
Keesokan harinya tepat pukul 8 pagi di mana seharusnya Satya sudah pergi ke kantor, namun justru Satya harus menghadapi Nadya yang sedang menginterogasi dirinya. Istri pertamanya itu benar-benar menguji kesabarannya di pagi hari. Tak ayal di lantai 3 rumah megah itu sudah seperti neraka bagi Satya. Bukannya menemukan kedamaian, Ia justru sering sekali tersulut emosi.
"Katakan padaku kemana kamu selama tiga hari hah? Kamu gak pergi dalam urusan kantor kan?!". Cecar Nadya tak henti.
"Sudah kubilang aku pergi urusan bisnis, Nadya!" Ujar Satya. "Sejak kapan kamu peduli dengan pekerjaanku huh?".
"Bohong! Kamu bohong, Satya! Aku mendengar Ayahmu bicara dengan Mama di taman! Kamu gak ada jadwal business trip apapun!!!" Ucap Nadya dengan berteriak. "Kemana kamu pergi tiga hari kemarin????Jawab aku dengan jujur!".
Satya menyugar rambutnya dengan kasar. Ia melonggarkan ikatan dasi di leher. Penampilan Satya yang tadinya rapi pun menjadi sedikit berantakan kembali. "Kau tidak perlu mencampuri urusanku seperti aku tidak pernah mencampuri urusanmu". Desis Satya.
Nadya terperangah mendengar penuturan Satya. "Apa kamu akhirnya melakukan apa yang aku sarankan?". Nadya menatap Satya dengan berkaca-kaca. "Apa kamu akhirnya tidur dengan wanita lain agar kita berdua impas?". Tanya Nadya. Sikap Nadya seketika berubah 180°. Suaranya terdengar bergetar.
Satya menatap Nadya tepat ke dalam manik mata wanita itu. Sedetik kemudian Satya mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "Kau tahu aku, Nadya..." Ujar Satya pelan. "Bahkan selama berpacaran denganmu saja aku tidak pernah menyentuhmu melewati batas. Aku tidak pernah membuka bajumu walau hanya 1 kancing".
"Aku bukan pria seperti itu yang bisa menghabiskan waktu satu malam dengan wanita asing yang baru aku temui.. Kalaupun aku akan menyentuh wanita lain, akan aku lakukan dalam ikatan pernikahan. Kau camkan perkataanku". Sahut Satya seraya hendak berjalan meninggalkan Nadya.
Nadya lantas segera menarik tubuh Satya hingga kembali menghadap ke arahnya. "Apa katamu?! Kamu berniat menikah lagi, begitukah maksudmu?!". Tanya Nadya kembali emosi.
"Sesukamu saja mengartikan ucapanku seperti apa, Nad." Ujar Satya malas.
"Kamu jahat, Satya!!! Aku gak sudi ya di madu!!! Aku gak mau kamu bawa racun dalam pernikahan kita!!". Teriak Nadya.
Satya menatap Nadya dengan tajam. Ia condongkan tubuhnya mendekat. "Pernikahan kita sudah hancur, Nadya. Kau sendiri yang membawa racun ke dalam pernikahan ini hingga benar-benar mematikan seluruh perasaanku padamu".
Satya menarik kembali tubuhnya berdiri tegak. "Aku masih sangat baik. Setelah apa yang kau lakukan padaku, aku tidak menceraikanmu, aku masih memenuhi seluruh keperluanmu, aku masih menjaga aibmu di depan kedua orang tuamu dan juga kedua orang tuaku". Ujar Satya menatap Nadya dengan serius. "Andaikan kau hanya kupergok makan dengan pria lain, mungkin bisa kumaafkan. Tapi apa yang kau harapkan dariku ketika aku melihat istriku di gagahi oleh pria lain huh?? Sudahlah aku bosan membahas ini terus!". Ujar Satya melangkah seraya mengibaskan tangannya ke udara.
Nadya lantas dengan cepat meraih sebuah bantal kecil dari atas sofa lalu melemparnya pada punggung Satya. Satya membalikkan tubuhnya dengan tersenyum miring tak peduli lalu melangkah kembali masuk ke dalam lift.
"SIalan.... Kamu hanya milik aku, Satya! Selamanya milik aku!". Desis Nadya penuh emosi seraya menatap pintu lift yang tertutup.
__ADS_1
Sesampainya di lantai 1, Satya lalu menyapa kedua orang tuanya yang sedang sarapan. "Ma.. Pa.. Aku berangkat dulu ke kantor". Ujar Satya to the point.
"Loh kamu tidak sarapan dulu?" Tanya Grace menatap sang putra. Wanita paruh baya itu semakin mengerutkan kening saat melihat penampilan Satya yang sedikit berantakan.
Grace pun berdiri seraya membetulkan dasi sang putra dan menata sedikit rambut Satya yang menjuntai ke dahi. "Tumben kamu seperti ini. Biasanya anak Mama rapi banget". Ujar Grace menepuk kecil jas berwarna hitam yang membalut tubuh gagah sang putra.
"Aku sedikit-terburu-buru, Ma." Sahut Satya tersenyum.
"Nadya memangnya belum bangun?". Timpal Chandra.
"Sudah, Pa."
Chandra mengangguk dan menatap Satya dengan seksama. "Sebelum kau berangkat ke kantor, ikut aku ke ruang kerja dulu". Ucap Chandra seraya beranjak berdiri.
Satya dan Grace saling menatap hingga Satya hanya mengangkat bahu bingung. Tanpa membuang waktu, Satya segera menyusul Chandra ke ruang kerja yang letaknya di lantai 2. Satya masuk begitu saja tanpa mengetuk lebih dulu. Ia lantas menghampiri Chandra yang duduk di sofa.
"Ada apa, Pa?". Tanya Satya.
Satya mengerutkan kening bingung. "Kenapa papa bertanya seperti itu?". Tanya Satya.
"Kamu tahu kan bahwa permikahan mu dengan Nadya sangat penting untuk kedua keluarga? Terlepas dari kalian berdua memang saling mencintai pada awalnya". Ujar Chandra.
Satya hanya mengangguk tanpa menjawab apapun.
"Aku harap permasalahan apapun yang terjadi dalam pernikahanmu, kau bisa menyelesaikannya." Sahut Chandra. "Dan..."
"Kau kemana selama tiga hari? Aku mendengar kau tidak memiliki jadwal business trip apapun dari sekretaris kantor".
Satya menghela napas. "Aku ada urusan pribadi". Ujar Satya singkat.
__ADS_1
"Urusan pribadi apa?"
"Apa papa serius menanyakan hal ini? Aku sudah 26 tahun dan menikah. Tidak semua urusanku perlu papa ketahui kan?". Tanya Satya.
"Aku hanya tidak mau kau melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dan mencoreng nama baik keluarga. Kau harus perhatikan sikapmu di luar sana".Ujad Chandra tegas.
"Jadi, kemana kau selama tiga hari kemarin dengan Nino?".
Satya menyugar rambutnya hingga sedikit berantakan kembali. Ah... Sial... Ini benar-benar tidak mudah...Satya bergumam dalam hati
"Aku sibuk mencari hadiah". Ujar Satya berbohong.
Chandra mengerutkan kening. "Hadiah? Hadiah untuk siapa?".
Satya mengulas senyum di bibir. "Dua pekan lagi Nadya akan berulang tahun, aku pergi untuk mencari sebuah villa untuknya. Ada beberapa lokasi yang Nino berikan, jadi aku pergi untuk survey langsung". Ujar Satya.
"Tidak mungkin kan aku bicara jujur? Aku mau memberikan kejutan".
Chandra sejenak menatap sang putra. Pria paruh baya itu pun lantas menepuk pundak Satya dengan tersenyum lebar.
"Papa pikir kau pergi kemana! Kalau memang seperti itu kan tidak masalah! Justru ini hal yang baik!". Ujar Chandra.
"Tentu saja ini hal yang baik, Pa". Timpal Satya.
"Baiklah.. Kalau begitu kau berangkat sekarang ke kantor. Papa akan tutup mulut mengenai rencana.kejutanmu kali ini".Sahut Chandra.
Satya pun lantas beranjak berdiri dan segera keluar dari ruang kerja. Ia menggosok rambutnya hingga benar-benar berantakan. "Sial.. Kalau begini aku benar-benar harus membeli sebuah villa untuk Nadya". Satya menggerutu kesal.
...🌴🌴🌴...
__ADS_1
Hi, like, komen, hadiah yaa!😆
Udah mau 50 bab, rasanya sayang kalau berhenti di tengah jalan ya? Walau karya yg ini sepi bgt deh ampun 🤣