Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 91


__ADS_3

Malam hari di balkon rumah mewah bertingkat tiga, Satya melemparkan pandangannya ke sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumah. Taman yang indah dan terawat dengan sebuah danau buatan yang bersih. Di tengah-tengah danau tersebut terdapat air mancur yang memancar indah di pagi dan malam hari di iringi dengan lampu berwarna warni.


Satya menatap taman itu dari balkon lantai 3 rumahnya, pikirannya berlari ke masa lampau di mana dulu ketika Ia masih kuliah, Ia selalu membawa Nadia untuk sekedar berjalan sore ataupun lari pagi ketika wanita itu mengunjungi rumahnya.


Satya menggenģgam erat teralis besi balkon hingga urat-urat tangannya terlihat jelas. Ia menghela napasnya dengan kasar, merasa kesal sekaligus frustasi. Satya melirik ponselnya yang berada di atas balkon. Tiga puluh menit yang lalu, Nino mengirimkannya sebuah pesan yang seharusnya tidak membuat Satya terkejut, namun kenyataannya tetap saja Ia terkejut.


Aku tidak mau menghancurkanmu, Nadya...


Satya menyugar rambutnya dengan asal hingga berantakan. Nino sudah memberitahu jika dalang di balik penyebaran berita terkait keluarga Nagara maupun keluarga Carlton yaitu Nadya. Satya sudah mengantisipasi hal seperti ini sekaligus mempersiapkan solusinya. Namun itu adalah hal terakhir yang Ia harapkan. Sama sekali Ia tidak ingin menghancurkan seorang wanita yang pernah berlabuh di hatinya sekian lama. Walau rasa itu telah padam, tapi Satya tetaplah Satya yang berusaha menjaga citra Nadya di mata publik.


Namun, kali ini ada hati lain yang harus Ia jaga. Satya yakin jika Sandra akan dipandang sebagai perebut suami orang. Mau tidak mau, Satya yang tidak suka muncul di depan media, kini Ia harus memasang badan untuk menjaga Sandra dan meluruskan keadaan yang sebenarnya.

__ADS_1


Satya lantas berbalik badan meninggalkan balkon untuk segera turun ke lantai 2 dan menemui Chandra di ruang kerjanya.


...🌻🌻🌻...


"Berikan foto wanita ini pada pihak media! Katakan pada mereka bahwa dia adalah caddy yang menjadi istri kedua suamiku dan membuat suamiku menggugat cerai aku!". Nadya melemparkan beberapa foto pada detektif yang Ia sewa untuk menimbulkan kegaduhan di berbagai media.


Pria bertubuh tinggi yang di balut jaket kulit berwarna hitam itu pun lantas segera mengambil foto-foto Sandra di atas meja.Ia melihat sejenak lalu segera memasukkannya ke dalam saku jaket di bagian dalam. "Baiklah, besok anda akan melihat foto wanita ini bertebaran di media online maupun televisi". Sang detektif itu pun menundukkan kepalanya dan pamit undur diri meninggalkan Nadya.


Nadya menatap kepergian sang detektif dengan diam hingga pintu kamar hotelnya tertutup. Nadya meremas rambutnya cukup keras. "Kita lihat apa yang akan kau lakukan untuk melindungi wanita itu" Gumam Nadya menatap ke dinding kosong.


Luka akibat pecahan kaca di kaki dan tangan Sandra sudah mengering. Namun meninggalkan beberapa bekas yang akan samar seiring waktu. Dengan pelan Sandra berjalan menyusuri rumahnya dengan tatapan takjub. Tanah yang memang luas dengan leluasa bisa di manfaatkan dengan baik oleh arsitek yang di tugaskan oleh Satya. Semua bentuk rumah Sandra dari depan hingga ke belakang serta posisi kamar, ruang tamu, ruang makan tetap merujuk pada desain rumah lama namun satu hal yang Satya hilangkan adalah sebuah lorong di jendela kamar Sandra yang sempat membuat bulu kuduknya merinding.

__ADS_1


Sandra menyusuri kolam ikan yang tadinya hanya terbuat dari semen, kini menjadi lebih estetik dengan sentuhan batu alam. Semua letak ruangan masih sama, yang berbeda hanyalah bahan baku bangunan yang di gunakan di rumahnya saat ini adalah bahan terbaik dan ornamen-ornamen yang indah di berbagai sudut.


"Masuklah dulu ada yang mau Bapak bicarakan denganmu" Dimas bicara di belakang tubuh Sandra. Sandra membalikkan tubuhnya dan tersenyum.


"Apa Bapak mau membahas berita tentang Satya dan Nadya yang menjadi topik utama hari ini di media?" Ujar Sandra.


Dimas terkejut. "Bagaimana kamu tahu tentang berita itu?".


"Tadi saat Sandra baru menyalakan ponsel, ada sebuah tautan berita yang di kirimkan oleh Merin, Pak". Sandra melangkahkan kakinya menghampiri Dimas. "Sandra tahu ini akan terjadi. Ini sudah resiko Sandra, Pak. Tidak apa-apa. Sandra akan menghadapinya".


Dimas mengusap wajahnya terlihat frustasi. "Nak, belum terlambat untukmu pergi dari situasi yang rumit ini. Kita bisa jual saja tanah ini dan kita berikan sebagian pada suamimu itu untuk menggantikan biaya bangun rumah ini. Kita bisa memulai lagi di suatu tempat. Bapak janji akan bekerja apapun asalkan kamu aman dan tidak menjadi bahan cemoohan seluruh orang".

__ADS_1


Sandra meremas tangan Dimas dengan lembut. "Pak... Sandra tidak apa-apa. Sandra akan tetap berada di sisi Satya. Sandra percaya pasti Satya akan memenuhi janjinya untuk melindungi kita, Pak. Mama Grace pun meminta Sandra untuk tetap berdiri memberi semangat pada Satya apapun yang terjadi".


...🌴🌴🌴...


__ADS_2