
"Loh Nak... Katanya kamu masuk jam 10 hari ini, kok sekarang udah mau berangkat kerja?". Tanya Retno saat melihat Sandra sudah memakai seragam caddy nya.
"Iya, Bu. Sandra mau ketemu orang dulu sebelum kerja". Ujar Sandra seraya melangkah menuju meja makan untuk mengambil 1 buah ubi goreng.
"Kamu semalam pulang jam berapa? Di jaga kesehatanmu, Sandra. Apalagi kamu bekerja di lapangan". Ucap Retno.
"Semalam Sandra sampai rumah jam 11 malam, Bu. Kemalaman sih hehehe".
"Bapak di mana?" Tanya Sandra saat tidak melihat Dimas di ruang makan. Biasanya pagi hari seperti ini sang bapak sudah duduk santai untuk sarapan dan menikmati secangkir kopi hitam.
"Bapak pergi ke klinik. Mau ambil hasil rontgen katanya". Jawab Retno.
"Ya sudah Sandra berangkat ya, Bu". Sandra melangkah keluar menuju teras yang di ikuti oleh Retno dari belakang.
"Nak... Kapan kamu dapat gaji? Nanti tambahi uang belanja untuk Ibu ya.." Ucap Retno.
Sandra mengangguk. "Iya, Bu. Nanti Sandra tambahi kalau sudah keluar uang gajinya hari senin. Doakan kerja Sandra lancar, Bu". Jawab Sandra seraya mencium punggung tangan sang Ibu.
Tanpa membuang waktu, Sandra segera pergi dari rumah. Ia memutuskan untuk berjalan menuju gapura perumahannya daripada naik ojek. Menjadi caddy mulai mempengaruhi pola hidupnya. Ia jadi lebih senang berjalan kaki jika jaraknya tak terlalu jauh seperti jarak rumahnya ke depan gapura.
Tin! Tin!
Sebuah suara klakson mobil menghentikan langkah Sandra. Ia memalingkan wajahnya ke belakang dan melihat sebuah sedan mewah berwarna hitam pekat melaju pelan ke arahnya.
Sandra mengerutkan keningnya bingung. Ia tak mengenali mobil tersebut hingga Sandra memutuskan untuk berjalan kembali. Namun baru dua langkah berjalan mobil tersebut berhenti di depannya. Kaca mobil di bagian pintu penumpang terbuka perlahan.
"Kenapa kau terus berjalan setelah aku klakson!". Ujar Satya menatap Sandra yang terlihat terkejut dengan kehadiran pria itu.
"Ehh.. Tuan Satya?". Cicit Sandra. Ia melangkah mundur memperhatikan mobil yang di tumpangi oleh Satya pagi ini. "Maaf, Tuan. Saya tidak mengenali mobil ini. Jadi saya terus jalan saja ehhehe" Sandra terkekeh menampakkan barisan giginya yang putih.
"Kau pikir mobilku hanya 1?" Cibir Satya tak habis pikir.
"Cepat masuk!"
"Saya?" Tunjuk Sandra pada dirinya sendiri.
Satya merasa gemas melihat kelambanan Sandra. "Bukan kau! Tapi bayanganmu!". Ujar pria itu.
__ADS_1
Sandra melirik sekilas bayangan dirinya dan terkekeh merasa bodoh. Sandra lantas menarik tuas pintu dan segera masuk ke dalam mobil.
"Pasang seatbelt mu" Titah Satya sambil mulai melajukan mobilnya ke luar perumahan Sandra.
Sandra melihat penampilan Satya yang terbalut dengan pakaian kerja formal. Jas berwarna hitam dengan kemeja berwarna biru muda di baliknya. Tak lupa dasinya yang senada dengan warna jasnya serta rambut yang klimis terlihat di tata oleh sesuatu membuat penampilan pria itu sangat gagah dan maskulin.
"Tuan, tadi kata Tuan di telfon kita ketemu di tengah jalan saja. Kenapa Tuan tiba-tiba ada di dekat rumah saya?". Tanya Sandra menginterupsi Satya yang tengah fokus mengemudi.
"Aku tidak tega jika memikirkan kau menungguku di pinggir jalan". Jawab Satya.
"Apa rumah Tuan dekat dari rumah saya?".
"Tidak. Lokasi rumahku sangat jauh dari rumahmu. Lokasiku di barat sedangkan lokasimu di timur. Hehehhe" Satya melirik sekilas pada Sandra seraya terkekeh pelan.
Sandra memasang raut wajah terkejut mendengar penuturan Satya. "Astaga Tuan! Kalau saya tahu rumah kita berjauhan lebih baik kita bertemu saja di pertengahan jalan!".
"Rumah kita boleh berjauhan tapi hati kita tidak boleh berjauhan hahahahahaha" Timpal Satya asal.
Sandra melongo mendengar Satya melontarkan candaan yang sukses membuatnya membeku. Sandra yakin kini pipinya semerah tomat rebus!
Satya melihat Sandra dengan mimik wajahnya yang konyol. "Hey aku bercanda! Kau serius sekali!".
Satya menyugar pelan rambutnya. "Yaaahh.. Kau tahu.. Hidup ini penuh misteri. Kadang membuatmu senang kadang membuatmu gila. Jadi lelucon itu perlu untuk sedikit menghibur diri". Ujar Satya dengan wajah serius menatap ke depan.
"Apa Tuan sedang curhat dengan saya?"
Satya tertawa pelan menatap pada Sandra. "Kau boleh menganggapnya seperti itu".
"Apa kau sudah sarapan?" Tanya Satya mengalihkan pembicaraan.
"Sudah. Saya makan 1 buah ubi goreng". Jawab Sandra.
Satya mengerutkan kening. "Ubi goreng? Hanya itu? Apa kau cukup sarapan seperti itu saja?"
Sandra mengangguk seraya mengulas senyum. "Tentu saja cukup!".
"Pantas saja tubuhmu kecil. Pekerjaanmu berlari-lari tapi kau memberi energi pada tubuhmu hanya dengan 1 buah ubi goreng". Decak Satya.
__ADS_1
"Temani aku sarapan dulu. Kau tidak akan telat kan?"
Sandra melihat arloji yang melingkar di tangannya sekilas. "Masih jam 8.30 Tuan. Saya masuk jam 10 pagi. Masih aman hehehe.. Tapi bagaimana dengan anda?"
Satya mengedikkan bahunya acuh. "Aku bisa datang semauku ke kantor. Tak masalah". Ujar Satya.
Sandra mengangguk-anggukkan kepalanya merasa bodoh. Ia berasumsi bahwa Satya adalah bos di suatu perusahaan. Walau Ia tak tahu betul latar belakang keluarga pria itu. Yang jelas Sandra tahu hanyalah Satya adalah anak pemilik Golf Country Club saja.
Satya lalu melajukan mobilnya menuju sebuah pujasera yang di dalamnya banyak terdapat penjual makanan. Lokasinya berada di area strategis dekat perkantoran. Pujasera tersebut sangat bersih dan rapi.
Satya lalu mengajak Sandra untuk turun dari mobil. Sandra menaikkan resleting jaketnya agar seragam caddy yang Ia pakai tidak terlihat oleh siapapun.
"Aku senang makan bubur ayam di sini. Pujasera ini satu-satunya tempat makan kaki lima yang bisa aku tolerir. Tempatnya bersih dan nyaman". Ujar Satya seraya menarik sebuah bangku dan mendudukkan dirinya di ikuti oleh Sandra.
"Kau mau mencoba bubur ayamnya? Aku jamin kau tak akan menyesal!" Sahut Satya menatap Sandra dengan netra tajamnya.
Sandra berpikir sejenak lalu mengangguk. "Setengah porsi saja bisa tidak, Tuan?".
"Aisshh kau ini! Lebih baik sekaligus satu porsi saja!". Ujar Satya seraya bangkit dari duduknya untuk memesan 2 mangkok bubur ayam.
Sesaat menunggu, bubur ayam pesanan keduanya pun datang. Aromanya menggugah selera. Sandra lalu menambahkan daun bawang, lada putih, kecap serta beberapa sendok sambal. Sandra lalu mengaduk-ngaduknya.
Satya yang melihat bubur di mangkok Sandra justru mengerutkan kening. "Kenapa kau campur aduk seperti itu? Kau lihat buburmu... Kenapa jadi seperti muntahan kucing?". Tanya Satya.
"Tuan! Jaga bicaranya. Kita sedang makan!". Sandra memperingatkan.
Satya menggeser mangkok buburnya menjauh. "Ah sudahlah! Aku jadi tak berselera gara-gara melihat buburmu!" Gerutu Satya.
Sandra melongo melihat tingkah Satya. "Ini masih enak di makan, Tuan" Ujar Sandra menatap Satya.
"Tidak! Tampilan buburmu sudah seperti muntah kucing! Bahkan mengingatkanku seperti muntahmu tadi malam!" Satya bergidik.
Dasar tingkah orang kaya!
Sandra mengumpat dalam hati.
...🌴🌴🌴...
__ADS_1
Guysss love, komen, vote dan hadiahnya boleehh donggs untuk karyaku yg menyedihkan ini sepiinyaaa🤣 gaktau deh ini karya gak dipromosiin sama NT, gak kayak 2 karyaku sebelumnya yg rame karna dipromosiin sama sistem setelah dikontrak😂 Malah yg tentang bang reynald yg masih terus dipromosiin sama sistem padahal karya itu udah tamat dr 3 bulan lalu😅
Berpikir dilanjut apa gak yaaa ini bang satya dan sandra😅