
Sandra diam membeku saat melihat Satya menyingkirkan tangannya dengan keras saat Ia mengulurkan tangan untuk membantu Sean. Sandra mengamati raut wajah Satya yang sangat tidak bersahabat. Garis rahang yang tegas semakin terlihat tajam manakala pria itu menatap pada Sean. Sekali lagi Sandra memergoki tatapan penuh kebencian dari netra tajam sang suami.
"Terima kasih Pak Satya". Ujar Sean.
Satya hanya mengangguk dingin tanpa menjawab apapun. Satya melirik sekilas pada Sandra yang terlihat takut. Ia lalu membuka topi yang melindungi kepala dan menyugar rambutnya dengan kasar. Satya memberikan stik golfnya pada caddy yang bertugas menemaninya dan pergi begitu saja meninggalkan lapangan golf dengan berjalan kaki.
"Satya! Kau mau kemana?!". Teriak Chandra saat melihat sang putra yang pergi tanpa pamit. Chandra memperhatikan punggung Satya yang semakin jauh. "Aiisshh anak itu!". Gerutu Chandra.
Chandra lalu terkekeh pelan mengusir rasa canggung atas apa yang sudah di lakukan oleh putranya. "Maafkan saya atas sikapnya. Sejak pagi dia memang sudah uring-uringan, karena itulah saya mengajaknya kemari untuk penyegaran". Sahut Chandra merasa tak enak hati.
"Tidak masalah, Pak Chandra." Sahut seorang pria paruh baya. "Mari kita selesaikan saja dulu permainannya. Sayang tinggal 3 hole lagi hehehehehe".
Chandra pun mengangguk setuju. Hingga akhirnya turnamen kecil yang di selenggarakan oleh Chandra selesai tanpa Satya di dalamnya.
...
Sandra berjalan dengan gusar. Manik matanya berlari kesana kemari mencari sosok Satya di sekitar aula Golf Country Club. Ia mencoba menelfon lagi ponsel Satya. Sudah berulang kali Sandra menelfon namun selalu berakhir di voice mail.
Ekor mata Sandra melihat sang papa mertua, Chandra yang sedang berjalan menuju ke parkiran mobil di ikuti oleh seorang pria berpakaian hitam-hitam yang Sandra duga merupakan supir. Dengan langkah cepat Sandra berjalan mendekat pada Chandra.
"Apa kita tidak perlu menunggu Tuan Satya?" Tanya sang supir.
"Tidak perlu. Aku juga tidak tahu anak itu berada di mana saat ini. Biarkan saja! Kita langsung pulang". Ujar Chandra yang terdengar kesal.
Sandra sedikit membungkukkan tubuhnya saat melewati Chandra yang notanene adalah Papa Mertuanya. Sandra bersandar di sudut taman yang tak jauh dari aula. Ia melihat kembali ponselnya. Bahkan pesan yang Sandra kirim saja belum dibaca oleh sang suami. Sandra menghela napasnya dengan kasar. Kesal sekaligus bingung.
"San!" Panggil seseorang.
Sandra menatap ke arah sumber suara dan mendapati Merin yang sedang berjalan ke arahnya.
"Lo ngapain di sini sendirian?". Tanya Merin melihat ke sekitar.
"Gw lagi santai aja. Baru selesai turnamen kecil!" Ujar Sandra.
Merin mengangguk kecil. "Iya gw tau lo bawa pemain turnamen. Tadi caddy senior pada ngomongin suami lo!" Sahut Merin.
__ADS_1
Sandra mengerutkan kening. "Ngomongin suami gw? Mereka ngomongin apa?". Tanya Sandra.
Merin lantas duduk di sisi Sandra. "Katanya tadi suami lo ninggalin turnamen gitu aja. Ada bokapnya juga kan? Ya gitulah... Lo tau sendiri hal kecil di sini ada aja yang di jadiin bahan omongan". Ujar Merin.
Sandra terdiam. Ia pun masih merasa heran kenapa Satya terlihat begitu marah saat di lapangan tadi. Apakah secemburu itu sang suami pada dirinya?
"Terus pas gw dengar itu, gw semakin yakin yang gw lihat tadi itu suami lo. Sekilas aja sih gw lihatnya... Ada pemain golf yang jalan kaki di sekitar hole 13 tapi dia ke jalan setapak yang menurun ke hutan itu loh".
Sandra terbelalak. Ia menggenggam tangan Merin. "Serius lo?".
Merin mengangguk. "Gw rasa dia ya. Gw gak lihat jelas karena gw lagi di tengah lapangan".
Sandra lantas segera berdiri. "Makasih, Mer! Gw lihat dulu kesana!". Ujar Sandra lalu langsung berlari ke bagian penyimpanan buggy car. Hole 13 adalah area dimana terdapat hutan kecil. Sandra pernah salah arah saat membawa Satya bermain golf ketika dirinya masih dalam masa pelatihan. Kala itu Sandra melihat betapa senangnya pria itu menghabiskan waktu di sana.
"Pak, saya pinjam buggy car dulu ya! Harus ke hole 13!" Sahut Sandra pada seorang penjaga. Penjaga itupun mengangguk mempersilakan.
Tanpa membuang waktu, Sandra segera mengemudikan buggy car dengan kecepatan penuh. Di jalan terjal menurun menuju area hutan, Sandra mengedarkan pandangannya ke sekitar hingga akhirnya Ia berada di tempat yang dahulu pernah Ia kunjungi secara tidak sengaja dengan Satya. Sandra menyusuri jalan setapak hingga Ia menemukan sebuah tempat duduk yang terbuat dari semen.
Punggung tegap Satya tertangkap olehnya. Pria itu terlihat menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Sandra perlahan mendekat. Jantungnya berdetak cepat tak karuan. Rasa takut, gugup, gelisah melanda dirinya saat ini.
Suara gesekan daun dengan ranting menimbulkan suara hingga membuat Satya menoleh ke belakang. Deg. Netra mata keduanya bertemu. Raut terkejut terlihat jelas di wajah Satya. Namun berbeda dengan Sandra. Rasa gugup serta takut yang melanda dirinya tadi menguap begitu saja dan di gantikan dengan rasa nyeri yang asing dalam hati saat melihat mata Satya yang biasanya melemparkan tatapan tajam dan menggoda, kini terlihat kalut dan sedih.
Satya berdiri melangkah ke.arah Sandra. "Kenapa kau bisa kemari?". Tanya Satya.
Sandra diam sejenak menatap manik mata Satya dengan lekat. "Kamu kenapa pergi begitu saja tadi?". Tanya Sandra balik bertanya.
Satya menyugar rambutnya dengan kasar. Pria itu menghela napas dan menatap Sandra. "Apa kau perlu jawabanku?".
Sandra menggigit bibirnya. "Maafkan aku. Aku tidak bisa apa-apa ketika Mami Linda memintaku untuk menemani pemain pria" Jawab Sandra jujur.
"Demi Tuhan Sandra! Kau ini istriku! Kau bisa menolaknya!". Ujar Satya.
"Apa kamu lupa? Hanya Mami Sari yang mengetahui pernikahan kita. Kebetulan Mami Sari sedang cuti hari ini dan di gantikan oleh Mami Linda". Sandra menjelaskan dengan pelan.
"Lagipula pemain yang aku bawa tadi tidak genit atau melakukan hal yang di luar batas padaku. Tuan Sean sangat baik".
__ADS_1
"Jangan sebut nama pria itu di depanku! Kau tidak tahu apa yang bisa dia lakukan!". Ucap Satya meradang.
Sandra terkesiap melihat sikap Satya. Sikap yang asing dan tatapan yang kalut, hal ini terasa asing untuk Sandra. "Aku.... Maafkan aku..." Sandra meminta maaf kembali pada Satya. Hanya itu yang bisa Sandra lakukan. Ia sama sekali belum mengerti kenapa sang suami bisa sampai semarah ini hanya karena dirinya membawa seorang pemain pria.
"Aku tidak suka di khianati Sandra... Kau tahu? Aku sangat benci dengan pengkhianatan". Ujar Satya menatap Sandra dengan serius.
"A-aku tidak mengkhianatimu.. Sungguh. Aku...." Lidah Sandra benar-benar kelu. Ia sangat bingung dengan situasi yang Ia hadapi saat ini.
"Kamu tahu kan... Aku benar-benar baru membawa pemain pria hanya hari ini. Jika aku tahu kamu akan seperti ini, aku lebih baik tidak turun lapangan.". Sahut Sandra.
"Tuan Sean tidak macam-macam denganku. Dia justru mengataiku gadis aneh. Sungguh aku tidak berbohong padamu".
"Sudah aku bilang jangan menyebut namanya di hadapanku sialan!!!" Teriak Satya. Mendengar umpatan itu Sandra reflek melangkah mundur. Ia memegang dadanya yang terasa nyeri melihat sikap sang suami yang sama sekali tidak Ia mengerti.
Satya tersadar Ia sudah membentak Sandra. Satya tertegun saat Ia melihat Sandra yang memasang wajah ketakutan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mengusap wajahnya dan melangkah menghampiri Sandra.
Satya lalu menarik Sandra ke dalam pelukannya. Mengusap punggung sang istri dengan lembut. "Maaf.. Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud untuk membentakmu seperti itu" Ujar Satya.
Air mata Sandra pun menetes jatuh ke pipi. Sandra dengan cepat mengusapnya dari balik tubuh Satya. Menyadari hal itu, Satya mengulurkan pelukannya dan menatap wajah Sandra seraya membelai sudut mata sang istri.
"Maafkan aku ya?" Mohon Satya menatap lembut tepat ke dalam manik mata sang istri. "Aku cemburu sayang.. Aku sangat takut kau mengkhianati pernikahan kita."
Sandra terdiam. Tatapan keduanya beradu seakan saling mencari keyakinan satu sama lain. "Tidak mungkin aku berkhianat. Kamu adalah pria pertama dalam hidupku dan akan selalu seperti itu". Ujar Sandra dengan tersenyum tipis.
Satya mendekap kembali tubuh ramping sang istri. Satya tak menjawab apapun hanya menyusupkan kepalanya.pada ceruk leher Sandra.
Maafkan aku sayang...
Aku tidak tahu.apa langkahku menikahimu bisa di sebut berkhianat padamu atau tidak, saat statusku masih menjadi suami Nadya.. Tapi aku benar-benar merasa takut kalau kau pun akan mengkhianatiku saat melihatmu dengan pria brengsek itu...
Dan entah apa yang aku rasakan... Aku sangat marah dan benci ketika melihat langsung pria itu berdiri di hadapanku.. Aku marah karena dia telah menyentuh Nadya, istriku...
Dan aku semakin marah ketika melihatmu tertawa dan mengobrol bersamanya... Semua ingatanku tentang video Nadya, membuatku benar-benar merasa frustasi...
...🌴🌴🌴...
__ADS_1