Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 66


__ADS_3

"Lepaskan tanganmu". Ujar Sandra dengan nada datar saat keduanya sedang berjalan menuju parkiran mobil.


"Tidak. Aku tidak akan melepaskan tanganmu".


"Orang-orang melihat kita. Aku sedang memakai seragam caddy. Kamu tahu artinya kan?". Ucap Sandra memperhatikan sekitar.


Satya berhenti melangkah. Ia menoleh pada Sandra yang menatapnya dengan tatapan yang asing. "Aku tidak peduli. Sungguh aku tidak peduli apapun lagi saat ini.. Biarkan semua orang tahu hubungan kita". Ujar Satya dengan raut wajah yang sangat serius.


Sandra tak menjawab apapun. Wanita itu hanya membuang muka begitu saja. Lalu Satya pun segera melangkah kembali sambil tetap menggenggam tangan Sandra. Hingga akhirnya Satya membukakan pintu mobil untuk Sandra.


Sandra bergeming. "Masuklah sayang kumohon.." Ujar Satya dengan lembut. Sandra menghela napas pelan. Akhirnya Sandra pun segera masuk ke dalam mobil. Satya menutup pintu dan berlari kecil menuju sisi kursi pengemudi.


"Kamu akan membawaku kemana?" Tanya Sandra akhirnya bersuara lebih dulu. "Kamu tidak akan mengurungku atau semacamnya kan? Atau kamu tidak akan membunuhku kan?".


Satya terperangah dengan mata melotot melihat ke arah Sandra. "Kau pikir aku psikopat? Apa alasanku untuk melakukan semua itu padamu?". Tanya Satya tak percaya dengan perkataan yang dilontarkan oleh Sandra.


Sandra mengedikkan bahu. "Siapa yang tahu? Kamu orang kaya. Keluargamu bukan keluarga sembarangan dan sangat berkuasa. Aku akhirnya menyadari kalau pernikahan kita bisa menjadi skandal bagimu. Bisa saja aku di lenyapkan dari dunia". Ujar Sandra dengan nada dingin. Tidak ada lagi suara lembut dan manja yang selalu keluar dari mulutnya.


Satya membalikkan tubuhnya menghadap Sandra. Ia menatap lekat manik mata sang istri. "Tolong jangan berpikir apapun sebelum aku menjelaskan segalanya padamu ok? Aku mohon sayang.. "


Sandra hanya diam dan memandang keluar melalui jendela mobil. "Kita pulang ke apartemen sekarang" Ujar Satya seraya menyalakan mesin mobil.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam membisu. Tak ada sedikitpun kata yang terucap dari mulut Sandra maupun Satya. Hanya suara radio saja yang mengisi keheningan di antara mereka.


Satu jam kemudian Sandra dan Satya pun akhirnya telah sampai ke gedung apartemen. Dalam diam keduanya berjalan memasuki unit mereka. Sandra segera berlalu masuk menuju kamar meninggalkan Satya begitu saja di ruang tengah.


Satya mengekori Sandra hingga akhirnya di palang pintu Sandra menahan tubuh sang suami. "Biarkan aku mandi dan menyegarkan pikiranku sebentar". Ujar Sandra seraya menutup pintu kamar dan menguncinya.


Satya bergeming menatap pintu kamar yang tertutup. Ia mengusap wajahnya dengan rasa frustasi. Satya lantas mengeluarkan ponsel dari balik saku jas yang masih dikenakannya.


Ia melihat banyak sekali pesan masuk dari Nadya yang menuntu penjelasan darinya. Satya menghela napas dengan kasar dan melempar ponsel tersebut ke atas sofa. Ia lalu membuka jas yang membalut tubuhnya dan di sampirkannya ke atas sofa.


Satya lalu berjalan menuju area pantry dan membuka sebotol wine. Lalu Ia tuangkan ke gelas tinggi hingga setengahnya. Satya lantas memutar pelan gelas tersebut seraya menatap wine merah yang berputar, hingga akhirnya Ia teguk sembari di resapi. Satya menyugar rambutnya dan menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah.


Sementara di dalam kamar, Sandra menangis tersedu-sedu di bawah pancuran air. Ia memegang dadanya yang terasa nyeri tak tertahankan saat mengetahui fakta bahwa sang suami.memiliki istri lain. Sandra tidak pernah menyangka jika nasib seperti ini yang akan Ia dapatkan.


"Apa yang harus kulakukan Bu..." Ujar Sandra terisak.


Cukup lama Sandra membiarkan tubuhnya berada di bawah pancuran air dingin hingga akhirnya Sandra keluar dari kamar mandi dan membalut tubuhnya dengan bathrobe. Sandra lantas duduk di depan meja rias menatap wajahnya yang terlihat menyedihkan. Kelopak matanya sangat bengkak seakan mengatakan bahwa Ia sudah banyak mengeluarkan air mata, wajahnya yang pucat dan rambutnya yang sangat basah. Sandra benar-benar terlihat tidak karuan.


Sandra lalu menyalakan hair dryer dan mengeringkan rambutnya hingga setengah kering. Ia lalu memoles bibirnya dengan lip balm berwarna cherry agar wajahnya tidak terlalu pucat. Ia lalu beranjak menuju wardrobe dan mengambil sebuah kaus pendek berwarna putih dan celana panjang berwarna senada. Sandra memastikan tampilan dirinya di depan cermin lalu menghela napas dengan kasar. Mau tidak mau Ia harus bicara dengan Satya.


Sandra lantas segera membuka pintu kamar dan menuju ke area pantry. Ia melihat Satya yang langsung berdiri saat menyadari kehadirannya. Sandra melirik sebotol wine dana juga sebuah gelas yang sudah kosong. Sandra melirik Satya lalu Sandra pun dengan cepat menuangkan wine ke dalam gelas milik Satya.


Satya terlihat terkejut dan dengan cepat menahan Sandra untuk meminumnya. "Apa-apaan sayang?" Sahut Satya. "Ini wine! Ada kandungan alkohol.di dalamnya! Kau tidak boleh meminumnya!". Satya meraih gelas berisi wine dari tangan Sandra.

__ADS_1


"Kamu boleh meminum alkohol, lalu aku tidak boleh? Kamu bisa melampiaskan rasa frustasimu pada alkohol lalu aku tidak boleh? Apa aku juga tidak boleh membohongimu seperti kamu membohongiku?" Ujar Sandra bertubi-tubi.


Satya menatap tampilan Sandra dengan mata bengkak dan dengan pandangan yang sangat jauh dari aura lembut yang sering di perlihatkan pada dirinya.


Satya menghela napasnya pelan. Ia lalu dengan lembut meraih lengan Sandra. "Jangan sentuh aku!". Ujar Sandra ketus.


Satya lantas mundur selangkah menjauh dari Sandra. "Baiklah.." Ujar Satya. "Tapi kumohon kita bicara di ruang tengah ok?".


Sandra lantas segera menuju ruang tengah dan duduk begitu saja. Satya pun mengekorinya hingga pria itu memutuskan untuk duduk mengambil jarak dari Sandra agar sang istri merasa nyaman.


Satya menatap Sandra sejenak. Ia berpikir darimana dirinya harus mulai menjelaskan. "Sayang..." Sahut Satya pelan.


"Siapa Nadya?" Tanya Sandra menembak Satya langsung pada intinya.


"Dia istriku..." Sahut Satya akhirnya mengakui.


Satya menatap perubahan di wajah Sandra. Dengan cepat Sandra mengusap air mata yang jatuh begitu saja saat mendengar ucapan Satya.


"Kamu sudah memiliki istri, lalu kenapa kamu menikahiku?"


Satya menghela napasnya. "Karena aku tertarik padamu sejak pertemuan pertama.. Hingga akhirnya kita menjadi lebih dekat dan aku nyaman bersamamu". Ujar Satya jujur.


"Bohong." Sanggah Sandra.


"Sayang.. Tolong dengarkan penjelasanku hm?" Mohon Satya. "Aku memang sudah memiliki istri sebelum menikahimu. Aku tahu itu kesalahan terbesarku karena tidak jujur padamu. Tapi aku mohon, jangan pernah meragukan perasaanku padamu" Satya menatap Sandra yang tetap memandang lurus ke depan.


"Aku benar-benar mencintaimu Sandra Aruni. Walau aku memilki istri dua untuk saat ini, namun yang aku cintai adalah kau. Yang kuanggap sebagai istri yang sebenarnya adalah kau, bukan Nadya". Ujar Satya dengan raut wajah sangat serius.


"Bagaimana.........."


"Tolong jangan potong ucapanku dulu.." Ujar Satya memotong ucapan Sandra hingga akhirnya Sandra mengatupkan mulutnya.


"Aku menikahi Nadya sudah hampir delapan bulan." Ujar Satya. Sandra menoleh dengan mengerutkan kening. "Ya. Aku menikahimu saat usia pernikahanku dengan Nadya berjalan enam bulan". Sahut Satya seraya menganggukkan kepala seakan mengerti keheranan Sandra.


"Aku dan Nadya berpacaran sejak sekolah hingga kuliah. Namun kami terpisah saat aku melanjutkan studi S2 di Inggris. Setelah aku pulang dari Inggris, keluarga kami berdua langsung menikahkan kami... Aku tidak menolaknya karena aku mengakui bahwa saat itu memang itulah yang kuinginkan". Sahut Satya.


Sandra mendecih. "Cih.. Hubungan kalian terdengar romantis. Sejak sekolah? Oh astaga.. Aku tidak sebanding dengan dirinya dalam mengukir berbagai kenangan dengan dirimu". Sandra tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri.


"Sayang..." Ujar Satya penuh penekanan meminta Sandra untuk mendengarkan terlebih dulu.


"Semua berubah setelah akad nikah. Seseorang mengirimiku sebuah video Nadya dengan seorang pria. Mereka...." Satya menggantungkan ucapannya seraya menatap Sandra yang tengah menatap ke arahnya.


"Dalam video itu Nadya melakukan hubungan intim dengan seorang pria". Ujar Satya akhirnya melanjutkan.


Tak dipungkiri Sandra terkejut bukan main. "Kamu jangan bercanda. Jangan karena kamu melakukan kesalahan padaku lalu kamu berusaha menjelekkan dia di hadapanku". Sahut Sandra.

__ADS_1


"Aku tidak.berbohong". Sanggah Satya dengan raut wajah serius. "Apa kau mau melihatnya? Aku menyimpannya dalam sebuah usb." Ujar Satya hingga membuat Sandra menggelengkan kepala.


"Hal itu Nadya lakukan saat pesta lajang bersama teman-temannya sebelum pesta pernikahan kami. Entah dia sadar atau tidak sadar saat melakukannya, tapi aku tidak bisa mentolerir hal itu. Apa kau mengerti maksudku? Setelah aku mengetahui video itu, beberapa minggu kemudian Nadya mengaku hamil hasil dari malam pesta lajang itu. Aku semakin murka padanya apalagi saat dia memintaku untuk menjadi ayah dari anak yang dikandungnya. Akhirnya Nadya memutuskan untuk menggugurkan kandungannya setelah aku menolaknya".


"Itulah alasannya kenapa aku melarangmu menemani pemain golf pria di lapangan, dan sikapku tempo hari yang melihatmu bersama pria lain...Aku takut dikhianati sayang". Ujar Satya.


"Dan kenyataannya kamu yang mengkhianatiku..." Gumam Sandra.


"Aku tahu itu. Aku sangat tahu. Maka dari itu aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku padamu".


"Apapun?" Tanya Sandra memastikan.


Satya mengangguk. "Apapun sayang". Jawab Satya.


"Kalau begitu ceraikan aku".


Sontak saja Satya terkejut bukan main mendengar permintaan Sandra. Ia lalu menggeser tubuhnya mendekat pada Sandra. "Tidak sayang! Tidak! Aku mohon jangan pernah berpikir tentang perceraian!" Ujar Satya dengan wajah yang kalut.


"Kamu tidak boleh serakah. Andai aku tahu lebih awal kalau kamu sudah memiliki istri terlepas dari kondisi pernikahanmu, aku tidak akan pernah mau masuk ke dalam kehidupanmu". Sahut Sandra.


"Semuanya menjadi jelas untukku, mulai dari pernikahan kita yang di bawah tangan, jadwal tidurmu yang terbagi antara apartemen dan rumah, keluargamu yang tidak hadir satupun saat pernikahan kita... Itu semua sudah menjelaskan banyak hal...."


Satya menggenggam tangan Sandra dengan erat. "Sayang kumohon..."


"Aku tidak mau berbagi suami."


"Membayangkan suamiku tertawa dengan wanita lain, tidur di ranjang yang sama dengan wanita lain, dan..... Membayangkan tangan suamiku menyentuh tubuh wanita lain... Aku tidak sanggup hidup dalam hubungan seperti itu. Aku mohon lepaskan saja aku. Pernikahan kita baru berjalan dua bulan. Tidak ada hal berarti yang terjadi dalam hubungan kita dibandingkan dengan hubunganmu dengan istri pertamamu" Ujar Sandra seraya menatap tangan Satya yang menggenggam erat tangannya.


"Maksudmu apa tidak ada yang berarti? Bahkan saat ini kau adalah duniaku!". Pekik Satya.


"Aku hanya tertawa denganmu! Aku hanya tidur satu ranjang denganmu! Bahkan tanganku hanya menyentuh tubuhmu!"


Sandra menatap Satya dengan mata berkaca-kaca. "Sudah kubilang jangan berbohong padaku..."


Satya sontak saja menarik Sandra ke dalam pelukannya. "Aku tidak pernah berbohong selain statusku padamu. Perasaanku sangat nyata untukmu. Aku tidak pernah menyentuh Nadya bahkan setelah kami menikah. Aku tidur berbeda kamar dengannya. Kau lah istriku yang sebenarnya.. Percayalah padaku" Ujar Satya. Terdengar jelas nada frustasi dari pria itu.


"Tapi aku tidak mau menjadi racun dalam hubungan pernikahanmu. Semua orang hanya akan menyalahkanku. Karena aku adalah istri keduamu. Hatiku juga sangat sakit..."


Satya mengulurkan pelukannya dan menatap Sandra tepat ke dalam manik matanya. Satya mengusap setetes air mata yang jatuh. "Tolong percaya padaku.. Aku akan mengurus segalanya namun itu membutuhkan waktu".


"Pernikahanku dengan Nadya tidak sesederhana yang orang lain pikirkan. Tapi aku janji padamu, aku akan mengurusnya. Tolong tetap di sisiku saat aku melewati itu semua"


Sandra menatap wajah Satya dengan lekat. Mencari kejujuran dan gurat keseriusan di wajah pria itu dengan seksama. Sandra berharap Ia akan menemukan celah, namun yang Sandra lihat dari tatapan Satya hanyalah tatapan penuh cinta dibalut kesungguhan dari pria itu.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


__ADS_2