Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 94


__ADS_3

Sandra menghela napas pelan dan menatap deretan pot bunga yang tumbuh subur. Ia menatap Satya dengan tatapan yang lekat hingga Satya merasa kikuk. "Aku hanya mencoba berada di posisi istri pertamamu". Ujar Sandra. "Aku yakin tidak mudah untuknya menerima semua ini, dan aku yakin juga itu tidak mudah untukmu......" Sandra tersenyum tipis dan menggenggam tangan Satya dengan erat. "Walau kamu memang terlihat baik-baik saja dari luar..."


Satya tertegun dengan ucapan Sandra. Ia merasa linglung sekaligus heran, bagaimana bisa Sandra memikirkan Nadya setelah semua yang di lakukan wanita itu padanya?


"Aku melihatnya sayang... Sorot terluka di matanya ketika dia menatapku. Aku tidak membenarkan apa yang dia lakukan padaku, aku tetap ingin dia merasakan rasa sakit yang kurasakan... Kehilangan calon anak serta tubuh yang penuh luka....Namun setelah aku berada di rumah sakit berhari-hari, di tambah lagi setelah mama Grace datang mengunjungiku... Aku sadar bahwa semua ini pun tidak adil untuknya." Sandra menghela napas. "Benar kata Mama Grace, seharusnya kamu membereskan lebih dulu permasalahanmu dengannya hingga tuntas sebelum menikahiku. Jika aku berada di posisi istri pertamamu, bisa di pastikan aku pun akan melakukan hal yang sama hehehe".


Satya menatap Sandra dengan sorot mata tak terbaca. Tak lama Ia menarik Sandra ke dalam pelukannya dan membelai rambut hitam panjang Sandra dengan lembut. "Kenapa aku merasa bicaramu seperti kau ingin meninggalkanku?". Ujar Satya pelan.


Sandra mengulas senyum dan mengusap punggung Satya. "Aku tidak akan meninggalkanmu, hanya saja aku meminta padamu agar menyelesaikan masalah ini dengan lebih bijak. Jangan sampai kamu menodai harga diri seorang wanita hanya untuk melindungiku. Aku tidak akan mengizinkannnya.".


Satya mengulur pelukannya dan menatap Sandra dengan terperangah. "Apakah kau......"


"Aku hanya takut kamu memakai video istri pertamamu dengan Sean untuk membungkamnya. Kamu tidak sejahat itu kan...?" Sandra memotong ucapan Satya.


Satya mengusap wajahnya dan menyandarkan punggungnya ke ayunan kayu. "Tapi Nadya sudah melangkah terlalu jauh sayang..."


"Bicarakanlah baik-baik dengannya. Aku mendengar dari Mama Grace kalau kalian berdua adalah sepasang sejoli yang sangat mesra pada masanya. Aku rasa kamu tidak akan setega itu melakukan hal buruk pada seorang wanita yang kamu cintai". Ujar Sandra seraya menatap ke sembarang arah.


"Apa kau bilang? Wanita yang kucintai? Saat ini yang kucintai hanya kau seorang. Dia adalah masa laluku".


"Hm. Ya ya.. Bahkan aku tidak bisa membuatmu cemburu dengan menceritakan kisah manis masa laluku dengan pria lain. Menyebalkan". Sandra mencebik seraya melipat kedua tangannya.


Satya menyeringai dan menarik kedua pundak Sandra agar menghadap ke arahnya. "Apa kau cemburu? Kau cemburu?".

__ADS_1


"Tidak! Lepaskan aku!" Ujar Sandra menepis lengan Satya.


Satya terkekeh geli. "Hey kau yang memulai lebih dulu dengan membahas Sandra, kau juga yang di landa cemburu hahhaha. Istri kecilku sangat menggemaskan!".


...🌻🌻🌻...


Keesokan harinya...


"Apa kau sudah siap untuk konferensi pers hari ini?" Tanya Chandra menatap Satya saat keduanya berada di kantor.


Satya menganggukkan kepala. "Aku sudah siap."


"Apa kau yakin akan menumbalkan dirimu sendiri di depan media?"


Chandra menggelengkan kepala seraya terkekeh. "Apa istri keduamu itu terlalu bodoh untuk membiarkan Nadya lepas begitu saja? Seharusnya ini kesempatannya untuk mencari simpati banyak orang"


"Dengan mempermalukan Nadya? Dia tidak sepicik itu, Ayah. Walau Nadya sudah mempermalukannya lebih dulu pada publik, tapi Sandra lebih memilih untuk menyelesaikannya dengan baik. Dan satu-satunya cara baik yang bisa kupikirkan adalah aku mengakui kalau aku menjadi seorang pria yang brengsek dan mereka berdua hanyalah korban dari kebrengsekkanku".


Chandra mengusap dagu seraya menatap sang putra. "Baiklah. Tumbalkan dirimu dan kita akan lihat bagaimana feedbacknya".


Satya lantas menganggukkan kepalanya dan pamit undur diri untuk segera menuju ruang konferensi pers yang telah di sediakan di aula gedung kantornya. Nino langsung melangkah sejajar dengan Satya saat pria itu keluar dari ruangan Chandra. "Apa kau gugup bos?".


"Sedikit. Aku hanya sangat kesal karena ini pertama kalinya aku bicara di depan media terkait kehidupan pribadiku!".

__ADS_1


Setibanya di aula, wartawan yang sudah duduk dengan rapi lengkap dengan semua peralatan yang menunjang kegiatan mereka menjadi pandangan horor bagi Satya. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Satya lalu duduk di depan di temani oleh beberapa kuasa hukumnya.


"Oke kita mulai konferensi pers dengan Bapak Satya Nagara. Acara ini akan kami hentikan jika situasi tidak kondusif. Mohon kerja samanya dari teman-teman media" Ujar seorang kuasa hukum Satya.


"Silakan dimulai, Pak!" Seru seorang wartawan yang sudah siap merekam.


Satya menyusuri seluruh penjuru ruangan dan tersenyum tipis. "Baik... Saya tidak akan panjang lebar di sini" Ujar Satya lalu menghela napasnya. "Saya dan Nadya Carlton memang sudah menikah secara resmi delapan bulan yang lalu. Pernikahan itu diadakan tertutup dan hanya di hadiri oleh orang-orang terdekat".


Bunyi jepretan kamera dan kilatan flazz yang tiba-tiba benar-benar menyilaukan mata Satya. "Sejak kapan kalian berdua saling mengenal? Apakah pernikahan keluarga Nagara dan keluarga Carlton adalah pernikahan bisnis semata?" Seru beberapa wartawan.


"Tidak. Bukan seperti itu. Saya dan Nadya sudah saling mengenal sejak lama dan kami memang menjalin hubungan. Jadi pernikahan kami bukanlah pernikahan bisnis"


"Benarkah anda menduakan Nadya Carlton dengan seorang caddy yang bernama Sandra?" Tanya seorang wartawan.


Satya diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Ia lalu memeganf mic kecil di hadapannya. "Itu benar. Saya memang menikahi seorang caddy secara diam-diam di belakang istri pertama saya".


Sontak saja riuh suara dari para wartawan mengggema di aula. Satya hanya diam menatap kilatan cahaya flazz. "Mengapa anda melakukannya?". Tanya beberapa wartawan. "Apakah caddy itu menggoda anda?"


Satya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. "Alasan aku melakukannya karena aku adalah pria brengsek. Dan caddy... Istri keduaku yang menggodaku? Dia adalah wanita lugu yang pernah kutemui..."


"Aku minta maaf atas kegaduhan yang tercipta terkait kehidupan pribadiku. Aku mengakui kesalahanku pada istri pertama dan istri keduaku. Mereka berdua adalah korban dari besarnya egoku sebagai seorang pria. Perlu kutekankan juga di sini bahwa istri keduaku sama sekali tidak mengetahui statusku yang sudah menikah dengan Nadya Carlton ketika aku menikahinya. Dia hanyalah orang biasa.. Kalian yang bekerja di media saja terkejut dengan kenyataan ini bukan?" Satya menatap ke arah wartawan dengan serius.


"Aku harap kedepannya, berita tentang kehidupan pribadiku tidak kalian jadikan berita utama. Karena aku sangat lelah membacanya dan berikan kami privasi untuk menyelesaikan permasahan internal kami dengan nyaman." Ujar Satya dengan mengulas senyum miring terkesan sinis.

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


__ADS_2