Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 25


__ADS_3

"Saya tidak telat kan, Tuan?". Ujar Sandra setelah berada di hadapan Satya.


Satya mendongakkan kepalanya menatap penampilan Sandra yang cukup berantakan dengan rambut yang habis tertiup angin sepanjang perjalanan hingga keringat di lehernya karena berlari kecil.


"Wah.. Kau benar-benar mengeluarkan usaha yang luar biasa. Apa kau sangat tergesa-gesa agar tidak makan malam lagi denganku, huh?". Satya menyeringai seraya mengangkat sebelah alisnya menatap Sandra.


"Ya. Saya berlari, naik ojek, berlari lagi dan sekarang saya di sini". Ujar Sandra lugas.


"Duduklah.. Kenapa kau masih berdiri?". Ujar Satya mengedikkan dagunya ke bangku di sebelah Sandra.


Sandra menarik bangku tersebut dan mendudukkan tubuhnya. Ia benar-benar lelah. Selama 4 jam Ia harus berlari kecil di lapangan golf saat menemani pemain yang di bawanya, setelah pulang kerja pun Ia masih harus terburu-buru mengejar waktu demi tidak terlambat walau hanya 1 menit saja.


Satya menatap Sandra yang malam ini jauh dari kata rapih sedangkan dirinya berpenampilan modis layaknya pria metropolitan khas eksekutif muda.


"Tuan, bagaimana kalau kita pindah tempat makan saja?". Ujar Sandra setelah netra matanya menyusuri seluruh penampilan pengunjung yang datang ke restaurant.


"Kenapa memangnya?".


"Aku merasa risih..." Jawab Sandra pelan.


"Risih? Untuk apa kau merasa risih?" Tanya Satya mengerutkan keningnya bingung.


"Coba anda lihat ke sekitar... Seluruh penampilan pengunjung sangat rapih dan terlihat mahal." Ujar Sandra.


"Lalu coba lihat saya... Bahkan saya duduk 1 meja bersama anda saja mungkin orang lain menganggapnya saya pembantu dan anda majikannya" Lanjut Sandra.


Satya melongo mendengar penuturan Sandra hingga netra matanya pun mau tak mau ikut menyusuri penampilan para pengunjung restaurant. Keningnya bertaut. Apa yang spesial? Mereka semua biasa saja di mataku. Satya bergumam dalam hatinya.


Ia lantas menatap Sandra yang tertunduk gugup. Satya tersenyum tipis. Ia lalu membuka bomber jaket berwarna hitam dengan bahan suede yang membalut tubuh gagahnya. Satya lantas berdiri dari bangku dan menghampiri Sandra. Dengan cepat Ia menyampirkan jaket hitamnya pada tubuh Sandra.


"Pakailah jaketku itu. Setidaknya menutupi bajumu yang sedikit lusuh karena keringat". Sahut Satya setelah kembali duduk.


Sandra menunduk menatap jaket Satya. Aroma parfum mahal seorang pria memenuhi indra penciumannya. Aroma yang lembut dan elegan membuat Sandra beberapa saat terbuai.


"Cepat pakai. Aku tidak mau pindah restaurant. Nanti kau malah membawaku ke warung kaki lima. Aku tidak suka tempat makan seperti itu". Ujar Satya seraya menatap Sandra.


Mau tak mau Sandra segera memakai jaket Satya. Tubuhnya yang kecil terlihat tenggelam di dalam jaket tersebut. Namun entah mengapa Sandra merasa nyaman. "Terima kasih, Tuan. Pulang dari sini saya kembalikan". Sahut Sandra.

__ADS_1


Satya mengangguk dan menyerahkan sebuah buku menu pada Sandra. "Sekarang kau pesan makan apa saja yang kau inginkan. Aku sudah lapar". Ujar Satya.


Sandra segera membuka buku menu dari Satya. Sandra menatap deretan menu khas Eropa beserta harga yang tersemat di bawahnya.


Glek


Untuk makan aja harus habisin uang berapa banyak di sini.. Dasar orang kaya.


Batin Sandra masih membulak balik buku menu dengan cermat. Ia berniat akan mencari menu yang paling mahal di restaurant itu!


...🌻🌻🌻...


"Whueekk... Whueeekk.." Sandra memuntahkan makanannya yang tadi Ia lahap di restaurant.


Satya memijit pelipisnya melihat Sandra yang sangat kepayahan karena mual. Tangannya yang terulur ke udara di balik punggung Sandra tertahan karena Ia ragu untuk menyentuh tengkuk wanita itu.


"Whueeekk... Oh astaga perut gw..." Gumam Sandra yang merasa perutnya serasa di aduk-aduk.


Satya menggelengkan kepalanya pelan dan dengan cepat menepuk punggung Sandra. "Keluarkan semuanya agar perutmu terasa enak". Ujar Satya seraya terus menepuk.


Tak lama Sandra kembali berdiri tegak. Ia mengelap mulutnya dengan punggung tangan kanannya. Hal itu tak luput dari perhatian Satya.


"Lekas pakai ini. Basuh mulut dan tanganmu itu". Ujarnya.


Sandra lalu membasahi tisu dengan air dan mengelap mulut serta punggung tangannya. Ia pun meneguk air mineral hingga tersisa setengah botol. "Terima kasih". Ujar Sandra pelan.


"Sudah enak? Ayo kita kembali ke dalam mobil". Ajak Satya seraya membuka pintu untuk Sandra.


Satya lantas mematikan lampu hazard lalu mulai mengemudikan mobilnya membelah jalanan yang terlihat sudah tidak terlalu padat karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Kau sangat lucu. Kenapa kau bisa muntah setelah kubawa makan di restaurant itu?". Ujar Satya tanpa menatap ke arah Sandra.


"Semua makanan yang saya pesan tidak cocok di lidah dan perut saya, Tuan" Sahut Sandra.


Satya menoleh sekilas. "Menu yang kau pesan itu adalah salah satu menu yang mahal. Bahkan foie gras adalah favoritku". Ujar Satya.


"Ughh.. Tidak.. Itu.. Sama sekali tidak enak. Kata Tuan itu hati angsa kan? Itu membuatku mual. Setiap suapannya mengingatkanku dengan wajah bebek atau angsa yang imut. Aku merasa bersalah memakannya".

__ADS_1


"Lalu yang kecil-kecil berwarna hitam tadi.. Oh Tuhan saya tidak ingin lagi memakannya! Itu sangat amis, asin dan juga berlendir.. Ketika itu masuk ke dalam mulut saya, itu terasa mencair... Ugh.. Whueekss saya masih mual!". Ujar Sandra panjang lebar.


"Hey! Hey! Jangan muntah di dalam mobilku! Apa kau masih mual?". Satya menatap panik ke arah Sandra.


Dengan gesit lengan kirinya merogoh dashboard yang berada di depan Sandra. "Coba kau cari di situ apa ada minyak kayu putih atau semacamnya untuk meredakan mualmu". Titah Satya.


Sandra membungkukkan sedikit tubuhnya ke depan. Ia membuka kotak P3K dan melihat ada minyak kayu putih. Sandra mengambil minyak tersebut lalu matanya tertuju pada sebuah benda panjang kecil di dalam kotak tersebut.


"Eh.. Ada lipstik". Gumam Sandra.


Satya menoleh ke arah Sandra. "Ada apa?".


Sandra mengambil lipstik dari kotak P3K dan memperlihatkannya pada Satya."Ini Tuan. Ada lipstik hehe". Sandra terkekeh pelan.


Sialan Nadya. Satya mengumpat dalam hati.


"Simpan saja lagi ke dalam kotak. Sudah cepat kau hirup minyak kayu putih itu". Titah Satya.


Sandra segera menaruh kotak P3K ke dalam dashboard dan menghirup minyak kayu putih. Tubuhnya Ia sandarkan dengan nyaman.


"Tuan".


"Ya?" Satya menoleh sekilas.


"Yang kecil-kecil hitam itu apa ya? Yang saya makan di restaurant". Ujar Sandra bertanya.


"Oh.. Kaviar."


"Iya saya tahu namanya kaviar karena melihat di buku menu. Tapi itu apa?". Tanya Sandra lagi.


"Itu telur ikan mentah. Sama saja seperti telur ikan salmon yang berwarna orange yang kau lihat di sushi. Kaviar dari ikan sturgeon". Jelas Satya.


"Ugh kenapa mahal sekali hanya untuk telur ikan. Sudah mahal, tidak enak pula!".Sandra tanpa sadar menggerutu.


"Tapi Kaviar memiliki penggemarnya sendiri. Dan telur ikan itu sulit di dapatkan. Itulah mengapa harganya mahal." Ujar Satya.


"Daripada kaviar, aku lebih baik telur ikan lele. Digoreng sudah sangat enak! Tuan pasti belum pernah coba kan?".

__ADS_1


Satya melongo mendengar penuturan Sandra. "Telur ikan lele?".Tanya Satya. "Bhuahahahhahahahah baru kali ini aku mendengar kaviar di bandingkan dengan telur lele!". Satya tertawa terbahak-bahak seraya memegang erat kemudi mobilnya.


...🌴🌴🌴...


__ADS_2