Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 39


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama 90 menit, akhirnya Satya pun telah sampai di rumah Sandra. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan pagar. Satya segera turun dari mobil lalu membuka pintu belakang mobil dan meraih dua kotak kue serta parsel buah yang Ia beli di tengah perjalanan. Satya berpikir sangat tidak sopan jika dirinya tidak membawa apapun saat menghadap kedua orang tua Sandra.


Satya lalu memencet sebuah bel di dekat celah pagar. Tak lama Sandra terlihat keluar dari rumahnya dan berlari kecil ke pagar.


"Hey! Hati-hati itu jalan menurun kau malah berlari!" Sahut Satya saat melihat Sandra menuruni tanah menurun yang sudah disemen namun terlihat licin di beberapa sisi karena lumut.


Sandra hanya terkekeh lalu membuka pagar untuk Satya. Pria itu memperhatikan Sandra yang sedang memakai pakaian rumah serta wajah yang natural tanpa di poles makeup sama sekali. "Hmm.. Ternyata wajah aslimu seperti ini kalau tanpa riasan". Ujar Satya menatap Sandra.


Sandra tertunduk malu. "Saya memang seperti ini kalau berada di rumah, Tuan". Ujar Sandra.


Satya mengulas senyum tipis di bibir. "Aku suka. Kau terlihat........ Hmm.. Natural". Sahut Satya.


"Ayo cepat masuk.. Kedua orang tua saya sudah menunggu". Sandra mengalihkan pembicaraan yang di angguki oleh Satya.


Sandra mempersilakan Satya untuk duduk di ruang tamu dan meminta Satya untuk menunggu sementara Sandra memanggil kedua orang tuanya. Satya mengedarkan netra mata tajamnya ke seluruh sudut area ruang tamu.


Banyak barang antik yang berjejer rapi di rak. Satya pun melihat beberapa guci besar dengan ukiran klasik. Satya menatap langit-langit ruahg tamu dengan triplek yang sudah berwarna kekuningan. Mungkin awalnya berwarna putih namun berubah warna tergerus dengan usia.


"Nak Satya..." Retno datang menyapa Satya yang di ikuti oleh Dimas di belakang tubuhnya.


Satya segera berdiri dan menyalami kedua calon mertuanya dengan sopan. Ia lalu memberikan buah tangan yang tadi di belinya pada Retno. "Wah Nak Satya... Kok repot-repot sekali sampai bawakan kue dan buah". Sahut Retno tersenyum.


"Tidak repot... Tadi sekalian jalan saja". Ujar Satya dengan mengulas senyum.


Sandra lantas datang dengan membawa nampan minuman dan meletakkan 3 cangkir sirup di atas meja. "Kenapa hanya 3 cangkir? Kamu tidak minum?". Tanya Dimas.


"Kalau Sandra mau minum kan tinggal ambil di dapur saja, Pak. Kita kan lagi di rumah sendiri". Ucap Sandra lugas membuat Satya terkekeh.


"Saya minum ya Pak... Bu.." Ujar Satya meraih 1 cangkir sirup di hadapannya.


"Silakan... Silakan...."Ujar Retno.

__ADS_1


Satya meneguknya hingga tersisa setengah cangkir. Ia lalu menaruh kembali cangkir tersebut dan menautkan jari jemarinya di atas lutut. Satya menarik napasnya merasa gugup untuk membuka pembicaraan inti.


"Pak..Bu.."


"Mungkin Bapak dan Ibu sudah mengetahui tujuan saya datang kemari".


Dimas mengangguk. :Ya. Sandra sudah memberitahu pada kami bahwa kamu sudah melamarnya. Benarkah begitu?". Tanya Dimas menatap Satya.


"Benar. Saya memang memintanya menjadi istri saya".


"Apa alasan Nak Satya ingin mempersunting Sandra? Maaf sebelumnya... Saya dan Bapaknya Sandra ini terkejut sekaligus bingung. Sandra selama ini tidak pernah kelihatan dekat dengan pria. Apalagi dengan Nak Satya pun baru bertemu sekali. Jadi Ibu bingung ini lelucon atau serius". Jelas Retno mengeluarkan uneg-unegnya.


Satya mengangguk seraya tersenyum. "Saya memahami kebingungan Ibu dan Bapak selaku kedua orang tua Sandra. Tapi, saya sangat serius ingin meminang putri kalian". Ujar Satya yang menatap Sandra dengan tatapan yang sulit terbaca.


"Memang kesannya terburu-buru sekali... Apa kalian sudah melakukan sesuatu?". Tanya Dimas.


"Pak!". Seru Retno dan Sandra bersamaan.


"Ibu ini gimana.. Bapak salah terus di mata Ibu.. Bapak berpikir realistis di omeli, Bapak mengkhayal di omeli juga". Gerutu Dimas pada sang istri.


Tak ayal melihat interaksi keluarga Sandra, Satya tak bisa menahan hingga akhirnya tawa pecahnya menggema di ruang tamu. Dimas dan Retno melihat calon menantunya dengan terpana. Tak dipungkiri saat tertawa, ketampanan Satya bertambah berkali lipatnya.


"Bapak tenang saja... Saya belum melakukan apapun pada Sandra. Apalagi menanam benih di rahimnya? Saya bukan pria seperti itu. Beda halnya kalau sudah menikah ya Pak hehehehhee"


"Syukurlah kalau begitu. Maaf ya jika kamu tersinggung". Ucap Dimas.


Satya menggelengkan kepala. "Ini hal wajar untuk di tanyakan, Pak. Santai saja".


"Bapak dan Ibu sih serahkan keputusan pada Sandra, Nak Satya. Karena yang akan menjalaninya kan dia.. Bapak dan Ibu hanya bisa memastikan kalau Nak Satya adalah pria yang bertanggung jawab dan akan menjaga putri kami dengan baik." Ujar Retno menatap Satya dengan penuh harap.


"Saya akan menjaganya dengan baik dengan penjagaan terbaik yang saya mampu lakukan, Pak... Bu". Satya menatap Sandra yang tertunduk malu.

__ADS_1


"Lalu kapan kedua orang tua kamu datang kemari untuk meminta Sandra dengan resmi?". Tanya Dimas.


Satya bergeming. Di sinilah hal tersulit untuknya. Kedua orang tua Sandra pasti akan menanyakan perihal orang tua dirinya atau tentang keluarganya.


Satya mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap silih berganti pada Retno, Dimas maupun Sandra. "Ada 1 hal yang ingin saya sampaikan pada kalian semua". Ujar Satya dengan raut wajah serius.


"Apa itu, Nak Satya?".


"Untuk sementara ini saya hanya bisa menikahi Sandra di bawah tangan." Ujar Satya dengan hati-hati.


"Apa? Kok seperti itu?".Dimas membelalakkan matanya.


"Hanya untuk sementara saja. Setelah beberapa hal selesai, saya akan meresmikan pernikahan di mata hukum dan negara"


"Apa kedua orang tua Nak Satya tidak mengetahui niat baik ini?".Tanya Retno mengerutkan kening.


Satya mengangguk. "Iya, Bu. Kedua orang tua saya belum tahu."


"Kalau begitu beritahu dulu pada kedua orang tuamu, Nak. Lalu kembali lagi kesini bersama mereka". Saran Retno.


Mendengar hal itu tentu saja Satya gelagapan. Bagaimana bisa seperti itu? Ia saja akan diam-diam di belakang keluarganya untuk menikah lagi!


"Saya mohon, Bu. Keadaan keluarga saya tidak memungkinkan untuk saya menyampaikan hal terkait pernikahan untuk saat ini".


"Tapi saya janji pada Bapak dan Ibu, walau saya menikahi Sandra dibawah tangan, semua hak nya akan saya penuhi dengan baik. Sekecil apapun tidak akan saya abaikan hak putri kalian." Satya memohon dengan raut wajah yang tenang.


Segugup atau sekalut apapun hatinya saat ini, wajahnya harus memancarkan ketenangan.


Dimas dan Retno terdiam sejenak saling memandang satu sama lain. Dua paruh baya itu melihat Sandra yang sedang terdiam menatap ke arah Satya.


"Kami serahkan pada Sandra saja" Ujar Dimas. "Bagaimana Sandra... Apa kamu mau menerimanya?".

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


__ADS_2