
Satu Bulan Kemudian...
Akhir pekan yang cerah. Sandra menatap langit biru dengan sinar matahari pagi yang hangat. Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa rambut panjang hitam kelam yang masih tergerai indah. Bisa di pastikan lapangan golf akan sangat ramai hari ini. Biasanya para pemain golf akan meluangkan waktunya bersama teman, keluarga maupun rekan bisnis untuk sekedar bermain golf bersama. Bahkan ada pula yang membuat turnamen kecil yang terdiri dari enam hingga sepuluh pasang pemain golf.
Sandra melangkah dengan hati yang sangat baik hari ini. Selama tiga hari berturut-turut Satya menemaninya di apartemen. Bahkan pria itu tidak pulang sama sekali ke rumahnya hingga Sandra pun sempat terbesit rasa heran namun Ia urungkan untuk bertanya. Yang penting sang suami berada di sisinya, Sandra sudah bahagia!
Sandra menatap pantulan dirinya di cermin, melihat riasan wajahnya yang bernuansa nude natural. Bibirnya pun hanya Ia poles lip cream berwarna coral. Sandra lantas memakai topi caddynya.
Setelah dirasa penampilannya sudah sempurna untuk bekerja, Sandra lantas segera ke luar ruangan dan menuju titik utama pemberangkatan pemain golf.
...
Di sisi lain, Satya yang sedang berada di dalam mobil sedang gelisah bukan kepalang. Berulang kali Ia mencoba menghubungi Sandra, namun tidak juga mendapat jawaban. Satya pun mencoba menghubungi Mami Sari, namun hal yang sama Ia terima yakni tidak ada jawaban. Satya melempar pandangannya ke luar melalui jendela mobil dengan menghela napas kasar.
"Ini akhir pekan. Harusnya kau bisa lebih rileks.".Sahut Chandra pada sang putra.
Satya menoleh sekilas dan melempar tatapannya kembali ke luar. "Justru akhir pekan ini aku ingin istirahat" Ujar Satya. "Papa kan tahu aku baru saja pulang dari business trip".
Perjalananan bisnis yang bisa memberimu cucu...
Satya bergumam sekenanya dalam hati. Tadi malam baru saja Satya pulang ke rumahnya setelah tiga hari Ia tidur bersama Sandra di apartemen. Namun tadi pagi Chandra justru memaksa dirinya untuk gabung bermain golf bersama beberapa relasi perusahaan. Jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi? Satya hanya bisa menggerutu sepanjang perjalanan di tambah hatinya pun gelisah tak karuan perihal Sandra.
"Sudahlah kita nikmati saja pagi ini. Lumayan jika kita menang turnamen kecil-kecilan ini, kita bisa dapat motor sport!". Sahut Chandra.
"Aahh.. Aku tidak tertarik." Timpal Satya.
"Aku hanya ingin pulang dan tidur"
__ADS_1
"Kau bisa tidur setelah kita pulang bermain golf. Awas saja kalau kau bermain asal-asalan nanti di lapangan! Akan aku ambil sahammu 5% dalam perusahaan". Ancam Chandra.
"Mana bisa begitu!". Protes Satya.
"Tentu saja aku bisa. Perusahaan itu masih di bawah kendaliku sebagai pemilik utama hehehe".
Satya hanya melengos tanpa menjawab apapun. Hatinya sudah gelisah malah di buat dongkol oleh Chandra!
...
"Sandra, pagi ini kamu temani pemain golf yang berada dalam tim ya. Mereka sedang turnamen kecil, ada 7 pasang pemain golf. Kamu bawa pemain atas nama Tuan Sean." Ujar Mami Linda.
Sandra terdiam sejenak. Ingin Ia menyampaikan sesuatu namun hal itu tidak mungkin untuk Ia ungkapkan. "Mmmm.. Maaf, Mi.. "
"Kenapa Sandra?". Tanya Mami Linda menatap Sandra.
"Ngomong-ngomong Mami Sari kemana ya? Kok saya gak lihat sejak tadi."
Mami Linda pun segera berlalu meninggalkan Sandra yang berdiri termangu. Bagaimana ini? Tidak apa-apa kan kalau hanya sekali? Toh aku bisa apa....
Sandra bergumam dalam hati seraya berjalan menuju buggy car nomor 6. Satya sudah memperingatkan Sandra agar tidak menemani pemain golf pria di lapangan. Pria itu pun pada akhirnya memberitahukan status Sandra sebagai istrinya pada Mami Sari agar Mami Sari semakin hati-hati memilihkan pemain golf yang akan di bawa oleh Sandra, khususnya tidak boleh pria! Maka dari itu sudah satu bulan lamanya, Sandra selalu membawa pemain golf wanita yang jusrru cenderung lebih merepotkan dibandingkan pemain golf pria.
Sandra menghela napas. "Biarin deh.. Lagipula dia gak akan tahu hehehe". Sandra terkekeh menghibur hati.
"Apa kau caddy yang akan menemaniku di lapangan?". Tanya seseorang dengan suara baritonnya.
Sandra membalikkan tubuhnya ke belakang dan melihat seorang pria muda dengan tubuh yang tegap dan gagah berdiri menatapnya. Sandra mengamati wajah pria itu. Netra mata cokelatnya benar-benar memancarkan aura yang hangat namun misterius. Dagunya yang di tumbuhi jenggot tipis membuat Sandra tanpa sadar tersenyum kecil.
__ADS_1
Bisa mati aku jika Satya melihat aku dengan pria seperti ini.. Dia tampan tapi tetap lebih tampan suamiku hehehhehe
Sandra bergumam dalam hati hingga sedikit cengengesan.
"Halooo.. Apa kau mendengarku?".Ujar pria itu dengan sedikit menundukkan kepala menatap pada manik mata Sandra.
"Eehh Iya.. Maaf Tuan!". Sandra sedikit membungkukkan tubuhnya. "Saya Sandra, caddy yang akan menemani anda Tuan Sean".
Pria yang bernama Sean itu lantas tersenyum simpul. "Baiklah, Sandra. Semoga aku tidak merepotkanmu. Aku tidak terlalu mahir dalam bermain golf". Ujar Sean.
"Sudah tugas saya untuk membantu pemain di lapangan golf, Tuan." Ujar Sandra dengan sopan. "Apa kita berangkat sekarang?".
"Tunggu dulu. Aku tanyakan dulu pada rekanku". Sean lantas melangkah menghampiri buggy car yang berada di belakang buggy car milliknya. Tak lama kemudian pria itu melangkah kembali dan duduk begitu saja di balik kemudi buggy car. "Ayo kita langsung saja. Sebetulnya masih ada 1 pasang pemain yang sedang kita tunggu. Tapi tak masalah, kita bisa menunggunya di hole 1 saja".
Sandra terdiam mendapati Sean yang duduk di balik kemudi. Sean menyadari sikap canggung Sandra dan lantas tersenyum tipis. "Aku yang akan menyetir. Tolong bersikap santai saja denganku hehe".
"Aah baik kalau begitu, Tuan". Sandra lantas segera duduk di sisi Sean dengan menjaga jarak.
Di sisi lain, sebuah sedan mewah limited edition baru saja parkir di area Golf Country Club. Dua pria tampan lintas generasi terlihat keluar dari mobil.
Chandra segera membuka bagasi dan mengambil tas golf di ikuti oleh Satya yang masih malas-malasan. "Cepatlah! Kenapa kau seperti keong!". Ujar Chandra yang kesal melihat sikap sang putra yang aneh.
"Iya. Papa bawel sekali!". Decak Satya seraya mengambil tas golf miliknya dan menutup bagasi dengan kencang.
"Semua orang sudah menunggu kita dari tadi. Coba kau bayangkan berapa banyak pemain golf yang harus mengantri karena menunggu kita untuk datang?" Ujar Chandra seraya melangkah dengan cepat.
Satya mengangkat bahu. "Aku malas membayangkan hal yang tidak penting" Ujar Satya dengan acuh.
__ADS_1
...🌴🌴🌴...
Hari ini sempetnya 1 bab aja yaa 😅