
Hari ini hari libur Sandra dari pelatihan menjadi caddy. Setiap hari senin Golf Country Club tersebut memang libur tidak ada kegiatan operasional begitu juga dengan lapangan golf nya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan Sandra memilih untuk tetap rebahan di kasur seraya menutup kedua telinganya dengan bantal.
Sandra berusaha meredam suara keributan yang berasal dari luar kamarnya. Ketenangan adalah suatu hal yang mustahil untuk di dapatkan oleh Sandra ketika berada di rumah. Hanya keributan, umpatan serta aura mencekam yang Ia rasakan.
Dug! Dug! Dug!
Terdengar suara gedoran di pintu kamarnya. Sandra menoleh ke arah pintu dan menghela napas kasar. Ia melempar bantal yang tadi menutupi telinganya ke sembarang arah.
"Sandra! Sandra! Buka pintunya". Teriak Dimas, Sang Bapak.
Sandra lantas segera bangkit dari kasur dan membuka pintu kamar. Lalu terlihatlah Dimas yang tengah menunggu Sandra di balik pintu.
"Ada apa, Pak?". Tanya Sandra malas.
"Kamu tau ini sudah jam berapa? Kamu tidak berangkat kerja?". Tanya Dimas menatap Sandra yang masih memakai piyama.
"Hari ini libur, Pak. Lapangan golf selalu libur di hari senin." Jelas Sandra.
"Kalau begitu temani ibumu pergi ke pegadaian. Bapak pinjam uangmu dulu untuk bayar denda." Ucap Dimas.
Sandra terperangah mendengar ucapan Dimas. "Pegadaian? Dan denda apa maksudnya?. Tanya Sandra seraya mengerutkan dahi menatap Dimas dan Retno silih berganti.
"Cincin pernikahan Ibu dan Bapak ada di pegadaian. Hari ini sudah jatuh tempo, San. Kalau Ibu tidak membayar walau hanya sedikit, cincin itu akan di lelang." Ucap Retno menjawab kebingungan Sandra.
"Ibumu tidak mau merelakan cincin itu untuk di lelang. Bapak tidak ada uang sekarang. Kakekmu kemarin itu hanya memberikan untuk spp adik-adikmu saja". Timpal Dimas.
Sandra mengusap wajahnya dan menghela napas. "Bu.. Pak.. Sandra tidak ada uang lebih saat ini. Ibu dan Bapak kan tau Sandra saat ini terhitung belum bekerja. Sandra masih training. Belum di bayar." Ucap Sandra berusaha menjelaskan dengan pelan.
"Pakai dulu uang peganganmu. Nanti Bapak ke tempat kakekmu lagi. Barangkali ada sedikit uang". Ucap Dimas.
__ADS_1
"Lalu ongkos Bapak ke sana bagaimana? Minta ke Sandra lagi? Ongkos Bapak kemarin saja Sandra pinjam dari teman. Uang pegangan Sandra saja untuk ongkos training pinjam dari teman Pak.. Bu.."
"Masa sedikit saja kamu tidak bisa memberi orang tuamu! Kamu sudah di besarkan hingga sekarang, sedikit uang saja kamu perhitungan pada orang tua!". Cecar Dimas.
Sandra menatap tajam Sang Bapak. "Bapak tidak pernah tau kan keuangan Sandra! Yang Bapak dan Ibu tau, Sandra selalu ada uang. Pak.. Bu.. Bahkan Sandra hanya memegang uang dua ratus ribu saja, Sandra berikan setengahnya untuk kalian. Sandra hanya mohon... Doakan Sandra! Bukan selalu menekan Sandra!".
Sandra lantas membalikkan tubuhnya ke dalam kamar dan mengambil dompetnya di dalam tas. Ia lalu membuka dompetnya dan menghitung uang yang ada di dalamnya.
Lima ratus ribu rupiah. Jumlah uang yang ada di dompet Sandra. Bahkan uang itu pun hasilnya meminjam dari Dita, teman nya yang bekerja menjadi LC sekaligus yang memberikan informasi pekerjaan menjadi caddy golf. Uang itu untuk keperluannya 1 bulan selama training. Cukup tidak cukup harus Sandra atur seketat mungkin.
Sandra menghela napasnya lalu Ia mengambil uang senilai dua ratus ribu rupiah dan menutup kembali dompetnya. Sandra kemudian menghampiri lagi kedua orang tuanya dan memberikan uang itu pada Retno.
"Ini Bu. Sandra hanya bisa memberi segini. Cukup tidak cukup coba saja Ibu bayarkan ke pegadaian." Ucap Sandra.
Retno menerima uang tersebut dari Sandra. "Terima kasih ya, Nak".
"Oh ya.. Ibu pergi dengan Bapak saja. Sandra tidak bisa menemani Ibu. Badan Sandra pegal-pegal semua. Sandra ingin istirahat hari ini". Ujar Sandra seraya melangkah menuju kamar mandi.
Di sebuah rumah mewah bertingkat 3 ½ lantai dengan nuansa eropa. Yang mana setengah lantai rumahnya adalah basement tempat parkir seluruh kendaraan yang di miliki oleh kedua orang tua dan dirinya sendiri. Satya yang sudah tampan dengan setelan jasnya berwarna abu muda dengan dasi yang melingkari lehernya berwarna hitam nampak tengah menunggu lift untuk membawanya ke lantai 1.
Lantai 3 adalah lantai khusus miliknya. Wilayahnya pribadi yang tidak di izinkan sembarang orang memasukinya. Kedua orang tua Satya ingin anak tunggal mereka tetap tinggal berada di rumah yang sama. Keinginan Satya yang ingin tinggal terpisah di apartemen di tentang keras oleh kedua orang tuanya hingga akhirnya Satya mengalah dan meminta syarat bahwa lantai 3 rumah ini adalah wilayah pribadinya.
Ting!
Pintu lift terbuka dan Satya segera memasukinya. Tak kurang dari 1 menit, lift telah membawanya ke lantai 1. Satya lantas segera keluar melangkah menuju ruang makan di mana kedua orang tuanya sedang sarapan bersama.
Satya mencium kedua pipi sang ibu, Grace dan melakukan sebuah tos ala pria dengan sang ayah, Chandra. Satya lalu duduk di hadapan Grace.
"Makan yang banyak sayang". Ujar Grace pada putra satu-satunya.
__ADS_1
"Mama sangat tau aku tidak bisa makan banyak di pagi hari. Aku mau roti oles saja". Ujar Satya seraya mengambil sepotong roti tawar dan selai cokelat.
"Dimana Nadya? Apa dia tidak pulang?". Tanya Grace lagi.
"Masih tidur. Dia pulang pukul 3 pagl, Ma". Ucap Satya datar seraya mengoles roti miliknya dengan selai cokelat.
"Tidak apa-apa. Kamu......"
"Ma, Pa, aku pergi dulu sekarang. Aku ada meeting penting jam 9 dan aku belum membaca apapun tentang hal yang akan di bahas nanti". Satya memotong ucapan Grace seraya berdiri.
"Oh.. Baiklah. Semangat sayang" Ujar Grace ikut berdiri menghampiri putranya dan mengecup pipi Satya.
"Kemungkinan Ayah akan datang ke kantor siang". Timpal Chandra yang di angguki oleh Satya.
"Tidak masalah. Seorang pemilik perusahaan bisa kapan saja datang". Sindir Satya hingga membuat Chandra terkekeh.
Setelah berpamitan pada Grace dan Sandra, Satya segera menuju ke basement. Ia lantas membuka sebuah kotak yang seperti berbentuk kotak surat. Ia mengelus dagunya yang licin tanpa di tumbuhi bulu sedikitpun seraya menatap pada deretan kunci mobil di dalam kotak tersebut.
Satya lantas mengambil satu kunci mobil dan menekan tombolnya. Sebuah mobil dua pintu berwarna merah menyala begitu saja dengan deru mesin yang sangat menggoda indera pendengaran. Gagah dan sporty!
Satya lantas menekan sebuah tombol di dinding dan dengan perlahan pintu basement pun terbuka otomatis. Satya lantas segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya.
Seorang satpam yang tengah berjaga di gerbang depan menyapa putra satu-satunya keluarga Nagara. "Pagi, den Satya!" Sapa sang security.
"Pagi, Pak Amir!" Ujar Satya seraya tersenyum dan segera mengemudikan mobilnya ke luar.
Satya lalu menyalakan musik untuk menemaninya dalam perjalanan menuju kantor. Ia lantas segera meraih ponselnya dan mendial nomor asistennya.
"Tolong kau atur jadwal golf ku di akhir pekan ini!". Ujar Satya begitu telfon tersambung.
__ADS_1
...🌴🌴🌴...
Hiiiii.... Like, komen, vote donggss yaaa!😘