
Di tepi Hole 1 sudah berjejer 6 buah buggy car, tinggal menunggu 1 pasang pemain golf lagi dan turnamen kecil tersebut akan di mulai. Sandra berdiri di sisi buggy car seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar. Entah kebetulan atau tidak, tapi Sandra di tugaskan bersama para caddy senior kali ini. Tidak ada satupun rekan sepantaran yang bisa Ia ajak bicara. Sandra mencebikkan bibirnya. Merasa bosan.
"Lama ya?" Ujar Sean memecah sikap diamnya Sandra.
Sandra tersenyum tipis. "Tidak kok, Tuan hehehe".
Sean mengamati Sandra sekilas. "Apa kau caddy baru?". Tanya Sean.
"Ya. Bisa dibilang seperti itu. Saya baru satu bulan lebih menjadi caddy"
Sean mengangguk-anggukkan kepalanya. "Berapa usiamu?".
"Usia saya 20 tahun, Tuan"
Sean cukup terkejut. "Wah, masih muda sekali.." Ujar Sean yang di tanggapi Sandra dengan tertawa kecil.
"Lihat Pak Chandra sudah datang". Sahut seorang rekan Sean seraya menunjuk sebuah buggy car yang baru saja berhenti.
Sandra melihat sekilas seorang pria paruh baya yang masih terlihat jelas guratan tampan masa mudanya dengan tubuh yang masih tegap terawat. Lalu seorang pria muda yang memakai topi berwarna putih juga ikut turun dari buggy car. Keduanya berjalan dengan menyapa semua orang yang ikut serta dalam turnamen kecil ini.
Sandra tiba-tiba saja melongo. Raut wajahnya sangat terkejut. Jantungnya berdetak cepat. Mati aku. Pekik Sandra dalam hati saat melihat pria muda yang memakai topi berwarna putih itu adalah sang suami, Satya. Sandra sontak membalikkan tubuhnya begitu saja seraya menurunkan topi caddynya hingga lebih menutup wajahnya.
"Kenalkan ini Sean, asisten utama Pak Pradipta. Beliau berhalangan hadir karena menemani istrinya operasi. Tadi dia sendiri yang menghubungi papa". Ujar Chandra memperkenalkan Sean pada Satya.
Sandra yang berdiri di balik buggy car tertegun. Papa? Astaga... Dia papa suamiku? Artinya.... Papa mertuaku?
__ADS_1
Sandra berusaha mengintip dari sela tas golf milik Sean. Terlihat raut wajah Satya yang sangat dingin dengan menatap tajam pada Sean. Sandra mengerutkan kening. Apa dia memang seperti itu kalau berhadapan dengan rekan bisnisnya? Tapi tatapannya......terlihat ben..ci?
Sandra mengamati perubahan raut wajah sang suami hingga akhirnya terlihat datar dan menerima jabat tangan Sean. Sandra lantas mengamati Chandra. Tak di pungkiri Ia pun terpukau dengan papa mertuanya. Ternyata ketampanan suamiku benar-benar menurun dari papanya. Sandra tersenyum simpul namun dengan cepat Ia menepuk kepalanya sendiri saat menyadari bahwa bahaya akan mengintainya, yakni kemarahan sang suami!
"Sedang apa kau di situ?". Tanya Sean yang melihat Sandra sedikit berbungkuk di balik tas golf.
Satya memalingkan wajahnya kembali ke arah Sean saat mendengar pria itu bicara dengan seseorang. Satya mengerutkan kening saat melihat siluet tubuh seorang caddy dari sela-sela buggy car. Namun akhirnya Satya memalingkan wajahnya kembali dan mengikuti Chandra yang belum selesai menyapa semua orang.
Turnamen kecil pun akhirnya di mulai. Para pemain golf berdiri di sisi buggy car masing-masing di temani oleh caddy mereka. Mau tak mau akhirnya Sandra pun berdiri di sebelah Sean. Sandra tetap menundukkan kepala berharap agar Satya tidak mengenalinya.
Satu per satu tim telah melakukan pukulan pertamanya di teeing ground. Tibalah akhirnya giliran Sean. Pria itu lantas mengambil posisi. Sandra melirik Satya yang memasang sikap acuh dan sibuk dengan ponselnya daripada melihat pukulan Sean.
"GOOD SHOT!". Teriak Sandra. Sandra memejamkan matanya. Kali ini sang suami pasti akan mengenali dirinya.
Benar saja. Satya memalingkan wajahnya dari ponsel saat mendengar teriakan seorang caddy. Sandra berjalan menuju buggy car dengan menunduk. Tubuhnya panas dingin karena merasa ada netra tajam yang mengamatinya. Sandra memberanikan diri melirik sekilas pada Satya.
Satya melihat ke arah Sandra dengan wajah menahan amarah. Sandra lebih memilih melengos. Apa pun hukuman yang akan Ia dapatkan, itu urusan nanti! Yang penting Ia harus selesaikan dahulu pekerjaannya saat ini. Sandra berharap Satya tidak akan berulah di tengah lapangan.
Oh tidak.. Tidak.. Tentu saja tidak.. Dia bersama dengan papanya. Tidak mungkin dia berani berbuat sesuatu. Pernikahan kami kan belum di ketahui.
Sandra menghibur dirinya sendiri.
"Ayo silakan Pak Chandra dan Pak Satya. Sekarang giliran anda berdua". Ujar Sean.
Chandra dan Satya pun melangkah menuju teeing ground. Sandra berdiri menatap sang suami saat pria itu melakukan pukulan pertamanya. Hati Sandra berdesir hebat dan pipinya terasa panas merona melihat lekuk tubuh gagah Satya. Pria tampan itu suamikuuuuu!!! Sandra menjerit dalam hati seraya terkekeh kecil.
__ADS_1
Sikap absurd Sandra tentu saja di lihat oleh Sean. Pria muda yang tak kalah tampan dengan Satya itu pun menunduk menatap Sandra dengan netra mata cokelatnya yang hangat. "Kenapa?" Tanya Sean.
Sandra mendongakkan kepala. "Hah? Apa Tuan?" Tanya Sandra dengan raut wajah polos.
Sontak saja Sean terkekeh geli melihat sikap Sandra. "Kau gadis aneh". Ujar Sean. "Sejenak tertawa.. Sejenak tersenyum.. Sejenak terlihat ketakutan".
Sandra mengusap tengkuknya dengan canggung. "Maafkan saya Tuan hehe". Ujar Sandra terkekeh menampakkan barisan giginya yang putih.
Segala interaksi Sean dan Sandra tak lepas dari pengamatan Satya hingga rasanya hati pria itu membara menahan luapan emosi yang tidak bisa Ia keluarkan.
Hole demi hole di lewati dengan baik. Hingga tim turnamen kecil itu kini sudah memasuki hole 15. Sandra menghela napas lelah. Matahari semakin terik naik ke atas kepala. Hole 15 merupakan hole yang panjang dan rumit. Berbagai rintangan yang ada di hole 15 pun lebih lebar hingga tak jarang banyak bola golf para pemain hilang begitu saja di water hazard atau di semak-semak.
Sean melakukan pukulan dengan kuat berharap bola terlempar jauh hingga melewati rintangan yang berupa bunker (cekungan pasir). Sandra mengamati jatuhnya bola milik Sean. Namun Sean dan Sandra dengan bersamaan mengeluh. "Yaahh". Bola tersebut jatuh ke dalam bunker. Sandra lantas meraih stik golf milik Sean seraya memberikan senyum manis. "Tidak apa, Tuan. Itu hanya bunker, bukan water hazard". Ujar Sandra.
"Kau benar hehehe". Sean melangkah bersisian dengan Sandra. Satya melihatnya. Pria itu sudah semakin bertanduk. Tangannya mengepal hingga jari jemarinya memutih.
Tak lama kemudian Sandra berdiri di tepi bunker melihat Sean yang sedang turun untuk memukul bola golf miliknya. Tak! Sean memukul bolanya keluar dari bunker hingga berhasil memasuki green area. Sean lantas segera berusaha keluar dari bunker namun terus terpeleset karena licinnya pasir.
Sean mendongakkan kepalanya ke arah Sandra seraya mengulurkan tangan. "Tolong bantu aku untuk keluar dari bunker". Ujar Sean.
Sandra bergeming. Ia menoleh sekilas pada Satya yang tak berada jauh dari dirinya. Dengan ragu Sandra pun mengulurkan tangannya pada Sean.
Plak!
Belum sempat tangan Sandra dan Sean bersentuhan, Satya sudah berada di antara mereka dan dengan gesit menarik Sean keluar dari bunker. Satya menatap tajam Sean seakan Ia memiliki dendam kesumat pada pria itu.
__ADS_1
Kau bisa menyentuh istri pertamaku, tapi jangan pernah berani menyentuh istri keduaku. Dia hanya untukku bajingan!
...🌴🌴🌴...