Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 15


__ADS_3

Dua jam telah berlalu, Sandra kini sudah berada di hole 9. Rata-rata permainan golf untuk 18 hole biasanya di habiskan dalam waktu sekitar 4 jam. Hole 9 yang harus di lalui Pak Teguh saat ini adalah par 3. Hole yang pendek bahkan posisi green area saja bisa terlihat dari teeing ground.


Pak Teguh dengan cepat melakukan pukulan karena buggy car pemain di belakangnya sudah sampai di hole 9. Sandra melihat ke arah bola yang melambung tinggi dan melihat bola putih kecil itu jatuh di green area.


Setelah Sandra memasukkan kembali stik golf ke dalam tas, Pak Teguh lalu menghampiri Sandra. "Kita tunggu pemain di belakang kita memukul ya baru kita jalan menuju hole 10". Ujar Pak Teguh dengan jarak yang sangat dekat.


Sandra menunduk dengan segan. "Baik, Pak". Sahut Sandra.


Pemain golf yang berada di belakang Sandra dan Pak Teguh adalah Satya beserta Nino, Sang asisten. Tak di pungkiri, sepanjang permainan hingga ke hole 9 ini, Satya melihat interaksi Sandra dengan Pak Teguh.


"Dia sangat jago dalam bermain golf. Lihatlah.. Saya yakin bola yang dia pukul bisa langsung masuk ke lubang".Bisik Pak Teguh pada Sandra.


Sandra terkesiap dengan gestur tubuh Pak Teguh yang selalu mendekat padanya. Satya melirik sekilas ke arah Sandra hingga dengan cepat kembali fokus pada bola serta arah hembusan angin. Setelah memprediksi seberapa kuat Ia harus memukul bola, Satya segera mengambil posisi.


Tak!


Reflek Sandra pun memperhatikan bola yang melambung tinggi itu hingga jatuh ke green area. Sandra menyipitkan matanya berusaha untuk mempertajam indera penglihatannya. Tak lama mulut Sandra menganga tak percaya.


Gila! Bolanya beneran masuk ke lubang!


Jerit Sandra dalam hati seraya menatap Satya yang tetap terlihat datar tanpa ekspresi.


"GOOD! Albatros, Pak Satya!". Teriak caddy senior yang menemani Satya seraya bertepuk tangan.


Albatros adalah istilah dalam golf untuk 2 pukulan di bawah par. Dan Satya hanya memerlukan 1 kali pukulan agar bola masuk ke dalam lubang pada hole 3. Menurut Mami Sari, sangat jarang pemain golf yang memiliki skill seperti itu di lapangan golf sepanjang dirinya menjadi caddy.


Di samping Satya memberikan kesan dingin pada setiap orang, namun pria itu memberi kesan tersendiri untuk Sandra. Khususnya setelah pria itu membantu dirinya ke ruang perawatan tempo hari. Ah.. Sandra mengingat Ia belum mengucapkan terima kasih pada pria itu.


"Silakan lebih dulu, Pak Teguh". Sahut Satya setelah Nino, sang asisten melakukan pukulan.


"Baiklah"


"Ayo Sandra. Kamu yang menyetir ya. Saya suka di kemudikan oleh wanita hehehehe". Ujar Pak Teguh terkekeh seraya merangkul bahu Sandra dengan satu tangannya.

__ADS_1


Sandra ingin menghindar namun Pak Teguh memegang erat bahu Sandra dalam rangkulannya seraya berjalan menuju buggy car.


Waktu terus berlalu hingga akhirnya Sandra dan Pak Teguh sudah berada di hole 18 yakni hole terakhir. Matahari sudah semakin terik berada di atas kepala. Sandra mengusap keringat di wajahnya dengan sebuah handuk kecil yang Ia selipkan di celana.


Sandra mengangkat botol minumnya yang ternyata sudah kosong. Ia menghela napas pelan. Sandra menaruh kembali botol minumnya dan segera mengambilkan stik golf untuk Pak Teguh. Sandra berlari kecil menghampiri Pak Teguh yang kini berada di dalam sebuah bunker (Cekungan yang berisi pasir).


Sandra lantas sedikit membungkuk memberikan stik golf pada Pak Teguh. "Semangat, Pak!". Ujar Sandra dan melangkah mundur memberi ruang yang lebih luas pada Pak Teguh.


Tak lama bola golf milik Pak Teguh pun keluar dari area bunker hingga jatuh di sisi green area. Sandra kembali di kejutkan oleh sebuah bola putih yang jatuh begitu saja di depan bola golf milik Pak Teguh. Sandra melihat ke belakang dan menangkap Satya sedang berjalan kaki menuju bola golf miliknya.


Sandra lantas berlari kembali ke buggy car untuk mengambil sebuah stik berjenis putter. Di green area sudah berdiri Satya, Nino dan Pak Teguh. Ketiganya berdiri di sisi bola masing-masing dengan para caddy di belakangnya termasuk Sandra.


"Sandra, kemari..." Titah Pak Teguh. Sandra lantas mendekat pada Pak Teguh.


"Ada apa, Pak?". Tanya Sandra pelan.


Pak Teguh kembali merangkul Sandra. "Bantu arahkan saya agar bola ini langsung masuk ke dalam lubang". Ujar Pak Teguh seraya tersenyum.


Sandra menggeliatkan tubuhnya samar berusaha melepaskan diri. "Maaf, Pak. Tapi jangan seperti ini". Sahut Sandra sopan.


Mau tak mau Sandra pun segera berjongkok di belakang bola golf milik Pak Teguh. Ia dengan seksama memperhatikan kontur tanah dan kemiringan green area. Satya menatap Sandra yang sedang serius menerka.


Sandra lantas berdiri kembali. "Pak Teguh perlu pukul bola ini ke arah kanan atas sekitar 30°. Dengan pukulan yang cukup kuat karena bola ini belum memasuki green area".Saran Sandra seraya menatap Pak Teguh.


Satya lantas melihat bola milik Pak Teguh dan bibirnya mengulas senyum miring setelah mencuri dengar arahan Sandra tadi pada Pak Teguh.


"Saya coba ya arahan dari kamu". Sahut Pak Teguh seraya mengambil posisi untuk memukul.


Tak


Bola milik Pak Teguh terlihat bergulir memasuki green area hingga mendekati lubang. Sandra dengan gugup memperhatikan arah laju bola. Tak sadar tangannya mengibas-ngibas ke arah kanan berusaha memberi arahan pada bola golf agar jatuh masuk ke dalam lubang.


"Ppffftttt.." Satya berusaha menahan tawa nya saat melihat tingkah Sandra yang konyol.

__ADS_1


"Kenapa?". Tanya Nino bingung. Satya hanya menganggukkan kepalanya.


Apa dia pikir dia punya tenaga dalam layaknya seorang pendekar?


Batin Satya melihat Sandra yang kini terlihat kecewa karena bola golf milik Pak Teguh tidak berhasil masuk ke dalam lubang.


"Tidak apa-apa. Arahan kamu sudah tepat. Mungkin pukulan saya yang kurang kuat. Senyum dong". Ujar Pak Teguh seraya menyentuh genit dagu Sandra sekilas.


Sandra memaksakan sebuah senyuman terbit di bibirnya. Hingga pada akhirnya usailah sudah tugas Sandra pada hari ini. Saat Ia tengah mengecek kembali perlengkapan milik Pak Teguh untuk memastikan tidak ada yang hilang atau tertinggal, Pak Teguh menghampiri Sandra.


"Ayo saya pasangkan bros ini". Ujar Pak Teguh. Sandra pun membalikkan tubuhnya ke arah Pak Teguh.


Dengan tersenyum Pak Teguh memasang sebuah bros dengan icon tersenyum di sisi nametag milik Sandra. "Lain waktu saya bermain, saya ingin di temani oleh kamu lagi". Ujar Pak Teguh pada Sandra seryaa menekan bros yang sudah tersemat di dada Sandra dengan lembut. Sandra reflek mundur ke belakang dan menunduk dengan sopan.


"Terima kasih atas penilaian. Bapak". Ujar Sandra seraya menyerahkan tas golf pada Pak Teguh.


Usai berpamitan pada Pak Teguh, Sandra pun segera mengendarai buggy car untuk di parkirkan kembali ke area belakang gedung.


"Pak, Ini buggy car nya saya parkir di sini gak apa-apa kan?" .Tanya Sandra pada seorang petugas yang berjaga.


"Iya, Mbak. Simpan aja di situ yang baru di pakai". Jawab sang petugas.


Sandra lalu melangkah kembali ke aula gedung golf country club. Sandra menatap taman bunga terbuka yang berada di tengah-tengah aula. Ia berhenti sejenak untuk menyentuh bunga-bunga cantik yang berwarna-warni. Sandra mengusap keringatnya yang menetes di sisi wajah.


"Minum ini". Suara seorang pria membuyarkan keasyikan Sandra yang sedang memandangi bunga.


Sandra menoleh ke samping dan melihat Satya berdiri di hadapannya seraya menyodorkan sebuah botol air mineral dingin ke arahnya.


"Aku melihat kau belum minum dari hole 9. Cepat ambil! Kalau kau pingsan, aku bisa repot". Titah Satya menyodorkan botol air mineral lebih dekat pada Sandra.


...🌴🌴🌴...


Like 😋

__ADS_1


Komen😎


Vote donggsss😘


__ADS_2