Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 70


__ADS_3

Ruang VVIP Rumah Sakit


Setelah pemeriksaan di Unit Gawat Darurat selesai dilakukan, Satya akhirnya meminta Dokter Farhan agar memindahkan Sandra ke ruang perawatan. Kini Satya menatap Sandra yang masih belum sadarkan diri. Ia meraba kening Sandra dan merasakan suhu tubuh sang istri yang sudah berangsur turun tidak sepanas sebelumnya. Tangan Satya pun mengusap perut Sandra yang masih rata. Ia mengulas senyum menatap tangannya yang berada di atas perut sang istri.


"Terima kasih sudah hadir di antara kami.. Aku akan berjuang menjaga kalian berdua tetap aman di sisiku" Gumam Satya lalu mengecup perut Sandra dengan lembut.


Dddrrrtt... Ddrrrttt..


Ponsel Satya yang berada di saku celana jeansnya terasa bergetar. Ia lalu merogoh ponselnya dan melihat Nino yang menghubunginya. Satya lantas menggeser tombol hijau pada layar ponsel.


"Ada apa?". Ucap Satya tanpa basa-basi.


"Kau di mana bos?"


"Aku sedang menjaga istriku."


"istri yang mana?"


"Sialan! Memangnya istriku ada berapa!". Sentak Satya.


"Loh kenapa tanya aku?"


Satya menghela napas memijat pelipisnya. "Sudahlah katakan padaku ada apa kau menelfon? Bukankah sudah kubilang jangan menghubungiku hari ini?" Ujar Satya kesal.


"Aku tahu..Hanya saja ini masalah mendesak bos."


"Bisakah kita bicarakan itu nanti? Aku sedang di rumah sakit saat ini".


"Siapa yang sakit?"


"Sudah kubilang tadi kalau aku sedang menjaga istriku. Sandra di rawat saat ini. Jadi aku harus menjaganya".


"Di rumah sakit mana? Apa aku perlu menjemput kedua orang tuanya?"


Satya terlihat berpikir sejenak. Ia menimbang-nimbang baik buruknya. Bukan karena Ia tidak ingin orang tua Sandra tahu mengenai kondisi anaknya, namun Satya memikirkan kondisi hati Sandra yang masih belum stabil. Ia bahkan belum mendiskusikan dengan Sandra apakah mereka berdua perlu memberitahu situasi yang terjadi dengan jujur atau tidak.


"Jangan menjemput orang tuanya. Biar aku saja nanti yang memberitahunya langsung." Ujar Satya akhirnya.


"Baiklah. Jika kau butuh apapun, kabari aku saja."

__ADS_1


Tak lama kemudian Satya pun memutuskan sambungan telfon dan menaruh ponselnya ke atas nakas.


...🌻🌻🌻...


Nagara Corporation


Di sebuah ruangan mewah dan luas yang berada di lantai teratas gedung milik keluarga Nagara, Chandra yang sedang kedatangan sang besan kini tengah menikmati secangkir kopi seraya bercengkrama dengan santai. Sang besan, Aldanar tiba-tiba saja datang menemuinya ke kantor. Hal yang amat jarang dilakukan oleh sang besan. Biasanya Aldanar hanya menemui Chandra untuk menghabiskan waktu bersama dengan bermain golf atau mengadakan makan malam antara keluarga Nagara dan keluarga Carlton.


Aldanar terlihat menyusuri ruang kerja sang pemilik kerajaan bisnis keluarga Nagara. "Ruangan kerjamu sangat nyaman. Aku bisa betah berlama-lama disini" Ujar Aldanar bergurau.


Sejarah hubungan erat kedua keluarga merupakan sejarah yang panjang. Keluarga Nagara dengan keluarga Carlton sudah menjalin persahabatan sejak zaman kakek buyut mereka. Hingga kedua leluhur keluarga Nagara dan keluarga Carlton masing-masing memiliki bisnis yang seiring waktu berjalan menjadi perusahaan ternama yang menaungi banyak orang.


"Chandra, apa kau pernah berpikir ingin memiliki cucu?" Tanya Aldanar tiba-tiba.


"Tentu saja aku ingin. Putraku harus punya anak agar perusahaan memiliki penerus".


"Aku tadinya sama sekali tidak memikirkan tentang seorang cucu. Tapi aku berpikir bukankah lebih baik jika kedua anak kita memiliki keturunan?" Sahut Aldanar dengan memandang Chandra dengan serius.


"Pernikahan putra putri kita sudah cukup lama, namun sepertinya belum ada tanda-tanda Nadya hamil. Apa mereka terlihat harmonis di rumahmu?"


Chandra terkekeh pelan. "Kau tahulah.. Tidak ada pernikahan yang selalu harmonis" Ujar Chandra. "Ada kalanya mereka terlihat mesra, namun ada kalanya juga mereka terlihat acuh satu sama lain."


"Aku tahu". Ujar Aldanar seraya mengangguk. "Hanya saja kupikir hubungan mereka akan lebih erat jika ada anak di antara mereka".


"Ya. Semoga saja"


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan di pintu. "Masuk!". Seru Chandra. Pintu pun terbuka dan Nino melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana? Dimana Satya?" Tanya Chandra.


"Putra anda sedang mengurus sesuatu, Tuan. Kemungkinan dia baru bisa datang lusa ke kantor".Jawab Nino menutupi keadaan yang sebenarnya.


"Sepenting apa urusannya hingga dia mengabaikan pekerjaannya saat ini?"


"Dia tetap memantau pekerjaannya melalui email yang saya kirimkan padanya, Tuan". Sahut Nino.


"Kau hubungi lagi dia, katakan padanya kalau ada hal mendesak yang harus Ia lakukan." Titah Chandra.


"Apa menantuku jarang pulang ke rumah?" Timpal Aldanar yang sedari tadi hanya diam saja mengamati.

__ADS_1


"Dia saat ini pulang kerumah hanya empat kali dalam sepekan." Ujar Chandra seraya menatap Aldanar "Selebihnya dia selalu pergi ke luar kota. Mungkin saat ini pun dia sedang di luar kota".


Aldanar terdiam sejenak. Ia yang sudah mengetahui segalanya dari sang putri masih memilih bungkam. Ia terlanjur berjanji pada Nadya untuk membiarkan sang putri yang mengurus rumah tangganya dulu seorang diri.


"Apa kau tidak berniat untuk mencari tahu aktifitas putramu diluar sana?" Pancing Aldanar.


"Putraku sudah dewasa dan menikah. Tidak sepantasnya aku mengganggu ranah privasinya lagi walau sebenarnya aku ingin melakukannya hehehe" Chandra terkekeh tak menampik keinginannya. Namun Chandra pun sadar ketika melihat Satya yang marah karena dirinya selalu menanyakan setiap hal secara mendetil, Chandra akhirnya mencoba untuk menghargai privasi sang putra.


"Kau benar." Sahut Aldanar. "Aku juga seperti itu pada putriku. Hanya saja kau tahu kan, baik putramu atau putriku, mereka berdua sama-sama anak tunggal. Sama-sama harapan kita berdua dan kuharap hubungan keduanya jauh dari segala masalah".


Chandra menganggukkan kepala. "Tentu saja. Itu pula yang kuharapkan dari mereka. Aku ingin keluarga Nagara dan keluarga Carlton selalu bersahabat". Ujar Chandra seraya menyesap kopinya.


...


Nino yang baru saja keluar dari ruangan Chandra terlihat menekukkan wajahnya. Ia menghela napasnya dengan kasar seraya menjatuhkan dirinya di atas sofa berukuran sedang yang berada di dalam ruangannya.


"Bos ku memang sudah gila". Gumam Nino kesal.


"Sampai kapan aku harus ikut menutupi pernikahan keduanya dengan Sandra"


"Dia saja sudah menikah dua kali, aku sekalipun belum. Tapi walau begitu, aku justru sudah dipusingkan dengan rumah tangga orang lain"


"Aiissshh tak tahulah!".Gerutu Nino.


Nino lantas meraih ponselnya dari atas meja. Ia memutuskan untuk kembali menghubungi Satya.


Cukup lama terdengar nada sambung hingga akhirnya telfon pun terhubung. "Bos ini gawat" Ujar Nino.


"Gawat apa? Kalau bicara yang jelas sialan! Kau mengangguku saja!"


Nino terkekeh geli saat mendengar nada kesal Satya. "Ayahmu meminta kau secepatnya menemui dia. Kan sudah kubilang ada hal mendesak di kantor." Nino menjelaskan.


"Tidak ada hal yang lebih mendesak dari menemanj istriku yang sedang sakit! Kau mengerti?!"


Tuutttttt.....


Nino lantas menatap layar ponselnya dan melihat jika sambungan telfon telah diputuskan sepihak oleh Satya.


"Sialan..."

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


Hari ini bisanya nulis sedikit heheπŸ™


__ADS_2