior dan tubuh Pak Teguh.


Tak lama kemudian, Pak Teguh terlihat berbalik menuju ke arah Sandra. Saat itulah Sandra bisa melihat dengan jelas sosok pemain golf yang di sapa oleh Pak Teguh.


Seorang pria berwajah tampan bak malaikat sedang menatap dengan netra mata tajamnya pada Sandra.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


Good night! 😴


__ADS_2